
Malam panas dilalui sepasang pengantin baru. Siapa lagi kalau bukan Mark dan Jenifer. Hampir satu minggu Mark tidak menemani istrinya tidur. Mark menebus kesalahannya dengan memuaskan padang gurun Jen yang telah gersang membutuhkan air.
Alarm telah berbunyi menandakan pukul lima subuh. Mark terbangun dan kemudian mematikan bunyi alarm yang menurutnya sangat mengganggu tidur Jen. Ia membuka matanya dan mendapati istrinya sedang tidur di dada bidang miliknya sambil memeluk ia dengan erat.
"Pulas sekali tidurmu, Sayang," bisik Mark sembari mengelus puncak kepala Jen.
Jen melemparkan senyuman kecil, kemudian mengecup dada bidang Mark. Merasakan kecupan halus itu membuat tubuh Mark bergetar. Tak hanya tubuhnya saja, peliharaannya yang tadinya terlelap di kandang, kini mengaum dengan liar.
Tubuh Mark semakin memanas. Siluman ular yang tidur kini bangun sehingga membuat bentolan dibalik selimut tebal yang menutupi tubuh kedua pasangan suami istri itu.
"Kau sudah bangun, Scooby?" gumamnya sembari meraba Siluman ular miliknya yang bergelantung di bawah sana.
Tak dapat menahan b*rahinya, Mark mulai melancarkan aksinya. Ia mengecup leher mulus Jenifer, sedangkan tangannya mulai berkeliling dunia, meraba setiap benda-benda sensitif kepunyaan Jen.
"Hmm, Sayang ..." desis Jen.
"Iya Sayang?" bisik Mark dengan suara berat nan seksi.
Tak lama kemudian basoka Kepunyaan Mark mulai mengambil ancang-ancang untuk membidik agar serangan tepat sasaran memasuki goa yang tak memiliki rumput.
"Ahhh, Tu--tuan ... " desah Jen mulai terbawa kenikmatan.
Gawai Mark bergetar berulang kali, tapi tak dipedulikan oleh Mark. Dengan tubuh yang masih menindih Jenifer, ia mematikan ponselnya secara total agar tidak ada gangguan yang datang menjeda pertempuran mereka.
Hentakan yang melaju bagai kilat membawa Mark dan Jen hampir tiba di puncak menara Eifel. Saking terbawa suasana, pasangan suami istri itu tak menyadari jika seseorang telah masuk ke dalam apartemen mereka.
"Sa-sayang, aku sudah dekat!" bisik Jen dengan suara terbata.
"Sedikit lagi. Aku juga hampir sampai di tujuan."
Ceklekk!
Gagang pintu berbunyi.
"Cepat selesaikan penanaman kecebong tak berkualitasmu dan temui aku di ruang tamu!" ucap seorang pria sembari menarik tutup pintu kamar.
Deggg!!
Deggg!!
Bunyi jantung Mark dan Jenifer seketika terjeda. Suara dingin yang tak asing itu membuat keduanya langsung berpisah satu sama lain. Mark dengan segera menarik basokanya sedangkan Jenifer dengan sigap menarik selimut untuk membalut tubuhnya.
"Tu--tuan, Arsen?" lirih Mark.
Perasaan takut, gugup bercampur malu mulai bergentayangan di kepala Jenifer. Ia bahkan menutup seluruh badannya hingga ujung kepala. Pipinya memerah bagai tomat.
Berbanding jauh dengan apa yang dirasakan Mark. Lelaki gagah perkasa itu menjadi emosi sampai ke ubun-ubun. Bagaimana tidak, ia bahkan belum mengeluarkan vla puding miliknya dan seketika itu juga vla itu telah mengalir kembali ke tempat asalnya.
"Sh***!" menggeram kesal. Dalam hati Mark bertanya-tanya, kenapa Arsen mencarinya di pagi-pagi buta.
"Sayang, apa Tuan Arsen sempat melihat tubuhku?" tanya Jenifer di balik selimut.
__ADS_1
Mark membulatkan matanya. Ia tersadar dengan ucapan Jenifer. Emosi Mark lebih membara lagi. "Sial! Aku tidak tahu, Jen. Tunggu sebentar. Aku akan menemui Tuan Muda gila itu!"
Jen mengangguk kecil dengan perasaan malu yang masih menyelimuti hatinya.
Sementara di ruang tamu, Arsen telah duduk di sofa sembari menyilangkan kaki kirinya diatas paha kanan.
"Tuan, sedang apa kau di sini pagi-pagi buta?" tanya Mark dengan napas memburu.
Arsen menatap ke sumber suara. Ia tersenyum kecut saat melihat Mark yang telah berdiri di hadapannya. "Ternyata setengah dari punyaku," gumamnya.
Mark mengernyitkan dahi. "Apanya yang setengah dari milik, Tuan?" tanyanya keheranan.
Arsen menunjuk bagian bawah pusar Mark dengan memanyunkan bibirnya.
Dibaluti rasa penasaran yang tinggi, Mark pun dengan perlahan menatap bawah pusarnya. Dan betapa terkejutnya Mark saat ia melihat tongkat kasti miliknya yang telah ciut bagai bunga mawar yang sudah tak menerima asupan air, alias layu.
"Ahhhhh!!" teriak Mark dengan nyaring.
"Ahhh," timpal Arsen yang tak kalah terkejut dengan teriakan Mark. "Sial kau! Kenapa mendadak berteriak? Aku terkejut mendengar teriakanmu itu bodoh!"
"Celana ... mana celana! Di--di mana celanaku!" pekik Mark panik bukan kepalang sembari menutupi benda lonjong yang bergelantung ke sana kemari mengikuti gerak badan Mark menggunakan kedua tangan.
Arsen melempar sebuah kain kecil yang tak lain adalah taplak meja yang ia tarik dari meja di depannya. "Balut pakai ini!"
Dengan sigap Mark menangkap kain itu dan melilitkan kain itu di pinggangnya. "Sayangnya ia tertidur. Tuan akan terperangah jika melibat si Scooby ini bangun," merasa bangga dengan basoka miliknya karena sempat dihujat Arsen.
Rasa penasaran Arsen mengenai panjang kali lebar kepunyaan Mark akhirnya terpecahkan. Jika di bandingkan kepunyaan kedua pria itu hasilnya sama. Keduanya sama-sama besar, panjang, padat dan liar. Hanya saja Arsen tidak mau kering dengan bawahannya.
"Dasar gebleg! Mentang-mentang sudah beristri, kau seenaknya melupakan pekerjaan penting perusahaan."
"Tapi, bukankah hari ini jadwal Tuan, hanya akan menghadiri rapat?"
"Rapat rapat! P*ntatmu!" melempar tablet sehingga mendarat di tangan Mark.
Mark menyipitkan matanya yang bulat. Ia mulai membaca sebuah tulisan di layar tablet itu. "Jam enam subuh, berangkat menuju Turkey, menghadiri acara pelelangan yang disponsori WS Group."
Mark melebarkan maniknya. Ia sontak kaget, saking terkejutnya Mark, ia bahkan melempar tablet berlogo apel setengah gigitan itu ke atas sofa dan bergegas menuju kamarnya.
Danger!! Danger!! Aku melupakan jadwal penting ini!
Sambil menatap arloji mewah yang melekat dipergelangan tangan kirinya, "sepuluh menit dari sekarang. Aku menunggumu di mobil. Jika lewat dari batas waktu yang aku tentukan, kau aku tinggal!"
Bergerak bagai bayang, melaju bagai angin. Hal itulah yang sedang dilakukan Mark. Ia dengan cekatan bersiap-siap. Tak hanya sendirian, ia dibantu sang istri. Menyiapkan kemeja, memakaikan dasi dan menyemir sepatunya.
Aktivitas Mark semakin mudah berkat bantuan Jenifer. Tak memakan waktu yang lama, pria itu telah selesai bersiap.
"Sayang, kamu hati-hati ya. Kabari aku jika sudah sampai," tutur Jen.
"Pasti. Aku akan selalu mengirimmu pesan, bahkan meneleponmu setiap saat. Jaga dirimu, tiga hari lagi aku kembali," mengecup dahi Jen.
Jen menatap belakang punggung Mark yang gagah itu. Bayangan Mark pun hilang saat pintu apartemennya tertutup.
__ADS_1
Setibanya Mark di dalam mobil, ia mendapati Arsen yang tengah duduk tenang, menyilangkan kaki, meletakkan tangan di saku celana, menyandarkan tengkuk leher ke kepala kursi mobil dengan mata terpejam.
Mark menyalakan mesin dan kemudian mengemudi. Mereka melaju meninggalkan basemen. Arsen membuka mata dan menatap ke arah jam tangannya. "Tujuh menit," gumamnya dan kemudian ia kembali menyandarkan kepala dan memejamkan mata.
"Soal yang tadi, lupakan. Aku telah menerobos apartemenmu dan menyaksikan hal tak senonoh kau dan istrimu. Aku minta maaf," tutur Arsen.
Mendengar ucapan maaf dari tuannya membuat Mark tak sengaja menekan pedal rem sehingga tubuh Arsen terdorong ke depan.
"F*ck! Apa kau menyimpan dendam padaku? Apa kau tak mau menerima maaf dariku?" celutuk Arsen mulai naik pitam
"Kau salah paham, Tuan. Aku hanya terkejut saja saat Tuan meminta maaf padaku. Peristiwa ini akan dicetak dalam sejarah, kisah Tuan Muda Arogan dan Asisten Tampan."
"What?!"
Mark terkekeh pelan. "Maaf Tuan. Aku akan melanjutkan mengemudi."
"Aku tarik ucapanku tadi!"
Yayaya! Dia Tuan Muda Arsen Winston. Si Tuan Arogan yang memiliki gengsi selangit. Umpat Mark.
"Hmm, bentuknya oke. Pahanya sedikit mulus. Tapi bodinya masih bagusan Memeyku," melempar senyum licik.
Mark menjadi bingung dengan ucapan Arsen. Ia menatap bosnya melalui spion depan. Tawa licik Arsen tergambar jelas di wajah tampan Tuan Muda itu.
"Temponya pun lambat. Bagai kakek-kakek tua saja yang sudah tak begairah. Hmm, dasar lemah!" gumam Arsen lagi.
Mark tersadar. Ucapan sindiran Mark mengacu pada tragedi beberapa menit lalu di apartemen. "Jadi Tuan sudah melihatnya?!" tukas Mark dengan suhu tubuh yang mulai memanas.
"Hmm," mengangguk kecil.
"Tu--tuan melihat tubuh Sekretaris Jen?!" teriak Mark.
"Hmm," memberi anggukan.
DASAR PRIA AROGAN MESUMMM!!! rontah batin Mark yang tak tertahankan.
"Tenang saja, Mark. Aku tak tertarik sedikit pun dengan tubuh Garfield. Di mataku, hanya ada Memey, Memey dan Memey. Uhh manisnya Memeyku."
To be continued ..
.
.
.
Like dan Komen dari kalian akan sangat membantu Author 🥰
follow ig :
@syutrikastivani
__ADS_1
@stivaniquinzel