Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Hanya Satu Minggu!


__ADS_3

Hari itu merupakan hari terburuk bagi Amey yang mencetak sejarah pahit dalam kehidupannya. Baru saja ia mengayomi rumah tangga yang baru dan melepas status lajangnya, kini berita buruk menghantam keras batinnya. Helen dan Michael menceritakan penyakit kanker Arka yang sudah lama ia derita.


Ketika mentari mulai menjulang ke atas menandakan hari sudah siang, terlihat keluarga besar Winston sedang berdiri menunggu jasad Arka yang masih dalam perjalanan dari rumah sakit menuju ladang pekuburan.


Helen merangkul Amey yang masih terpaku membisu. Air matanya seolah tak mau menetes karena sebegitu sesaknya yang dirasakan Amey. Ia mencengram tali tasnya dengan sangat kuat. Hal itu membuktikan bahwa Amey sedang menahan sakit hatinya yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata.


Ketika bunyi sirene ambulance terdengar, keluarga Winston langsung menyambut kedatangan jasad Arka dengan segudang air mata. Kecuali Arsen dan Amey. Arsen menahan cairan air matanya agar tidak terlihat di depan orang asing kalau pria itu lemah.


Sedangkan Amey masih dalam posisinya meremas tali tas dan tak bergeming dari tempat ia bertumpu sejak tadi. Ia melihat dari kejauhan sebuah benda berwarna putih berukuran persegi panjang yang dibopong beberapa pria kekar menuju tempat peristirahatan terakhir Arka.


"A--Arka!" gumam Amey pelan dengan suara yang gelagapan.


Arsen melihat perilaku Amey yang termangu di bawah pohon ketapang dengan tatapan kosong.


"Mark!"


"Ya Tuan?"


Arsen menatap Mark dan segera memalingkan pandangnya ke arah Amey.


"Baik Tuan." menunduk kepala.


Mark begitu peka dengan isyarat yang diberikan tuannya. Tanpa bertanya lagi, Mark segera berjalan menuju ke arah Amey.


"Nyonya Muda. Mari ikut saya," ajak Mark.


Amey menatap Mark dengan sinis. Ia langsung berjalan dengan cuek meninggalkan Mark.


"Ada apa dengan tatapannya?" gumam Mark bingung.


Semuanya telah berdiri melingkari tempat peristirahatan terakhir Arka. Amey ingin sekali melihat wajah Arka untuk yang terakhir kali, namun tubuh Arka sudah diletakkan ke dalam peti yang sudah dikunci secara permanen.


"Ar---ka!" lirih Amey.


Hanya satu kata itulah yang mampu dikeluarkan mulut Amey. Ia sama sekali tidak menangis saat jasad Arka telah ditimbuni sebongkah tanah. Air matanya tidak dapat keluar karena saking patahnya hati Amey.


Helen dan Michael tersedu-sedu. Mark juga menundukan kepalanya dan terlihat tetesan air mata berjatuhan di pipi tirus Mark. Arsen mengepalkan tangannya erat, matanya berubah menjadi merah karena membendung air mata.


Arka Sayang. Kau begitu tega meninggalkanku dengan kepedihan yang luar biasa ini. Tak mampu rasanya hati ini melihat kau terbaring kaku dan ditimbuni segerombolan tanah. Arka Sayang, apa kau bisa tidur dengan nyaman di situ? Jika iya, tolong beritahu aku! Tidak ada lagi yang bisa ku ucapkan selain, beristirahatlah dengan damai.


***


Semuanya kembali ke rumah. Keheningan kembali melanda tempat itu. Amey duduk di sofa ruang tamu serta memandangi dinding dengan tatapan kosong. Helen dan Michael yang berada jauh dari Amey merasa kasihan dengannya.


"Setelah ini kau mau ke mana Ars?" tanya Helen.


"Kembali."


"Maksudmu, ke New York?"


"Hmm," mengangguk.


"Kau tidak kasihan melihat Amey? Mama mohon bertahanlah satu minggu di sini. Temani Amey. Saat ini hatinya sangat terpukul." tutur Helen.

__ADS_1


"Benar apa kata Mama kamu Nak. Bertahanlah hanya untuk satu minggu. Nanti Papa yang akan ke New York menghandle perusahaan induk." bujuk Michael.


Arsen terdiam. Ia ingin sekali menolak akan permintaan kedua orangtuanya. Namun matanya menjeling ke arah Amey yang masih termangu. Entah kenapa rasa iba melanda hatinya.


"Baiklah, hanya untuk seminggu!" ketus Arsen dingin.


"Trima kasih Sayang."


"Mark!" panggil Arsen.


"Bereskan tugasmu di sana. Kita akan pindah ke perusahaan cabang di Indonesia hanya untuk seminggu."


"Baik Tuan." Mark segera menjauh dan terlihat menelepon.


***


"Halo Nek?" sapa Amey di telepon.


"Cucuku!" teriak Soffy histeris.


"Nek, jangan teriak, gendang telinga Amey nanti pecah."


"Maaf, maaf! Bagaimana keadaanmu Mey? Apa malam pertamamu berjalan lancar?" terdengar tawa kecil diujung kalimat Soffy.


Sangat lancar Nek! Sampai-sampai kepalaku hampir pecah dibuat laki-laki b*adab itu! gerutu Amey dalam hati.


"Amey kiapa nyanda basuara?" (Amey kenapa tidak bersuara?)


"Eh, iya Nek. Sangat lancar, heheh." ucap Amey menyembunyikan yang sebenarnya.


Amey kembali membisu. Rasa tak tega membohongi neneknya, tapi terpaksa ia harus melakukan itu. Karena bagi Amey, kebahagiaan sang Neneklah yang terutama.


Saat Amey melihat Arsen memasuki kamar ia langsung membalikkan badannya memunggungi Arsen. "Nek, nanti saja bicaranya. Nanti ku hubungi lagi," bisik Amey.


"Baiklah Amey. Nenek tunggu momongan satu lusin darimu." ledek Soffy sembari memutuskan sambungan teleponnya.


Amey berdecak. Momongan satu lusin? Haha miris!


Arsen berjalan menuju kamar mandi. Ia hendak membersihkan tubuhnya. Amey yang melihat wajah Arsen sempat mengeluarkan lekukan kecil di ujung bibirnya. "Arka." gumamnya pelan.


Ia melihat wajah Arsen seperti melihat wajah Arka. Wajah mereka begitu identik sehingga sulit dibedakan. Sejenak Amey sadar dari halusinasinya. "Sadar Amey! Dia bukan Arka! Dia pria b*ngsat yang mencuri wajah suamimu!" gerutu Amey.


Setelah Arsen selesai membersihkan diri, pria itu menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Amey berusaha cuek dan tidak perduli. Demikian pula dengan Arsen. Ia menganggap ruangan itu hanya ada dirinya sendiri. Ia tidak menganggap adanya bayang Amey di situ.


Arsen keluar dengan pakaian yang sangat rapi dan tentunya berkarisma. Amey menebak dalam hatinya kemana pria itu akan pergi. Ingin sekali Amey bertanya namun masih terlalu gengsi untuk berbicara.


"Aku mau pergi. Jangan menungguku." ketus Arsen tiba-tiba.


"Bukan urusanku." celutuk Amey seolah tidak perduli.


Arsen melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


"Cihhh! Hanya wanita gila yang akan menunggu pria br*ngsek sepertimu!" maki Amey.

__ADS_1


***


Arsen tiba di tempat favoritnya. Tak tertinggal juga Kai dan Jay sudah lebih dulu berada di klub malam tersebut. Arsen duduk dan memasang rokoknya. Ia menghisap rokoknya dan menghembuskan keluar sehingga asap putih bertebaran di depan wajahnya. "Ssshhh, huffff."


Kai menuangkan anggur di gelas untuk Arsen. "Ars, kau baik-baik saja?" tanya Kai melihat Arsen yang sepertinya sedang dilanda masalah berat.


"Hanya seminggu! Tidak lebih." gumam Arsen sembari meghisap rokoknya kembali.


Jayden dan Kai bingung dengan ucapan Arsen. Tapi sepertinya mereka berdua tidak ingin membahas kembali masalah pernikahannya.


"Ars kau mau bersenang-senang?" tanya Jay.


Arsen hanya menatap Jay dengan sinis.


"Baiklah, aku tahu maksudmu!" menepuk tangannya sebanyak tiga kali, dan kemudian muncullah ketiga wanita seksi pilihan Jayden untuk memanjakkan junior mereka.


"Uhhhh! Ini nih yang aku suka darimu." goda Kaisar menatap Jayden.


Tanpa disuruh ketiga wanita yang hanya menggunakan bikini melaksanakan tugas mereka. Ya tentu saja melumati perangkat lunak ketiga pria bule itu.


Jay dan Kai mulai mengerang merasakan kenikmatan yang diberikan wanita malam itu. "Arghhhh, ehmmm ..."


Tapi tidak untuk Arsen.


Brakkkkk


Arsen menendang wanita malam itu dengan sangat kuat sehingga terpental jauh ke lantai. Kai dan Jay kaget minta ampun sehingga aktivitas mereka terhenti. Begitu juga dengan ketiga wanita malam itu yang mulai gemetar.


"F*ck! Apa hanya begini kemampuanmu?" tanya Arsen kepada wanita yang ditendangnya.


"Ma--maaf Tuan, saya salah. Saya akan melakukannya dengan baik." ucap wanita itu dan kembali mendekati bawahan Arsen.


Plakkk


Arsen menampar wanita itu dengan sangat keras. "Dasar murahan!"


Kay dan Jay langsung membawa ketiga wanita itu keluar dari ruangan VVIP. Jika tidak ketiganya akan hancur di tangan Arsen. Sungguh mengerikan!


"Jay, apa kau salah memilih wanita pemuas dahaga?"


"Tidak mungkin Kai. Jelas-jelas mereka merupakan Lady Rose handal dengan bayaran termahal di tempat bergengsi ini!" tukas Jay meyakinkan Kaisar.


"Buktinya?" ucap Kai meledek.


"Ahhh sudahlah. Yang penting kita sudah menyingkirkan mereka dari hadapan Arsen. Bisa-bisa tempat ini menjadi angker karena kematian mengenaskan ketiga wanita itu."


Arsen memanglah tidak srek dengan permainan wanita itu. Jelas saja, karena permainan Arsen high class jika di Amerika. Begitu banyak wanita bule pemuas dahaga yang handal yang sering memuaskan nafsu Arsen.


To be continued ...


**LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


Note :

__ADS_1


Sekedar info, visual Mark sudah Vani taruh di bagian Prolog ☺️ Kalian bisa membuka dan melihat visual pria bule itu yang tak kalah tampan dengan pemeran pria lainnnya 😍😍😍**


__ADS_2