
"Paman Gazza merintis kembali perusahaan Kakek sehingga menjadi besar dan maju. Paman Gazza sempat dijadikan tersangka sebagai direktur dari pasar gelap, namun mereka tidak bisa menangkapnya karena semua bukti telah dihancurkan oleh Paman."
"Oh begitu rupanya. Pantas saja BIN turun tangan secara langsung!" sela Chemy.
"Bahkan hal yang paling keji yang paman lakukan adalah membunuh istri dan anaknya karena bibi telah mengetahui kejahatan Paman dan berniat untuk melaporkan pada polisi. Bukti yang Bibi kumpulkan untuk menangkap Paman kini di tenggelamkan ke dalam sumur bersama dengan tubuh Bibi."
"Ma--maksud kamu, Gazza melemparkan tubuh istrinya ke dalam sumur bersama dengan bukti?"
"Ya. Namun saat polisi menemukan mayat Bibi, mereka tidak menemukan bukti apapun di sana. Kata Paman jika Bibi didorong oleh seseorang yang menjadi musuh dari keluarga Dominic."
"Dan polisi langsung percaya begitu saja tanpa menginterogasi Gazza lebih dalam lagi?" tanya Chemy.
"Aku tak tahu banyak tentang itu. Tapi menurut Papa, Paman Gazza telah menyogok segelintir orang yang menggali kasus kematian istri dan anaknya."
"B*jingan gila!!" Kaisar mengeratkan rahangnya.
"Lalu apa yang terjadi dengan anaknya?" tanya Chemy.
"Saat itu anak Paman masih berusia dua tahun. Paman tidak tahan mengurus bayi dua tahun itu karena sangat rewel dan Bibi pun sudah tiada. Lalu Mama mengambil anak itu untuk mengadopsinya. Aku dan kembaranku berusia dua belas tahun saat bayi mungil itu datang di keluarga Kaylee."
"Nyonya Berlin sepertinya orang baik. Tapi ... " lirih Jayden seketika menghentikan ucapannya.
"Bayi mungil itu tiba-tiba menderita demam yang luar biasa sehingga Mama melarikannya ke rumah sakit. Mama menghubungi Paman dan mengatakan jika bayi itu sakit. Awalnya Paman tidak peduli, tapi akhirnya Paman datang dan menjenguk bayi itu. Mama terkejut saat Paman datang bersama dengan Kakek. Saat itu Mama membawaku bersama dengannya. Untuk pertama kalinya aku melihat wajah Kakek dan Paman. Mama menyuruhku menunggu diluar. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan di dalam. Sehingga beberapa saat kemudian suara tembakan kini terdengar. Semua orang menjadi panik."
"Apa Pamanmu menembak bayi malang itu?" tanya Jayden.
Milley semakin mengeratkan cengkeraman jemarinya.
"Ada apa, Milley?" tanya Chemy.
"Saat aku masuk ke dalam ruangan itu aku melihat Paman Gazza memberikan sebuah pistol ke tangan Mama dengan paksa. Paman Gazza menuduh Mamalah yang telah membunuh bayi tak berdosa itu. Tapi aku menjadi saksi atas pembunuhan itu. Kakek menyuruh Mama untuk menembakku karena aku adalah saksi mata satu-satunya. Kata Kakek aku harus di bunuh. Mama menolaknya dan mengakui tuduhan, jika Mamalah yang membunuh bayi itu supaya aku selamat. Mama berkorban agar aku tidak dibunuh oleh Paman dan Kakek. Akhirnya polisi menetapkan tersangka jika Mama adalah pembunuh dan memenjarakan Mama selama bertahun-tahun. Ketika Mama keluar dari penjara, sikap Mama berubah begitu dingin padaku. Ia bahkan sering mengatakan jika aku adalah anak pembawa sial."
"Sangat-sangat tidak berprikemanusiaan! Bisa-bisanya Ayah dan Anak bersekongkol dalam kejahatan!" celutuk Chemy.
"Milley, apakah itu adalah alasan mengapa Mamamu sering berlaku tidak adil padamu?" tanya Jayden.
Milley termangu sejenak. Ia menatap Jayden dengan sorot mata yang mulai membendung cairan. "Dari mana kau tahu?"
"Margareth mengatakannya padaku."
"Ya. Sejak saat itu Mama membenciku. Namun di depan Papa, Mama terlihat sangat baik. Tapi Papa menyadari itu. Papa selalu bilang padaku untuk tidak membenci Mama karena Mama adalah orang yang berkorban demi keselamatanku."
__ADS_1
"Apa Tuan Kaylee tidak melaporkan kejahatan dari keluarga Dom?" tanya Kaisar.
"Papa ingin sekali. Tapi Papa di ancam oleh Kakek dan Paman. Kalau Papa melaporkan kejahatan mereka, maka Aku dan Megan dalam bahaya."
"Benar-benar b*ngsat!" umpat Kaisar lagi.
"Tidak ada yang tahu mengenai peristiwa itu. Bahkan Margareth tangan kanan Papa dan orang yang sangat Papa percayai, dia tidak tahu dengan kejadian itu. Yang mereka tahu alasan mengapa Mama masuk penjara karena Mama menggelapkan dana perusahaan Kakek. Dan mengenai kasus pembunuhan bayi itu ditutupi secara rapat. Bahkan polisi menganggap kasus itu tidak pernah terjadi."
"Sebegitu kejamnya pria itu sampai-sampai membunuh istri dan anaknya!" celutuk Chemy.
"Jadi si psikopat itu memang sudah lama menjadi direktur pasar gelap?" tanya Kaisar.
"Sepertinya begitu. Semenjak kejadian itu, Papa dan Mama tidak pernah lagi membahas keluarga Dominic dan menganggap Mama bukan berasal dari keluarga Dom. Kami pun pindah di Kanada karena Papa ingin menjauhi keluarga Dominic. Hanya Papa yang dekat denganku. Mama dan Megan mulai menjauhiku semenjak kejadian penembakan di rumah sakit. Itulah pertama dan terakhir kali aku melihat wajah Kakek dan Paman. Kehidupan kami tampak tenang sampai datangnya penyakit aneh yang menimpaku. Aku sering sakit-sakitan dan kata dokter ginjalku bermasalah. Mengetahui itu Papa langsung berinisiatif untuk mendonorkan ginjalnya padaku tanpa berpikir lagi, dan hal inilah yang lebih membuat Mama dan Megan sangat-sangat membenciku."
"Milley kami sangat prihatin mendengar ceritamu yang begitu mengenaskan. Aku tidak menyangka gadis secantik dirimu ini memendam kisah piluh. Kau sangat hebat bisa bertahan di posisi yang menyakitkan seperti ini," tutur Chemy.
"Milley percayalah padaku. Aku akan mengeluarkanmu dari lubang kesengsaraan dan membuatmu bahagia!" ketus Jayden membuat Milley tersipu.
"Trima kasih banyak. Informasi darimu sangat membantu kami. Ohya, kau jangan khawatir. Gazza tidak akan mengganggumu karena kau bersama orang yang tepat. Kalaupun pria psikopat itu mengganggumu, maka kami yang akan turun tangan langsung menghentikan kejahatanya. Kami dari empat keluarga besar akan bersatu dan melindungimu!" ucap Kaisar.
Ucapan Jayden, Chemy dan Kaisar membuat Milley sedikit tenang. Hal yang ingin ia sampaikan sedari dulu akhirnya tersampaikan. Hal yang tidak bisa ia ucapkan pada Margareth akhirnya dapat ia ucapkan pada orang-orang yang baru dikenalnya. Meskipun demikian Milley terlihat sangat percaya pada Jayden dan sahabat-sahabatnya.
"Kau sudah mengintainya?"
"Sesuai perintah Anda, Tuan. Tapi sedikit sulit mendekati gadis itu karena dia bersama seorang pria."
Pria yang tak lain adalah Gazza itu mengernyitkan dahinya. "Siapa?"
"Tuan Jayden. Dari keluarga Smith," ucap pria suruhan Gazza.
"Hmm, keluarga Smith, ya?! Keluarga yang memiliki perusahaan mobil terbesar di Asia!"
"Benar, Tuan."
"Sepertinya pria yang di maksud Berlin adalah bocah itu! Tidak mengapa. Dia tidak ada apa-apanya bagiku," tersungging.
"Pria itu sepertinya memiliki hubungan erat dengan keluarga Winston. Saya sempat membaca artikel jika Tuan Jayden bersahabat dengan Tuan Arsen. Dan ada lagi pria yang satunya. Kalau tidak salah ingat pria itu berasal dari keluarga Stoner."
"Menarik. Rupanya mereka saling terhubung. Keluarga-keluarga besar yang memiliki reputasi tertinggi di negeri ini, mereka rupanya sepihak."
"Benar, Tuan. Tapi keluarga Dominic sudah menduduki posisi kedua terkuat di negara ini. Sebentar lagi Tuan akan menduduki posisi pertama menggantikan keluarga Winston."
__ADS_1
"Hahahah! Usahaku selama bertahun-tahun tidak sia-sia. Melengserkan posisi George sangatlah muda bagiku. Giliran keluarga Winston! Lihat saja nanti, aku pasti akan menaklukan lelaki Arogan itu!"
"Kau sangat hebat, Tuan. Lalu langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya?"
"Kita rehat sejenak rencana kita. Karena suasana hatiku sangat baik, mari kita membantu Berlin dengan melenyapkan ponakanku yang cantik! Hahah!"
"Baik, Tuan."
"Ohya, siapa lagi yang berada dipihak keluarga Winston selain keluarga Smith dan Stoner?"
"Saat saya memata-matai gadis bernama Milley di restoran, saya sempat melihat ada lagi seorang gadis muda berperawakan cantik. Gadis itu sepertinya bukan gadis biasa. Saya melihat jika gadis itu memiliki foto Tuan."
Bukkkk!
Gazza meninju wajah bawahannya dengan kuat sehingga pria itu terpental di lantai. "Dia memiliki fotoku dan kau baru mengatakannya?!" menggeram jengkel.
"Maafkan saya Tuan. Saya baru ingat. Saya hanya melihat sekilas. Gadis itu memasukan foto Tuan di dalam tasnya dan kemudian meninggalkan tempat itu."
"K*parat! Jadi wanita itu sudah tahu kalau aku dalang dari penyerangan beberapa hari yang lalu! Pasti si j*lang itu sudah memberitahu Arsen!"
"Maafkan saya, Tuan."
"Teka-teki tidak akan seru jika seseorang memberi contekkan!"
"Apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki kesalahan saya, Tuan?"
"Kau tahu jika aku bukanlah orang penyabar yang dengan sukarela memberi ampun terhadap makhluk hidup yang bersalah?" tersenyum licik.
Gazza mendekat ke arah pria suruhannya dan menodongkan pistol tepat di dahi pria itu.
"Tuan, maafkan sa--"
Door!!
Pria itu terjatuh di lantai dengan dahi yang berlubang. Cairan merah kental mulai berserakan di mana-mana. Para pria bawahan Gazza yang berada di ruangan itu hanya bisa menelan saliva dengan kasar. Mereka tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
"Rencananya kita ubah! Tunda dulu rencana mengejar keponakanku. Kita memiliki target yang lebih penting. Semoga j*lang itu belum memberitahu keluarga Winston!"
To be continued ...
Like, komen and Vote :)
__ADS_1