
Suara ketukan pintu membuat seorang gadis cantik tersadar dari lamunannya. Ia menghapus cairan bening yang sedari tadi berjatuhan dari sudut matanya.
"Nona Milley, apa Nona sudah siap?" tanya Margareth.
"Aku sedikit gugup dan takut dengan pria itu. Aku belum begitu mengenalnya."
"Tuan Jayden sepertinya pria baik-baik. Nona tidak perlu khawatir. Tuan Jayden pasti akan membantu Nona."
"Hmm, semoga saja dia iklas membantuku terbebas dari jerat mama."
"Saya doakan yang terbaik untuk Nona."
Milley dan Margareth berjalan keluar dari kamar. Betapa gugupnya gadis itu saat kakinya mulai menuruni anak tangga.
"Margareth," panggil Milley.
"Iya Nona?" menghentikan langkahnya.
"Berjanjilah padaku, jika nantinya aku keluar dari rumah ini dan menikah dengan pria itu, kau ikutlah denganku."
Margareth terdiam.
"Ada apa? Apa kau tidak mau?"
"Bu--bukan begitu, Nona."
"Lalu?"
"Saya pikir Nona tidak akan membutuhkan saya lagi karena Nona sudah memiliki suami yang baik. Cukup melihat Nona bahagia, sudah cukup bagi saya."
"Tapi ... aku 'kan tidak benar-benar ingin menikah dengannya. Aku belum mencintainya, Margareth. Setelah aku menikah dengannya dan keluar dari rumah ini, aku berencana untuk pisah dengannya."
Wanita paruh baya itu terkejut. "Nona?"
"Aku akan menyuruhnya untuk menceraikanku dan aku akan hidup bebas dan akan menemukan orang yang benar-benar aku cintai." jelas Milley, tersenyum.
"Tapi bagaimana dengan perasaan Tuan Jayden?"
"Margareth, aku sangat menghargai bantuannya. Tapi aku juga tidak mau egois. Lelaki itu pasti memiliki wanita yang dia cintai. Aku tidak ingin merusak hubungan mereka hanya karena aku ingin bebas dari rumah ini. Pernikahanku dengan lelaki itu hanya pura-pura saja 'kan?"
Margareth terkekeh pelan. "Ternyata begitu pemikirinmu, Nona."
"Hmm," mengangguk.
"Tapi apa yang Nona pikirkan itu salah. Tuan Jayden benar-benar ingin menikahimu karena Tuan Jayden mencintaimu, Nona."
"Hahhhh?! Me-mencintaiku? Bagaimana bisa? Aku dan dia hanya dua kali bertemu, dan dia sudah jatuh hati padaku?"
"Kau benar Nona. Sepertinya Tuan Jayden menyukaimu pada pandangan pertama. Bukankah saya sudah pernah mengatakan hal ini pada Nona?"
Milley termangu.
"Nona, sudah saatnya kau bahagia bersama orang yang tepat."
"Tapi Margareth ... aku ... aku belum memiliki hati padanya. Aku belum mencintainya. Bagaimana kau bisa mengatakan kalau aku bisa bahagia dengannya?"
__ADS_1
"Nona, bagaimana kalau Nona jalani dulu hubungan suami istri dengan Tuan Jayden selama tiga bulan? Kalau Nona merasa tidak cocok, maka Nona boleh bercerai dengannya."
"Maksudmu pernikahanku dengannya hanyalah sebatas percobaan selama tiga bulan? Bukankah itu terlalu kejam?"
"Yang kejam adalah ketika Nona sudah bersumpah janji suci dengannya untuk setia selamanya tapi Nona langsung meninggalkannya setelah pernikahan usai."
"Ta--tapi, Margareth... Memang rencanaku demikian. Seusai menikah aku akan menyuruh dia menceraikanku. Aku belum siap berumah tangga!"
"Maaf membantah Nona, tapi seperti yang saya katakan tadi. Jalanilah dulu selama tiga bulan. Jika Nona tidak memiliki ketertarikan padanya dalam jangka waktu itu, maka Nona berhak mencari pria lain yang Nona inginkan."
Sejenak Milley memutar otaknya.
Aku yakin beribu-ribu persen, Nona tidak akan menyesal menikah dengannya. Dan akan mencintai Tuan Jayden setulus hati. Percobaan selama tiga bulan pasti akan berhasil membuatmu jatuh cinta padanya. Batin Margareth.
"Baiklah. Aku akan mencobanya. Tapi kau harus tinggal bersamaku dengannya."
"Saya berjanji." Ya aku akan tinggal dengan kalian dan akan melancarkan misi kebahagiaanmu, Nona.
Milley tersenyum. Kedua wanita itu melanjutkan langkah mereka menuruni anak tangga dan menuju ruang tamu tempat orang-orang berkumpul.
Dengan perasaan yang begitu gugup bertemu calon suaminya, Milley memberanikan diri keluar kamar dan bertemu orang asing selain keluarganya. Perasaannya berkecamuk. Ia juga takut menghadapi amarah Nyonya Berlin. Tapi gadis itu harus melakukan hal itu demi kebebasannya dari jerat Berlin.
"Nona, silahkan. Itu Tuan Jayden sedang menunggumu," ucap Margareth.
Milley mengangguk. Ia mendapati di ruang tamu beberapa orang sedang berbincang.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku siap kok. Jangan mengecewakan Mr. Smith yang datang kemari hanya untuk melamarku," sambung Megan dengan penuh percaya diri.
Jay mengerutkan dahi. Ia kembali mencerna ucapan Megan yang seolah mengatakan jika Jayden akan melamarnya. "Maaf, saya pikir ada kesalahpahaman di sini."
Berlin dan Megan terperanjat. Raut wajah kedua wanita itu berubah menjadi sinis. Mata keduanya pun melebar seolah mau terlepas dari tempatnya.
"Boleh saya bergabung?" tanya Milley dengan lembut.
Sementara kedua wanita itu sedang mengekspresikan amarah mereka lewat tatapan membunuh, Jayden tampak terkesiap melihat Milley. Jantungnya berdegup tak karuan. Suhu tubuhnya memanas. Pipinya sedikit mengeluarkan rona merah.
"Milley sayang, kenapa kau keluar kamar? Kamu 'kan lagi sakit?" ucap Berlin sembari mendekati Milley.
Saat tangan Berlin mulai menyentuh bahu Milley, Margareth langsung merangkul Milley dan menjauh dari arah Berlin. "Nona Muda, duduklah," ucapnya.
Wanita j*langgg sialan! Tidak tahu di untung! Ternyata dia berpihak pada Milley! Awas saja kau pembantu sialan! ucap Berlin dalam hati.
Jayden masih berdiri memandangi Milley dengan penuh kagum. Hidungnya tiba-tiba mengeluarkan cairan kental berwarna merah tanpa di sadarinya.
"Ya ampun, kau berdarah!" celutuk Milley tiba-tiba.
Berlin dan Megan terkejut bukan kepalang.
Milley langsung menarik beberapa helai tisu dari atas meja dan langsung mengusapkan tisu itu di sekitaran hidung Jayden. Betapa terkejut Jayden saat melihat wajah Milley begitu dekat dengan wajahnya.
Berlin kembali membesarkan manik matanya. Ia menyenggol bahu Megan dan memberi isyarat pada gadis itu untuk melakukan sesuatu. Megan pun tak mau kering, ia menarik dua helai tisu dari atas meja.
Bukkk!
Milley terjatuh di lantai. "Aww!" pekiknya.
__ADS_1
Megan sengaja menerpa tubuh Milley hingga jatuh supaya ia yang menggantikan posisi Milley untuk membersihkan noda darah di hidung Jayden.
"Milley!" ketus Jayden panik. Dengan reflek Jayden membantu Milley berdiri, sedangkan tubuh Megan di gesernya karena menghambat gerakannya. "Kau tak apa-apa?"
"Ya. Aku tidak apa-apa."
"Sial!" umpat Megan mulai naik pitam.
Tak hanya Megan yang terlihat kesal. Berlin juga tampak jengkel dan serasa ingin menerkam Milley namun ia menahan amarah itu karena Jayden masih di sana.
"Ya ampun Milley. Kenapa kamu terjatuh? Mama 'kan sudah bilang. Tubuhmu masih lemah dan kau sudah melawan Mama keluar dari kamarmu," tutur Berlin berpura-pura peduli.
"Aku tidak sakit, Ma. Aku baik-baik saja. Tapi Megan menyambarku tiba-tiba."
Degg!
Berlin dan Megan kembali dibuat terkejut oleh Milley. ia bahkan sudah mulai mengadu dan menyalakan kembarannya.
"Apa kau bilang?! Jelas-jelas kau yang terjatuh sendiri!" celutuk Megan.
Berlin menatap wajah Jayden yang tampak kecewa. "Ehm, Megan, kau minta maaflah pada Milley. Kau 'kan tidak sengaja menabraknya?" menyenggol bahu Megan.
"Ta--tapi Ma ... "
Bodoh sekali anakku ini! Cepat Megan, minta maaflah. Jangan sampai citramu rusak di mata Mr. Smith.
Dengan manik yang melebar, Berlin menatap Megan dengan ucapan yang tak terkatakan. Megan paham dengan maksud Berlin.
"Maaf. Aku tidak sengaja," ucapnya dingin.
"Tidak apa-apa, Megan."
"Saya rasa sudah cukup. Mari kita lanjutkan perbincangan kita mengenai lamaran," tutur Berlin mengarahkan ke topik sebelumnya.
"Benar. Mari lanjutkan," ucap Jayden.
"Sebentar," menyela. "Tapi kau benar tidak apa-apa 'kan, Tuan? Hidungmu berdarah.
"Saya tidak apa-apa. Hanya mimisan biasa," tutur Jayden tampak malu. Aishhh! Betapa malunya aku! Kau tidak tahu saja Milley, aku mimisan karena terlalu kagum melihat kecantikanmu. Hahah!
To be continued ...
.
.
.
Vote, like dan komen dari kalian akan sangat membantu Author 🥰🥰
follow ig
@syutrikastivani
@stivaniquinzel
__ADS_1