
Dalam perjalanan Arsen tak banyak bicara. Pikirannya sangat kacau karena tak bisa menemukan dokumen penting itu. Ia dan Mark menuju kantor Kaisar untuk meminta bantuan, melacak keberadaan Eggie.
Tak lama kemudian, kedua orang itu tiba di gedung milik keluarga Stoner. Seperti biasanya, saat memasuki gedung itu, seluruh karyawan wanita tak henti-hentinya mengagumi kedua pria tampan itu.
Walaupun kedua orang itu berwajah datar dengan aura dingin yang mengelilingi tubuh mereka, tapi tak membuat para wanita itu behenti memandangi Arsen dan Mark. Pesona keduanya begitu kuat hingga membuat wanita-wanita itu lemas tak berenergi.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Ernes, asisten Kaisar.
Tak membalas sapaan pria itu, Arsen langsung menanyakan keberadaan Kaisar. "Di mana Kaisar? Aku ingin bertemu dengannya."
"Tuan Kaisar ada di dalam bersama tamunya. Sebentar, Tuan. Saya panggilkan."
Tok ... tok ... tok
"Permisi Tuan Kaisar, Tuan Arsen dan Tuan Mark ingin menemuimu."
"Minggir!" tutur Arsen menyenggol bahu Ernes.
Mark mulai membuka pintu untuk Arsen. Matanya melebar saat ia mendapati Kaisar sedang menindih tubuh Zoey. Dengan sigap Mark berputar dan memeluk tubuh Arsen dengan erat. Kini tubuh Arsen membelakangi Zoey dan Kaisar.
"MARK! APA KAU SUDAH TIDAK WARAS?!" teriak Arsen dengan amarah yang telah berkobar.
"Tuan, maafkan aku! Tapi kali ini aku ingin sekali memelukmu!" tutur Mark sembari memberi kode pada Kaisar dan Zoey untuk saling menjauh.
"Jodi sinting!! Menjauhlah dari tubuhku!" mendorong tubuh Mark dan meninju wajah pria itu.
Bukkkk!
OHH GOSSHH! Pembunuhan brutal akan terjadi!"
Arsen mengebas setelannya dengan kasar dan menatap Mark tajam. Pria Arogan itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan. Betapa terkejutnya ia saat melihat Zoey yang sedang duduk membisu di sofa.
"Ars, kau tidak menghubungiku sebelum kemari. Untung aku di kantor, bagaimana kalau aku ... "
"Berisik!"
Deg!
Tampaknya dia sedang marah! Gawat! Ucap Kaisar dalam hatinya.
"Zoey! Sedang apa kau di sini?!" tanya Arsen mengangkat alis setengahnya.
"Aku ... aku cuma berkunjung sebentar dan membawakan Kak Kaisar bekal," ucap Zoey jujur dengan peluh yang telah menyucur di dahinya.
Arsen menatap Mark kemudian beralih menatap Zoey dan Kaisar secara bergantian. "Sekarang aku tau, alasan Mark memelukku!"
Deg!
Mark seketika terbelalak dan berdehem kaku. "Ehem!"
Arsen berjalan mendekat ke arah Kaisar dengan tatapan beringas. "Akan ku hajar kau keparat!" geram Arsen dengan melayangkan tinjunya di wajah Kaisar.
Bukkkk!
"Kakakkkk!" teriak Zoey panik.
__ADS_1
"Ars, tenanglah. Aku bersumpah, aku tidak menyentuh adikmu!" celutuk Kaisar.
"Jangan sekali-kali kau berpikir untuk menyentuh Zoey, Kai! Kau tau 'kan, apa yang akan terjadi jika kau berani melewati batas!"
"Aku sangat tau itu! Jadi hentikan tingkah konyolmu ini!"
"Kawan bisa jadi lawan dalam sekejap! Jadi cam 'kan ucapanku baik-baik!"
Deg!
Kakak! Kau sungguh membuatku takut! Batin Zoey.
"Dan kau!!" menunjuk ke arah Zoey. "Pulanglah! Jangan sampai kejadian ini terulang lagi!"
Zoey mengangguk pelan dengan menahan air mata yang ia bendung sedari tadi. Ia tak bisa membantah ucapan Arsen. Zoey pun memilih untuk meninggalkan ruangan Kaisar tanpa melirik ke arah pria yang dicintainya itu.
"Ernes! Antar Zoey sampai di depan!" perintah Kaisar.
"Baik, Tuan."
"Baiklah, my friend! Apa yang membuatmu datang ke kantorku dan membuat keributan di sini?!" tanya Kaisar.
"Goshhh!" memegang dahinya. "Aku ingin kau melacak keberadaan seseorang."
"Siapa?"
"Eggie."
"Kenapa dengan Sekretaris Eggie? Apa dia sudah tidak bekerja lagi denganmu?"
"Maksudmu, dokumen yang berisikan seluruh data perusahaan yang melakukan penggelapan dana yang bekerja sama dengan perusahaanmu?"
"Hmmm," mengangguk.
"Gawat dong! Jika dokumen itu menyebar, semua kolega yang bekerja sama dengan perusahaanmu akan menarik kembali kontrak kerja yang telah disepakati bersama. Itu berarti, WS Group berada di ambang kehancuran!"
"Bukan lagi di ambang! Tapi benar-benar akan runtuh bagai serpihan kaca yang pecah dan tak dapat di perbaiki lagi!"
"Astaga! Kalau begitu kenapa kau menyimpan dokumen yang akan menjadi boomerang untukmu dan perusahaanmu?!"
"Awalnya berkas itu hanya untuk menggertak perusahaan lain agar mereka mau bekerja sama dengan WS Group. Aku tidak benar-benar akan melaporkan kebusukan mereka karena itu merupakan urusan mereka, kecuali mereka mencoba menjatuhkan perusahaanku! Lagi pula, Eggie yang bekerja keras mencari segala informasi rahasia itu! Makanya aku mempercayakannya untuk menyimpannya."
"Ars, ini benar-benar masalah yang serius. Tapi aku rasa Sekretaris Eggie, bukanlah tipe orang seperti itu! Dia bahkan berkhianat pada pria yang dicintainya demi mengabdi padamu!"
"Aku juga berpikir seperti itu, tapi siapa yang tau pikiran orang yang sering berubah-ubah."
Kaisar hening sejenak. Ia tampak menghubungi bawahannya untuk segera datang ke ruangannya.
"Tuan, apa Sekretaris Eggie pernah memberimu petunjuk dalam bentuk apa pun?" tanya Mark.
Arsen kembali memutar otaknya. Ia seperti pernah menerima sesuatu dari Eggie. Namun dalam ingatannya hanya terlintas bayangan yang samar-samar mengenai itu. "Sepertinya pernah! Tapi apa itu?"
"Kau ingat kembali, Ars. Kapan terakhir kau bertemu dengan Eggie."
"Aku ingat! Eggie pernah memberiku uang satu lembar."
__ADS_1
"Uang?" tanya Kaisar dan Mark serentak dengan mimik yang kebingungan.
"Saat aku menyamar sebagai penjual tisu jalanan, Eggie sempat memberiku uang. Katanya aku akan membutuhkan uang itu nanti!"
"Aku sangat yakin jika ada sesuatu di uang kertas itu. Di mana Tuan menaruh uang itu?" tanya Mark.
"Mana aku ingat, Mark! Itu sudah tiga bulan berlalu. Kalau tidak salah aku sempat menaruh uang itu di saku celanaku. Tapi pakaian yang aku kenakan waktu itu sudah ku buang!"
"Hah?! Apa kau bercanda? Mungkin saja uang itu bisa menjadi petunjuk di mana berkas penting itu berada!"
"Mana aku tahu! Lagian, pakaian itu dipenuhi darah waktu aku bertempur melawan Collin dan anak buahnya."
"Sebaiknya kau tanya pada para pelayanmu yang bertanggung jawab mencuci semua pakaianmu. Siapa tau mereka tidak membuang pakaianmu melainkan mencucinya. Setidaknya masih ada harapan walau hanya satu persen untuk menemukan petunjuk mengenai uang itu. Aku juga akan berusaha melacak keberadaan Eggie."
"Aku percayakan ini padamu, Kai."
Kaisar mengangguk.
Saat Arsen hendak melangkahkan kakinya menuju pintu. Ia membalikkan badannya dan menatap Kaisar. "Pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan adikku! Jadi jangan berharap lebih menjadi adik iparku, pria tua pedofil!"
"A--apa?! Pria tua pedofil? Tega sekali kau mengatai sahabatmu ini dengan julukan seperti itu!"
Arsen tak menggubris dan tetap melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kaisar.
Drt ... drt ... drt
Telepon genggam Mark bergetar. Ia pun langsung menjawab panggilan dari Elis.
"Ada apa Elis?!"
"Tuan, Mark! Gawat! Nyonya Muda terjatuh di kamar mandi!" tutur Elis dari balik telepon dengan nada panik.
Mark melebarkan matanya. "Baik, aku mengerti!"
Mark memtuskan sambungan teleponnya. Ia mengatur napasnya karena akan sulit memberitahukan berita buruk itu pada Arsen karena suasana hati Arsen sangat tidak baik.
"Siapa?"
"Elis, Tuan."
"Apa ada berita penting yang dia sampaikan?"
"Iya, Tuan. Nyonya Amey terjatuh di kamar mandi."
Deg!
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
__ADS_1
Follow akun ig resmi Author : @syutrikastivani