Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Biang Rusuh


__ADS_3

(Percakapan di telepon)


"Kak Jen, nggak usah jemput aku. Aku udah di lokasi nih."


"Ohya? Kakak lagi menuju tempat kerjamu, jadi Kakak putar balik aja?" tanya Jen dari balik telepon.


"Iya Kak. Lagian Kakak lama banget. Aku udah lapar nih!"


"Baiklah, sepuluh menit Kakak tiba."


Tut ... tut ... tut


Jen memutuskan sambungan telepon.


"Tuan?" lirih Jen.


"Ya?"


"Kita putar balik saja. Jire sudah berada di rumah makan."


"Baiklah," tutur Mark sembari memutar kemudi. Jadi adik Sekretaris Jen sudah bekerja? Hmmm, aku jadi ingat waktu adiknya mengataiku pria tua. Pasti dia akan lebih meledekku karena usiaku yang memang sudah tua. Tapi kalau soal face ... Aku rasa aku awet muda! Batin Mark.


Setelah hampir lima belas menit dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah makan sederhana di pinggir jalan.


Seorang pria tampan yang terlihat masih muda, tengah duduk sambil memainkan gawainya. Menyadari sosok Jenifer yang telah duduk di sampingnya membuat ia terhenti memainkan game online.


"Kau lama sekali," rengek Jire, memanyunkan bibirnya.


"Ya maaf."


Jire mendongakkan kepalanya dan menatap pria dewasa yang sedari tadi berdiri memperhatikannya. Ia menyipitkan mata dan memaksa otaknya untuk mengingat, siapa pria familiar itu.


"Tuan, duduklah," tutur Jen.


Mark menunduk kepala.


"Ohya Jir, ini Tuan Mark. Apa kau masih ingat?" tanya Jen.


"Oh iya, sekarang aku ingat. Pria tua yang pernah datang ke pemakaman Ibu 'kan?"


Benar dugaanku! Batin Mark.


"Jire! Sopan sedikit!" bentak Jenifer.


"Tidak apa-apa. Lagian memang begitu kenyataannya," tutur Mark, datar.


"Tuh 'kan, Tuan Mark saja akui itu. Ohya, Tuan, apa kau sudah menikah? Aku harap sih belum. Soalnya Kak Jenifer juga belum menikah. Jadi kalian cocok. Sama-sama udah tua."


Deg!


Pletakkkk!


"Aduhhh sakit!" Pekik Jire saat menerima cubitan kecil disertai pukulan kencang di lengannya.


Jen melotot, menatap Jire. Sialan bocah ini! Dia hampir merusak citra eleganku di depan Tuan Mark. Lagian sih Jen! Kau jangan main pukul aja, liat 'kan, Tuan Mark merasa tidak nyaman dengan sikapmu! ucap Jen, yang sedang berdebat dengan batinnya.


Jire masih mengusap pahanya yang terkena cubitan dari Jen, sedangkan tangannya yang satu mengelus lembut lengannya yang terkena pukulan. "Kakak! Seharusnya kau yang sopan di depan Tuan Mark. Kau bahkan memukulku!" rengek Jire.


"Ehem!" Jen berdehem dan tersenyum manis, menatap Jire yang tampak kesakitan. "Ya ampun Jire. Kau sangat cengeng, heheh! Kakak 'kan hanya becanda," tutur Jen terkekeh pelan.


"Ada apa dengan wajahmu, Kak?! Tak biasanya kau bersikap baik padaku saat kau baru saja memukulku!" Jire menatap Jen, kemudian pandangannya beralih menatap Mark. Seketika ia tersenyum licik. "Aku tau!"


Dari senyumannya, aku yakin pasti ada sesuatu yang dipikirkan bocah tengik ini! Sialan! Jangan sampai dia meledekku di sini!


"Permisi Tuan dan Nona. Ini menunya," ucap seorang pria yang mengantarkan menu.


"Oh trima kasih, Pak." Jen cepat-cepat menerima menu dan mengalihkan pembicaraan. "Jira mau pesan apa?" tanyanya lembut.

__ADS_1


Kenapa aku merasa jwijwikk dengan sikap Kakak? Hahaha! Dia pasti sedang melakukan jurus pamungkasnya alias menebar pesona Hahaha! Selalu saja begitu di depan pria. Sok alim, sok cantik, sok elegan. Padahal aslinya somplak bin gesrek alias barbar! Hahah.


"Jire? Kenapa kau senyam senyum kayak orang yang baru kena panah cupid?" tanya Jen, menekan nadanya.


"Enggak kok Kak. Ohya, kenapa sih Kakak jaim banget hari ini?" tanya Jire tersenyum licik.


"Oh Jire mau pesan makanan yang biasa Jire pesan?" Jen lagi-lagi mengalihkan pembicaraan. Bocah sinting! Awas saja kau!


Melihat manik Jen yang membesar seolah mau keluar dari tempatnya, Jire langsung bungkam dan menatap menu. Keringat dingin langsung menyucur di dahinya. "I--iya Kak. Terserah Kakak saja," lirih Jire.


Mark yang memperhatikan tingkah Jenifer dan Jire melekukan bibirnya. "Kakak beradik yang lucu," gumam Mark dengan lirih.


Drt ... drt ...


Ponsel Mark bergetar. Ia meraih benda itu di dalam sakunya dan membaca pesan singkat dari seseorang. Tak lama setelah ia membaca isi pesan itu, ia beranjak dari duduknya. "Sekretaris Jen, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan makan siangku. Ada suatu hal penting yang harus aku urus."


"Hmm, begitu ya? Baiklah, kapan-kapan kalau Tuan tidak sibuk, Tuan bisa bergabung lagi bersama-sama dengan kami," ucap Jen dengan senyuman manis.


Mark menunduk kepala dan meninggalkan Jen dan Jire. Kebetulan ada taksi yang berhenti di depan rumah makan itu, Mark langsung menyuruh sopir mengantarnya di sekolah keempat Winston Junior.


"Hufth! Apalagi yang di perbuat si empat biang rusuh itu!" gumam Mark.


Mark mendapat pesan singkat dari pihak sekolah, yang tak lain adalah wakil kepala sekolah Karin. Rupanya si empat Ed telah melakukan sesuatu kehebohan, sampai-sampai pihak sekolah tak tanggung-tanggung langsung memberikan surat panggilan orangtua yang pertama, tepat di hari pertama mereka masuk sekolah.


Mark menjadi wali dari keempat Ed. Arsen dan Amey memberikan tanggung jawab kepada Mark untuk mengurus data-data mereka saat masuk ke sekolah. Makanya nomor telepon Mark-lah yang tertera di formulir, sehingga pihak sekolah menghubungi nomor telepon Mark. Namun, kalau pun pihak sekolah memiliki kontak Arsen, mereka tidak berani menghubunginya langsung dan itu harus melalui asisten pribadinya.


Setelah tiba di sekolah, Mark langsung menuju ruangan khusus bagi siswa dan siswi yang membuat pelanggaran. Saat tiba di sana, ia di sambut baik oleh semua guru-guru yang ada di ruangan itu. Mark terkejut bukan kepalang saat melihat penampilan keempat kembar itu yang terlihat amburadul tak beraturan. Seragam sekolah mereka kotor dan sobek bagai anak-anak gelandangan di pinggir jalan.


Tamatlah aku, jika Tuan Arsen melihat ini!


"Uncle!" ketus Edgar.


"Hore Uncle datang!" sambung Edzel.


"Syukurlah Uncle cepat datang. Kalau tidak, aku akan mati karena bosan di sini!" celutuk Edward.


Semua guru-guru tak ada yang berani bersuara.


"Tuan Muda Edward, di mana Dinar dan Candy?" tanya Mark.


"Edzel menyuruhnya pulang."


Mark menatap Edhan yang masih berdiam tenang sembari memainkan robot kecilnya. "Tuan Muda Edhan?"


"Ada apa Uncle?"


"Kau bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi sehingga pakaian kalian amburadul seperti ini?


"Tentu saja," melepas mainannya.


"Tadi ada seorang gadis yang mengajak Edward berpacaran, namun Edward mendorong gadis itu sehingga dia terjatuh di lantai dan menangis."


Flashback ON


Ruangan kelas menjadi sangat gaduh. Tampaknya para murid tingkat satu sedang menunggu pergantian guru mata pelajaran. Seorang gadis kecil memiliki rambut sepinggang di kuncir dua berjalan menuju kursi paling depan. Dan tempat itu diduduki oleh Edward.


"Hey kau. Bolekah aku menjadi temanmu?" tanya gadis itu.


Edward tak menanggapi dan masih terus membaca.


"Kau tak dengar ucapanku?" tanyanya lagi.


Edward masih tak menggubris dan mengacuhkan gadis kecil itu.


"Apa kau tidak diajari sopan santun oleh orangtuamu? Jika ada orang yang berbicara, kau harus mendengarnya dan berbicara padanya!"


"Kau terlalu banyak bicara!" ketus Edward meninggalkan tempat duduknya.

__ADS_1


Gadis kecil itu menyentakkan kaki dan mengejar Edward.


Merasa tidak nyaman dibuntuti terus, Edward menjadi marah. "Apa kau tidak diajarkan orangtuamu untuk berhati-hati pada orang asing?!"


"Aku cuma mau menjadi temanmu!" teriak gadis kecil itu.


"Aku tidak mau berteman dengamu!"


"Kalau begitu ayo kita berpacaran!" ketus gadis polos itu dengan lantang.


Edward mendorong gadis itu sampai terjatuh di lantai. Tiba-tiba gadis itu menangis dengan keras.


"Dasar gadis aneh!" tutur Edward.


Melihat gadis kecil itu menangis kencang, para anak laki-laki di kelas itu menjadi marah pada Edward. Pasalnya gadis kecil itu merupakan primadona kelas yang diinginkan semua penghuni kelas bahkan seluruh tingkat satu. Gadis itu bernama Laura. Selain cantik, dia juga sangat pintar dan berasal dari keluarga terpandang. Laura adalah anak tunggal dari salah satu perdana menteri di negeri.


"Hik ... hik ...hik! Kau kasar sekali!" Laura menangis semakin kencang.


"Hey Bule!! Kau murid baru 'kan? Aku ketua kelas di sini! Kenapa kau membuat Laura kami menangis?!" tukas seorang anak laki-laki sebaya dengan mereka.


"Bodoh!" gumam Edward. Ia berjalan kembali menuju tempat duduknya. Namun saat ia hendak berjalan, tiba-tiba segerombolan anak laki-laki mengeroyok Edward.


"Edhan, Edgar! Ayo kita membantu Edward!" teriak Edzel.


"Naruto beraksi! Hiyaaaaaaa!" ketus Edgar menengahi tawuran.


Mereka bertiga pun ikut membantu Edward menghajar anak-anak laki-laki satu kelas dengan mereka yang berjumlah hampir belasan orang. Akhirnya si empat Ed memulai tawuran di hari pertama mereka bersekolah. Dan pada akhirnya semua anak laki-laki itu menangis akibat menerima pukulan dari keempat Winston Junior.


Flashback OFF


Mark menggaruk tengkuknya. Ia bingung harus berkata apa pada keempat anak itu.


"Uncle aku bosan. Ayo pulang!" rengek Edgar.


"Aku tak mau berteman dengan mereka, Uncle! Mereka memukul Edward!" tambah Edzel.


Mark menatap wakil kepala sekolah. "Boleh saya membawa mereka pulang?"


Secepat kilat Wakil Kepala sekolah Karin mengiyakan permintaan Mark. "Oh silahkan, Tuan. Dengan senang hati," tersenyum semringah. Akhirnya ... Baru satu hari mereka di sini, hampir membuat tensiku naik. Bawa saja mereka, Tuan. Pusing pala barbie!


"Kalau begitu saya permisi." Mark mengajak keempat anak itu pulang ke mansion untuk mengganti pakaian mereka. "Saya akan mengantarkan mereka kembali ke sekolah setelah mengganti pakaian mereka."


Deg!


Karin melonjak. Dengan senyum yang paksa ia mengangguk mengiyakan.


"Ohya, jangan sampai Tuan Arsen mengetahui hal ini!" ucap Mark, dingin.


"Baik Tuan."


"Kenapa Daddy tak boleh tau?" tanya Edhan.


"Kalau Daddy kalian tau, bisa-bisa sekolah ini di tutup, dan para guru akan dipecat."


Deg!


Karin lagi-lagi menerima serangan jantung dadakan. Ia menelan salivanya kasar. "Belum juga dipromosikan menjadi kepala sekolah, udah main tutup-tutup aja nih sekolah. Holangg kayah mah bebas!" lirih Karin dengan mata masih terbelalak.


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.

__ADS_1


Follow ig @syutrikastivani


__ADS_2