
Dengan berat hati dan penuh keterpaksaan Mark mengiyakan perintah Amey untuk mengantar Jenifer pulang ke tempat tinggalnya. Ingin sekali ia menolak dan membantah ucapan Amey, namun apalah daya? Mark tidak seberani itu berkata demikian kepada Nyonya Mudanya.
Mark beranjak dari posisinya dan mendahului Jen menuju garasi. Jen juga sebenarnya tidak ingin diantar pulang oleh Mark. Jen tahu sifat Amey yang keras kepala. Bagaimana pun kerasnya usaha Jen untuk menolak, pastilah itu akan sia-sia, dan Amey akan menanam kecurigaan padanya.
"Jen, kenapa bengong?" tanya Amey menyambar lamunan Jenifer.
"Ehm, ti--tidak. Aku ... "
"Sudah. Sana susul Mark. Ohya Jen, kalau dilihat-lihat, kau dan Mark oke juga. Haha!" goda Amey membuat Jen menggeleng kepalanya cepat.
"Ishh, apa sih kamu Mey. Nggaklah! Ya sudah, aku pergi ya. Sampai ketemu di kantor," berjalan meninggalkan Amey.
"Jen semangat! Kau pasti bisa menaklukan hati si Jodi itu," teriak Amey mengiringi kepergian Jen.
Jenifer tidak menggubris. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa sahabatnya itu menjodohkannya dengan pria yang membencinya karena telah membuang ingus di pakaiannya. Jen pun sebagai pelaku sadar jika hal itu sangat jorok. Jadi wajar membuat si Tuan Dasi Merah itu geram padanya.
"Semoga saja dia masih tidak mengingatku. Ya ampun! Kenapa juga Amey menyuruhnya mengantarku pulang? Ishh, menyebalkan!" Jenifer menggerutu dengan kesal.
Setibanya di garasi, ia kebingungan mencari sosok Mark. Di sana ada begitu banyak kendaraan, dan bayangan Mark pun hilang di antara mobil-mobil itu. Jen berjalan perlahan melewati beberapa mobil yang berjejer rapi di sana. Sedangkan si Tuan Dasi Merah itu sudah duduk di dalam mobil barisan ke empat sembari menatap Jen yang tampak bingung.
"Dari penampilannya tidak memperlihatkan bahwa wanita itu jorok. Tapi ... penampilan bisa menipu! Jelas-jelas dia secara tidak tahu malunya membuang kotoran dalam hidungnya di pakaianku! Ahhh, menjijikkan!" memukul kemudi.
Mark menyalakan lampu mobilnya sehingga membuat mata Jen berkedip-kedip karena silau. Mark menatap lutut Jen yang masih tertutupi sebuah kain berwarna putih. "Bahkan dia tidak mengganti kain kasanya! Apa dia tidak mandi?! Gossshh!" gumamnya.
Dengan perlahan Jen melangkahkan kakinya menuju ke mobil yang lampunya telah dinyalakan. Ia terlihat kesulitan berjalan karena menahan rasa sakit. Tentu saja, karena ia jarang sekali duduk untuk mengistirahatkan kakinya. Semenjak pesta berlangsung, hanya beberapa kali saja Jen duduk, selebihnya berdiri karena mencoba menjauh dari Mark.
"Kau tidak perlu repot-repot mengantarku. Kau bisa menurunkan ku di depan gerbang dan aku akan memesan taksi online," ucap Jen ketika masuk ke dalam mobil.
Mark berdiam. Ia menghidupkan mesin, menginjak pedal gas dan berlalu meninggalkan garasi mobil. Pandangan mata Mark lurus ke depan, ia tidak mau menatap Jenifer yang kini duduk di sampingnya. Mark membuang jauh-jauh ingatan tentang kejadian tadi siang.
"Maaf Tuan, kau bisa turunkan aku di sini," tutur Jen lagi.
Mark tidak mendengarkan dan tetap melajukan mobil itu. Jen tampak jengkel, ia mengumpat dalam hatinya dan merutuki Mark. Sabar Jen, sabar! Mungkin Tuan Dasi Merah ini tidak mendengar ucapanmu.
Sudah setengah perjalanan, Mark tidak mengeluarkan suara. Bertanya mengenai alamat Jen pun tidak, seolah ia telah mengetahui alamat tempat tinggal gadis itu. Jen pun pura-pura cuek dan tidak mengatakan di mana tempat tinggalnya.
Di mana rumah gadis ini? Kenapa dia diam? Dia pikir aku satelit yang bisa mendeteksi tempat tinggalnya! ucap Mark dalam hati.
"Tuan, kau tidak mau bertanya di mana alamatku?" Jen membuka suara lebih dulu memecah keheningan.
"Katakan."
"Setelah lampu merah, belok kanan. Kemudian ada gang kecil di sebelah kiri. Kau bisa menurunkanku di depan sana."
Bukankah itu gedung kos-kosan?
__ADS_1
"Aku kira kau sudah tahu tempat tinggalku."
"Aku bukan google maps," ucap Mark datar.
"Siapa juga yang mengatakan kalau kau google maps! Dasar aneh!"
Mark menaikan alis setangahnya. Ia tampak kesal mendengar suara Jen karena itu mengingatkannya pada cairan kental berwarna bening. Sangat sulit bagi Mark untuk menghilangkan memori tadi siang.
"Di sini saja. Aku bisa berjalan ke dalam," tutur Jen.
Mark tidak mendengarnya lagi. Ia memasukkan mobilnya ke dalam lorong itu. "Sebelah mana?"
"Berhenti saja di gedung sebelah kiri yang depannya ada tiang listrik," menunjuk ke depan dengan telunjuknya.
Mark memberhentikan mobil sesuai dengan arahan Jenifer. Saat wanita itu hendak turun, ia lagi-lagi melihat luka Jen. "Nona Doris, apa kau tidak mengganti perban di lututmu?"
"Hey!" teriak Jen saat mendengar Mark memanggilnya dengan nama Neneknya. "Kau memanggilku apa tadi, No--nona ... "
"Nona Doris! Apa kau pelupa? Kau sendiri yang memperkenalkan namamu dengan nama itu."
Jen terdiam seketika. Benar juga sih. Tapi dia 'kan sudah mendengar jika Amey memanggilku Jenifer!
"Ganti perbanmu itu!" ketus Mark. "Dasar jorok!" lirihnya namun di dengar oleh Jen.
"Apa kau bilang? Jo--jorok?" ulangi Jen namun dengan menaikkan nada. "Tunggu! Jangan-jangan pria ini sudah ingat siapa aku?" gumamnya.
Kata-kata tajam dari Mark membuat Jen terperanjat. Bisa-bisanya Mark dengan penuh percaya diri mengatakan itu pada Jenifer yang jelas-jelas sangat benci jika harus berlama-lama dengannya.
"Eh, jangan kepedean kau! Siapa juga yang mencari kesempatan!"
"Ingat! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku bahkan tidak bisa makan satu hari ini karena ulahmu!"
"Ulahku? Apa yang sudah aku lakukan padamu, hah? Kita bahkan baru bertemu beberapa jam yang lalu dan kau bilang aku berulah padamu? Cih! Yang benar saja kau!" Jen akhirnya mengeluarkan unek-uneknya yang sedari tadi ia tahan.
"Jangan pikir dengan aku bersikap cuek padamu, aku telah melupakan perbuatan jorokmu padaku yang mengotori dasiku!"
Deg!
Di--dia ingat! Astaga! Jadi selama ini dia hanya berpura-pura tidak mengenaliku?
Jen terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Seharusnya tadi siang ia meminta maaf pada Mark, namun setelah membuang ingusnya di pakaian Mark, ia malah memukul-mukul dada bidang pria itu dengan keras.
"Jadi ... kau tadi hanya pura-pura tidak mengenalku?" tanya Jen dengan lirih. "Baiklah, aku minta maaf karena telah mengotori pakaianmu dan telah memukulmu, Tuan dasi merah."
Mark menjadi iba melihat Jen yang tampak bersedih. Ia ingat betul jika gadis itu tersedu-sedu karena diselingkuhi pacarnya.
__ADS_1
"Ehem!" berdehem. Mark terlihat tidak nyaman dengan sitisasi saat itu.
Jen menunduk sembari memainkan jemarinya. Saat ini gadis itu butuh teman curhat untuk mencurahkan isi hatinya. Tapi mau bagaimana lagi, Jen hanya bisa mencurahkan isi hatinya pada Amey, sedangkan wanita itu tidak ada waktu untuk mendengarkan celotehnya.
"Jangan menangis lagi. Dia tidak pantas kau tangisi!"
***
Sudah dua puluh menit, Arsen duduk di meja kerjanya sembari menatap layar monitor. Ia tampak serius mengamati data statistik itu. Rupanya pria itu sedang menyelesaikan pekerjaan kantornya yang terlewatkan beberapa hari.
Amey yang sudah berada di atas ranjang akhirnya turun kembali dan menghampiri Arsen di ruangan kerjanya yang hanya bersebelahan dengan kamar tidur mereka.
"Sayang?" panggil Amey.
"Ada apa? Kenapa Memeyku belum tidur, hm?" menatap Amey yang sedang berjalan mendekatinya.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kemarilah," panggil Arsen.
Pria itu mendudukkan Amey di pangkuannya dengan posisi menghadap ke arahnya. "Kau susah tidur jika tidak ada aku. Untuk itu aku akan menidurkanmu Sayang." Arsen melingkarkan tangan Amey di lehernya, dan memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Amey.
"Sayang, apa masih lama?" tanya Amey dengan nada memelas.
"Sudah tidak lama lagi. Tidurlah di sini," menepuk pundaknya.
Amey mengangguk dan menyandarkan kepalanya di perbatasan leher dan pundak Arsen. Sesekali Amey mencium dan mengigit di sana, sehingga membuat pria itu tidak bisa berkonsentrasi.
"Memey Sayang, jangan memancingku. Tunggulah setelah aku selesai mengerjakan ini," tutur Arsen.
"Aku hanya ingin mencium lehermu. Entahlah, hanya ingin saja," melanjutkan mencium sampai leher Arsen memerah.
"Baiklah, lakukan sesukamu. Tapi setelah ini kau harus bertarung denganku."
Amey tidak menggubris dan masih asik mencetak tanda-tanda aneh di leher suaminya.
To be continued ...
.
.
.
Visual part II sudah ada, silahkan berkunjung di youtube channel Author :)
__ADS_1