
Happy Reading!
Sore itu Kebahagiaan melingkupi keluarga besar dari pihak Xander serta Selena mendengar kabar kehamilan Selena.Willy dan Qiana sangat antusias dengan kehamilan mommy mereka itu.
Sore itu di kediaman keluarga Stefano.
Willy dan Qiana menghampiri mommynya sambil tersenyum lebar.
"Mom kapan adik bayi akan lahir? " tanya Qiana penasaran.
"Masih lama sayang sekitar 8 bulan lagi. " jawab Selena sambil tersenyum.
"Yah lama tapi enggak papa aku dan kak Willy akan menjaga mommy dan calon adik bayi dengan baik. " ucap Qiana dengan senyum manisnya.
Selena terharu mendengar ucapan puterinya. Dia daratkan kecupan di kening kedua putera puterinya secara bergantian.Xander mengulum senyumnya melihat kedua anaknya sangat antusias menyambut kehadiran calon adik mereka kelak.
"Daddy, Mommy ingin makan nasi goreng buatan Daddy. " ucap Selena pada suaminya.
"Iya Mommy! Xander bangkit dan berlalu pergi ke dapur.
Selena menyenderkan tubuhnya ke sofa dan menatap keluarganya satu persatu.Tak lama kemudian Xander kembali dengan membawa sepiring nasi goreng dan segelas air lalu ditaruhnya di atas meja.
Selena mulai menyendok nasi gorengnya ke dalam mulut lalu mengunyahnya dan hal itu dilakukannya berulang ulang hingga habis tak bersisa.Selesai makan Selena meneguk segelas air putih lalu meletakkannya kembali di meja.
Xander mengulas senyumnya dan ikut mengelus perut rata sang istri.Orang tua mereka ikut menyunggingkan senyum bahagianya begitu juga dengan William dan Qiana.
Tap tap tap suara langkah kaki mendekat
Selena menoleh dan mengerutkan dahi melihat adiknya sepertinya mau pergi.Melihat tatapan sang kakak, Silvia mengulum senyum tipisnya.
"Via kamu mau ke mana? " tanya Selena pada adiknya.
"Mau pergi ke taman doang kak mau nenangin diri saja kok. " jawab Silvia.
"Mom Dad dan semuanya aku pergi dulu. " pamitnya.
__ADS_1
"Sayang kamu hati hati ya. " tegur Mommy Velly pada puteri bungsunya.
Silvia mengangguk lalu berlalu pergi namun Wi Qiana menahannya hingga membuatnya menoleh.
"Aunty aku ikut. " rengek Qiana dengan nada manjanya.
"Baiklah kamu boleh ikut Q kalau kamu Willy sayang? " tanya Silvia pada keponakan tampannya.
"Tidak aunty! tolak Willy.
Silvia melirik kakaknya meminta izin dan Selena mengizinkannya.Diapun segera mengandeng tangan Qiana lalu berjalan bersama menuju ke depan dan keduanyapu ke luar dari mansion.
Setelah Qiana masuk mobil, Silvia langsung melajukan mobilnya meninggalkan area mansion orang tuanya.
Selama di dalam mobil Silvia tersenyum geli mendengar ocehan Qiana yang membuat moodnya kembali membaik.Sejenak dia bisa melupakan masalahnya dengan kekasih eh ralat mantan kekasihnya.
Ya sebenarnya Silvia sudah pernah memiliki kekasih namun kandas karena adanya pengkhianatan yang dilakukan Marcel.Dia tidak pernah bercerita pada keluarganya karena sikapnya yang tertutup meskipun luarnya ceria.
"Apa semua laki laki breng***k seperti Marcel dan jika itu benar lebih baik aku tidak jatuh cinta lagi. " pikir Silvia.
Silvia dan Qiana turun dari mobil lalu berjalan menuju ke bangku taman setelah itu duduk di sana.Qiana menolehkan kepalanya dan memperhatikan raut muka auntynya.
"Aunty Via kenapa kok sepertinya terlihat sedih? " tanya Qiana penasaran.
Silvia menoleh dan mengusap kepala Qiana dengan lembut.
"Aunty enggak papa kok sayang. " ucap Silvia berbohong.
Qiana turun dari bangku taman dan berlalu pergi.Silvia mengerutkan dahinya lalu bangkit dan menyusul keponakan cantiknya itu.Dia terkejut mwlihat Qiana yang berbicara pada seorang pria tak jauh tempatnya dari mereka duduk tadi. Silvia segera menghampiri Qiana yang tengah bersama pria asing membeli es krim.
"Qiana sayang. "
Qiana menoleh dan tersenyum lebar melihat Silvia menyusulnya.Silvia beralih menatap pria yang ada disebelah Qiana yang kini juga menatapnya lekat.
"Sayang kalau mau es krim bilang sama aunty jangan kamu minta sama paman itu. " tegur Silvia dengan lembut.
__ADS_1
"Maafkan keponakan saya tuan. " sesal Silvia.
"Enggak papa Nona. "
Setelah membeli tiga eskrim merekapun kembali ke tempat semula bersama pria yang membelikan Qiana es krim.Qiana memberikan satu es krim pada Silvia.
"Es krim ini buat aunty agar aunty Via tidak sedih lagi. " cetus Qiana dengan wajah imutnya.
"Terimakasih sayang. " ucap Silvia tersenyum menerima es krim dari keponakannya.
Mereka bertigapun menikmati es krim masing masing.Setelah selesai Silvia mengusap bibir Qiana yang terkena sisa es krim.Dia melirik arlojinya sekilas setelah itu memandang kearah pria yang ada disebelahnya.
"Oh ya Om tampan siapa nama Om? " tanya Qiana.
"Nama Om Elang. " balas Elang tersenyum tipis.
"Aku Qiana om dan ini aunty Silvia. " ucap Qiana memperkenalkan nama auntynya.
"Hari sudah mulai petang kami permisi tuan. " Silvia bangkit dan menggandeng tangan Qiana lalu berjalan menuju ke mobil mereka.
Elang menatap kepergian keduanya dengan senyum terbit dibibirnya sekilas setelah itu mengangkat ponselnya dan menghubungi seseorang sambil berlalu pergi dari sana.
Sementara Silvia fokus menyetir namun tetap mendengarkan ucapan Qiana yang terus menerus membahas Elang.
Qiana mengerucutkan bibirnya melihat auntynya hanya diam tak menanggapi.Silvia menoleh sekilas dan tersenyum melihat keponakannya merajuk.
"Aunty kenapa aunty hanya diam saat Qiana membahas Uncle Elang. " protes Qiana.
"Aunty enggak kenal Om Elang sayang makanya aunty Via hanya diam. " balas Silvia.
"Makanya tadi aunty harusnya mengobrol bersama Uncle Elang agar cepat akrab. " sungut Qiana.
Silvia tersenyim geli mendengar ucapan Qiana barusan dan diapun kembali fokus menyetir mobilnya menuju kediaman orang tuanya.
TBC
__ADS_1