Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Hari Bahagia ~ TAMAT


__ADS_3

Acara puncak hampir usai. Saatnya waktu yang ditunggu para hadirin pun tiba. Pembawa acara mengumumkan jika acara selanjutnya adalah melempar bunga. Betapa girangnya khalayak. Mereka berbondong-bondong berdiri di depan pelaminan, dengan harapan menerima lemparan buket bunga dari pengantin wanita.


"Satu ... dua ... tigaaa!" ucap pembawa acara dan disambut sorakkan dari para hadirin.


Jayden dan Milley tersenyum. Mereka sepertinya telah merencanakan sesuatu. Kedua pengantin itu pun berjalan beriringan sembari membawa bunga meninggalkan pelaminan. Khalayak menjadi penasaran kepada siapa bunga itu akan diberikan Jayden dan Milley.


Seorang pria bertubuh tegap, menggunakan setelan abu-abu dengan dasi kupu-kupu yang menempel di jakunnya, tampak berdiri tegap memandangi Jayden dan Milley yang berjalan menuju ke arahnya. Ya! pria itu adalah Pedro.


"Selanjutnya, lakukan tugasmu," tutur Jayden menyerahkan bunga itu sembari mengedipkan matanya.


Pedro menjadi gugup. Rupanya Jayden dan Pedro telah merencanakan sesuatu. Pedro menatap seorang wanita bergaun hitam. Wanita itu sangat cantik dan anggun. Ya, siapa lagi kalau bukan Chemy. Dokter cantik dan jenius, pujaan hati semua kaum laki-laki. Dengan langkah perlahan, Pedro berjalan ke arah Chemy.


Chemy tertegun karena semua orang menyoroti dirinya. Ia tampak malu-malu. Musik masih terus berdentum. Orang-orang bersorak sorai penuh kebahagiaan.


Pedro tiba tepat di depan wanita cantik yang sudah lama di incarnya. Ia menekuk lutut sebelahnya dan memberikan bunga itu pada Chemy. Gadis itu tersenyum dengan sangat manis.


"Chemy, aku mengumpulkan keberanianku untuk mengajakmu menikah. Meski aku tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Aku mungkin terlalu lancang, tapi jujur aku sangat mencintaimu sejak kita masih kecil. Aku selalu mengagumimu dalam diam."


Chemy menitikkan cairan bening di sudut matanya. Tak hanya Chemy, beberapa tamu tua dan muda pun menangis haru melihat lamaran Pedro yang begitu tulus.


"Dokter Pedro, aku juga malu mengakui ini. Tapi, aku sudah lama mencintaimu. Tapi aku masih ragu untuk mengatakannya padamu. Aku takut jika cintaku tak terbalaskan dan bertepuk sebelah tangan. Aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan mengabulkan doaku untuk memilikimu. Dan Hari ini, Tuhan dengan sangat baik menjawab doaku," terisak.


"Chemy, kau adalah cinta pertama dan terakhirku. Aku janji akan membuatmu menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena memilikiku. Aku tidak akan menyakitimu, dan tidak akan pernah menghinatimu seumur hidupku," menatap lekat wajah Chemy. Ia menyodorkan sebuah benda segi empat yang di dalamnya terdapat sebuah cincin permata yang mewah.


Semua orang seketika menjadi melow.


"Chemy Xavier, maukah kau menjadi pendamping hidupku dan menjadi ibu dari anak-anakku? Jika ya, terimalah cincin ini."


Chemy mengangguk cepat. Cairan bening terus mengalir dari sudut matanya. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanan, dan memberikan tangan kirinya untuk dipasangkan sebuah cincin di jari manisnya. "Aku menerima lamaranmu," ucapnya lirih.


Pedro memasangkan cincin permata itu di jari manis Chemy. Orang-orang yang menyaksikan lamaran super romantis itu ikut bahagia dan bersorak menepuk tangan mereka.


Acara pernikahan Jayden dan Milley berlangsung dengan sangat bahagia. Beberapa kejadian tak terduga terjadi di pernikahan mereka. Siapa yang dapat menyangka jika seorang Arsen yang keras, kukuh dan menjunjung tinggi segala prinsip kehidupannya, menjadi sedikit lunak sehingga merestui hubungan mantan pria casanova dengan adik kesayangannya.


Tak hanya itu, tak ada yang menyangka jika Chemy dan Pedro sebenarnya telah menyimpan rasa suka sejak lama. Bahkan sahabat-sahabat terdekat mereka tidak tahu menahu dengan pikiran keduanya. Pedro dengan segala kejantanannya berhasil melamar Chemy di depan khalayak dan itu bukanlah suatu hal yang mudah. Dibutuhkan keberanian penuh, serta menyiapkan mental baja, untuk berjaga-jaga, jika Chemy menolaknya mentah-mentah. Alhasil, Pedro pun sukses besar melamar Chemy.


Semua kebahagiaan semakin lengkap. Kelima sahabat itu akhirnya menemukan pasangan sejati mereka. Tak hanya mereka, Mark pun yang awalnya tidak pernah berpikiran untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun setelah patah hati dari mantan pacarnya, akhirnya menemukan kekasih hati. Walaupun awalnya pertemuannya dengan Jenifer berkesan tidak bagus.


Dan ya! Si Tuan Arogan yang awalnya sulit ditaklukan wanita manapun kini telah menjadi budak cinta istrinya. Lelaki yang sama sekali angkuh, cuek, kejam dan licik kini berubah menjadi lelaki yang penuh tanggung jawab, romantis dan manis. Amey berhasil membuat Arsen, si Tuan Arogan tunduk setunduk-tunduknya, dan membuat Arsen lupa dengan harga diri yang begitu dijunjung tingginya. Bagi Arsen, Amey adalah segala-galanya.


Ohya, bagaimana dengan almarhum Arka? Apakah Amey sudah melupakan pria yang dulu begitu dicintainya. Oh tentu tidak! Amey selalu menaruh Arka di dalam hatinya. Meski ia tak bisa hidup berdampingan dengan Arka, tapi Amey selalu menganggap Arka sebagai pahlawannya. Kenapa? Ya! Tentu saja. Meski Arka sudah tiada, Arka selalu membahagiakan Amey lewat kehadiran Arsen. Arka mengijikan dirinya untuk hidup berdampingan dengan Arsen. Amey begitu bahagia memiliki dua orang yang sangat mencintainya.


Terdengar egois bukan? Tapi mau bagaimana lagi. Kalau sudah menyangkut hati, semua orang tak bisa menebak ending-nya. Lagi pula, Arka juga telah menitipkan Amey pada saudara kembarnya Arsen. Dan Arsen telah berjanji untuk membahagiakan Amey bersama buah hati mereka yang mendekati setengah lusin (heheh). Jadi, tak ada yang salah dengan cinta mereka. Tak ada yang berkhianat! Ketiganya saling mencintai dan juga saling mengiklaskan dengan lapang dada.


Walaupun pernikahan Arsen dan Amey memiliki awal yang memiluhkan sampai menyayat hati, namun setelah menjalani dengan penuh perjuangan, pengorbanan dibarengi dengan air mata kepedihan, akhirnya dapat tergantikan dengan kebahagiaan yang berlipat ganda. Dan terbukti! Kekuatan cinta yang tulus dapat mematahkan keegoisan, keangkuhan dan dapat membuat kehidupan semakin lebih berharga.

__ADS_1


***


Delapan belas tahun kemudian ...


Kediaman keluarga Winston kembali menggelar acara yang dihadiri oleh berbagai tamu-tamu penting kelas atas. Pasalnya, anak bungsu dan anak satu-satunya yang berkelamin perempuan dalam keluarga Winston tepat hari ini berusia tujuh belas tahun. Ya! Dialah Edelweiss, gadis cantik jelita yang mulai beranjak dewasa.


Mewarisi kulit ibunya yang begitu cerah dan mulus, memiliki perpaduan wajah Arsen dan Amey membuat gadis remaja itu sangat disukai oleh semua pria yang memandangnya. Tak hanya kaum adam, kaum hawa pun merasa iri dengan kecantikan tak terbantahkan yang dimiliki Edelweiss.


"Daddy!" panggil si cantik Edelweiss.


"Ada apa, Sayang?" berjalan mendekat ke arah putrinya.


"Aku sangat kesal! Aku benar-benar marah!" ketus Edel menyilangkan tangan di dadanya dan menatap wajah Arsen dengan garang.


"Why? Apa yang membuat putri Daddy marah, hah?" menyubit dagu Edelweiss.


"Kau tahu Daddy, kak Edzel tidak mau turun! Padahal sebentar lagi aku mau tiup lilin!" rengek Edelweiss. Ia sangat manja dan pemarah. Sepertinya gadis cantik ini mewarisi sikap Arsen yang mudah emosi.


"Loh, kenapa?"


"Kak Edzel mabuk berat Daddy! Tadi subuh aku melihat Kak Edzel masuk ke dalam kamarnya dengan penampilan yang amburadul. Aku mendekat ke arahnya dan mencium aroma alkohol yang begitu menyengat!" adu Edelweiss.


Arsen mendengus. Ia hanya bisa menggeleng kepala sembari pasrah dengan sikap Edzel. Tiba-tiba Arsen menarik sudut bibirnya dan membuat lekukan di sana. Edzel ... Edzel! Kau mewarisi sikap brengsekku waktu muda!


Sementara Edelwaiss sedang berkeluh kesah terhadap ayahnya, seorang pria masuk ke dalam mansion dengan aura mematikan disekitarnya. Pria bertubuh tegap, berdada bidang, memiliki alis tegas dan tidak pernah tersenyum. Siapa lagi kalau bukan si sulung, Edward Winston. Lelaki itu benar-benar misterius dan tak tersentuh. Dia tidak pernah bermain wanita apalagi berkencan dengan wanita.


Orang-orang yang berada di ruangan itu terdiam. Padahal sebelumnya mereka tampak bercakap ria dan kini membisu seolah pita suara mereka telah lenyap. Kehadiaran Edward sangat mengintimidasi tamu-tamu di sana. Tidak ada yang berani berbicara atau menyapa Edward kecuali keluarga dekatnya. Mereka semua takut dan menghindar karena pikir mereka jangan sampai salah bicara dengan pria dari kutub utara itu.


"Kak Edwardd!!" berlari dan memeluk kakaknya yang baru saja tiba dari luar negeri.


Edward membalas pelukan Edelweiss dan mengecup pipi dan kening adiknya. Sehingga membuat siapa saja yang melihat adegan itu menjadi iri, apalagi para wanita.


"Selamat ulang tahun, Edel," ucap Edward.


"Kak Edward, tunggu sebentar. Edel ke atas dulu untuk membangunkan kak Edzel," tuturnya berlari meninggakan Edward.


Setibanya di kamar Edzel, ia mendegus dan membuang napasnya dengan kasar. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Edzel dan berteriak.


"Kakak! Bangun! Sebentar lagi acara ulang tahunku akan di mulai!!!"


Mendengar suara cempreng gadis remaja itu membuat Edzel memutar badannya dengan malas. Ia tahu jika adiknya pasti akan mengacaukan mimpinya.


"Kakak! Woy woy woy!! menarik paksa selimut Edzel.


"Zeyra!!" ketus Edzel tiba-tiba, membuat Edelweiss melonjak kaget.

__ADS_1


"Siapa dia?!" tanya gadis itu menyipitkan mata.


Edzel menarik paksa tubuhnya untuk bangun. Ia menggaruk kepalanya dan menatap wajah Edelweiss. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah adik perempuannya yang manja, bawel dan pemarah.


"Selalu saja begitu. Setiap kali aku bangun, yang pertama kali ada di hadapanku adalah wajahmu yang jelek ini," menggemas pipi adiknya.


"Kakak! Ayo bangun dan mandi! Kak Edward sudah datang!" tukas Edel.


"Benarkah?" tersenyum lebar.


"Hmm, mengangguk."


Dengan sigap Edzel membersihkan dirinya di kamar mandi, memakai setelan jas mewah tidak lupa juga menyemprotkan parfum dan menyisir rambutnya sembari menatap cermin penuh dengan kekaguman. "Tampan sekali," pujinya tersenyum puas.


Beberapa menit lagi acara akan di mulai. Semuanya telah turuh ke bawah. Namun masih ada dua pria yang tak kalah penting di keluarga Winston yang masih belum menampakkan batang hidung mereka.


"Syukurlah belum terlambat," ucap seorang pria yang tak lain adalah Edhan.


"Aku pikir juga begitu," sambung Edgar.


Semua mata tertuju pada kedua lelaki tampan yang memiliki perawakan sama. Mereka menjadi pusat perhatian saat sedang berjalan memasuki ruangan. Jika sudah melihat empat lelaki tampan itu berkumpul, tidak ada lagi obat penawar yang bisa menghilangkan virus cinta yang menyebar pada semua wanita yang memandangi mereka.


Sementara yang lainnya mengagumi Edgar dan Edhan dalam diam. Tampak wajah Edelweiss sedikit murung. Ia menatap segala penjuru ruangan itu berharap menemukan seseorang yang paling ia tunggu-tunggu.


Di mana Luke?! Apa dia benar-benar tidak datang? Batin Edelweiss.


"Selamat ulang tahun Nona Muda," ucap pria paruh baya.


"Uncle, Mark!" ketusnya sembari menatap sekitar Mark.


"Kau mencari Luke?" tanya Mark.


"Ya! Di mana dia? Apa dia sudah berangkat ke luar negeri?" tanya Edelweiss dengan harapan pemikirannya salah.


"Aku di sini!" tutur seorang lelaki, dingin. Ia adalah teman sebaya dengan Edelweiss dan juga merupakan anak dari Mark dan Jenifer.


"Luke!" Dengan semringah ia menatap Luke, namun Luke hanya menatapnya datar.


"Selamat ulang tahun," menyodorkan sebuah hadiah.


Betapa senangnya hati gadis itu saat mendapat hadiah dari Luke. Pipinya mengeluarkan rona merah.


"Trima kasih, Luke."


Luke menunduk.

__ADS_1


~TAMAT~


__ADS_2