
Kabar penculikan Zoey tersebar di seluruh mansion. Tak hanya Amey dan Soffy, para pelayan pun panik bukan kepalang. Keamanan mansion ditingkatkan menjadi ketat. Arsen memang sengaja mengerahkan seluruh pengawalnya untuk menjaga mansion dikarenakan ada Amey dan Neneknya di dalam.
Arsen tak ingin si licik Rion menyakiti kedua orang tersebut di saat ia mencari Zoey. Sekitar dua puluh orang berjaga di gerbang luar dan empat puluh orang berbaris di setiap sudut ruangan. Para pengawal itu berbadan kekar dan berwajah garang.
Soffy yang sedari tadi menatap para pria berotot yang mengenakkan baju hitam itu mulai penasaran. Pikirannya yang centil mulai hinggap menghampiri benaknya. Sesekali ia menahan keinginan untuk menggoda pria-pria kekar itu karena mengingat Zoey yang diculik.
"Tidak boleh! Pokoknya tidak boleh!" gumam Soffy melarang dirinya untuk tidak melakukan hal konyol di situasi menegangkan itu. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah pria berewokan di sudut ruang tamu.
Tak lama kemudian Soffy melihat Amey yang sedang mengucapkan doa. Ia pun segera mengikuti Amey dan berdoa. "Ya Tuhan, selamatkan nyawa Zoey dan Ayang Kaisar," pintanya, sembari matanya berkeliling menjelajah sudut-sudut ruangan.
"Permisi, Nyonya," tutur Elis.
"Ada apa Elis?"
"Di luar ada Nona Eggie."
"Suruh dia masuk."
"Baik Nyonya."
Elis berjalan menuju ke arah pintu. Ia mendapat laporan dari para pengawal yang berjaga di gerbang depan bahwa ada seorang perempuan yang ingin masuk ke dalam.
"Suruh, Nona Eggie masuk. Periksa bagian luarnya, nanti aku yang akan periksa bagian dalamnya. Tidak boleh ada penyusup yang masuk ke dalam mansion."
"Baik Elis."
***
Sementara di tempat lain, tampak Arsen dan Jayden kewalahan mencari alamat yang dikirim Kai tadi siang. Kedua orang itu telah sampai di ujung kota, namun tak menemukan tempat perteduhan di sana. Matahari pun telah bersembunyi di bawah kaki langit. Hanya cahaya bulan yang tampak terang menyinari alam semesta.
"Kau yakin di sini tempatnya?" tanya Arsen.
"Menurut map, lokasinya berada di sini."
"Lalu, ke mana Sayur Kol membawa Zoey dan Kai?!"
"Ars, coba lihat ini ada jejak ban mobil," tunjuk Jay dengan senter handphonenya.
"Ayo kita ikuti."
"Wait!"
"Apa lagi?!" Arsen mengerutkan kening.
"Apa kita sanggup mengalahkan Collin dan anak buahnya? Sepertinya kita kalah jumlah, Ars."
"Kau pikir aku bodoh, hah?!" melanjutkan langkahnya mengikuti jejak ban mobil tersebut.
Jayden menarik napasnya panjang. "Demi Zoey dan Kaisar! Nyawa di bayar dengan nyawa," gerutu Jayden memberanikan diri.
Kedua orang itu berjalan di tengah rerumputan lumayan tinggi, yang menjulang sampai pada betis keduanya. Jejak ban mobil pun sudah tak terlihat lagi. Arsen dan Jay kebingungan mencari lokasi yang tepat.
Sudah hampir sepuluh menit kedua orang itu mengendap-endap di padang luas itu. Tiba-tiba Arsen mendengar ada suara mobil yang terdengar di sekitar mereka. "Stop!" ketus Arsen.
"Why?"
Arsen menunjuk bagian barat dengan tangannya tanpa bersuara. Jay pun langsung paham dengan isyarat yang diberikan Arsen. Kedua orang itu berjalan mengendap menunju sumber suara yang di dengar Arsen.
__ADS_1
"Ars, kau lihat itu?"
"Ya aku melihatnya. Tunggu sampai keparat itu keluar dari dalam mobilnya! Kita akan beraksi setelah dia membawa kita ke ruangan yang tepat."
"Kau benar, Ars. Gedung ini terlalu besar."
Arsen mengeluarkan ponselnya dan memotret tempat itu. Tampaknya ia sedang membagikan gambar itu ke salah satu kontak Whatsapp-nya, dan beberapa kata sebagai pesan singkat yang ia ketik di bawahnya.
Jumlah mobil yang terparkir di depan gedung itu sekitar sepuluh mobil van berwarna hitam dengan logo kobra, sama seperti yang dilihat Kai tadi siang. Bos besar Mafia itu yang tak lain adalah Rion Collin keluar dari dalam mobil bersama keempat anak buah raksasanya.
Sedangkan anak buahnya yang lain mulai membentuk formasi, melakukan penjagaan. Semua pria itu berpakaian hitam dengan logo mafia di bagian dada kanan mereka. Tangan dan leher para pria itu dipenuhi dengan tato kobra. Beberapa senjata tajam dan tumpul melingkar di pinggang pria-pria itu.
Jayden menelan liurnya saat melihat pria-pria berorot itu. Bagaimana tidak mereka ada sekitar lima puluh orang, otomatis Jay dan Arsen tak dapat mengalahkan pasukan Collin. Begitu pikir Jayden.
"Hanya beginikah kemampuanmu, Sayur Kol amis?! Cuihhh," meludah di tanah.
"Kau bilang apa, Ars? Ha--hanya begini? Apa matamu rabun? Jelas-jelas mereka sangat banyak dan memegang senjata tajam. Kita bisa tewas dengan sekejap jika kita masuk ke dalam!"
"Hanya ada dua pilihan. Membunuh atau di bunuh!"
Deg!
"Dia sangat mengerikan jika seperti ini!" lirih Jayden.
Arsen menatap jam tangannya. Ponselnya pun telah bergetar beberapa kali. "Jay, sekarang!" perintah Arsen yang mengambil ancang-ancang untuk berlari ke arah gedung itu.
"Baik!"
Kedua orang itu dengan penuh keberanian mulai masuk ke area berbahaya. Mendengar suara aneh, para pria gengster itu mulai menodongkan pistol ke sumber suara. Sesaat kemudian muncullah beberapa deretan mobil Van.
"Kau datang tepat pada waktunya, Mark!" tutur Arsen.
Dorrr!
Suara tembakan itu mengagetkan Arsen. Untung saja tubuhnya tak dikenai peluru karena Mark segera menembak tangan pria yang menarik pelatuk ke arah Arsen.
"Lindungi aku, Mark. Aku akan masuk ke dalam!" perintah Arsen.
"Baik, Tuan!"
Segala yang mengahalau jalan Arsen, dibuatnya babak belur dengan pukulan mautnya. Para pria yang menggunakan barang tajam, dapat ditangkis dengan baik oleh Arsen.
Brakkk!
Suara benturan keras terdengar dari dalam. Mark secepat kilat masuk ke dalam dan memeriksa keadaan di sana. "Tuan! Kau tak apa-apa?" tanyanya sembari mencari sosok Arsen.
"Aku tak apa," tutur Arsen memegang bahunya.
Mendengar suara Arsen, Mark segera menghadap ke samping dan mendapati sosok yang dicarinya. "Kau yakin, Tuan? Lebih baik Tuan kembali ke mobil. Biar aku saja yang mencari Nona Muda dan Tuan Kaisar."
"SHUT UP! Jangan meremehkanku, Mark!" bentak Arsen dengan napas memburu. "Lebih baik kau urus dia!" menunjuk seorang pria di belakang Mark yang telah dipenuhi cairan kental di bagian wajah karena di bantai Arsen.
Mark menatap pria itu yang masih menyempatkan diri memegang pistol untuk menembak Arsen. "Kau bukanlah tandingan Tuanku, bedebah sialan!"
Dorrr!
Mark menembak bagian paha pria itu.
__ADS_1
"Kau memang tak punya hati, Mark. Kau telah membunuhnya," tutur Arsen meninggalkan Mark.
Mark menganga. "Apa Tuan tidak salah bicara? Bukankah dia yang tak punya hati, sampai membuat semua orang ini tak memiliki tulang lagi?!" gumam Mark, menggeleng kepalanya sembari menatap beberapa orang yang telah tergeletak tak berdaya di lantai. "Lagian tembakanku jauh dari tempat kematian!" tambahnya lagi.
Arsen menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan seseorang yang tak lain adalah suara Zoey dari lorong sebelah. "Zoeyyy!" gumamnya. Ia berlari dengan kencang. Saat melewati sebuah ruangan, ia mendapati ada dua orang pria yang berdiri di depan pintu.
Tanpa basa-basi, Arsen langsung menghajar kedua pria itu sekaligus. Satu pria telah terjatuh ke lantai, namun masih bisa berdiri dan membalas pukulan Arsen. Sedangkan pria yang satunya masih menangkis pukulan demi pukulan yang ditancapkan Arsen di tubuhnya.
"Tuan Muda! Cepatlah masuk ke dalam. Biar aku dan Tuan Jayden yang mengurus orang-orang ini!" ucap Mark tiba-tiba.
Arsen mengangguk. Ia melepaskan cengkeramannya di leher pria itu dan segera masuk ke dalam. Dan benar saja ia mendapat Rion sedang mencium leher Zoey. Arsen mengeratkan rahangnya. Luapan emosi bagai air yang mendidih terpampang di wajah Tuan Arogan itu. Ia berlari dengan kencang dan menendang punggung Collin sehingga pria itu terpental ke lantai.
"B*ngsat kau! Kau sendiri yang meminta memperpendek umurmu!"
Zoey terkejut saat Arsen muncul dengan tiba-tiba dan menendang punggung Collin dengan kencang sehingga pria itu terpental ke lantai.
"Kakak!! Hik ... hik ... hik!" Zoey menangis tersedu-sedu.
Melihat keadaan Zoey membuat sisi iblis Arsen muncul. Dua tanduk yang sebelumnya tersembunyi kini telah muncul di puncak kepala Arsen. Tak dapat dipungkiri lagi, kemarahan Arsen telah klimaks. Ia kemudian mencengkram kerah baju Rion sehingga pria itu kembali berdiri tegak.
Bukkkkk! Bukkkkk! Bukkkk!
Pukulan bertubi-tubi menghujani wajah Rion. Namun bukannya merasa kesakitan, pria itu malah tersenyum kecut melihat tingkah Arsen.
"Tersenyumlah sepuasnya, karena kau tak akan pernah lagi melekukkan bibirmu itu!" sindir Arsen dengan menonjok tulang hidung Rion hingga berdarah.
Setelah Rion memberikan kebebasan untuk Arsen berlaku sesuka hati padanya, kini ia mulai bangkit dan menangkis pukulan Arsen.
Brukkkk!
Sebuah tendangan yang cukup keras diterima Arsen sehingga badannya terjatuh di lantai. Penglihatannya menjadi buram. Ia menggeleng kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing itu, namun tak kunjung hilang. Arsen mencoba bangkit berdiri namun lagi-lagi tubuhnya begitu lemas dikarenakan sedari tadi tenaganya terkuras akibat menghantam anak buah Collin.
"Kakakkkkkk?! Kau kenapa?" tanya Zoey panik.
"Tak apa Zoey. Aku hanya memberikan b*jingan ini kesempatan untuk memukulku. Karena setelah ini ia tidak bisa lagi menggerakkan saraf-sarafnya!"
"Hahahaha! Sudah seperti ini, tapi jiwa aroganmu tak berkurang dan malah melonjak. Kita lihat saja saraf siapa yang tidak akan berfungsi lagi!"
Arsen sangat geram mendengar ucapan Rion. Ia memaksa tubuhnya untuk berdiri. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, ia bisa mengangkat tubuhnya kembali berdiri.
"Cuihhhh!" Arsen meludah. Ia kemudian menghajar Rion dengan sisa-sisa tenaganya.
Terjadi baku hantam yang sengit di tempat itu. Bisa dibilang kedua orang itu merupakan lawan yang seimbang. Bos mafia terbesar dan Tuan Arogan yang kejam. Tak seorang pun dapat menghentikan perkelahian itu. Hanya ada satu cara yang bisa menghentikan pertikaian sengit itu! Caranya adalah salah satu dari keduanya harus ada yang mati, agar perkelahian berakhir!
"Jika aku mati, kau juga harus mati!" ucap Rion.
"Ya! hidup atau mati, aku tetap akan menghabisimu. Entah itu di neraka sekalipun!!"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
__ADS_1
follow akun ig asli Author @syutrikastivani