
LIKE, VOTE DAN KOMEN YA❤
"Hei buat apa kau bertelanjang dada sialan. " maki Berlin dengan wajah memerahnya. Willy dengan sengaja bertelanjang dada, memperlihatkan perut kotak kotaknya pada Berlin. Ya keduanya kini berada di mansion bak istana megah milih Willy.
"Kenapa, kau tergiur untuk menyentuhnya hemm. " ledek Willy dengan senyuman jahilnya, berjalan melewatinya dan menuju ke teras.
"Honey kemarilah berenang bersamaku. " ajak Willy sambil mengedipkan matanya. Berlin memutar bola matanya malas, tak mempedulikan ajakan gila dari Willy. Gadis itu terlihat fokus pada ponselnya, entah apa yang tengah dilakukannya saat ini.
"Berlin sayang. " ucap Willy dengan suara manja yang dibuat buatnya. Berlin menyimpan ponselnya, merasa geli mendengar panggilan Willy untuknya. Pria itu dengan sengaja meneteskan air kearah Berlin, Berlin semakin kesal di buatnya.
"Benar benar gila. " batin Berlin kesal.
Merasa tak ada jawaban, Willy naik ke atas dan mendekati Berlin, membopongnya tiap tiap lalu melemparnya ke dalam kolam.
Byurr
"Willy. " teriakan Berlin begitu menggelegar, Willy justru terbahak bahak tanpa merasa bersalah sama sekali. Berlin menyiram air ke wajah Willy, melampiaskan kekesalannya. Saat ini Berlin mengenakan bikini berwarna biru dengan bawahan celana hitam pendek.
"Menyebalkan. " decaknya berenang ke tepi. Willy mendekatinya, tubuhnya yang kekar mengungkung tubuh mungil Berlin dari belakang.
"Jaga tanganmu atau mau kupatahkan hah. " geram Berlin kesal. Willy terkekeh, dia sangat suka membuat Berlin kesal. Pria itu mengusap wajahnya kasar, melihat penampilan Berlin yang benar benar menggoda tanpa bisa dia sentuh dan nikmati, sungguh menguji adik kecilnya di bawah sana.
"Huft Wil lepas, aku merasa sesak. " protes Berlin. Willy melonggarkan dekapannya, pria itu merengkuh pinggang ramping milik Berlin. Berlin hanya bisa mengelus dada, menghadapi William benar benar butuh ekstra kesabaran.
__ADS_1
"Menurutmu apa alasan Nick memutuskan aku Wil? " tanya Berlin dengan nada lirihnya. Willy membalik tubuh Berlin, mengangkatnya ke atas hingga gadis itu duduk di tepi kolam. Pandangan mereka bertemu, Berlin langsung memutusnya lebih dulu. Willy tersenyum kecil, dia raih dagu Berlin hingga tatapan mereka kembali bertemu.
"Entahlah aku juga tak tahu. " jawab Willy singkat.
"Jika kau berhasil membantuku mencari tahu apa yang di sembunyikan Nick, aku janji akan membantumu mendapatkan gadis yang kau incar Willy. " ujarnya serius. Willy menatap lekat wajah Berlin, entahlah apa yang tengah dia pikirkan saat ini.
"Iya, aku akan membantumu nona bawel. " sahut Willy. Berlin memekik senang,tanpa sadar gadis itu merangkul leher Willy kemudian memeluknya erat. Willy menggeram, saat dadanya bersentuhan dengan buah persik milik Berlin yang masih terbalut bikini. Willy mendorong pelan tubuh Berlin, naik ke atas dan masuk ke dalam sambil menggendong Berlin.
Setelah mengganti pakaian mereka, Willy mengajak Berlin pergi jalan jalan. Pria itu membelikan pakaian, dan kebutuhan lainnya untuk Berlin. Berlin tampak melongo, sempat menolak dan berakhir dirinya mengalah. Dia berdecak pelan, mengingat bagaimana Willy mengancam dirinya jika menolak barang pemberiannya.
"Jika kau menolaknya,bersiaplah aku akan membuatmu hamil anakku. " ujar Willy beberapa saat yang lalu. Berlin hanya bisa mengumpat sikap mesum Willian yang sudah akut.
"Lilin, bukankah itu Nick. " tunjuk Willy. Berlin menoleh, mengikuti arah pandang dan benar sosok Nick berada tak jauh dari mereka. Bukan Nick yang membuatnya terkejut, namun wanita yang berada di sisi mantan kekasihnya.
"Siapa wanita hamil itu Willy, apa hubungan wanita itu dengan Nick. " gumam Berlin dengan rasa penasaran yang tinggi. Merasa penasaran Berlin hendak mendatangi mereka, Willy menggenggam tangannya.
"Jangan buru buru menemui Nick, sebaiknya kita pantau mereka Lin. " ucap Willy. Berlin hanya berdecak mendengar panggilan Lilin dari Willy untuknya. Berlin merasa dadanya sesak, melihat kemesraan Nick dan wanita hamil itu.
Willy merangkul bahu Berlin, dia tahu saat ini berlin Tenga cemburu sekaligus menahan amarahnya pada Nick. "Bawa pergi aku Wil, aku sangat sesak di sini. " pinta Berlin. Willy membawanya pergi dari sana, dia membuka pintu untuk gadisnya, lalu melajukan mobilnya kencang.
Di sisi lain Nick tengah menemani Rachel, wanita yang tengah mengandung calon anaknya. Rachel menghela nafas kasar, berbalik dan menatap lekat kearah Nick."Nick kita harus beritahu Berlin secepatnya, hatinya pasti hancur karena kau memutuskan hubungan secara tiba tiba. " ujar Rachel.
"Sudahlah Chel, soal Berlin itu urusanku!
"Tapi Nick? " protes Rachel yang dibalas tatapan tajam pria itu. Nick menuntunnya mencari keperluan wanita lainnya, Rachel hanya bisa berdecak pelan.
Setelah cukup keduanya masuk ke dalam mobil, selama perjalanan tak ada pembicaraan yang berarti. Rachel larut dalam pemikirannya sendiri serta rasa bersalahnya pada Berlin.
__ADS_1
"Dua hari lagi kita menikah setelah itu kita pindah ke Amerika. " ujar Nick tanpa menoleh kearah Rachel. Rachel merasa kesal dengan keputusan Nick yang seenaknya.
"Tidak bisakah kau bertanggung jawab tanpa menikahiku Nick, aku bisa membesarkannya sendiri tanpa kamu Nick. " sahut Rachel. Ckit Nick terkejut, menepikan mobilnya kemudian melirik kearah Rachel dengan tatapan tajam nya.
"Apa kau gila Rachel. " geram Nick emosi merasa tak percaya dengan pernyataan calon istrinya itu. Rachel menundukkan kepalanya, dia bisa melihat kemarahan di wajah Nick.
"Dengar Nick, malam itu kesalahanku karena mabuk hingga menyeretmu. Aku tak masalah jika kau tak bertanggung jawab, anggap saja malam itu hanya kesalahan tak di sengaja. " ucap Rachel panjang lebar. Nick kembali melajukan mobilnya kencang, sekuat tenaga menahan emosinya yang selalu meledak jika berdebat dengan Rachel.
Di Apartemen setelah meletakkan barang belanjaannya, Nick membantu Rachel duduk meski pria itu tengah marah sekalipun. Wanita itu tadi sempat mengganti pakaiannya, kini keduanya saling mengatupkan bibir masing masing. Nick mengusap wajahnya kasar, tangannya kini berada di perut Rachel. "Bayi kita tidak salah Rachel,dia berhak lahir ke dunia, aku akan bertanggung jawab pada kalian. " kekeh Nick dengan tegas. Kini Nick memeluknya dari belakang, Rachel bersandar di dada pria itu.
"Kau dan calon anak kita tanggung jawabku Rachel, soal Berlin aku butuh waktu yang tepat untuk berkata jujur padanya. " gumam Nick pelan.
Rachel menitikkan air matanya, dia merasa sangatlah jahat karena membelenggu kebebasan Nick dan membuat pria itu terpisah dari Berlin, kekasihnya. Diusapnya perutnya yang tak lagi rata dengan penuh kasih sayang. Wanita itu menoleh dengan bercucuran air mata, Nick langsung menghapus air mata Rachel. "Sekali lagi maafkan aku Nick!
"Berhentilah menyalahkan dirimu Rachel, calon bayi kita ikut bersedih melihat kau seperti ini. " tegur Nick.
Nick langsung memeluknya, berusaha menenangkan Rachel dari rasa bersalahnya. Pria itu juga merasakan hal yang sama, dia merasa sangat bersalah telah mengkhianati Berlin selama ini meski kini hubungan mereka telah berakhir. "Maafkan aku Berlin, aku harap kau menemukan pria yang lebih baik dariku!
Tanpa Nick sadari Berlin telah melihat dia bersama Rachel. Gadis itu memilih pergi dengan luka di hatinya tanpa menemui Nick dan Rachel untuk meminta penjelasan. Nick kembali mengusap perut Rachel, menyapa calon anaknya di dalam sana. Rachel diam diam mengulum senyumnya, sentuhan tangan Nick di perutnya membuat hatinya menghangat.
"Jangan pikirkan apapun untuk saat ini, fokuslah pada calon anak kita Rachel, aku tak mau kamu stress!
"Iya Nick!
Nick mendekatkan wajahnya, mencium bibir Rachel dan ********** sekilas. Rachel kini menikmati ciuman Nick di bibirnya, bukankah dia wanita yang munafik bukan. "Ayo aku antar ke kamar, aku menginginkanmu Rachel!
__ADS_1
Nick bangkit, membopong Rachel hati hati menuju ke kamar mereka.
tbc