
Sambil menatap ke arah jendela yang tengah memperlihatkan pemandangan sore hari, seorang pria dengan raut yang garang tampak berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Arsen Winston. Perbincangannya bersama dengan Mark saat berada di kamar berkesan sangat tidak baik. Bagaimana tidak, ia sangat kesal dengan Mark yang mulai melawan dirinya.
Dari balik pintu, muncullah Mark yang berjalan dengan lambat menghampiri Arsen. Raut wajah Mark tampak pias, keringat dingin pun mulai menyucur di belakang punggung kekar miliknya. Langkah demi Langkah Mark lewati sehingga sampailah ia tepat di belakang Arsen.
“Tuan …”
“SHUT UP!!!” tukas Arsen dengan wajah yang memerah menahan emosi.
Mark langsung terdiam. Tak ada gerakan tambahan sedikitpun. Bahkan bulu hidungnya tak bergerak dikarenakan menahan napas. Lalar saja yang mengambil ancang-ancang untuk hinggap di bahu Mark, tak berani untuk singgah saat mendengar teriakan Arsen. Tubuh Mark layaknya patung yang di pajang di belakang Arsen.
Arsen membalikkan badannya sehingga dirinya dan Mark saling berhadapan. Pria itu menatap tajam mata Mark. Mendapat tatapan yang mengerikan dari Arsen membuat Mark tak dapat menjelingkan matanya. Arsen pun perlahan mulai melangkah ke depan sehingga tubuhnya dan Mark memiliki jarak yang hanya beberapa senti saja.
Mark mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menutup matanya saat tangan Arsen hendak mendarat di wajahnya.
“Tetaplah menjadi Mark yang kukenal!” menepuk bahu Mark.
Seketika otak Mark melambat. Wath! Ke—kenapa Tuan tidak memukulku? Batin Mark resah.
“Meskipun kau telah menikah, tetaplah menjadi seorang asisten yang terbaik. Atur waktumu sebaik-baiknya. Untuk pekerjaan dan untuk keluarga,” tutur Arsen dengan nada pelan. “Ohya, kau bukan lagi seorang bujangan, Mark. Kau telah menjadi seorang suami dan sebentar lagi menjadi calon Ayah. Jadi, jangan pernah membuat wanita mengeluarkan air mata satu tetes pun! Kecuali itu tangis haru kebahagiaan.”
Deg!
Mendengar ucapan Arsen membuat Mark merasa risih. Setan jenis mana lagi yang merasuki Tuan Muda? Tidak! Sepertinya ini bukan setan, tetapi malaikat! Ucap Mark lagi dalam hati.
“Setelah istrimu selesai mengganti pakaian, segeralah turun ke bawah. Resepsi akan segara dimulai,” ucap Arsen dan langsung meninggalkan Mark.
Mark masih terdiam kaku. Ia tampak syok mendengar perkataan Arsen. Muncul keanehan di dalam hatinya. Ia merasa terharu dengan sikap Arsen. Selama ini sikap Tuan Muda itu selalu dingin dan sangat menyebalkan. Namun entah mengapa hati Mark sangat tersentuh dan rasa ingin mengeluarkan air mata. Bagi Mark, Arsen adalah keluarga satu-satunya yang ia punya. Meski terkadang Arsen sangat meresahkan.
Masih dalam keadaan hening. Seketika Mark tersadar dan langsung memutar badannya. Ia berlari dan mendapatkan Arsen yang berdiri tepat di depan lift, sembari menunggu pintu lift terbuka.
“Tuan!”
Mendapati lengan Mark telah melingkar di pundaknya membuat pria dingin itu termanga.
"Trima kasih Tuan Muda. Aku tetap akan menjadi asisten pribadimu yang baik. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu, Tuan!" tutur Mark.
Arsen menggerakkan tubuhnya. Badannya terasa panas, ia tampak kegerahan dan hanpir tidak dapat bernapas karena lengan Mark yang melingkar erat di leher Arsen.
"Si--sinting kau! Le--lepaskan aku, bodoh!" geram Mark sembari merontah melepaskan tubuhnya dari cengkeraman lengan Mark.
Ting ....
Bunyi pintu lift telah terdengar. Pintu yang tadinya tertutup kini terbuka lebar. Banyak pasang mata menyoroti kedua orang yang tampak bermesraan di depan lift. Pemandangan yang disaksikan orang-orang yang berada dalam lift itu sangatlah langkah. Mereka terkejut bukan kepalang saat melihat Arsen dan Mark tampak berpelukan.
Tak hanya itu, beberapa wanita telah keluar dari dalam kamar. Mereka adalah Amey, Jenifer, Elis dan dua orang penata rias. Mereka menganga saat menyaksikan hal unik di depan mata mereka.
"Apa yang mereka berdua lakukan?" lirih Jenifer.
__ADS_1
"konyol sekali mereka!" kilah Amey terkekeh pelan.
Arsen yang telah melihat wanita-wanita itu pun langsung menjadi malu.
"Sialan kau, Mark! Lepaskan aku!" rontah Arsen sembari mendorong tubuh Mark dengan sangat kuat.
Brukkkkk!
Mark tergelatak di lantai akibat dorongan keras dari Arsen.
"Bangun kau!" ketus Arsen sambil tangannya mencengkeram kerah baju milik Mark sehingga mengacaukan dasi kupu-kupunya.
"Wow!! Keren, Daddy!" teriak seorang anak dari dalam lift yang tak lain adalah si bungsu, Edzel.
Mendengar suara kecil dengan volume kencang membuat Arsen melepaskan cengkeramannya di leher baju Mark dan segera mengangkat Mark berdiri.
"Daddy, kau menyakiti Uncle!" tukas seorang anak kecil lagi.
"Tidak Edgar. Daddy tidak jadi menyakiti Mark," tutur Arsen.
Edgar mengangguk paham.
"Dasar idiot!" lirih seorang anak kecil lagi dengan tatapan datar. Ya! siapa lagi kalau bukan si cuek, Edward.
"Daddy, Uncle. Ayo turun ke bawah. Tamu-tamu kalian sudah berdatangan," ucap Edhan.
"Oh baik Tuan Muda Kecil."
Deg!
Mark hanya bisa menelan salivanya dengan kasar.
"Mommy come on!!" teriak keempat Ed.
"Okay, i am coming!"
"Silahkan masuk Tuan!" ucap Dinar yang sedang menahan pintu lift.
Arsen, Amey, Mark, Jen dan keempat Ed, lebih dulu menggunakan lift. Sedangkan yang lainnya menggunakan lift yang lain.
Saat tiba di bawah, di tempat resepsi pernikahan, seluruh pandangan mata menoleh ke arah pengantin. Gedung yang amat besar, megah dan mewah itu telah dipenuhi berbagai tamu dari kalangan atas. Tak hanya tamu lokal saja, tamu-tamu dari negara lain juga hadir. Mereka merupakan rekan bisnis Arsen dan Mark.
"Mark, aku sangat gugup dan kurang percaya diri. Banyak sekali tamu-tamu VVIP yang hadir. Dan aku sangat Insecure!" bisik Jenifer.
"Tenang saja Sekretaris Jen. Kau sangat cantik. Kau cukup mengangkat wajah, tersenyum anggun dan berjalan layaknya seorang putri."
Jenifer melakukan tepat seperti yang dikatakan Mark. Ia tersenyum ramah, berjalan sangat anggun bak ratu sembari menggandeng lengan Mark.
__ADS_1
Dentuman musik yang indah mulai menggema memenuhi ruangan itu. Perlahan, kedua pengantin itu mulai berjalan menuju altar pernikahan yang telah dihias sangat mewah.
Semua pandangan mata tertuju kepada keduanya. Senyuman kebahagiaan tampak berseri di wajah semua hadirin yang berada di gedung itu.
"Cucu gue nihh bos!! Senggol dong kalau berani!" teriak seorang wanita tua.
"Ya amsyonggg! Malu-maluin banget lo, Kutu Doggy!" bisik Soffy yang tampak malu.
"Ihh apaan sih lo, Cicak! Liat tuh cucu gue! Busyettt cantik bener. Memang dasar ya, keturunan gue nggak pernah gagal!"
"Kau benar Kutu! Si Jenifer cantik sekali. Mirip seperti aku!"
Mendengar itu, senyum lebar dari pipi Doris tiba-tiba memudar. "Bagaimana ceritanya cucu gue bisa mirip elo! cabe bener bibir lo!"
"Lo nggak tau apa?! Gue ama menantu lo selingkuh, tidur bareng terus berbuahlah rahim gue, terus keluarlah si Jeni! Puas lo!" ketus Soffy.
"Dasar Cicak Betina! Becanda lo nggak lucu!!"
"Hahaha! aemm sori darlenggg," ucap Soffy terbahak.
Setibanya Jen dan Mark di altar pernikahan, keduanya langsung mengikuti arahan demi arahan yang diucapkan MC.
Pesta pernikahan itu berlangsung dengan sangat meriah. Setelah selesai melewati prosesi resepsi, para undangan pun masing-masing menyapa Mark dan Jen sembari memberikan hadiah-hadiah. Beberapa tamu lain pun sedang berbincang mengenai bisnis mereka.
Seorang anak kecil menghampiri pemuda tampan yang sedang meneguk anggur. Anak kecil itu adalah Edhan. "Uncle?"
"Halo Edhan," sapa Jayden.
"Apakah kita akan melanjutkan misi berburu wanita?" tanya Edhan.
"Sepertinya akan ditunda."
"Why?" tanya Edhan dengan memasang raut penasaran.
Jayden kembali meneguk anggurnya. "Ahhh, nikmatnya!"
"Kalau begitu, aku saja yang akan melanjutkan misinya," tutur Edhan tiba-tiba.
"Hahah! Baiklah Edhan. Asalkan jangan sampai Daddymu mengetahui misi kita."
"Lihat saja, Uncle! Aku pasti akan membuatmu cemburu dengan berdansa dengan Milley!"
To be continued ...
.
.
__ADS_1
.
follow ig @syutrikastivani