
Di lantai terakhir gedung WS Group, seorang Presdir dan istrinya terihat sedang berbincang. Mereka sedang membicarakan kisah cinta Mark dan Jen yang penuh lika-liku.
"Apa kau yakin jika Mark akan luluh?" tanya Amey.
"Yang harus kita khawatirkan bukanlah si Jodi Sinting itu."
"Lalu?"
"Garfield!"
"Maksudmu, Jenifer?"
"Ya, dia maksudku."
Amey mengernyitkan dahi. Pandangannya beralih mentap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan di bawah sana. "Kenapa harus Jenifer. Bukannya Jen sangat menyukai Mark?"
"Sayang, apa kau tak melihat perilaku dan penampilan si Garfield. Dia bukan lagi gadis jorok yang selalu di jauhi Mark. Dia sudah berubah. Malahan penampilan dan kemampuannya sudah setara dengan Eggie. Yang aku khawatirkan, kalau Jen akan balas dendam pada Mark karena pernah di tolak mentah-mentah bahkan dihina oleh Mark."
"Ada benarnya juga. Tapi aku yakin Jen bukanlah wanita seperti itu. Ohya, ngomong-ngomong kau tau dari mana jika Mark menolak Jenifer?"
"Sebenarnya waktu peristiwa itu, aku berada di TKP."
"Lahhh kenapa kau bisa ada di situ," tanya Amey bingung.
"Kau tau 'kan jika aku paling tidak suka menunggu. Karena sudah hampir setengah jam aku menunggunya di mobil, makanya aku putuskan untuk menghampirinya langsung. Tapi saat aku baru keluar dari lift, tidak sengaja aku mendengar Mark yang sedang berbicara dengan seorang wanita."
"Astaga, Sayang! Hahaha!" Amey terbahak. "Jadi kau menguping?"
"Ya bisa dibilang begitu. Tapi aku 'kan tidak sengaja."
"Pantesan aja, kalau kamu mengetahui semua kisah cinta Mark."
"Itulah yang membuatku berpikir jika Garfield akan menolak Mark secara mentah-mentah. Apalagi Garfield sudah menjadi wanita yang lumayan cantik."
"Kenapa lumayan cantik? Jelas-jelas dia sangat cantik," kilah Amey.
"Bagiku, kaulah yang paling cantik di antara semua gadis yang ada di planet ini," menggoda Amey.
"Ishhhhh, Sayang! Kau membuatku geli mendengarnya!" Amey menggeliang.
"Hahahah!" Arsen terbahak sembari menatap Amey yang sedang tersipu malu.
"Ehem! Baiklah, aku akan berbicara dengan Jen dan memberinya sedikit nasihat."
"Aku yakin jika Mark sudah klepek-klepek sama si Garfield. Kita lihat saja, sampai di mana kegengsiannya akan menguasai pikiran dan hatinya."
"Pria arogan, kasar dan dingin bagai es balok saja yang level kegengsiannya mendewa, bisa menjadi bucin. Hahah!"
"Kau menyinggungku, Memey?!" menatap Amey dengan tajam.
Melihat wajah Arsen yang berubah menjadi datar dan dingin, membuat Amey menghentikan tawanya. Kenapa dia menatapku seperti itu? firasatku buruk?! ucapnya dalam hati.
Amey langsung terdiam. Melihat itu membuat Arsen ingin sekali menerkam wanita yang ada di depannya. Dan benar saja, secepat kilat Arsen langusung menghantam Amey dengam ciuman beringasnya.
"Sayang, kau mau hadiah dariku?" bisik Arsen.
__ADS_1
"Ha--hadiah?" lirih Amey.
"Mari kita membuat adik perempuan untuk si kembar empat!"
Pipi Amey kembali mengeluarkan rona merah. Ia tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya. "Tapi kau harus berjanji."
"Berjanji?"
"Ya. Cukup satu saja! Jangan banyak-banyak lagi. Aku takut melihat perutku saat membesar," ucap Amey berterus terang.
"Baiklah Sayang. Aku akan membatasi pasukan bibit unggulku."
"Memangnya kau bisa?!"
"Hanya Tuhan yang tau!" Tangan Arsen langsung menjelajah ke dua tempurung lunak milik istrinya. Sedangkan bibirnya tak berhenti bermain di leher Amey.
Dan siang itu, di perusahaan induk WS Group, di lantai terakhir, terjadilah pertarungan tinju mendadak yang entah berapa ronde akan berakhir.
***
Paradise Hotel
"Senang bekerja sama dengan Anda," ucap Mark menjulurkan tangannya.
"Ya, saya juga beruntung bisa bekerja sama dengan WS Group."
"Trima kasih sudah menyempatkan waktu." Jen tersenyum dan berjabat tangan dengan pria yang baru saja menandatangani kontrak kerja dengan mereka.
"Sama-sama Sekrtaris Jen. Saya sangat tersanjung melihat Sekretaris-sekretaris yang ada di WS Group. Selain komputen dan pandai kalian juga sangat ceria dan tentunya sangat menawan."
"Ohya, bagaimana kabar dari Sekretaris Eggie?"
Jen terdiam sejenak. Ia tidak tahu harus berkata apa, karena ia juga tidak mengetahui keberadaan Eggie.
"Saya rasa pertanyaan itu tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Jadi kami minta maaf karena tidak memberikan jawaban yang pas atas pertanyaan Anda," tutur Mark dingin.
Pria paruh baya yang sudah beruban itu hanya tersenyum dan mengangguk kepala.
"Baiklah, jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas mengenai pekerjaan, kami mohon pamit," ucap Jen.
Pria itu mengangguk pelan. "Kalau begitu, sampai bertemu lagi."
Jen tersenyum dan menuduk kepala. Ia melangkahkan kakinya dan meninggalkan pria itu. Sedangkan Mark berjalan mengikutinya.
"Tuan, Mark? Apa kau akan kembali ke perusahaan induk?"
"Ya."
"Kalau begitu, tolong bawakan dokumen ini untuk di arsip," menyerahkan beberapa kertas yang dibaluti amplop coklat.
Mark menerima dokumen itu dan berlalu meninggalkan Jen. Ambil dan pergi, Mark. Tak ada lagi alasan yang membuatmu tetap bersamanya! Batin Mark.
Jen memandangi belakang punggung Mark. "Masih tetap sama. Dingin dan cuek," gumam Jen tersenyum kecil.
Saat Jen hendak menuju ke ruangannya, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. "Astaga! Aku hampir lupa. Aku 'kan telah berjanji akan makan siang dengan Jire. Baiklah, mumpung pekerjaan hari ini telah selesai, aku akan makan siang di luar."
__ADS_1
Jen berjalan menuju tempat parkir. Namun langkahnya terhenti saat melihat Mark yang masih berdiri di depan lobi hotel. "Ohiya, Tuan Mark tidak membawa kendaraan." Jen berjalan mendekat ke arah Mark. "Tuan?"
Mark terkejut. "Ada apa?"
"Apa kau sedang menunggu taksi?"
"Ya," mengangguk kepala.
"Kalau begitu, biar aku saja yang mengantar Tuan."
"Tidak apa-apa, aku bisa naik taksi. Lagi pula kau tampaknya sibuk," elak Mark. Padahal di dapam hatinya, ia ingin bersama dengan Jenifer.
"Aku tidak sibuk, Tuan. Aku baru saja mau makan siang di luar bareng Jire. Ohya apa Tuan mau bergabung?"
"Makan siang?" Mark tampak berpikir sejenak.
"Iya. Jika Tuan tidak sibuk," tersenyum memandangi Mark.
Tolak atau terima?! Ah sial! Jika aku terima, harga diriku pasti akan terlihat rendah. Tapi jika aku menolak, aku pasti akan menyesal nantinya?!
"Ehm, sepertinya Tuan sibuk, Tidak apa---"
"Tidak. Aku tidak sibuk!" celutuk Mark reflek, memotong ucapan Jen.
Jen tersenyum kecil saat melihat wajah Mark yang kaku.
"Ke--kenapa kau tersenyum? Apa ada yang lucu?" Mark memandangi setelan jasnya."Tidak ada yang aneh," lirihnya.
"Tidak Tuan. Ayo kita pergi."
Jen berjalan di depan Mark. Bibirnya lagi-lagi mengeluarkan lekukan kecil. Dan bukan hanya Jenifer, Mark pun tampak memasang senyum yang tak biasa. Ia memandangi belakang punggung Jen sambil tersenyum.
Apa aku masih memiliki kesempatan?! Tapi mungkin tidak! Batin Mark.
Jen menengok ke belakang dengan ekspresi bingung. "Tuan, apa kau berbicara sesuatu padaku?" tanya Jen tiba-tiba.
Mark mengerutkan kening. "Aku tidak bersuara dari tadi. Memangnya apa yang kau dengar?" Sial! Jangan-jangan dia sudah ketularan virus Tuan Muda. Tapi tetap saja aku tidak percaya dengan kekuatan supranatural!
"Aku mendengar seperti Tuan bertanya sesuatu padaku. Tapi mungkin hanya perasaanku saja," memegang tengkuknya.
Deg!
Apa ini yang dinamakan kontak batin?
Mark tak lagi menyahut. Ia terus berjalan dengan pikiran yang penuh dengan rupa-rupa pertanyaan yang berputar-putar mengelilingi kepalanya.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
__ADS_1
Follow ig : @syutrikastivani