
Sementara di tempat lain, di rumah kediaman keluarga Kaylee, tampak seorang pria yang tak lain adalah Jayden sedang memotong rumput yang berada di taman samping rumah itu. Setelah dua jam memotong rumput-rumput panjang itu, akhirnya Jayden menyerah. Jelas saja karena ia sangat lelah dan tak pernah melakukan pekerjaan yang demikian.
Jay menarik napasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan, matanya menjeling ke arah bocah cilik yang sedari tadi duduk di bangku taman yang sedang sibuk memainkan robotnya. "Sialan! Apa yang kau harapkan dari bocah gaib itu, hah?! Mana bisa dia bekerja! Hahah, ada-ada saja ide konyolmu!" tutur Jayden sambil mengusap dahinya yang dipenuhi keringat.
"Uncle!" teriak Edhan dari kejauhan.
"Why?"
"Aku bosan!"
"Sebentar lagi Ed. Bertahanlah sedikit lagi," bisik Jayden dengan suara yang setengah nyaring.
Edhan memutar bola matanya dengan malas. Ia pun kembali memainkan permainannya. Tak sengaja Edhan menengok ke arah jam dua belas. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah tersebut. Lekukan nakal di pipinya mulai melebar. Rupanya anak kecil itu melihat sesuatu di sana.
"Hay!" sapa Edhan tiba-tiba.
Seorang gadis yang sedang duduk di bangku sambil memeluk kelinci berwarna putih melonjak kaget. Bagaimana tidak ia terkejut saat melihat bocah cilik dengan pakaian compang-camping, berdiri tepat di hadapannya.
"Hey! Siapa kamu?" ucap gadis cantik itu.
"Aku Ed ..." Seketika ucapan Edhan terhenti. Hampir saja ia keceplosan dan menyebut nama aslinya. "Aku Elang."
"Aku Milley. Elang, bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?" tanya gadis itu.
"Aku bersama dengan Pamanku!" Edhan dengan cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Maksudku, aku di sini bersama dengan Kakakku."
"Apa yang kalian lakukan di rumahku?" tanya Milley lagi dengan raut yang penuh dengan rasa ingin tahu.
"Aku dan Kakakku bekerja di rumah ini. Baru saja kami dipekerjakan oleh Margareth."
"Margareth?" gumam Milley lirih. "Tidak biasanya ia menerima pekerja baru seperti ini," ucap Milley lagi.
Jelas saja wanita itu bingung. Karena Margareth, kepala pelayan di rumahnya tidak pernah mempekerjakan orang asing, tampa menyeleksi dengan hati-hati.
"Elang, bisakah aku bertemu dengan Kakakmu?" tanya Milley.
"Tentu saja," ucap Edhan dengan semringah.
Baru saja Edhan mau mengantarkan Milley ke tempat Jayden, tiba-tiba suara benturan keras terdengar.
Brukkkk!
"Apa itu?" tanya Milley.
Edhan membalikkan badannya dan mendapati seorang pria dewasa sedang tergeletak di tanah. "Misi gagal!" lirihnya sembari menepuk jidatnya.
"Astaga!" teriak Milley, kaget.
"Kak Milley, itu dia Kakakku. Namanya ... " Edhan menerawang ke langit sambil menyentuh kepalanya dengan telunjuk. "Siapa ya namanya?" gumamnya.
"Elang, sebaiknya kita harus membawanya ke rumah sakit. Dia terlihat sekarat!" seru Milley.
Kedua orang itu berlari mendapati Jayden yang sudah tergeletak di tanah.
"Hey, kau tak apa-apa?" tanya Milley menatap wajah Jayden dengan seksama.
__ADS_1
Deg!
Jantung Jayden langsung memompa dengan sangat cepat. Ia menelan salivanya dengan kasar dan mengedipkan matanya berulang kali.
"Uncle!!" teriak Edhan, panik.
Mendengar teriakan Edhan, Jayden langsung berdiri dan membungkam mulut Edhan dengan tangan kanannya. "A--aku tidak apa-apa, Nona," ketusnya.
Milley mendekatkan wajahnya sehingga jarak kedua wajah mereka tinggal beberapa senti saja. Jeyden menjadi terkejut bukan kepalang. Jantungnya seolah ingin keluar dari dalam sana akibat berdetak dengan sangat kencang.
"Kau berdarah!" celutuk Milley, khawatir.
"Hah? Di--di mana?" memegang seluruh wajahnya. Jayden pun tak kalah panik dengan Milley. Secara, pria itu sangat takut dengan darah.
"Itu, hidungmu berdarah!" ucap Milley yang langsung merobek bagian bawah gaun mininya yang berwarna putih. Ia pun langsung meletakkan potongan kain itu tepat di hidung Jayden.
Deg!
Deg!
Deg!
Sialan! Jarak ini semakin dekat saja! Ingin rasanya aku ******* bibir tipis itu! Tapi,,, aku akan dianggap tidak waras oleh Milley. Jika itu terjadi, misi perburuan ini akan gatot! Alias gagal total!
"Uncel! Kau tidak apa-apa? Ayo kita ke rumah sakit," tutur Edhan, panik.
Jayden tak lagi memperdulikan ucapan Edhan. Mata bahkan pikirannya hanya tertuju kepada gadis yang sedang mengusap hidungnya dengan lembut.
"Kak Milley, boleh aku meminjam ponselmu? Aku harus menghubungi Daddyku!"
"Ouh, tentu saja," ucap Milley sembari merabah sakunya. "Ehm, sepertinya aku meletakkan ponselku di dalam kamar. Sebentar aku ambilkan," tutur Milley sembari berdiri dan berjalan menuju ke dalam rumah.
"Ada apa Uncle? Apa kau sudah sehat?" tanya Edhan.
"Edhan! Apa kau sadar jika kau keceplosan?"
"Yes, Uncle. Aku sadar. Sebaiknya kita tidak usah menyamar seperti ini. Gadis itu terlihat baik. Sepertinya aku menyukainya!"
Deg!
"What the .... !! K--kau mau menikung Uncle?" teriak Jayden penuh ekspresi.
"Hmmm," mengangguk dengan cepat.
"Anak ngent.... !" menjeda ucapannya.
"Uncle, aku punya ide! Bagaimana kalau kita taruhan saja!"
"Apa maksudmu?" tanya Jayden, bingung.
"Kita taruhan untuk mendapatkan gadis itu!"
Jayden syok mendengar ucapan bocah itu. Ia melebarkan maniknya, mulutnya seolah tak dapat mengeluarkan kalimat akibat mendengar telak dari Edhan.
"Uncle? Oh Uncle? Ada apa? Hmm, apa kau sudah siap untuk kalah? Hahaha!"
__ADS_1
Shitttt! Kenapa aku jadi gugup! Padahalkan dia hanya anak kecil saja. Hahah! Batin Jayden. "Baiklah! Siapa takut."
Edhan menyodorkan tangannya sebagai tanda taruhan mereka telah deal.
"Kau mirip seperti ayahmu. Dasar pria bertaruh!" gumam Jay terkekeh.
"Ini yang di namakan sebagai pria sejati!" ucap Edhan menepuk dadanya. "Bukan seperti Uncle yang lemah saat melihat wanita, hahaha!" ledeknya.
"Le--lemah katamu?"
"Benar! Laki-laki sejati mana yang melihat wanita langsung pingsan? Hahaha!"
Jayden mengepalkan tangannya. "Tahan Jayden, tahan ... ingat dia anak Arsen Winston! Jelas saja sifat mereka sama," gumam Jay, menguatkan hatinya.
"Uncle, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku sudah keceplosan kepadanya."
"Kau benar, Ed. Ayo kita pergi saja, sebelum rahasia kita terbongkar."
Jayden dan Edhan bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Tak lama setelah kedua orang itu pergi, Milley dengan tergesah-gesah menghampiri taman dengan membawa telepon genggamnya.
"Di mana mereka?" lirihnya sembari menengok ke segala penjuru arah tempat itu. "Apa mereka sudah pergi?"
Saat hendak berjalan mencari Jayden dan Edhan, Milley terasa menginjak sesuatu. Ia berjongkok dan mendapati sebuah benda segi empat. "Milik siapa ini?" tanyanya lagi. Milley memutuskan untuk melihat isi dari benda itu yang ternyata adalah dompet. "Siapa tau aku bisa mengetahui pemilik dompet ini dengan melihat identitasnya."
"MILLEY!" teriak seseorang.
"Mama?" gumam Milley yang langsung menyembunyikan dompet itu.
Seorang wanita paruh baya mendatangi Milley dengan tatapan sinis. "Sedang apa kau di sini?" tanya wanita itu.
"Aku sedang mencari kelinciku."
"Alasan saja! Sekarang kau masuk ke dalam kamar! Tamu-tamu Mama akan datang, jadi jangan sampai kau terlihat oleh mereka!"
Milley menunduk dan berjalan meninggalkan Nyonya Kaylee.
"Wait!" celutuk Wanita itu. "Kenapa pakaianmu sobek?" tanyanya.
"Ta--tadi aku terjatuh saat mencari kelinciku," ucap Milley dengan gugup.
"Huuu alasan aja teros! Ya sudah masuk ke kamarmu. Jangan keluar sampai tamu-tamu Mama pulang!"
Milley mengangguk sambil berjalan menuju ke dalam rumah. Matanya tampak mengeluarkam cairan bening. Papa aku rindu Papa ... Batin Milley.
Dari kejauhan tampaknya ada orang yang sedang memperhatikan kejadian itu. Dialah Jayden. Tak sengaja ia mendengar percakapan Milley dan Ibunya. "Apa yang terjadi antara mereka? Kenapa Milley terlihat sangat sedih?" gumamnya.
Jay hendak mencari dompetnya yang terjatuh di taman, namun sesaat kemudian ia melupakan tujuan utamanya. Ia merasa sangat kasihan dengan gadis itu. Ia bahkan tak mempedulikan lagi jika Milley mengetahui identitasnya.
"Aku harus meminta bantuan Kaisar, untuk mencari tau latar belakang keluarga Kaylee!"
To be continued ...
.
.
__ADS_1
.
follow ig @syutrikastivani