Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Tuan Arogan yang Bucin


__ADS_3

Peristiwa kemarin hari membawa banyak pelajaran bagi kehidupan pasangan suami istri itu. Arsen yang cuek dan tidak perduli terhadap siapa pun akhrirnya berubah menjadi pria yang penyayang, perduli, perhatian dan bahkan bisa bersikap kejam kepada siapa pun yang berani menyentuh istrinya.


Awalnya Arsen hanya mementingkan dirinya sendiri dan mementingkan bisnis. Dalam roda kehidupannya tak ada yang namanya cinta. Bagi Arsen, cinta hanyalah hal bodoh yang dapat membuat seseorang lupa akan segalanya. Namun kini, ia telah merasakan yang namanya jatuh cinta.


Amey Agatha yang kini telah berubah nama menjadi Amey Winston adalah wanita yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Cinta Arsen tumbuh atas bantuan sang istri yang awalnya tidak dicintainya. Tapi apalah daya Arsen yang kini menjilat kembali liurnya yang telah ia buang ke tanah.


Pagi hari yang cerah, tepatnya pukul enam, Amey sudah melakukan persiapan. Ia sengaja tidak membangunkan Arsen karena pikirnya, Suaminya itu sangat kelelahan akibat melindunginya dari orang-orang jahat yang berusaha melukainya kembali.


Amey telah berpakaian rapi serba hitam. Hari itu ia bermaksud untuk mengunjungi makam Arka karena ada sesuatu yang penting yang harus ia katakan pada Arka. Dengan mengendap-endap Amey keluar dari dalam kamar. Ia menengok ke tempat tidur dan memastikan Arsen masih terlelap di sana, kemudian ia menarik handle pintu dengan perlahan.


"Maafkan aku Suamiku. Aku tidak ingin membangunkanmu dan membuatmu repot," gumam Amey seraya berjalan menuju garasi mobil.


Amey menggunakan mobilnya yang berwarna putih dan menyalakan mesinnya. Setelah beberapa saat memanaskan mesin, Amey menginjak pedal gas dan berlalu meninggalkan mansion. Di depan gerbang sudah ada Pak Hardi yang baru saja berganti sif dengan Pak Muklis untuk siaga di depan gerbang utama.


"Selamat pagi, Nyonya Muda," sapa Hardi sembari membukakan gerbang untuk Amey.


"Pagi, Pak Hardi," sahut Amey tersenyum kemudian berlalu.


Dalam perjalanan Amey, ia membuka kaca jendelanya sembari menghirup udara sejuk di pagi hari yang begitu menenangkan. Sesekali ia merendahkan pijakkan kakinya di pedal gas dan menikmati sejenak keindahan alam.


Setelah hampir tiga puluh menit berkendara, tibalah Amey di ladang pekuburan tempat tinggal Arka. Tak lupa juga ia membawa bunga kesukaan dirinya dan Arka dan meletakkan bunga itu tepat di atas pusara Arka. Amey tersenyum semringah dan memeluk pusara itu.


"Halo Arka? Apa kau merindukanku?" gumam Amey seraya menatap nama yang tertera di batu nisan itu.


Amey mengambil napas dalam dan membuangnya secara perlahan. "Arka, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi aku bingung harus memulainya dari mana. Aku harap kau bahagia saat aku jujur padamu," mengatur posisi duduknya.


"Arka, aku sudah tidak marah lagi padamu. Aku sudah mengikhlaskanmu pergi jauh. Pikirku aku adalah wanita terbodoh yang tidak tau-menau dengan penderitaan yang kau alami. Sebagai tunanganmu aku tidak peka dengan apa yang kau rasakan selama ini. Tapi setelah aku merenunginya, aku tersadar jika aku wanita yang paling beruntung karena bisa menerima cinta yang begitu tulus darimu. Kau pergi, namun tidak sepenuhnya pergi. Kau telah meninggalkan sesuatu yang sangat berharga untukku. Meski sesuatu itu kadang membuatku selalu jengkel dan marah, tapi sesungguhnya saat aku berada di sampingya, aku selalu merasakan ketenangan dan kenyamanan. Arka, aku sudah mulai mencintai Arsen kembaranmu. Aku juga tidak tau kapan benih itu muncul, yang pasti karena sifatnya yang baik dan perhatian padaku sehingga aku tidak bisa menahan perasaanku terhadapnya. Kau memang benar Arka. Ternyata Arsen sangatlah baik, tapi kadang ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya. Aku rasa aku telah jatuh cinta pada Arsen. Aku minta maaf sekaligus berterima kasih, Arka. Aku bahagia sangat-sangat bahagia di sini. Kau juga, bahagialah di sana." Amey menggerutu sembari mengusap lembut pusara Arka.


***


Di Mansion kembali terjadi kegaduhan. Arsen memberontak karena tidak menemukan istrinya. Para penghuni rumah itu gemetar karena harus menghadapi tempramen Arsen. Zoey ikut ketakutan karena melihat Arsen yang memporak porandakan benda-benda antik yang ada di rumah itu.


Ohhh guci miliaran rupiah! Malang sekali nasibmu. Maklumi saja sifat pemilikmu. Kau bukan apa-apanya dibandingkan istrinya yang berharga. Ucap Soffy dalam hati saat melihat Arsen membanting semua guci-guci mahal.

__ADS_1


"Di mana Memeyku, hah?" tanya Arsen dengan berteriak.


"Kami tidak tau Tuan. Sedari tadi kami tidak melihat Nyonya Muda," tutur Elis.


"Kalian semua tidak ada yang becus! Kalau sampai terjadi hal buruk pada Memeyku, jangan harap kalian semua bisa hidup!"


Arsen begitu emosi. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya saat itu. Pasalnya si pengendali emosi Arsen tidak berada di sampingnya dan itu lebih membuat ia menjadi liar tak terkontrol. Semua yang ada di situ menjadi bingung, mereka tidak tahu harus melakukan apa agar Arsen tenang.


Amey memang tidak membawa ponselnya makanya itu yang membuat Arsen lebih kawatir. Pikiran Arsen buntuh, ia tidak dapat lagi berpikir dengan jernih karena emosi telah menguasai kepalanya. Ia menatap cincin pernikahan dirinya dan Amey yang terpasang di jari manisnya dan mencium cincin itu.


"Memey, kau ke mana?" gumam Arsen lirih.


Melihat tingkah Arsen yang sangat panik membuat Soffy tersenyum kecut. Tuh 'kan! Bucin akut. Hahaha. Paling sebentar lagi Amey tiba. Aku sangat yakin jika Amey pergi mengunjungi makam Arka. Haha! Biarin aja kau seperti itu menantu gila! Aku tidak akan memberitahumu. Sekali-kali aku kerjain kau!


Soffy meledek Arsen dalam hatinya. Ia tahu jika cucunya tidak akan ke mana-mana selain pergi ke kantor atau ke makamnya Arka. Kalau ke kantor pasti tidak mungkin, karena hari itu adalah akhir pekan. Jadi kesimpulan terakhir Soffy, bahwa Amey memang mengunjungi makam Arka.


"Aku pulang!"


Semua pandangan mata tertuju ke arah sumber suara. Mereka bernapas legah saat mendengar suara Nyonya muda mereka. Namun Amey langsung menghentikan langkahnya saat melihat keadaan rumah yang sangat berantakan layaknya kapal pecah.


"Memeyku!" teriak Arsen.


"Suamiku, apa yang terjadi? Apa rumah ini baru saja kedatangan maling? Astaga! Semuanya terlihat hancur dan ..."


"Kau ke mana saja, hah?" tukas Arsen mengeratkan rahang.


Amey mundur satu langkah ke belakang saat melihat Arsen yang mulai mendekat dengan penuh amarah. "Suamiku? K--kau kenapa?"


Arsen menggeram. Ia menarik tangan Amey dengan kasar dan membawanya ke kamar. Semua yang melihat itu menjadi ketakutan kecuali Soffy dan Mark. Kedua orang itu tahu jika Arsen tidak mungkin melukai Amey.


"Mark, ayo obati lukamu," ajak Soffy.


"Tidak apa-apa Nensi."

__ADS_1


"Tidak apa-apa dengkulmu?! Jelas-jelas bibirmu berdarah dan pipimu memar! Ayo ikut aku dan obati lukamu!" tegas Soffy.


"Aku sungguh tidak apa-apa. Lagian aku sudah terbiasa dengan luka-luka seperti ini. Jangan kawatirkan aku Nensi, luka ini pasti akan pulih dengan sendirinya."


"Baiklah terserah kau saja." Soffy berlalu meninggalkan Mark.


Sebelum Arsen melempar seluruh benda-benda antik yang ada di rumahnya, ia sudah terlebih dulu melampiaskan emosinya pada Mark. Lagi-lagi wajah Mark yang tampan harus ditutupi dengan memar bekas pukulan Arsen.


Mark mengusap bibirnya yang memang telah mengeluarkan darah dengan telapak tangannya, kemudian ia meraih sapu tangannya yang ada di saku celana dan menyekanya perlahan. Darah itu memang sudah keras sehingga agak sulit dibersihkan.


"Jangan sok menjadi pahlawan kalau masih merasakan kesakitan!" tutur seorang wanita yang ternyata adalah Sinta.


Mark menatap Sinta yang sedang membawa baskom berukuran sedang berisi air hangat dan kotak p3k. Tidak menunggu lagi ijin dari Mark, Sinta pun dengan beraninya menarik pergelangan tangan Mark dan membawanya untuk duduk di sofa.


"Hey! Apa yang kau lakukan?"


"Duduklah."


Mark menurut.


"Aku akan mengobati lukamu, Tuan. Jadi jangan bergerak," pinta Sinta sembari meremas kain kecil berwarna putih dan mengusap pinggiran bibir Mark.


Plakkk!


Mark menepis tangan Sinta. "Lancang sekali kau menyentuhku!" celutuk Mark.


"Sudah terluka tapi masih saja angkuh!" gumam Sinta memutar bola matanya dengan malas.


"Aku tidak membutuhkan bantuanmu! Jangan melewati batas!" beranjak dari duduknya dan meninggalkan Sinta.


"Tuan! Ayolah, kau terluka!" teriak Sinta. "Hufthh, baiklah! percuma saja aku membantu laki-laki dingin itu, cih!" gumamnya sembari menuju ke dapur.


To be continued ...

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


__ADS_2