Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Bernegosiasi


__ADS_3

Di tempat lain, ketegangan masih berlanjut. Sejak Mark memerintahkan Sinta untuk mengikutinya, para pelayan tidak bergeming dari posisi mereka. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Mark pada wanita itu. Yang pasti Sinta sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Olin menatap raut Elis yang terlihat datar dan tenang, seolah tidak ada yang terjadi. Elis berdiri tegap dengan pandangan lurus ke depan, berkedip pun tidak. Kepala pelayan Elis memang sangat disiplin dan bertanggung jawab. Ia tidak akan mengeluh karena menurutnya, ia memang sudah lalai.


Bisa dikatakan untuk pertama kalinya ia mendapat masalah seperti ini. Biasanya jika ada anak buahnya melakukan kesalahan, ia sendiri yang akan menghukumnya tanpa membawa-bawa Asisten Mark. Jika Mark sudah turut campur tangan, tandanya situasi yang sangat buruk terjadi.


Apa karena faktor umur, sehingga kinerjaku menurun? Bodohnya aku yang tidak tahu masalah ini! Tapi kira-kira, siapa lelaki itu? Dan apa benar Sinta yang menjadi pengkhianat? ucap Elis dalam hati.


***


Sementara di Vila juga terjadi ketegangan. Arsen membuat Amey panik dengan peristiwa yang menimpanya. Terlihat Amey yang sedang menangis sesegukan sembari memeluk Arsen. Ia kehabisan akal untuk menolong suaminya. Di pikiran Amey hanya ada satu kata 'bangun!'


Kata itu yang ia ucapkan berulang-ulang dibenaknya. Bibirnya gemetar hebat sampai-sampai tidak bisa berucap. Trauma kehilangn seseorang yang disayanginya kembali terngiang di kepalanya.


"Apa kau sebegitu kawatirnya padaku, wahai istriku?"


Deg!


Amey melonjak kaget. Ia segera menegakkan badannya dan menatap wajah Arsen. Ia masih termangu dalam keheningan. Amey berpikir jika ia hanya mendengar suara halusinasi yang mirip dengan suara suaminya.


"A--Ars--sen!" lirih Amey gagap.


Arsen menarik kepala Amey sehingga, tubuh Amey terbaring kembali, menindih dadanya. Arsen mengeluarkan senyum kecil di bibirnya. Ia tidak menyangka jika ada orang, selain orangtuanya yang begitu kawatir dengan keadaannya.


"Arsen? Kau tak mati?" gumam Amey dengan suara kecil.


"Aku tidak akan mati. Kau lupa kalau aku Arsen Winston?" mencoba menghibur Amey.


"Ta--tapi kenapa kau berdarah?" tanya Amey seraya mengangkat tubuhnya tapi ditahan Arsen agar tetap berada di atas dadanya.


"Kau membuatku kesal, jadi aku mengerjaimu," tutur Arsen santai.


"Ja--jadi ini hanya prank dari mu?" tanya Amey sedikit menaikan nada.


"Hmmm."


Buk ... buk ... buk!!


"Aw! Aduh, sakit!" Arsen memekik.


Amey naik pitam. Ia memukul-mukul dada Arsen berulang-ulang. Ia sangat emosi karena Arsen mengerjainya. Wajah Amey terlihat merah. Dari rasa iba berubah menjadi murka. Arsen memang keterlaluan menjaili istrinya.


Buk ... buk ..


Masih memukul dada bidang Arsen. "Kau memang keterlaluan Ars! Kau tahu seberapa kawatirnya aku? Jantungku hampir lepas. Jiwaku bahkan hampir meninggalkan ragaku! Sesak ... Ars! Hik ... hik ... hik!" Amey kembali terisak.


Mendengar ucapan Amey, pria itu menjadi tidak enak. Maksud hati hanya untuk mengerjai, namun apalah daya jika Arsen telah melewati batas. Amey terlihat begitu bersedih. Jelas saja karena ia masih trauma dengan kehilangan Arka, dan sekarang nyaris kehilangan Arsen, walau hanya prank!


"Ma--maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku juga tidak tahu jika kau akan bersedih seperti ini. Sumpah, aku tidak bermaksud, Sayang." Arsen mengelus lembut puncak kepala Amey. Ia sungguh terlihat merasa bersalah.


"Hik ... hik ... hik! Kau sangat membuatku kawatir, Ars."

__ADS_1


"Iya, Sayang. Maafkan aku. Tidak akan kuulangi. Aku janji." Arsen memeluk tubuh istrinya.


"Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan mati?" lirih Amey sesegukan.


"Aku ... aku ..." Arsen bingung harus menjawab apa. Ia juga tahu jika kehidupan selanjutnya tidak ada yang bisa menebak. Apakah ia akan terus hidup atau sebaliknya.


"Aku akan memaafkanmu, jika kau berjanji padaku."


"Baiklah baiklah. Aku janji Aku tidak akan mati!" ucap Arsen lantang.


Amey menegakkan tubuhnya dan disusul Arsen. Kedua orang itu berdiri. Belakang punggung Arsen terkontaminasi dengan debu. Ia menyeka bokongnya dengan tangan. Setelah itu ia memegang bahu Amey dan menatapnya lekat.


"Apa kau memaafkanku?" tanya Arsen.


Amey berdiam. Matanya beralih memandangi darah palsu yang berserakan di baju putih milik Arsen. "Apa itu?" menunjuk dengan matanya.


"Oh ini?" memegang bajunya. "Ini soda berwarna merah yang aku temukan di tempat penyimpanan minuman."


"Oh jadi kau sudah merencanakan ini rupanya?" sindir Amey.


"Tidak. Aku hanya ingin meminumnya, tapi karena kau membuatku kesal, jadi aku terpikir untuk mengerjaimu. Tapi percayalah, aku saja baru dapat ide pas keluar dari Vila," jelas Arsen.


Amey menyilangkan kedua tangan di dadanya. Ia memutar bola matanya dengan malas. Kemudian Amey langsung berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam Vila. Terlihat wanita itu masih kesal dengan perlakuan Arsen.


"Mey? Tunggu! Amey ...! Katamu sudah memaafkanku, kenapa kau meninggalkanku di sini?" teriak Arsen menatap belakang punggung Amey. "Shit! Kenapa aku terlihat gampangan seperti ini? Sial sial sial!" umpatnya.


Wanita itu tidak menggubris dan terus berjalan sampai di kamar. Ia bahkan mengunci pintu kamar agar Arsen tidak masuk ke dalam. Amey berdiri di depan cermin menatap pantulan wajahnya. Ia mengusap rambutnya ke belakang dan membuang napas berat.


Dor .. dor ... dor!


Gedoran pintu sangat keras menyadarkan Amey dari diskusi dengan batinnya sendiri. "Diamlah! Kau berisik," tutur Amey dari dalam kamar.


"Mey! Buka pintunya!" Arsen masih terus menggedor pintu itu dengan keras.


"Jangan bicara padaku."


"Ah, kau ruci! Kau bilang telah memaafkanku. Tapi kau tidak membukakanku pintu."


"Siapa suruh kau membuatku kesal." Amey merajuk.


"Baiklah. Kalau kau tidak membuka pintunya. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu," ucap Arsen tersenyum licik.


"I don't care!" (Aku tidak perduli!)


"Fine!" (Baiklah!)


Akhirnya tidak ada lagi bunyi suara apa pun yang terdengar di luar. Amey menarik napasnya legah. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan tenang. Ia berguling ke sana kemari. Setelah merasakan lelah berguling-guling tidak jelas, ia pun berhenti dan menerawang ke arah langit-langit kamar.


Tiba-tiba terlintas di benaknya wajah Arsen. Ia tersenyum kecil kemudian menggelengkan kepala. Rupanya ia menyadari akan tingkahnya yang aneh. Ia menatap samping kiri dan kanannya secara bergantian. Ia berhalusinasi jika Arsen ada di sampingnya dan melemparkan senyum termanisnya.


"Sudah gila aku ini!" gumam Amey.

__ADS_1


Sekian lama berbaring di ranjang. Ia pun menegakkan tubuhnya dan beranjak dari atas tempat tidur. Hampa baginya jika tidak ada Arsen yang menemaninya tidur. Amey mengernyitkan dahi, ia penasaran dengan apa yang dilakukan Arsen di luar. Tumben pria Arogan itu tidak dengan gila meminta Amey membukakan pintu, pikir Amey dalam hati.


Amey menarik gagang pintu perlahan, ia menatap lurus ke depan namun tidak ada Arsen di sana. Amey menyapu dadanya dan menghembuskan napas. Ia berjalan mengendap mencari sosok Arsen yang hening. Tiba-tiba, dua tangan kekar menerjangnya dari samping.


"Merindukanku Sayang?" lirih Arsen tersenyum licik.


"Arsen! Kau mengagetkanku!"


"Apa kau telah berubah pikiran dan telah memaafkanku?" tanya Arsen.


"Belum! Aku keluar karena aku haus!" ketus Amey cuek.


"Oh, kau haus ya? Bukannya di kamar ada lemari pendingin? Di sana terdapat air mineral yang banyak," sindir Arsen.


Amey mengedipkan matanya seraya menyapu kerongkongannya. "Aku ... aku tidak tahu! Ini 'kan pertama kalinya aku kemari!" mencari Alasan.


Arsen masih memeluk Amey dari belakang. Ia mencium leher istrinya dan meninggalkan label kepemilikannya di sana. Amey menggeliang karena geli. "Cukup Ars," risau Amey.


"Tidak akan! Aku akan menghukummu karena sudah berani mengunciku di luar. Aku jamin malam ini kau pasti akan begadang lagi," tutur Arsen menyeringai.


Amey menelan saliva dengan kasar. Ucapan Arsen seakan-akan menusuk pori-porinya dan membuat bulu kuduk Amey menegang. Tamatlah Amey jika Arsen meminta jatah untuk memberi makan belutnya lagi.


"Ars! Aku lelah. Ba--bagaimana kalau besok saja?" bujuk Amey.


"Kau pikir, aku bisa menahan adik kecilku jika mengamuk? Bisa-bisa aku menjadi gila!"


Aduh bagaimana ini? batin Amey panik.


"Kurangi durasimu! Aku tidak akan sanggup lagi. Kau pikir aku robot?" celutuk Amey sedikit kesal.


"Baiklah, tidak akan sampai delapan jam!"


"WHAT! Apa kau akan membunuhku secara perlahan?"


"Kalau begitu tidak akan sampai tujuh jam setengah!"


Apa-apaan dia!


"Tidak!"


"Baiklah baiklah. Kau yang menentukan. Kali ini aku memberikanmu kesempatan untuk menentukan waktu main! Anggap saja ini sebagai rasa bersalahku telah mengerjaimu."


"Begitu dong. Oke! Sepuluh menit, deal?"


Arsen membesarkan matanya. "Bagaimana bisa aku melakukannya hanya dengan sepuluh menit?"


"Kalau tidak mau ya sudah!"


"Baiklah!" Arsen mengalah untuk pertama kalinya. Oke adik kecil, waktumu hanya sepuluh menit. Manfaatkan baik-baik waktu singkatmu. Masih mending sepuluh menit, dari pada tidak sama sekali!


To be continued ...

__ADS_1


Ayooo dukung Author! (Tidak berat kok, ringan badanku hihihi) Aku up dua episode loh hari ini, mumpung tugasku sudah selesai dan mood menulisku sedang baik hehe. So! Ayoo like, komen, vote dan rate. Siapa tau setiap hari mood Author selalu baik hihihi 😘


__ADS_2