
Arsen melajukan kecepatan mobilnya di atas rata-rata. Selama lima belas menit dalam perjalanan, Arsen tidak bersuara, begitu juga dengan Amey. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di kantor polisi. Arsen memarkirkan mobilnya dan segera turun. Ia membukakan pintu untuk istrinya yang sedari tadi menegang kaku karena mengkawatirkan Soffy.
"Amey, apa kakimu sudah tidak sakit?"
"Lumayan."
"Kalau begitu biar aku gendong."
"Tidak usah, Ars. Nanti semua orang melihat kita."
"Aku lupa membawa kursi rodamu karena buru-buru."
"Tidak apa aku akan coba untuk berjalan."
Arsen merangkul Amey yang berjalan layaknya orang pincang. Celah kangkang Amey masih sedikit sakit saat bergerak lebih. Ia menahan rasa sakit itu demi untuk bertemu dengan Soffy.
Seorang petugas berseragam coklat sedang duduk menghadap keempat orang yang tak lain adalah Soffy, Zoey, Mark dan seorang pria asing yang menabrak mobil kesayangan Arsen. Mereka berempat sedang diinterogasi oleh Petugas itu.
"Pak Polisi, dengarkan aku," tutur Soffy tiba-tiba. "Aku tidak bersalah. Pria ini yang telah menabrak mobil menantuku," menunjuk pria berbaju hijau yang duduk di sebelah Mark.
"Apa betul begitu?" tanya Polisi pada pria berbaju hijau itu.
"Benar, Pak. Tapi saya bermaksud untuk bertanggung jawab, tiba-tiba si Nenek gila ini menjambak rambut saya!" ucap Reno.
"Apa Ngana bilang?! Nenek gila?" Soffy beranjak dari duduknya dan hendak melemparkan sepatunya pada pria berbaju hijau yang bernama Reno.
"Nek, tenanglah nanti masalahnya makin melebar," tutur Zoey.
Soffy pun akhirnya duduk kembali. Namun raut wajahnya begitu menakutkan karena murka. Ia menatap Reno dengan tatapan membunuh, sehingga membuat pria itu menggeliang ngeri.
Petugas itu beralih menatap Mark yang sedari tadi hanya berdiam dengan tatapan nanar. "Tuan, Mark? Kenapa Anda bisa terlibat dengan masalah ini?"
"Saya mengejar mobil yang dikemudikan Nensi," ucap Mark tidak bertenaga.
"Nensi? Siapa Nensi?" tanya Polisi itu mengernyitkan dahi.
"Nenek Sihir," jawab Mark.
"MARK!!!" teriak Soffy kembali berasap.
"Ne--nek sihir?" lagi tanya Polisi itu tidak paham.
__ADS_1
Mark menunjuk Soffy dengan memonyongkan bibirnya.
"Jadi kalian ugal-ugalan di jalanan dan tidak mengikuti peraturan lalu lintas?"
Soffy, Zoey dan Mark menganggukkan kepala dengan serentak. Sedangkan Reno hanya berdiam diri mencerna setiap pertanyaan yang dilontarkan Polisi itu.
"Nenek!" teriak Amey dari kejauhan.
Semua orang mengadah ke arah sumber suara kecuali Mark. Ia memejamkan matanya sejenak dan membukanya. Ia mengatur napasnya barulah ia mengadah ke belakang.
Mark menelan salivanya kasar. Ia mulai berhalusinasi saat melihat Arsen. Dalam pikirannya, ia sedang melihat kepala Arsen yang berganti wujud menjadi kepala Harimau yang sedang mengaung lapar akan mangsa.
"Apa yang terjadi?" tanya Amey kawatir.
"Tuan dan Nyonya Winston, maaf mengganggu kenyamanan kalian, silahkan duduk di sebelah sini. Kami akan menjelaskan secara detail mengenai kejadian ini," tutur petugas itu dengan sopan karena mengenal siapa yang sedang berhadapan dengannya.
Keempat orang itu kini telah duduk di ruangan tunggu. Sedangkan Arsen dan Amey telah duduk menghadap petugas kepolisian itu. Arsen menatap Keempat orang itu dengan tajam.
Mark mengetuk-ngetuk telapak kakinya di lantai dengan sangat cepat. Ia menutup rasa gugupnya dengan menggoyangkan kakinya yang bergetar hebat. Perilakunya itu membuat ketiga orang yang duduk di sebalahnya menjadi risih.
"Mark! Hentikan kakimu. Itu sangat menganggu," bisik Zoey.
"Maafkan saya, Nona Muda."
Brakkkkk!
Semua yang ada di ruangan itu terkejut bukan main saat Arsen menghentak meja dengan sangat keras. "Apa kau bilang!"
"Harap tenang, Tuan Winston," tutur Polisi itu yang juga terlihat gugup.
"Harap tenang kau bilang? Bagaimana aku bisa tenang saat Purple-ku di tabrak!"
Sangking sayangnya Arsen pada mobil itu sampai-sampai, ia memberi nama pada super car itu. Mendengar ucapan arsen, Mark menegang. Matanya melebar sembari menelan saliva dengan kasar. Jiwanya terasa hendak lari meninggalkan raganya.
Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, bagaimana perasaan Mark sekarang. Yang pasti nyawanya sedang berada di ujung tanduk.
Arsen mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya. Sungguh! Murkanya sudah berada di ubun-ubun. Rasanya ia ingin melemparkan pukulan mautnya pada siapa pun yang berada di dekatnya.
Untunglah yang berada di sebelahnya adalah Amey. Wanita yang bisa menjinakkan buasnya Harimau yang lapar. Amey memegang tangan Arsen yang telah terkepal erat dan menatapnya dengan penuh arti.
Arsen beranjak dari duduknya dan menatap Petugas itu dengan tajam. Ia meninggalkan Amey dan segera keluar menemui bayi ungunya yang malang.
Setibanya Arsen di tempat mobil kesayangannya bertumpu, ia segera memeriksa kendaraan itu secara detail. Ia mengelilingi mobil itu dan matanya tertuju pada bumper belakang super car kesayangannya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Arsen saat melihat bayi ungunya yang tergores. Meski kerusakannya tergolong tidak parah namun bagi Arsen itu sudah masuk dalam kategori kritis.
"MARKKKKK! YOU DIE!" teriak Arsen penuh amarah. Urat lehernya meninjol di permukaan kulit.
Suara Arsen yang murka mampu menembus masuk ke dalam ronggah tubuh Mark dan menusuk organnya secara berulang-ulang. Mark yang berada di dalam ruangan itu sangat peka mendengar teriakan kemarahan sang bos, meski yang lainnya tidak mendengar.
Kali ini memang tak ada ampun bagiku! batin Mark.
***
Di kediaman keluarga Winston sangat sepi. Apalagi majikan dari mansion itu sedang keluar semuanya. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang berada di dapur. Mereka tidak banyak bicara saat bekerja, karena Elis selalu mengawasi mereka.
Elis sangatlah disipilin dan teliti. Ia sangat ditakuti oleh semua pelayan di rumah itu. Menatap matanya saja sudah membuat pelayan-pelayan menguji nyali apalagi kalau ia murka.
Sore menjelang malam, seorang perempuan yang merupakan salah satu pelayan keluarga Winston sedang berjalan menuju gerbang depan. Ia membawa dua kantung plastik hitam yang sangat besar, berisi sampah.
Sudah menjadi kebiasaannya untuk membuang sampah tepat pukul enam lewat tiga puluh. Ia melewati Pak Muklis selaku penjaga gerbang utama itu. Ketika ia sudah berada di luar gerbang, ia berjalan sekitar sepuluh meter ke arah selatan.
Setelah selesai menaruh kedua kantung plastik besar itu di tempat sampah, ia segera menatap ke segala penjuru, memastikan situasi itu aman terkendali. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Dengan segera ia masuk ke dalam mobil.
"Selamat malam, Nyonya," tutur pelayan itu menunduk kepala.
"Jangan berbasi-basi langsung saja keintinya," tukas wanita paruh baya itu.
"Baik Nyonya. Saat ini hubungan antara Tuan Muda dan Nyonya muda sudah mulai akur. Sepertinya Tuan Muda sudah menyukai Nyonya Muda. Tuan Muda juga sering berlaku aneh di depan istrinya," jelas pelayan itu.
"Ouh begitu rupanya?" Wanita paruh baya itu terkekeh pelan. "Tugasmu kali ini adalah untuk membuat mereka kacau. Buat hubungan mereka tidak akur. Kalau perlu fitnah wanita murahan itu agar Arsen membencinya, dan menendang dia keluar dari rumah itu bersama dengan Neneknya yang norak!"
"Baik Nyonya."
"Ingat, jangan sampai gagal! Kau tahu 'kan kalau aku bukan tipe orang yang pemaaf?" tersenyum licik.
"Saya pastikan mereka akan segera bercerai, Nyonya."
"Bagus. Ini yang aku suka!" mengelus puncak kepala pelayan itu.
Pelayan itu menunduk kepala dan segera keluar dari dalam mobil itu. Tak lupa ia menengok ke kiri dan ke kanan memastikan kembali kalau tidak ada yang melihatnya.
"Amey, wanita j*l*ng sialan! Kau pikir setelah menikah dengan pria konglomerat, hidupmu akan terbebas dari penderitaan? Hahaha! Seharusnya kau mati waktu itu!"
To be continued ...
Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘
__ADS_1