
Acara pernikahan Mark dan Jen belum berakhir. Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, kedua pengantin itu sejenak beristirahat di kamar hotel Paradise, karena pukul enam sore akan digelar acara resepsi mereka.
Siang itu, cuaca tampak panas. Di sebuah kamar spesial yang telah dihias sedemikian rupa, terlihat dua orang wanita yang sedang berbincang. Mereka adalah Amey dan Jenifer. Amey sedang berbagi pengalaman dengan Jenifer begaimana hari pernikahannya.
“Kalau kamu sih enak. Mark sangat mencintaimu, makanya dia menghalalkanmu. Lahh aku? Suamiku saja tak kukenal sama sekali! Dan lebih parahnya lagi, mertuaku membohongiku," tutur Amey yang tengah duduk di atas ranjang sembari memegang cemilan.
“Hmm, benar juga ya. Tuan Arsen ‘kan hanya pengganti suamimu yang sebenarnya,” ucap Jen mengiyakan perkataan Amey.
“Ada lagi yang lebih membuatku gila dan berasa ingin meninggoyyy!” tambah Amey.
“Apa itu?”
“Kau lupa jika aku diperlakukan sangat buruk oleh Arsen?! Apalagi saat aku telah mengetahui jika Arka telah meninggal. Sumpahhh! Aku sebenarnya masih trauma jika mengingat itu semua.”
“Tapi, itu ‘kan dulu. Beda lagi dengan yang sekarang. Pokoknya kau telah membuat seluruh wanita di dunia ini menjadi iri denganmu. Bagaimana tidak, kau bisa mencairkan hati beku Tuan Muda yang angkuh dan kau juga berhasil menyandang status sebagai Nyonya Winston. Aku pun dulu sangat iri padamu. Tapi …”
“Tapi apa?” kilah Amey mengangkat alis setengahnya.
“Tapi merasa kasihan juga padamu. Kau wanita yang sangat sabar saat menerima perlakuan buruk dari sang suami. Kalau aku jadi kamu, sudah pasti aku meninggalkan pria seperti itu, walaupun harus melarat seumur hidup.”
“HAHA!” Amey terbahak. “Iya juga sih. Tapi sebagai istri kita ‘kan tidak boleh seperti itu terhadap suami.”
Jenifer hanya mengangguk kecil namun bibirnya manyun.
Tak terasa hari mulai sore. Amey dan Jenifer akhirnya tertidur di ranjang itu. Doorbell pun berbunyi. Namun karena tidak ada yang menyahut dan membukakan pintu maka kecua orang itu langsung masuk ke dalam ruangan.
Dua orang laki-laki bertubuh atletis mengenakan jas berwarna hitam muncul dari pintu. Mereka adalah Arsen dan Mark. Keduanya bertatapan saat melihat istri-istri mereka telah terlelap manja di atas ranjang.
Arsen sebenarnya tidak ingin menekan doorbell saat memasuki kamar itu. Kalau saja hari itu bukan hari pernikahan Mark dan Jen pasti ia langsung mendobrak pintu berwarna cokelat itu. Ia terlihat kesal karena sudah lama sekali ia tidak melihat istri tercintanya. Padahal baru beberapa jam saja ia terlepas dari Amey.
“Mark … “ panggil Arsen.
“Iya, Tuan?”
“Kau lihat ‘kan bagaimana para wanita ini tidak merindukan kita?”
“Ya, Tuan. Kau benar. Padahal aku baru saja menikah. Seharusnya istriku senang jika bersamaku. Tapi kenyataannya?”
“Sialan kau Mark! Kau kesal karena istriku Bersama istrimu?!”
Deg!
__ADS_1
Selalu saja salah. Ya! Bukan Mark Namanya jika tidak pernah salah di mata Tuan Muda. “Bukan begitu, Tuan. Maksudku--”
“Helahhh! Jangan banyak alasan kau! Mentang-mentang sudah menikah, kau berani sekali menyalakan Memeyku! Yang ada istrimu yang mencuri kesempatan untuk menjauhkanku dari Memey!”
Mendengar ucapan tegas dari Arsen, Mark pun mengerutkan keningnya. Ia rupanya sedikit kesal dengan tuduhan Arsen terhadap istrinya. “Maaf, Tuan. Jeniku tidak bersalah. Nyonya mudalah yang tiba-tiba masuk ke kamar pengantin dan merebut waktuku dengan istriku,” bantah Mark tanpa menyadari panggilannya terhadap Jenifer.
“Br*ngsek kau! Meskipun hari ini merupakan hari spesialmu, jangan kau pikir aku akan mengalah kepadamu dan tidak akan memukulmu?! Sini kau bedebah gila!” Arsen hendak melayangkan pukulan mautnya di wajah tampan milik Mark, namun dengan sangat tangkas Mark menangkis pukulan itu.
“Tuan, sebelumnya maafkan aku. Tapi kerena ini hari spesialku, aku akan sedikit melawanmu. Ya hanya sedikit saja. Aku tidak ingin wajah tampanku lecet karena pukulan maut dari Tuan. Jika itu terjadi, Jeniku pasti akan khawatir dan jika Jeniku khawatir maka wajahnya yang cantik akan jelek dan jika itu terja—”
“ENAUGHHH!” Cukup! Arsen terlihat sangat jengkel. Ia menggeram kesal sehingga urat-urat kecil bermunculan di lehernya. Wajahnya begitu merah karena naik pitam.
“Sayang?” panggil Amey yang tiba-tiba terbangun.
Arsen pun menghentikan cengkeraman tangannya di kerah Mark dengan terpaksa.
“Mark?” panggil Jen yang juga telah terbangun dari tidur.
Kedua wanita itu mengucek mata mereka karena pandangan mereka masih samar-samar.
“Sayang apa itu kau?” tanya Amey memastikan.
“Memey, ayo bangun dan pergi dari sini sebelum aku emosi kembali!” geram Arsen.
“Tuan, lihat ‘kan istri-istri kita telah terbangun mendengar suara kita,” bisik Mark.
“Ya! Semua karena ulahmu! Setelah selesai resepsi pernikahan, kau pasti remuk sebelum malam pertamamu!”
Deg!
Sial! Bisa-biasanya aku melawan Tuan Muda. Aku benar-benar telah buta karena cinta! Habislah aku! Mana aku belum merasakan aksi pemantapan dengan Jeniku lagi?! Masa iya, aku meninggal di malam pertamaku! Batin Mark.
“Permisi Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya,” ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Elis.
“Elis? Ada apa?” tanya Amey. “Apa yang aku lewatkan? Kenapa di sini sangat ramai?”
“Nyonya Muda, dua jam lagi resepsi akan di mulai. MUA yang bertanggung jawab akan merias kembali wajah Sekretaris Jen. Dan gaun kedua yang akan dikenakan di resepsi telah dibawa langsung oleh Nona Zoey.”
“Astaga! Aku hampir lupa,” ucap Jenifer kaget.
“Para Tuan-tuan mohon untuk meninggalkan ruangan karena Sekretaris Jen akan mengganti pakaiannya,” ucap Elis sembari menundukkan kepala.
__ADS_1
Arsen mengepalkan tangannya karena masih emosi. Ia pun berlajan mendahului Mark. Namun setelah beberapa saat kemudian Langkah Mark berhenti saat tubuhnya hampir melewati pintu kamar. Ia membalikkan badannya memandang ke arah Mark yang masih mematung di sana.
Bukan hanya Arsen yang menatap Mark dengan tatapan aneh. Amey, Elis bahkan pun Jen memandangi Mark dengan heran.
“Kenapa masih di sini?” tanya Amey.
“Aku … aku …” Mark tampak kaku dan berkeringat.
Amey sejenak peka dengan maksud Mark. Ia pun mengangguk kepala dan tersenyum kecil memandangi Mark. “Kau boleh di sini, Mark. Sekarang kau ‘kan sudah jadi suami sah Jenifer, jadi tidak apa-apa.”
Deg!
Jen yang mendengar itu langsung menelan salivanya dengan kasar. Tentu saja karena ia masih malu jika Mark akan melihat dirinya berganti pakaian. Walaupun keduanya telah resmi menjadi pasangan menikah.
“Tidak … tidak! Kau tidak boleh di sini!” tukas Jenifer.
“Ke--kenapa?” lirih Mark.
"Pokoknya kau keluar dulu. Nanti jika aku sudah selesai mengganti pakaian, kau boleh masuk lagi."
"Hmm, kau masih malu ya?" goda Amey.
Jenifer terdiam.
"Jika kau merasa risih maka aku akan ke kamar mandi saat kau mengganti pakaian," ucap Mark.
"Tidak boleh! Kau harus ikut denganku keluar!" ucap Arsen tiba-tiba,
Deg!
Nyali Mark mulai menciut. Bagaimana tidak, ia sengaja beralasan supaya ia boleh terbebas dari hukuman Arsen. Maka dari itu Mark tak ingin berpaling dari ruangan itu.
Kalau begini, belum resepsi pun aku akan mati. Sialan! Bisa-bisanya aku lancang kepada Tuan Muda! Pokoknya, Tuhan tau, jika aku sangat mencintai istriku. I love you Jeniku. sampai bertemu di kehidupan selanjutnya!
To be continued ...
.
.
.
__ADS_1
follow ig @syutrikastivani