
Tap ... tap ... tap
Langkah demi langkah dilewati Eggie. Rautnya kusut dan pikirannya bercampur aduk. Di lantai terakhir gedung itu hanya dia seorang diri yang berjalan menuju satu kamar khusus. Ya tentu saja itu adalah kamar Rion Collin.
Sesampainya Eggie di depan kamar Rion, ia menarik napasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Wanita cantik itu menetralkan kembali wajahnya dan berpura-pura memasang mimik ceria.
Eggie mulai menekan beberapa angka yang merupakan kata sandi pintu itu, setelahnya ia memasuki kamar itu. Matanya langsung berkeliling memandangi kamar yang teramat besar itu.
"Sayang, aku datang," ucap Eggie.
Mendengar tak ada sahutan, Eggie pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerja Rion.
"Tak ada siapa-siapa di sini. Di mana dia?" tanyanya memanyunkan bibir.
Eggie kemudian menuju ke dapur. Ia berinisiatif untuk membuatkan Rion makanan kesukaannya. Sambil menunggu kedatangan Rion, Eggie mulai menyiapkan beberapa alat dan bahan yang dibutuhkannya untuk memasak.
Selama hampir dua jam ia memasak, akhirnya selesai. Beberapa macam makanan ala barat telah berjejer rapi di atas meja. Lekukkan senyum terpancar di pipi wanita itu. Eggie kemudian menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Eggie meraih ponselnya di dalam tas dan segera menelpon Rion. Tak ada jawaban dari sana. Hanya suara wanita yang terdengar sedang menyampaikan jika nomor yang dihubunginya sedang tidak aktif.
Seperti biasanya, jika Rion belum pulang kerja, biasanya Eggie menunggu kedatangan Rion sembari membersihkan kamar Rion. Eggie juga tak sering mampir di tempat Rion. Dalam satu bulan hanya dua kali saja Eggie berkunjung, dan jika Eggie sibuk, ia tidak akan mampir sama sekali.
Tak terasa sudah pukul dua dini hari dan sosok Rion tak kunjung datang. Eggie memutuskan untuk tidur di sofa sembari menunggu kepulangan Rion. Tak lama kemudian terdengar seseorang yang sedang mengisi sandi untuk masuk ke dalam ruangan.
Seorang pria yang mengenakan setelan hitam memasuki ruangan. Dialah Rion, sosok yang ditunggu-tunggu Eggie. Ketika Rion melihat wanita simpanannya itu, ia langsung meraih ponselnya dari dalam saku celana dan menghubungi seseorang.
(Percakapan di telepon)
"Kau tak usah kemari. Aku memiliki pekerjaan yang sangat penting."
"Tidak apa Sayang, aku alan menunggumu sampai selesai. Lagi pula aku sudah berada dekat di hotelmu."
"Sudah kubilang jangan kemari! Apa kau tuli?!" teriak Rion, naik pitam.
"Lalu, apa aku harus pulang ke rumah?"
"Ya! Itu lebih baik!"
Rion memutuskan sambungan telepon. Ia memutar bola matanya malas. Wanita yang baru saja dihubunginya adalah tunangannya. Rion memanglah tak memiliki perasaan apa-apa pada Kinan. Bisnislah yang membawa Rion untuk bertunangan dengan wanita itu.
"Dasar j*lang!" gumam Rion melempar ponselnya.
Rion kembali memandangi Eggie. Ia mengecup dahi Eggie dan berkata, "Aku pulang Sayang."
__ADS_1
"Aku menunggumu begitu lama," tutur Eggie tiba-tiba dengan mata yang masih terpejam.
"Kau tak tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang, jika kau belum kembali!" jelas Eggie dengan sinis.
"Baiklah, sekarang aku telah kembali. Apa kau tidak merindukanku?" tanya Rion sembari tersenyum kecil.
Eggie beranjak dari tidurnya dan memeluk Rion dengan erat. "Tentu saja aku sangat merindukanmu, Sayang," mencium leher Rion.
Dengan kasar, Rion mendorong tubuh Eggie dan mulai menyapu bibir tipis Eggie dengan penuh gairah. Beberapa saat kemudian wanita itu mendorong tubuh Rion yang sudah menindihnya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Eggie.
"Nanti saja," melanjutkan penjelajahannya di sekitar tubuh Eggie.
"Aku sudah memasakkan makanan untukmu. Makanlah dulu," tutur Eggie melepaskan tangan Rion dari atas tempurung kembarnya yang masih terbalut kain.
"Baiklah! Karena aku sangat lapar jadi kau lolos kali ini," mencium bibir Eggie.
***
Siang itu tampak mendung, awan gelap bertebaran di atas sana, memberi tanda bahwa akan datang hujan. Seorang gadis delapan belas tahun sedang duduk di sebuah kedai dekat kampus sembari menunggu seseorang. Sudah hampir setengah jam Zoey duduk di sana dan menikmati jus melon kesukaannya.
"Halo. Nenek di mana?"
"Bocil, sepertinya Nenek tidak bisa menjemputmu."
"Hmm, baiklah Nek."
"Tapi kau tenang saja, Cil. Nenek sudah menyuruh sopir untuk menjemputmu."
"Aku ada di kedai dekat kampus, Nek."
"Ukeyyyy zeyenkkk."
Tut ... tut ... tut
Zoey harus menunggu lima belas menit lagi sampai sopir yang dikirim Soffy tiba. Ia memanggil seorang pelayan dan meminta untuk membuatkan jus melon untuk ketiga kalinya.
"Kalau sudah ke empat kali, fix diabetes!" gumamnya meledek dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun menghampiri Zoey.
__ADS_1
"Selamat siang, Nona," sapa lelaki itu.
"Siang Pak. Apa Anda sopir yang dikirim Nenek?"
"Benar, Nona. Mari ikut saya."
Zoey mengernyitkan dahi. Ia menatap jam tangannya. "Cepat sekali tibanya," gumam Zoey. "Sebentar Pak. Aku ke kasir dulu."
"Baik, Nona."
Perasaan aneh menghampiri benak Zoey. Bagaimana tidak, baru sekitar lima menit ia selesai berbicara dengan Soffy di telepon, dan sopir suruhan Soffy sudah tiba dengan begitu cepatnya.
Sehabis dari kasir, gadis itu pun mengikuti pria berbaju hitam yang berjalan di depannya. Zoey menghilangkan pikiran anehnya karena ia pun sudah tak sabar untuk pulang ke mansion.
Sebuah mobil sport berwarna biru berhenti tepat di belakang mobil hitam milik sopir Zoey. Itu adalah mobil Kai. Pria itu tak sendirian seorang perempuan cantik dan sexy baru saja turun dari mobil itu.
"Ehh, bukannya itu Zoey?" gumamnya. Kaisar melihat Zoey hendak memasuki mobil hitam itu. "Zoey!" panggil Kaisar, namun tak di dengar oleh Zoey.
"Kai, siapa yang kau panggil?"
"Adiknya Arsen," jawabnya.
"Ohh, yuk masuk ke dalam," ajak Samantha.
Tak sengaja mata Kaisar menatap sebuah logo kecil di kaca belakang mobil hitam itu. "Tunggu dulu!" ucapnya kaget.
Logo itu berbentuk ular kobra dan di atas kobra ada tiga bintang berwarna hitam, sedangkan di bawah kobra ada inisial huruf C dan L.
"Logo itu?! Kenapa Zoey naik di mobil itu? Ada yang tak beres!" gerutunya sembari menatap kendaraan itu yang mulai melaju. "Sam, sepertinya aku belum bisa menemanimu. Ada sesuatu yang harus aku pastikan!"
"Ehh, kau mau ke mana Kai? Kita baru saja tiba loh," ketus Samantha.
"Akan aku jelaskan nanti!" menginjak pedal gasnya dan melaju mengikuti mobil hitam itu.
"Kai! ... Kaisar! Tunggu aku Kai!" teriak Samantha yang suaranya mulai terdengar samar-samar.
Kaisar tak memperdulikan teriakan Samantha. Ia semakin melajukan mobilnya dan mengejar mobil hitam itu yang ternyata milik dari perusahaan Collins Group.
"Aku harus menghubungi Arsen!" meraih ponselnya. Namun seketika ia berubah pikiran. "Ahh sebaiknya jangan sekarang! Bagaimana kalau Arsen bertingkah gila dan mendatangi Rion? Nyawa Zoey dalam bahaya!"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
__ADS_1