
(Percakapan di telepon)
"Aku mengerti, Jay."
"Aku bersama Kaisar mencoba menghubungi Arsen. Kata Mark dia sudah tiba di Jakarta sejak subuh."
"Baik."
"Berhati-hatilah Chemy. Aku mengandalkanmu."
Chemy meletakkan kembali gawainya di atas nakas. Malam itu suasana sangat sunyi. Chemy menutup tirai jendela apartemennya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Malam itu sebenarnya Chemy memiliki jadwal operasi caesar, namun ia menyuruh teman dokternya untuk mengambil alih jadwalnya karena ada hal yang harus ia selesaikan yang menurutnya sangat penting.
Setelah selesai membersihkan diri, Chemy segera menuju ruang ganti pakaian dan mengenakan baju tidur. Tiba-tiba *door*bell berbunyi membuat Chemy kaget. Ia dengan cepat mengenakan pakaiannya dan segera melihat siapa yang berkunjung ke apartemennya malam-malam.
"Tidak ada siapa-siapa," menatap layar kecil yang menempel di dinding sebelah pintu masuk apartemennya.
Chemy kemudian membuka pintu namun gagang sebagian masih mengait sehingga hanya beberapa senti saja yang terbuka. Ia melihat sebuah paket berukuran kecil yang diletakkan tepat di muka pintu. Penasaran ingin melihat paket dari siapa, Chemy pun membuka pintu seutuhnya dan dengan lekas meraih paket itu. Ketika paket sudah berada di tangannya ia langsung menutup kembali pintu apartemennya.
"Tidak ada nama dan alamat dari si pengirim?" gumamnya.
Chemy belum membuka paket itu dan memilih untuk memotretnya lebih dulu. Sepertinya ia sedang mengirim gambar pada salah satu kontak whatsapp-nya.
Merasa penasaran dengan paket itu, Chemy pun membuka dan melihat isi dari paket bersampul cokelat itu. Chemy terbelalak saat melihat sebuah foto kecil dirinya dan keempat sahabatnya yang telah dipenuhi bercak noda merah kental.
"Tidak salah lagi. Ini adalah teror dari pria psikopat itu. Apa maumu Gazza Dominic?!"
Drtt ... drtt ... drttt
Getaran telepon genggam membuat tubuh Chemy ikut bergetar. Ia melihat si penelepon yang menghubunginya. Seketika jantungya kembali berdetak dengan normal.
(Percakapan di telepon)
"Chemy, ini aku," ucap seorang pria yang tak asing bagi Chemy.
"Aku tahu, Ars."
"Kaisar dan Jayden sudah memberitahuku segalanya."
"Bagus kalau begitu. Kau tidak boleh gegabah, Ars. kita harus selalu waspada."
"Kau benar. Tadinya aku hampir melabrak Cacing Sawah itu, tapi Jay dan Kai menahanku dan menjelaskan sesuatu padaku."
Chemy terperanjat saat suatu benda menempel di kepalanya dari belakang. Jantungnya kembali berdegup tak karuan.
"Chemy ... Apa kau mendengarku?" tanya Arsen dari balik telepon.
Chemy masih menegang. Mulutnya tak bisa mengeluarkan suara karena syok. Sesuatu yang menodong kepalanya dari belakang membuat dirinya tak bisa menggerakan badannya.
"Chemy!! Kau masih di sana?!" teriak Arsen.
Seorang pria asing bertubuh tinggi tegap dan berotot menggunakan baju serba hitam, memakai penutup wajah alias topeng menodongkan pistol tepat di kepala Chemy. Pria asing itu lebih mendorong tekanan pistol sehingga kepala Chemy sedikit terdorong ke depan.
"Chemy?! Jika kau masih di sana bicaralah," geram Arsen.
__ADS_1
"I--iya, Ars. Aku mendengarmu."
"Bagus. Aku pikir sesuatu terjadi padamu."
"Aku baik-baik saja. Ohya, apa kau masih ingat kapan terakhir kita berlima bertemu?"
"Tentu saja."
"Kalian memberiku hadiah sebuah biola karena aku akan berangkat ke Inggris saat itu."
"Ya. Kau sangat suka bermain biola. Lalu? Kenapa kau tiba-tiba membahas ini?"
"Aku hanya teringat saja. Kalau begitu sampai nanti"
Chemy memutuskan sambungan telepon. Keringat dingin mulai menyucur deras di belakang punggungnya. Ia terlalu takut untuk menghadap ke belakang karena seseorang sedang berdiri di sana.
"Kalau kau tidak ingin salah satu dari sahabatmu mati, kau harus menuruti perintahku!"
Degg!
Suara berat itu serasa mencekik leher Chemy. Ia mencengkeram jemarinya dengan erat dan dengan perlahan membalikkan badannya.
"Jangan bertanya apa-apa," menyodorkan sebuah sapu tangan.
Chemy menerima sapu tangan itu. Namun ia tidak berani menatap wajah pria misterius yang saat itu sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Letakkan di hidungmu dan hirup!" perintah Pria itu.
Chemy melirik ke arah lemari pajangan dan kemudian menuruti perintah laki-laki itu. Tak lama setelah itu tubuh Chemy melemah sehingga kakinya tak dapat menopang badannya. Ia terjatuh di pelukan laki-laki misterius itu. Chemy pun di bopong dan di bawa pergi olehnya.
***
Beberapa saat kemudian Chemy mulai tersadar. Ia perlahan membuka matanya karena cahaya yang begitu terang menyilaukan matanya. Ia mendapati tubuhnya yang duduk di kursi besi dengan tali yang melilit di badannya. Kaki dan tangannya pun tak dapat bergerak bebas karena diikat dengan tali.
"Sudah bangun cantik?!"
Degg!
Suara pria itu membuat Chemy tersadar sepenuhnya. Ia menatap ke sumber suara. Ia terbelalak saat melihat lelaki yang ada di depannya.
"Hmm, kau sudah tahu banyak tentangku. Kira-kira apa yang harus aku lakukan padamu?" berjalan mendekati Chemy.
"Gazza Dominic, inilah akhir dari kariermu!" ketus Chemy dengan bibir yang gemetar.
Gazza menatap Chemy dengan lekat. Ia terdiam sejenak dan tiba-tiba, "Bwahahaha!!!" gelak tawanya pecah. "Kau sangat lucu, cantik. Ucapanmu menggelitik ketekku! Hahahah!"
Dasar psikopat tak beradab!!
"Chemy si dokter jenius blasteran Indonesia Tiongkok dari keluarga Xavier. Hahah! Hmm, bagaimana kira-kira perasaan Tuan Xavier saat mengetahui jika putri semata wayangnya akan menghembuskan napas terakhir saat berada di Indonesia?"
Chemy menelan salivanya. "Jangan sangkut pautkan dengan keluargaku!"
"Ututututu!" mengusap rambut Chemy.
"Aku sudah tahu semua kejahatanmu. Bersiaplah untuk tinggal di penjara selama sisa hidupmu!"
__ADS_1
"Begitu ya?" terkekeh. "Aku jadi penasaran, apakah pemerintah bisa menangkapku atau malah membiarkanku berkarya, sampai aku memenuhi ambisiku?!"
"Jangan sombong!" celutuk Chemy menyeringai.
"Oh tidak tidak, Honey! Aku tidak sombong. Tapi memang begitu kenyataannya. Aku tidak bisa ditangkap karena aku kebal terhadap hukum!"
"Kau bisa menyogok siapa saja untuk membungkam kejahatanmu tapi itu dulu! Sekarang masa kejayaanmu akan berakhir!"
"Wah sayang sekali. Padahal aku masih ingin mewujudkan keinginanku. Tapi sepertinya akan berakhir ya? Hmm, aku takut masuk penjara." melirik Chemy dengan raut pias. Seketika wajah Gazza berubah menjadi garang dan keji. "Bwahahahahah! apa kau berharap aku akan mengatakan itu dengan mulut yang gemetar?"
"Enyahlah dari hadapanku!" rontah Chemy.
"Ckck, jangan kasar-kasar cantik. Tidak cocok dengan wajahmu yang begitu elok dan rupawan," tersenyum licik sembari mendekatkan bibirnya di bibir tipis milik Chemy.
"Jangan macam-macam kamu!" celutuk Chemy, menjauhkan wajahnya dari wajah Gazza.
Gazza melirik wajah Chemy dengan lekat. Ia menjulurkan lidahnya dan tersenyum nakal pada gadis itu. "Honey, maukah kau menjadi istriku?"
"Cuihh!" meludah di wajah Gazza. "Tidak sudi sama sekali!"
Gazza memejamkan matanya. Rahangnya mengerat, gertakan giginya terdengar sampai di telinga Chemy dan itu membuat gadis di depannya merasa ngilu.
"J*lang sialan!" tukas Gazza. Ia ******* bibir Chemy dengan b*rutal sehingga gadis itu tak bisa bernapas dengan teratur.
"Emmm, shhh!! Lepaskan aku!" teriak Chemy dengan merontah tak karuan.
Plakkk!
Gazza menampar pipi Chemy sehingga ia terdiam. Pipinya yang putih dan mulus kini ternodai dengan memar merah di sana.
"Jangan melawanku!"
Drtt ... drtt ... drtt
Ponsel Gazza bergetar. Ia menghentikan aktivitasnya bersama Chemy dan menjawab telepon itu.
(Percakapan di telepon)
"Tuan, kami sudah mendapatkan mereka."
"Kerja bagus."
"Tapi mereka begitu lincah sehingga kami kewalahan membawa mereka!"
"Jangan sakiti mereka. Bawa mereka padaku dengan keadaan hidup! Ingat! Mereka tidak boleh mati! Keempat anak itu adalah senjata utamaku untuk menghancurkan keluarga Winston!"
"Baik Tuan. Aku akan membius mereka supaya tenang."
"Terserah kau saja. Yang penting mereka harus dalam keadaan hidup saat tiba di sini!"
tut ... tut ... tut
"Laki-laki b*adab tak berakhlak! Apa kau menculik anak-anak dari Arsen?" tanya Chemy penuh panik.
"Yes, Honey. Tenang saja. Aku tidak akan membunuh mereka sampai ambisiku terwujud! Hahahah!"
__ADS_1
To be continued ...
Like, komen, vote ya gaiss biar author tetap semangat update 🥰