
TPTA 168
Seorang pria memandangi dinding dengan tatapan kosong. Di tangannya terdapat pena yang sedari tadi ia mainkan di jemarinya. Dialah Jayden. Semenjak pertemuan terakhirnya dengan wanita misterius itu, kehidupan Jayden selalu di selimuti rasa ingin tahu yang tinggi mengenai kehidupan gadis misterius itu.
Sudah beberapa hari terakhir, Jayden sering mampir di gerbang rumah seorang gadis bernama Milley. Bukan hanya sekedar mampir biasa, tapi ia juga sering menunggu dan memperhatikan gerak gerik wanita incarannya itu. Semenjak kejadian Edhan mengerjainya, ia pun tak berani lagi menunjukkan wajahnya kepada satpam penjaga gerbang, apalagi bertanya.
Jelas saja karena Satpam pernah mengancamnya untuk dibawa ke penjara akibat menguntit. Gadis bernama Miley pun tak pernah terlihat lagi wujudnya, saat terakhir Jay melihat ia berbelanja di mall.
Brukkkk!
Jay melonjak saat pintu ruangannya digebrak seseorang dari luar. Ia hendak berteriak memarahinya, namun Jay mengurungkan niatnya saat melihat sosok Arsen dan dua anak kembar bersama pria Arogan itu. Seketika mata Jay langsung mengeluarkan binar bening berlian saat mendapati si kecil Edhan yang di gandeng Arsen.
“My partner in crime!” (Mitra kejahatanku!) celutuk Jayden tersenyum semringah.
“Uncle, Jayden!” teriak Edhan yang terlihat sangat merindukan Jayden.
Melihat itu, Arsen pun memijat keningnya. “Sialan! Sepertinya aku salah alamat, membawa anakku kemari!” lirihnya.
“My, friend! Thank you so much! Kau sudah membawa Edhan kemari. Waktu yang sangat tepat. Hahaha!”
“Dasar sinting!” ketus Arsen.
“Uncle, kapan kita akan melanjutkan misi berburu wanita cantik?” tanya Edhan.
Reflek, Jay langsung menaruh telunjuk di mulutnya, mengisyaratkan Edhan untuk jangan membocorkan misi mereka. “Shhtttttt!”
“What?! Berburu wanita cantik? Misi macam apa itu?!” tukas Arsen, kaget.
“Ehm .. anu … sebenarnya bu—bukan itu misinya, Ars. Edhan salah ngomong. Hehehe. Bukan begitu, Edhan?” memandangi Edhan dengan manik yang lebar.
“Apa misinya telah diganti?” tanya Edhan dengan polos, tanpa dosa.
Deg!
“K*parat kau! Apa yang kau ajarkan pada anakku, hah?” geram Arsen.
“Ti—tidak ada. Aku hanya mencoba melatihnya agar tidak terbuai pada buaya betina,” tutur Jayden, beralasan.
“Buaya betina bokongmu! Adanya kau yang buaya darat!"
Jayden memanyunkan bibirnya.
"Kau harus segera bertobat! Kalau sampai nanti kau jadi budak cinta, aku yang pertama menertawakanmu sambil jungkir balik!"
"Tenang saja Ars. Ini sementara dalam proses bertobat. Makanya misi ini sangat penting untukku dan Edhan."
"Kalau mau gila, sendirian aja sana. Jangan ajak-ajak anakku!"
"Daddy, kau tak usah khawatir. Aku hanya akan menemani Uncle saja untuk menjalankan perburuan ini. Daddy tenang saja, aku tidak akan meniru keabnormalan Uncle," tutur Edhan menatap Arsen.
"Yeee, adanya kau yang menulariku, bocah," ucap Jayden.
Edhan mengedipkan mata sebelahnya, mengisyaratkan Jayden untuk diam dan biar Edhan yang membujuk Arsen, agar Pria Arogan itu mau mengijinkan Edhan menjalankan misi aneh bersama Jayden.
Arsen menatap Jay dan Edhan secara bergantian. Apa boleh buat, aku sudah terlanjur mengantar Edhan di sini. Batinnya.
"Daddy?" lirih Edhan.
__ADS_1
"Baiklah."
"Horeeee!" teriak Edhan dengan nyaring.
Jayden yang mendengar ijin Arsen, langsung mengepalkan jemarinya. "Yesss! Misi akan dilanjutkan!" gumamnya.
"Daddy, bawa aku bersamamu," ucap Edward.
"Edward, kau tak mau menjalankan misi bersama aku dan Uncle?"
"Tidak."
"Ini sangat seru, Edward. Kau akan menyesal jika tidak ikut dengan kami."
"Benar apa kata Edhan. Ayolah Edward, ikutlah bersama Uncle," ajak Jayden memelas.
"Tidak. Kalian terlalu kekanak-kanakan. Lebih baik aku membaca buku saja, dari pada harus melakukan hal yang tidak berfaedah!"
Jayden menelan salivanya kasar. Ba--bagaimana bisa anak sekecil ini memiliki pemikiran dewasa? Benar-benar sifatnya persis Arsen. Dingin dan datar!
"Baiklah, Edward. Selamat bersenang-senang dengan buku-bukumu," ujar Edhan.
Edward mengangguk.
"Edhan, ingat! Jangan sampai kau menjiplak keabnormalan Unclemu ini!"
"Yes, Daddy!"
"Baiklah, Daddy dan Edward akan pergi."
"Bye, Edhan. Selamat bersenang-senang. Semoga perburuan wanita kalian berjalan lancar!" ketus Edward.
Edhan dan Jayden tersenyum.
Arsen memegang tangan Edward dan berjalan keluar dari ruangan itu. Akhirnya acara pelepasan ketiga anak biang rusuhnya telah selesai. Dan kini, si anak sulung lebih memilih bersamanya dibandingkan dititipkan pada Mark, Kaisar dan Jayden.
Aksi heboh Jayden dan Edhan pun di mulai. Setelah beberapa menit lalu Arsen dan Edward meninggalkan gedung itu, Jay dan Edhan pun menyusul, meninggalkan kantornya. Mereka berencana menuju rumah Miley, si wanita misterius yang telah memikat hati Jayden.
"Uncle, apa kau memiliki rencana?" tanya Edhan.
"Hmm, tentu saja," mengangguk.
"Apa rencanamu, Uncle?"
"Uncle akan menceritakannya jika sudah sampai di rumah calon istri Uncle, hahaha!"
"Okeyyyy!"
***
Mark memandangi Jen dan Edgar yang sedang berjalan sambil membawa es krim di tangan mereka. Wajahnya berubah menjadi kusut saat melihat Jenifer memegang tangan Edgar dengan begitu erat. Batin Mark bertanya-tanya, kapan dirinya dan Jen akan berkencan sambil bergandengan tangan. Lagi-lagi aku kalah aksi dengan Tuan Arogan cilik itu. Sampai kapan aku harus berjalan di belakang mereka sambil melihat kemesraan keduanya?!
Seperti merasakan kontak batin dengan Mark, Edgar menengok ke belakang dan menunggu Mark sambil tersenyum manis.
Ehhh ... apa bocah itu meledekku?
"Uncle, cepatlah kemari. Jangan berjalan layaknya pria lanjut usia seperti itu!"
__ADS_1
"Peff---bwahahah!" gelak tawa Jen meledak saat mendengar ucapan Edgar.
Mark seketika memerah. Namun melihat Jen yang tertawa, membuat Mark tanpa sadar ikut tersenyum. Kehadiran Edgar memanglah membuat suasana beku dari keduanya menjadi cair.
Jen berjalan ke arah Mark dan memegang tangannya. Jantung Mark langsung berdebar tak karuan. Ia menatap tangan mulus Jen yang mengenggangam pergelangan tangannya.
"Tuan, ayo," ajak Jen tersenyum.
Mark menjadi salah tingkah. Ia mengangguk kecil dan melepaskan genggaman tangan Jen di pergelangan tangannya, kemudian Mark meraih jemari Jen dan menyilangkannya pada tangannya yang besar dan berotot. Kedua orang itu berpegangan tangan.
Giliran Jen yang merasa malu. Pipinya tiba-tiba memerah bagai tomat.
"Cie-cie pacaran niehhhh!" goda Edgar.
Rona merah di pipi Jen semakin bertebaran. Tak hanya Jen saja, namun Mark juga mulai tersipu malu.
Sialan! Kenapa aku merasa malu di ledek anak kecil.
"Uncle, kali ini aku tidak akan mengganggu kalian pacaran. Tapi Uncle harus membelikanku es krim yang banyak!"
Dengan sigap, Mark berjalan ke arah Edgar. Ia tak menyadari jika tangannya dan tangan Jen masih saling mengait. Jen pun ikut tertarik oleh tenaga kuat milik Mark.
"Ayo kita pergi ke pabrik es krim. Kalau perlu Tuan Muda Kecil bisa tinggal di sana satu hari ini."
"Wahhhh? Benarkah, Uncle?" tanya Edgar memastikan.
"Tentu saja."
"Apa Uncle memiliki banyak uang?" tanya Edgar lagi.
"Tidak. Tapi ayahmu memilikinya. Jika Tuan Muda Kecil mau, pabrik es krim sekalipun akan menjadi milik Tuan hanya dengan sekejap."
"Wihhh, keren, Uncle!"
"Tapi, sayangnya Tuan Muda Edgar tidak boleh makan es krim berlebihan, nanti sakit perut," sambung Jenifer.
"Baiklah, Aunty. Aku hanya akan menambah satu saja," menunjuk telunjuknya.
Jen menatap Mark. "Tuan, kau harus menepati janjimu, untuk mengantarnya ke pabrik es krim."
"Ya." Kalau saja aku tahu lebih awal cara ampuh menjinakkan anak gaib ini, pasti aku dan Sekretaris Jen akan memiliki banyak waktu berdua.
"Ayo, Uncle!" menarik tangan kiri Mark.
"Ternyata semudah ini menaklukannya. Kenapa baru terpikir olehku?" lirih Mark.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow ig @syutrikastivani
__ADS_1