Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Kepergok


__ADS_3

Setibanya Arsen di kamar ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian ia teringat bahwa ia tidak seorang diri di kamar.


"Di mana wanita itu?"


Arsen beranjak dari tidurnya. Ia mendengar suara percikan air yang berasal dari kamar mandi. "Ohh ternyata dia sedang mandi."


Lama Arsen menunggu untuk Amey keluar dari dalam kamar mandi, tapi wanita itu tak kunjung nampak. Arsen semakin penasaran apa yang ia lakukan di dalam.


Arsen berjalan dengan mengendap-endap menuju kamar mandi. Ia hendak mendorong pintu itu namun tiba-tiba Amey telah lebih dulu membukanya. "Kau ... kau mengintipku sedang mandi?" tanya Amey sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Sembarangan! Aku juga ingin mandi. Tapi kau mengontrak kamar mandi begitu lama." elak Arsen.


"Ya sudah mandi sana!" ucap Amey cuek dan berjalan meninggalkan Arsen.


Pria itu merasa diacuhkan. Baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik dengan perawakannya. Ia menatap punggung Amey yang masih mengenakkan handuk. Pikiran liarnya kembali singgah dibenaknya.


Sudah beberapa hari ia tidak memanjakan kejantanannya. Wajarlah sehingga adik kecilnya mulai menagih jatah harian. "Sabarlah, Ars junior, kau akan mendapat bagianmu. Tapi bukan wanita itu. Dia tidak boleh kau sentuh." gumamnya sembari mengelus perangkat lunak miliknya.


Amey menuju walk in closet dan mengganti piyama tidurnya berwarna merah yang cukup seksi. Setelah selesai, ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Arsen kembali memandanginya yang sedang mengeringkan rambut. Amey begitu terlihat seksi saat menggunakan piyama merah yang hanya menutup sebagian pahanya saja sehingga sebagiannya lagi terpampang nyata.


"Hey!" teriak Arsen.


Amey tidak menggubris dan masih tetap mengeringkan rambutnya.


Arsen mendekat. "Hey, kau tuli?"


"Amey! Namaku Amey. Bukan hey!"


"Siapa yang tanya namamu!"


"Kau selalu memanggilku dengan sebutan 'hey' makanya aku tidak mau menyahut!" ketus Amey.


Wanita ini sangat membuatku jengkel!


"Ada apa memanggilku?"


"Aku mau mandi."


"Terus?"


"Lakukan tugasmu sebagai istri!"


Istri? Cihhh! Yang benar saja kau. cerca Amey dalam hati.


"Apa yang kau ingin untuk aku lakukan?" tanya Amey mendengus.


"Siapkan air, sabun, sampo, parfum dan segala kebutuhan mandiku!"


"Hah? Kau pikir aku pembantumu? Enak saja. Lakukan sendiri, kau sudah besar tapi sangat manja. Lagian semuanya sudah ada di kamar mandi, tinggal ambil apa susahnya?"


Arsen semakin jengkel dengan ucapan Amey. Wanita itu memang beda dari pada yang lain. Ia tegas dan tidak ingin diperlakukan semena-mena, meskipun sudah menyandang status sebagai istri, ia tetap pada pendiriannya. Tidak ingin diperlakukan sesuka hati.

__ADS_1


Jelas saja karena Amey selalu di perlakukan Arka bak tuan putri dari kayangan. Arka selalu memanjakannya dan tidak pernah merepotkannya. Malahan dialah yang selalu merepotkan Arka, selalu merengek dan bermanja-manjaan.


"Baiklah jika kau tidak mau menyiapkannya." Arsen berjalan meninggalkan Amey. Sedangkan gadis itu memasang senyum kemenangan.


"Halo Mark. Kemarilah! Aku mau mandi, siapkan segala keperluan mandiku!" segera mematikan ponselnya.


Amey terperanjat saat Arsen menelepon Mark hanya untuk menyiapkan perlengkapan mandinya. "What! Dia menyuruh Mark jauh-jauh datang kemari hanya untuk menyiapkan segala keperluan mandinya? Yang benar saja!" gumam Amey menepuk jidatnya.


"Baiklah ... baiklah! Aku akan menyiapkannya. Suruh Mark untuk tidak datang kemari. Kalian terlihat mengerikan jika bersama!" celutuk Amey sembari menuju kamar mandi.


Arsen menyunggingkan bibir. Ia tahu cara satu-satunya agar Amey mau melaksanakan perintahnya adalah dengan mendatangkan Mark. Karena Amey pernah memergoki mereka dalam keadaan dada telanjang, dan itu membuat Amey risih. Apalagi Arsen menyuruh hal-hal aneh yang bersifat intim.


Amey sedang menyiapkan air untuk Arsen. Dalam setiap pergerakan, bibirnya tidak berhenti menggerutu memaki suaminya. "Owalah, dia pikir aku pembantunya? Jangan besar kepala kau. Aku mengiyakannya karena aku tidak ingin Mark datang dan melihat kalian bertingkah aneh lagi."


Peristiwa tadi pagi kembali terngiang di kepala Amey. Sesekali badannya menggeliang karena geli membayangkan kelakuan kedua pria berotot itu. Ia mencoba mengalihkan pikirannya agar tidak memikirkannya lagi.


Arsen merasa gelisah karena Amey lama sekali menyiapkan air untuknya. Ia terlihat menggaruk badannya karena sangat gatal namun tangannya tidak sepenuhnya merambat sampai ke tulang rusuk. Pria itu membuka seluruh pakaian yang ia kenakan dan melilitkan sebuah handuk kecil di pinggangnya.


Karena masih lama menunggu Amey, akhirnya Arsen memutuskan untuk menyusul Amey di kamar mandi. Ia terlihat menderita menahan rasa gatal di punggungnya. Ia mendorong pintu kamar mandi dan mendapati Amey sedang bermain busa.


Mendengar pintu mengeluarkan bunyi gesekan, Amey terperanjat karena bola matanya menatap seluruh permukaan tubuh sixpack suaminya. "Ke--kenapa kau ke mari?" tanya Amey gugup.


"Mau memasak. Ya mandilah!" tukas Arsen.


Amey menelan salivanya kasar. Iya juga ya. Kenapa aku bertanya seperti itu. Astaga Amey kau terlihat sangat gugup.


"Mandilah. Aku sudah menyiapkan semua keperluanmu." ucap Amey bergegas keluar dari kamar mandi tapi tangan Arsen dengan sigap menahan pergelangan tangannya.


"Wait."


"Punggungku gatal."


"Terus?"


"Garukin."


"Kau bisa sendiri."


"Tanganku tidak sampai."


"Baiklah ... baiklah. Berbaliklah." pinta Amey.


Arsen membalikkan punggungnya. Amey mulai menggaruk dengan perlahan-lahan. Tangannya mulai bergerak ke atas dan ke bawah sehingga mengeluarkan bunyi irama.


"Apa kau tidak memiliki tenaga? Kau menggelitik punggungku bukan menggaruknya."


Amey mendengus. Ia mulai memperkeras tekanan jemarinya agar pria kekar itu merasakan sentuhan jemari Amey. "Sudah."


"Aku tidak merasakan jari-jarimu. Lebih keras lagi." perintah Arsen.


Wanita itu memutar bola matanya. Tiba-tiba ide gila muncul di pikirannya. "Sebentar. Aku akan kembali."


"Hey! Kau mau ke mana? Punggungku masih gatal." teriak Arsen.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian datanglah Amey dengan membawa sebuah benda di tangannya. "Kali ini kau pasti akan merasakan kenikmatan." menyunggingkan bibir.


"Jangan banyak bicara dan garuklah. Punggungku sangat gatal. Aku tidak bisa mandi sebelum rasa gatal itu meredah."


"Baiklah." mulai menggaruk.


Amey mulai menggerakkan tangannya ke atas ke bawah ke kiri ke kanan dengan tekanan yang sangat kuat. Raut Arsen terlihat sangat puas saat menerima sentuhan Amey. "Yaa terus. Ke bawa sedikit. Tidak ... tidak ke tengah lagi. Sedikit ke kanan."


Amey melakukan sesuai dengan perintah Arsen. Kini wajah Amey tidak terlihat kesal. Malahan senyuman puas mengembang di wajahnya. Ia semakin memperkuat tekanannya karena mendengar Arsen yang mengerang nikmat.


Cukup lama Amey menggaruk punggung Arsen. Lama kelamaan wajah Arsen berubah dari nikmat menjadi kaku. Ia mengerutkan kening. "Hey kenapa punggungku terasa pedas dan panas?"


"Mungkin itu efek."


"Efek apa? Punggungku terasa sakit. Aww!" pekik Arsen saat Amey lebih mengeraskan gesekannya.


"Efek dari benda ini." ucap Amey sembari menghentikan gerakannya.


Arsen membalikkan badannya. Pria itu terkejut saat melihat sepatu hak tinggi yang di pegang Amey. "Kenapa kau memegang heels? Jangan bilang kau menggaruk punggungku memakai ujung sepatu hak tinggi ini?" ucap Arsen menaikan nada.


"Yapp kau benar. Aku menggaruknya menggunakan ini. Bagaimana rasanya? Enakkan?" tanya Amey tersenyum puas.


Tanduk merah Arsen muncul saat mendengar ucapan Amey. Ia mengepalkan tangannya erat, hidung dan telinganya seakan mengeluarkan asap karena emosi yang menggebu.


Melihat jiwa iblis Arsen bangkit, dengan segera Amey berlari keluar dari kamar mandi dan senyuman kecil terbentuk di pipinya. Rasakan kenikmatan dari heelsku! HAHA.


Karena terlalu bersemangat, kaki Amey terkilir sehingga ia tidak dapat menopang lagi berat tubuhnya. Arsen yang juga berlari di belakangnya kini ikut tersandung karena Amey.


Brukkkk


Keduanya jatuh ke lantai. Arsen menindih tubuh kecil Amey yang tergeletak layaknya cicak. Tangan Arsen reflek memegang dada Amey yang tengkurap.


"Awww!" pekik Amey. "Astaga! Benda apa yang menusuk di pantatku?" gumamnya lagi.


Keduanya belum menyadari jika Arsen memegang dada Amey. Lebih parahnya lagi lilitan handuk terlepas dari pinggang Arsen sehingga tubuh polosnya terpampang nyata.


Amey mulai merasakan keganjalan lain di dadanya. Ia menatap dadanya perlahan dan "Aghhhhhhh." Amey berteriak histeris.


"Aghhhhh." disusul juga dengan teriakan Arsen.


Keduanya berteriak sangat keras. Tiba-tiba ...


Ceklek


"Cucukku!"


"Mr. Winston?"


Reflek Amey dan Arsen menatap sumber suara dari arah pintu. Keduanya menegang seraya membelalakan mata. Soffy dan Mark tak kalah terkejut dengan pemandangan yang dilihat mereka.


"Astaga dragon!" ucap Soffy menutup mata sebelahnya. "Mark, Ayo keluar! Ayo Mark, kau jangan melihat adegan yang tak senonoh. Kau belum menikah!" ucap Soffy menarik tangan Mark.


To be continued ...

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


__ADS_2