Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Masih Penasaran


__ADS_3

"Apanya yang sudah siap?" tanya Arsen.


Amey menganga, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya. Sekitar lima menit Amey tidak bersuara dan itu membuat Arsen mendekat.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Arsen kembali.


Amey meremas seprei putih dengan tangannya. Pipi Amey mengeluarkan rona merah. Lagi-lagi jantungnya berdebar tidak karuan.


"Jangan diam saja," tutur Arsen lebih mendekat.


Kenapa bibir ini sangat sulit dibuka. Padahal aku sudah berlatih untuk mengatakannya sebelum Arsen kembali. Aduhhh Amey kau memalukan!


"Tadi aku mendengar kau mengatakan sudah siap. Sudah siap untuk apa?" Arsen semakin penasaran.


Gugup dan malu itulah yang dirasakan Amey. Ia menggigit bibir bawahnya dengan rapat. Kata-kata yang telah ia siapkan kini sirna begitu saja dalam benaknya.


"Kau membuang waktuku saja!" Arsen melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Setelah melihat tubuh Arsen menghilang dibalik pintu, Amey menghembuskan napasnya legah. Ia memukul-mukul bantal dengan tangannya. "Malunya ituloh sampai di ubun-ubun," gumamnya sembari merontah-rontah di atas ranjang.


Setelah dua puluh menit berada di kamar mandi, akhirnya Arsen keluar dari dalam, ia mendapati Amey sedang melakukan pose aneh di atas ranjang. Yang benar saja wanita itu sedang mempraktekkan berbagai gaya yang harus ia lakukan saat malam pertama itu tiba.


Amey tidak ingin terlihat sangat polos saat melakukan hubungan suami istri. Tiba-tiba ia tertawa geli saat memperagakan posisi aneh yang ia lihat di internet. "Hihi, aku sudah tidak waras. Bagaimana aku bisa melakukan itu dengannya!" gerutu Amey.


Sorot mata Arsen tidak berhenti memandangi tingkah Amey yang sangat aneh. Arsen menelan saliva saat ia melihat pose yang tidak asing baginya. Seketika belut yang terbalut handuk itu mulai berdenyut. Tandanya kejantanan Arsen mulai bangun dari tidurnya.


"Ehem!" Arsen berdehem.


Mendengar suara itu, Amey terbelalak dan memukul jidatnya. Ia menatap Arsen yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan raut heran. "K--kau sudah selesai mandi?" tanya Amey gugup.


"Apa yang kau lakukan?" timpal Arsen.


"Aku ... aku sedang latihan."


"Latihan?" tutur Arsen mengulangi.


"I--iya. Aku lagi latihan yoga."


"Dasar aneh," gumam Arsen sembari berjalan meninggalkan Amey.


Ia kembali menatap harta karunnya yang mulai tertidur kembali. Amey lagi-lagi berhasil membangunkan perangkat lunak Arsen yang sudah lama tidak dimasukkan ke dalam gua.


"Hufthhh! Sampai kapan aku bisa bertahan? Melihat kekonyolan wanita itu semakin membuatku tidak bisa mengendalikan adik kecil ini," gumam Arsen.


Amey yang masih merontah tidak jelas di atas ranjang, mengacak-acak rambutnya. Ia terlihat frustasi karena tidak bisa mengucapkan kalimat yang sudah ia lafalkan berulang kali.


"Ada apa denganmu?" tanya Arsen.


"Ohh goshhh! Seharusnya aku yang bertanya ada apa dengan pakaianmu?" tanya Amey terkejut melihat pakaian yang Arsen kenakan.


Yang benar saja, pria itu menggunakan pakaian yang seharusnya digunakan saat musim dingin bersalju. Ia mengenakan mantel tebal berwarna coklat, celana panjang tebal, sarung tangan senada dengan mantelnya, tidak lupa juga kupluk dan syal.


"Kau mau ke mana Ars?" tanya Amey.


"Mau tidur."


"Loh kenapa ...?" menunjuk pakaian Arsen.


Aku memakai ini untuk berjaga-jaga! Jangan sampai aku khilaf dan menyantapmu malam ini. Pakaian ini untuk membantuku menahan nafsu.


Suatu hal yang tidak diketahui Amey, jika Arsen memakai celana sebanyak lima lapis, untuk menahan belutnya merontah menagih jatah.


"Aku hanya ingin memakai ini."


"Hmm, sangat aneh."


Door bell berbunyi. Seseorang sedang berdiri di depan pintu kamar mereka. Arsen segera membukakan pintu dan melihat siapa yang menekan bel kamarnya.


Seorang pria yang tidak lain adalah asisten Arsen menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Tuan mau ke mana malam-malam begini?" tanya Mark.


"Bukan urusanmu. Ada apa kemari?"


"Tuan George ingin makan malam bersama Tuan dan Nyonya."

__ADS_1


Arsen mengangkat alis setengahnya. Ia menatap Amey yang juga menatapnya dari kejauhan. "Bilang saja aku sudah tidur."


"Tapi Tuan, kau 'kan belum tidur," bantah Mark.


"Mark!" mengepalkan tangannya.


"Baik Tuan, aku mengerti," menunduk kepala.


Arsen langsung menutup pintu. Ia sebenarnya tidak ingin diganggu apalagi seharian ia meninggalkan Amey di kamar sendirian. Pria itu ingin berduaan dengan Amey, meski disisi lain ia sangat tersiksa karena menahan godaan yang begitu berat.


"Ars, siapa yang datang?"


"Bukan siapa-siapa."


"Aku seperti mendengar suara Mark. Apa yang dia katakan?"


"Mengajakku keluar."


"Dan kau mengiyakan?"


"Tidak. Aku lelah."


Amey tersenyum kecil. Tiba-tiba perut Amey mengeluarkan bunyi. Jelas saja ia lapar karena ia tidak mengisi perutnya dari tadi siang.


"Sepertinya aku lapar," memegang perutnya.


"Aku akan memesankan makanan."


"Tumben baik," ledek Amey.


"Lupakan!"


"Tidak ... tidak, kau sangat baik. Pesankan aku makanan," tutur Amey tersenyum manja.


Arsen memerah melihat tingkah Amey yang manja. Tanpa berpikir lagi, Arsen menghubungi pelayan hotel untuk membawakan mereka makanan.


Kini Amey mulai membuka hati untuk Arsen begitu pun sebaliknya. Amey memperlakukan Arsen sebagaimana ia memperlakukan almarhum Arka. Sikapnya yang dulunya tertutup di depan Arsen, kini perlahan mulai terbuka seiring berjalannya waktu.


Drt ... drt ... drt


Arsen mengambil ponselnya yang ditaruh di atas nakas dan segera menjawabnya.


Baru saja Arsen menempelkan gawainya di dekat telinga, ia langsung menjauhkannya kembali saat suara perempuan yang lantang berteriak.


"Kakakakkkk!"


"Zoey?"


"Kakak di mana? Besok aku akan kembali ke Indonesia," tutur Zoey yang merupakan adik sepupunya.


"Aku lagi bulan madu," jawab Arsen dingin.


"Hah? Bulan madu? Kapan kakak menikah? Tunggu tunggu! Bukan itu pertanyaan yang tepat, tapi sama siapa kakak menikah?" Zoey melontarkan berbagai pertanyaan yang membuat Arsen kesal.


"Bukan urusanmu anak kecil."


"Baiklah, aku akan bertanya langsung saat aku tiba di Jakarta."


"Kenapa kau ingin pulang?"


"Aku sudah selesai sekolah kak. Rencananya aku mau lanjut kuliah di Jakarta saja. Di sini sangat menyulitkanku," tutur Zoey.


"Terserah kau saja."


"Tunggu, jangan dulu tutup teleponnya. Bisakah kakak menyuruh kak Kaisar menjemputku di bandara?" pinta Zoey.


"Dasar bocah. Lupakan Kaisar, dia pria yang tidak baik."


"Tapi kak Kaisar 'kan sahabat kakak. Pokoknya aku mau kak Kaisar saja yang menjemputku."


"Kau tidak cocok dengan Kaisar yang sudah tua. Lebih baik kau cari saja yang seumuran denganmu."


"Kakak, aku mohon, bilang ke kak Kaisar untuk menjemputku. Pelissssss,"

__ADS_1


"Nanti aku usahakan."


"Yessss! Begitu dong kak. Ya sudah lanjut saja bulan madumu. Papayyy."


Tut ... tut ... tut


"Siapa yang menelponmu?" tanya Amey.


"Sepupuku, namanya Zoey."


"Ohya? Aku baru tahu. Memangnya dia tinggal di mana?"


"Dia tinggal bersama orangtuaku dari usia lima tahun sampai usia dua belas tahun. Setelah itu dia dikirim Papa dan Mama untuk bersekolah di Inggris."


"Memangnya orang tua Zoey ke mana?"


"Orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Mamanya dan mamaku kakak beradik, jadi bibi menitipkan Zoey pada orangtuaku," jelas Arsen.


"Kasihan juga. Berapa usianya?"


"Kalau tidak salah sekarang dia berumur delapan belas tahun."


"Masih muda sekali."


"Yup."


"Zoey mirip denganku. Aku juga saat berusia lima tahun sudah yatim piatu. Orangtuaku meninggal sehingga aku harus tinggal di panti asuhan. Untunglah Nenek Soffy mengadopsiku saat berumur enam tahun. Mulai saat itu aku tinggal dengan nenek. Nenek Soffy memperlakukanku dengan sangat baik sampai pada saat ini."


Oh jadi orangtuanya juga meninggal. Pantasan hanya Nensi yang aku lihat di acara pernikahan.


"Maaf aku curhat."


"No problem."


Amey mengangguk.


"Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Aku masih penasaran," ketus Arsen.


"Ada apa?"


"Mengenai ucapanmu tadi."


"Yang mana?"


"Memangnya kau sudah siap untuk apa?"


Deg!


Sebenarnya dia peka, atau pura-pura tidak peka sih? Salahku sih yang mengajaknya anu-anu duluan. Ahhh bagaimana ini?


Drttt ... drttt ... drttt


"Ponselmu bergetar, ayo diangkat," tutur Amey mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa dia menghubungiku?" gumamnya setelah melihat nama Kai yang tertera di layar ponselnya. "Why?"


"Hey, sialan kau Ars! Kau mengerjaiku 'kan? Katakan di mana dirimu berada?!" celutuk Kaisar murka.


"Ada apa denganmu?"


"Ternyata Nensi ...! Sumpah ini nggak lucu. Awas kau Ars, kembalilah dengan cepat, aku tidak sabar ingin membalasmu!"


Tut ... tut ... tut


"HAHAHA!" Gelak tawa Arsen akhirnya pecah di depan Amey. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana Kaisar dan Nensi bertemu.


"Hey kau kenapa?" tanya Amey bingung.


"Kai dan Nensi, kencan! Bwuahahaha!"


Amey pun tidak dapat menahan tawanya. Ia terbahak tidak kalah nyaring dengan Arsen. "HAHAHA!"


To be continued ...

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


__ADS_2