
Jayden yang sedang meneguk anggurnya, seketika terbatuk. "Uhuk ... uhuk!"
"Sampai jumpa, Uncle!" ucap Edhan, melambaikan tangannya.
"Hey, bocah! Tunggu sebentar," menahan lengan Edhan."
"Ada apa, Uncle?"
"Apa yang kau katakan tadi?"
"Sepertinya otakmu sudah tidak cepat tangkas lagi, Uncle. Aku malas untuk mengulanginya."
"Baiklah, aku akui aku sudah mulai tua, tapi ... kalau tidak salah aku mendengar jika kau akan berdansa dengan Milley?"
Edhan mengangguk.
"Apa kau melihat Milley di sini?" tanya Jayden.
Edhan kembali mengangguk. "Itu dia," menunjuk seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna merah menyala dan sedang meneguk bir.
Jayden melebarkan matanya. "Goshhh! Itu benar Milley."
"Apa kau sudah tertarik lagi untuk melanjutkan misinya?" tanya Edhan.
"Ya!" mengangguk dengan cepat dan tersenyum lebar. "Kau tunggu di sini Edhan. Aku akan menghamprinya. Ohya, jangan sampai Milley mengetahui identitas kita berdua," tutur Jayden.
Jay langsung menghampiri wanita itu yang disangka mereka adalah Milley.
"Uncle, kau curang!" lirih Edhan yang menatap Jayden tampak berjalan menuju wanita bergaun merah itu.
"Ehm!" dehem Jayden.
Wanita itu tak menggubris.
"Ehm!" ulangi Jayden. "Permisi Nona," ucap Jayden.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu.
Jay terdiam.
"Tuan Jayden Smith?" celutuk wanita itu saat melihat paras Jayden.
"Kau mengenalku?" tanya Jay.
"Wow! Amazing!" (Wahh luar biasa!) ucap wanita itu.
Jay mengerutkan keningnya.
"Mr. Smith? Siapa yang tidak mengenali Anda? Hanya orang buta saja yang tidak tau siapa Anda. Haha! Bisnismu sangat terkenal. Kau juga merupakan sahabat karib Tuan Muda Winston."
"Ohya? Sebegitu terkenalkah saya?" tanya Jay terkekeh pelan.
"Sebuah kehormatan bisa berjumpa dengan Anda secara langsung. Perkenalkan nama saya Megan Kaylee. Berasal dari keluarga Kaylee," menyodorkan tangannya yang putih mulus tak bercacat cela.
"Megan?" tanya Jay kembali dengan kening yang mengernyit.
"Ya. Megan Kaylee. Anda pasti telah mendengar nama belakang saya," tersenyum kecut.
"Ya, kau benar," tutur Jayden membalas senyuman Megan. Namun pikiran Jay terasa janggal. "Megan ... ?" panggil Jay pelan.
Megan menatap Jayden dengan tatapan menggoda.
Wajahnya mirip Milley dan dia benar Milley, tapi kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh? Kenapa dia memperkenalkan namanya Megan? Batin Jayden.
"Ada apa Tuan Smith?"
__ADS_1
"Megan?" panggil seorang wanita paruh baya.
"Hay Mom. Lihat, Mr. Smith ada di sini," ucap Megan.
"Hallo Mr. Smith. Senang bertemu dengan Anda. Perkenalkan saya Berlin Kaylee. Ibu Megan," menyodorkan tangannya.
"Jayden," menerima salaman tangan dari Berlin.
Kedua wanita di depannya terlihat sangat akrab. Berbeda dengan yang Jayden lihat waktu ia masih menyamar menjadi tukang kebun di rumah Milley.
Apa mereka sudah baikan? Kalau tidak salah ingat, aku melihat jika ibu ini sangat membenci anaknya.
Jayden menjadi sangat penasaran. "Nona Megan?"
"Ada apa Mr. Smith?"
"Apa nama keduamu, Milley?"
Berlin dan Megan terdiam sesaat. Tampak wajah keduanya mulai masam saat mendengar nama Milley yang disebutkan Jayden.
"Ehm, sebenarnya saya mempunyai kembar bernama Milley. Tapi dia tidak bisa hadir karena sesuatu dan lain hal," ucap Megan.
"Oh begitu rupanya." Jay menganggukkan kepala. Pantas saja ada yang aneh dengan wanita ini. Wajahnya mirip sekali dengan Milley. Tapi sifatnya sangat berbeda. Begitu juga dengan wanita paruh baya ini. Dia sangat manis di depan Megan. Tapi sangat dingin di depan Milley. Apa yang sebenarnya terjadi?!
"Mr. Smith?" panggil Berlin.
Jay tak menggubris dan masih menghayal.
"Permisi, Tuan Jayden," ucap Berlin lagi.
"Oh, maaf. Ada apa Nyonya Kaylee?"
"Bolehkah saya bertanya?"
"Silahkan."
Jay mengerutkan keningnya. "Di sebuah tempat."
"Di sebuah tempat?" Ulang Berlin dengan raut pias.
"Mama? Bukankah Milley tidak pernah keluar rumah saat kita di Indonesia?" bisik Megan.
"Shttt!" kilah Berlin. Kurangajar kau, Milley! Berani sekali kau keluar rumah tanpa kuketahui! Awas saja kau kalau aku pulang nanti, aku akan menghukummu! Batin Berlin.
***
Malam semakin larut. Pesta pernikahan Mark dan Jen telah usai. Para undangan telah kembali ke tempat mereka masing-masing. Arsen dan keluarga pun telah kembali ke mansion. Mark dan Jen telah berada di kamar hotel.
"Sayang?" panggil Mark dengan suara berat yang begitu menggoda.
Jenifer menelan salivanya. Malam keramat telah tiba! Mati aku! Ucap Jen dalam hati.
Mark yang telah bertelanjang dada menghampiri Jenifer yang masih mengenakan gaun pernikahan. "Kau butuh bantuan untuk melepas gaunmu?"
Jen menggeleng dengan sangat cepat. "Ti--tidak, Tuan. Eh salah! Maksudku, Mark."
"Baiklah." Mark berjalan meninggalkan Jenifer. Ia mengambil remot AC yang terletak di atas sofa dan menekan tombolnya. "Sangat-sangat panas di sini."
Jenifer memandangi tubuh kekar Mark sembari menelan saliva. "Tampak ganas dan mematikan!" lirih Jen.
"Jeni, Apa kau tidak gerah?" tanya Mark.
"Tidak. Aku sangat kedinginan malahan. Suhunya terlalu dingin."
"Ohya? Tapi aku sangat panas seperti ingin terbakar."
__ADS_1
Belakang punggung Mark mulai memerah. Tak hanya itu, wajah tampan Mark pun mulai bermunculan rona merah yang aneh. Jen yang melibat itu langsung melangkah menghampiri Mark.
"Mark, apa kau tadi memakan makanan yang membuatmu alergi?" tanya Jen panik.
"Seingatku tidak," menggaruk punggungnya.
"Tapi kenapa wajahmu dan punggungmu memerah?"
"Aku tidak tau."
Jen melotot dengan tiba-tiba. Matanya berputar seperti sedang mencari sesuatu di dalam ruangan itu. "Tidak! Jangan sampai Tuan meminumnya!" gumam Jenifer.
"Ada apa Jen?"
"Mark jawab aku dengan jujur."
"Tentu."
"Apa Nenek memberimu sesuatu?"
"Ya! Nensi Part Dua memberiku beberapa botol aneh yang berisikan minuman."
Deg!
Jen berlari mengambil sebuah tas yang terletak di atas nakas. Ia memeriksa isi tas itu. "Huhhh! Untunglah masih lengkap," ucap Jen, menyapu dadanya.
"Ada apa dengan benda itu? Bukankah itu hadiah aneh dari Nenek?" tanya Mark.
"Ya. Jangan sekali-kali kau meminumnya," ancam Jenifer.
"Aku belum meminumnya. Memangnya apa itu?" tanya Mark penasaran."
"Tidak penting. Kau tidak perlu tau!"
Mark mengangguk dan kembali mengipas wajahnya dengan tangan. Mark seketika terdiam. Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya. Ia menatap Jen yang sedang duduk di atas ranjang sambil memegang gawai.
"Kenapa tiba-tiba aku sangat menginginkan itu!" gumam Mark dengan napas memburu. Ia kemudian mendekati Jenifer di samping tempat tidur.
"Tuan?" lirih Jen saat mendapati tatapan Mark yang sangat tajam layaknya binatang buas yang ingin menerkam mangsa.
Mark memeluk Jenifer dengan tiba-tiba. "Sekretaris Jen maafkan aku. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan diriku. Tapi ini sungguh sangat panas sampai-sampai membuatku merasa gila! Aku tidak dapat menahan hasratku!" ucap Mark terengah-engah sambil bernapas di leher Jenifer.
"Tuan?! Apa yang terjadi? Apa maksudmu? Kumohon kendalikan dirimu!" ucap Jen yang mulai panik luar biasa.
"Jeniku ... " bisik Mark di telinga Jen dengan napas yang mulai tak karuan. Tangannya mulai treveling mengelilingi tubuh Jenifer.
Wanita itu semakin takut. Ia tak dapat mengimbangi kekuatan Mark yang saat ini sedang menindih tubuhnya. "Mark! Sadarlah! Aku tidak bisa bernapas!" tukas Jen.
Dengan kekuatan yang penuh, Mark merobek gaun yang dikenakan Jenifer sehingga mulai nampak sesuatu yang menjanggal di bawah dada milik Jen. Rasa panas mulai terasa hebat saat Mark menyaksikan kedua benda lunak yang bergelantung di situ.
Jen menutup matanya dengan erat. Ia tidak dapat merontah karena Mark sangat bertenaga menghimpit dirinya.
"Sialan! Siluman ularku telah berdiri tegap!" gumam Mark. Ia pun melepaskan balutan kain bawahannya dan kemudian memegang benda keras yang menegang itu dan memainkannya perlahan.
Jenifer pun penasaran dengan Siluman Ular milik Mark. Ia mengintip dan menyaksikan benda panjang, berurat serta berotot yang menempel di bawah pusar Mark.
"Goshhhhh!" Jenifer terkejut bukan kepalang. Ia tiba-tiba tak sadarkan diri dengan seketika.
Mark menjadi khawatir. "Jeni!! Sekretaris Jen, sadarlah? Kenapa kau pingsan?" teriak Mark, panik. "Aku ingat!! Tadi Nensi Soffy memberiku minuman aneh dan langsung menyuruhku meminumnya!"
To be continued ...
.
.
__ADS_1
.
follow ig @syutrikastivani