
Beberapa menit sebelum insiden.
"Edzel, kau mau ke mana?" tanya Edgar.
"Aku bosan. Aku mau mengambil mainan dulu," tutur Edzel.
"Aku juga bosan. Kalau begitu aku juga mau mengambil mainan," ucap Edgar.
"Edhan, apa kau juga mau ikut mereka?" tanya Edward, dingin.
"Hemm, sepertinya aku juga merasa bosan jika duduk-duduk seperti ini. Bolehkan aku bermain juga bersama mereka?" tanya Edhan, memelas.
"Boleh saja. Tapi setelah itu kembali duduk. Jika Mommy tau kalian bermain, dan pakaian menjadi kotor, maka kita akan mendapat hukuman."
"Ya, aku tau! Aku hanya akan mengambil permainan mobil-mobilku dan segera kembali ke sini."
"Baiklah. Kau ingatkan juga pada Edzel dan Edgar."
"Okey Edward."
Ketiga anak itu menuju ruangan bermain mereka untuk mengambil beberapa mainan favorit mereka. Sedangkan Edward hanya menuju ruangan perpustakaan Arsen dan mengambil salah satu buku untuk ia baca. Kebetulan perpustakaan Arsen hanya dekat dengan kamar utama.
Tak lama setelah Edward mengambil salah satu buku, ia pun keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamar utama. Ia mendapati adik-adiknya yang sedang berkerumun seperti sedang berbuat sesuatu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Edward.
"Edward, kau lihatlah ini," ucap Edzel.
"Apa itu?"
"Aku melihat kotak hadiah kecil di atas sana. Lalu karena aku penasaran, aku pun membukanya. Dan lihatlah ... " menunjukkan benda itu pada Edward.
"Sepertinya ini milik Mommy and Daddy. Edzel kau letakkan saja di lemari tempat perhiasan Mommy. Sebentar lagi Mommy selesai mandi. Sebaiknya kita menuju ruangan makan," ajak Edward.
"Okeyyy!" ucap ketiga Ed.
Tak menunggu Amey selesai mandi, akhirnya keempat Ed menuju ruangan makan. Sesampai di ruangan makan, semua pelayan yang berada di sana terpukau melihat ketampanan bibit-bibit unggul Tuan Muda.
"Apa yang kau lihat?" tanya Edgar kepada seorang wanita yang menatapnya dengan mulut menganga.
"Kau sangat tampan Tuan Muda Kecil," ucap pelayan wanita itu.
"Trima kasih atas pujianmu," ucap Edgar.
"Trima kasih kembali Tuan Muda Kecil."
Para pelayan itu mulai melayani keempat Ed. Roti lapis beserta dengan segelas susu masing-masing diletakkan di atas meja tepat dihadapan anak-anak itu. Seperti biasanya sebelum makan mereka selalu berdoa terlebih dahulu.
Sementara keempat Ed sarapan, di lantai atas telah terjadi kehebohan. Elis dan Amey tampak bingung mencari keberadaan cincin pernikahan Mark dan Jen. Pasalnya satu jam lagi pemberkatan nikah akan dimulai.
"Kau yakin meletakkannya di atas nakas?" tanya Amey lagi memastikan.
"Benar, Nyonya. Saya sangat yakin," tutur Elis.
"Aku harus memberitahu Jenifer soal ini," ucap Amey sembari meraih gawainya di atas ranjang.
"Sebaiknya Nyonya jangan memberitahu Tuan Muda Arsen, karena jika itu terjadi, Tuan Muda akan sangat marah. Apalagi ini adalah hari spesial Asisten Mark."
"Kau benar Elis. Aku akan bilang ke Jenifer supaya dia jangan memberitahu Mark."
"Kalau begitu saya mohon ijin melanjutkan pencarian cincin berlian itu," ucap Elis seraya menundukkan kepala.
__ADS_1
Elis kemudian mencari ke segala penjuru ruangan itu. Mulai dari kamar mandi, ruangan gym, kamar keempat Ed, walk in closet, perpustakaan sampai pada tempat-tempat terkecil di kamar utama itu.
Setelah beberapa saat Amey menelepon, ia pun menghampiri Elis yang sedang berada di bawah tempat tidur. "Elis, apa kau sudah menemukannya?" tanya Amey.
"Belum, Nyonya," keluar dari bawah ranjang.
"Ya Tuhan!" Amey terperanjat.
"Ada apa Nyonya?" tanya Elis.
Amey terkejut saat melihat penampilan Elis. Sanggul yang telah jatuh ke bawah, ditambah dengan pakaiannya yang telah amburadul. Semuanya terlihat kacau dengan sekejap.
"Elis, sebaiknya kau bersihkan dirimu, karena pemberkatan nikah sebentar lagi. Biar aku yang mencari cincin itu."
"Tidak apa-apa Nyonya."
Drtt ... drtt ... drtttt
"Sebentar Elis, Arsen memanggil," ucap Amey sembari mengangkat teleponnya.
(Percakapan di telepon)
"Halo, Say--"
"Memey apa benar cincin pernikahannya hilang?"
Deg!
Amey terperanjat. Badannya seketika kaku dan tak dapat digerakkan.
"Sayang, kau tenang dulu."
"Memey, aku tanya sekali lagi! Apa cincinnya hilang?"
Tut ... tut ... tut
Sambungan telepon tiba-tiba terputus.
"Gawat! Arsen tau jika cincinnya hilang!"
Elis melonjak kaget. "Sepertinya kita harus menyiapkan diri, Nyonya."
Amey mengangguk dengan lemas. Ia pun merebahkan dirinya di atas ranjang dengan masih mengenakkan handuk di badannya.
"Mommy!" panggil Edward.
Amey menatap anaknya dengan mata yang sayu.
"Mommy, kapan kita akan berangkat?" tanya Edward.
"Sepertinya kita tidak akan ke mana-mana," lirih Amey dengan lemas.
"Why? What's wrong, Mommy?" (Kenapa? Apa yang salah, ma?)
"Kau tau sayang, cincin pernikahan pamanmu telah hilang. Dan kau tau apa yang lebih parah lagi, Daddymu telah mengetahuinya. Dan kau tau sayang, jika Daddymu tau, maka seisi mansion akan mendapat hukuman," jelas Amey.
"Ouh, seperti itu."
Yang benar saja Amey! Dia 'kan masih kecil, mana dia paham?! Kau yang akan menanggung dosa-dosa mereka! Batin Amey.
"Sebentar! Apa maksud Mommy cincin berlian yang di letakkan di sana?" tunjuk Edward dengan telunjuknya.
__ADS_1
Amey mengangguk pelan dan belum menyadari. Beberapa detik kemudian dia tersadar dengan ucapan Edward. Amey melonjak dari atas ranjang dan menghampiri Edward secepat kilat.
"Sayang, apa kau melihat cincin itu?" tanya Amey sambil menggoyang bahu Edward.
"Ya, Aku menyuruh Edzel meletakkannya di dalam lemari tempat perhiasan Mommy."
Amey kembali berlari menuju lemari perhiasannya dan benar apa yang diucapkan Edward. Ia menemukan cincin itu di sana. "Sayang!" teriak Amey. Ia kembali di hadapan Edward dan memeluknya erat. "Kau menyelamatkan nyawa semua penghuni mansion."
Edward mengernyitkan dahinya. "Apa yang terjadi, Mommy?" tanyanya heran.
Brukkkk!
Suara dobrakan pintu dengan sangat keras mengagetkan Amey dan Elis. Tetapi tidak bagi Edward. Anak itu terlihat tenang dan santai.
"Memey Sayang, jelaskan kenapa cincin itu bisa sampai hilang?" tanya Arsen, tampak menahan emosi.
"Tidak Sayang. Aku kira cincinnya hilang. Tapi ternyata Edward yang menyimpannya di dalam lemari," jelas Amey dengan bibir yang gemetar.
Arsen berjalan menghampiri Amey dan memeluknya. Ia mengecup kening Amey dengan lembut. "Sayang, kau tau, kau hampir membuatku ingin membunuh seseorang!" bisik Arsen.
Amey menelan salivanya dengan kasar. Ia terkejut dengan ucapan Arsen. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang. "Apa kau berencana membunuhku?" bisik Amey.
"Bukan dirimu. Tapi seseorang yang hampir menabrakku di jalan karena terburu-buru pulang untuk mencari cincin pernikahan Mark."
"Ouhhhh ... " Amey menyapu dadanya. Ia pun kembali tenang.
"Kenapa semua orang dewasa tampak khawatir?" gumam Edward.
Arsen memeluk Edward dan berbisik di telinganya. "Kau berhasil membuat Daddy hampir kehilangan nyawa. Kau memang anak Daddy," mengecup pipi Edward.
"Ehem!" Elis berdehem. "Saya permisi Tuan dan Nyonya."
Arsen dan Amey mengangguk.
"Ohya, Elis?" panggil Arsen.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Elis.
"Bawa Edward bersamamu. Aku harus menyelesaikan satu ronde dengan Memeyku!"
Deg!
"Sayang? Kita 'kan harus segera bersiap. Sebentar lagi ..."
"Aku menunda waktunya!"
"Lahhh, kok bisa?" Amey terkejut.
"Elis!" tukas Arsen.
"Baik Tuan." Elis langsung membawa Edward keluar dari kamar.
Arsen pun langsung menggendong Amey dan meletakkannya di atas ranjang. "Sayang, aku harus menanam bibit unggul edisi terbatas ke dalam rahimmu hari ini juga! Jangan sampai Mark yang lebih dulu mendapat bayi perempuan!"
To be continued ...
.
.
.
__ADS_1
Follow ig : @syutrikastivani