Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Meracau


__ADS_3

Sudah lima belas menit yang lalu Jen dan Mark tiba di sebuah restoran. Jen menatap tajam ke arah Mark yang sibuk memainkan tabletnya. Sedari tadi kedua orang itu tidak mengeluarkan suara. Wajah Jen menjadi kesal karena merasa bosan.


Cihhh! Dasar pria es! Sampai kapan aku terus berdiam seperti ini, menatap wajah datarnya itu! Sungguh membosankan! Umpat Jen dalam hati.


"Kau mengagumiku?!" ketus Mark dengan mata yang masih tertuju di layar tablet.


Jen menggeleng kepalanya dengan cepat. "Ti--tidak! Kenapa Tuan sampai berpikir seperti itu?" tanya Jen gugup.


Mark melepas tabletnya dan menatap manik Jen. "Bukankah kau menatapku dari tadi?"


Gadis itu menelan salivanya dan mencengkeram jemarinya erat. Ia tiba-tiba menjadi salah tingkah saat mendengar ucapan Mark. "Aku ... aku hanya bosan! Habisnya dari tadi Tuan hanya memandangi layar tablet Tuan."


"Aku bekerja," tuturnya.


Bahkan saat istirahat pun Tuan Dasi Merah ini terus bekerja. "Ehmm! Makanan sudah datang," ucap Jen mengalihkan pembicaraan.


Seorang pelayan pria menaruh beberapa makanan dan minuman yang dipesan Jen dan Mark. "Selamat menikmati, Tuan dan Nyonya."


"Trima kasih," ucap Jen.


Kedua orang itu mengisi perut mereka. Meski wajah Jen tampak kesal, namun ia tetap menikmati makanannya sambil maniknya tak berhenti mencuri pandang ke arah Mark.


Benar-benar elegan! Makannya pun terlihat sangat tampan dan berkarisma! Oh Tuan Dasi Merah! Seandainya kau tidak dingin dan cuek, pasti aku akan menyukaimu.


"Kau tidak akan kenyang dengan memandangiku terus."


"Siapa yang memandangimu, Tuan? Geer!"


Drt ... drt ... drt


Gawai Mark bergetar, ia menambil ponselnya dan melihat seseorang yang menghubunginya. Ia kemudian memandangi Jen yang sedang melahap makanannya.


"Sepertinya aku harus pergi," beranjak dari duduknya.


"Kenapa tiba-tiba Tuan? Makananmu belum habis."


"Aku sudah kenyang. Makanlah terus, aku harus kembali bekerja."


Mark mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan meletakkannya di meja. Jen hanya membisu sembari memandangi belakang punggung Mark. Pria itu tampak berbicara dengan seseorang di telepon.


"Apa yang kau harapkan, Jen?! Kencan? Hahaha! Omong kosong!" gerutu Jen sembari mengunyah pastanya.


***


Di gedung WS Group Arsen sedang menunggu kedatangan Mark. Seperti biasanya wajah Arsen berubah menjadi mengerikan saat menunggu. Ia paling sangat tidak suka jika orang lain membuatnya menunggu, karena baginya itu sangat membosankan.


Tok ... tok ... tok


Mark membuka pintu dengan hati-hati.


Plakkk!


Dengan sigap Mark menangkap telepon genggam milik Arsen yang di lemparkan Pria Arogan itu. Mark sudah terbiasa akan hal itu. Makanya tidak heran ia langsung mengetahui jika Arsen akan melemparkan sesuatu padanya.


"Dari mana saja kau?" tanya Arsen.


"Maaf Tuan. Tadi aku makan siang bersama ... " Mark menghentikan ucapannya.


"Hey Jodi! Apa kau telah memiliki pacar diam-diam?!"


"Tidak Tuan."

__ADS_1


"Lalu?"


"Tadi aku makan bersama Manajer Umum."


"Maksudmu, Garfield?"


Mark memilih diam. Karena ia tahu kalau Arsen pasti akan meledeknya habis-habisan.


"Akhirnya hati bekumu itu sudah mencair. Hahah! Baiklah aku tidak akan memarahimu karena kau baru saja berkencan dengan Garfield. Ohya bagaimana kencanmu? Apa berhasil?"


"Aku hanya makan siang biasa Tuan. Tidak berkencan."


"Jangan berbohong padaku Mark! Bukankah waktu itu si Garfield sudah beberapa kali ke apartemenmu? Hahah! Jika dua orang lawan jenis seatap, hmm ... kira-kira apa yang akan mereka lakukan?" tersenyum licik menatap Mark.


Tuan, aku tidak sepertimu!


"Jangan bicara dalam hati!" celutuk Arsen geram.


"Tidak Tuan." Mark meletakkan dokumen yang ia pegang di atas meja Arsen.


Jodi sinting! Aku pastikan sebentar lagi kau akan terperangkap dalam jebakan batmanku. Hahaha. Batin Arsen. "Ohya, bacakan jadwal hari ini."


"Tuan sudah tidak memiliki jadwal hari ini."


"Bagaimana dengan besok?"


"Besok adalah hari pembukaan Vila baru di Kota X milik Diamond Group. Tuan dan Nyonya diundang untuk menghadiri acara itu."


"Aku tidak akan hadir. Kau tau kondisi Memey saat ini. Kau saja yang pergi bersama Garfield."


"Kenapa bersama Manajer Umum, Tuan?"


"Baik Tuan."


"Sekalian juga kau ajari dia bagaimana menjadi Sekretaris yang telaten seperti Eggie."


Mark mengangguk paham. Tuan! Kau pasti sedang mengerjaiku!


Kau pikir kau akan lolos, Jodi Sinting?! Hahahah!


"Kalau sudah tidak ada jadwal hari ini, aku akan pulang. Aku sangat merindukan Memey dan keempat bayiku."


***


Keesokan harinya, Jen tidak ke kantor karena mendapat tugas dari Amey untuk menghadiri acara pembukaan Vila baru. Sejak pagi gadis itu merasa gelisah. Tentu saja karena ia akan bertemu dengan Pria Dasi Merah.


Jen memandangi bayang dirinya di cermin dengan gaun biru tua yang membalut tubuhnya. Ia tampak cantik dan elegan menggunakan gaun itu. Meski wajahnya telah dirias sedemikian rupa, namun tak dapat menutupi kegelisahannya yang terpancar dari mimik wajahnya.


Tin ... tin ...


Bunyi klakson telah terdengar. Jen dengan cepat memakai heelsnya. Ia menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. "Semoga keberuntungan memihakku," gumamnya, memegang dada.


"Yuhuuuuu! Utututu Jeniku cantik sekali!" tutur Doris yang sedari tadi berdiri di tangga.


"Nenek, sejak kapan kau berdiri di sini?"


"Sejak Bule Semangka itu membunyikan klaksonnya. Hahaha!"


"Bu--bule Semangka? Siapa maksud Nenek?"


"Ituloh yang merebut semangka Nenek."

__ADS_1


"Astaga! Maksud Nenek, Tuan Mark?"


"Hah dia maksudku."


"Kenapa Nenek bisa tau kalau aku akan pergi dengan Tuan Mark?"


"Nenek cuma menebaknya. Dan ternyata benar, hahah!"


"Ahhh Nenek. Ya sudah Aku pamit dulu Nek," mengecup pipi Doris.


"Apa kau akan pulang malam ini?"


"Tentu saja Nek! Apa yang Nenek pikirkan?"


Doris tersenyum semringah. "Kalau tak pulang juga tak apa-apa."


"Husssss, Nenek! Aku akan pulang secepatnya. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh," Jen berjalan meninggalkan Doris.


"Dadahhh Jeniku. Aku doakan supaya Bule Semangka cepat menikahimu!"


Jen tak menggubris dan menggeleng kepalanya. "Mana mungkin Tuan Dasi Merah menyukaiku. Aku sangat jauh berbeda dengan Sekretaris Eggie!" gerutunya.


Sementara di dalam mobil, Mark menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore. "Kenapa gadis itu lama sekali!"


Jen membuka pintu mobil Mark. "Maaf telah membuatmu menunggu," ucap Jen.


Mark hanya berdiam. Ia tidak memandangi Jen, dan langsung melajukan kendaraan.


Dalam perjalanan, tak ada yang bersuara. Jen sepertinya telah memahami pria yang sedang mengemudi itu. Perjalanan berlangsung selama satu jam setengah, dan itu membuat Jen mengantuk dan memejamkan matanya.


Mark menatap Jen dengan senyum tipis. Entah apa yang membuat pria cuek itu tersenyum saat memandangi wajah Jen yang sedang tertidur. Aku paling tidak suka wanita jorok. Apalagi kalau saat tidur ilernya meleleh. Tapi kenapa aku tertawa saat melihat gadis jorok ini mengeluarkan iler saat tidur! Apa aku sudah kelainan?!


Lama-kelamaan dengkuran Jen semakin terdengar keras. Merasa risih dengan suara yang menganggu itu, Mark memutar musik dengan keras sehingga menutupi suara dengkuran Jen.


"Oyyyyy! Berisik!" racau Jen.


Mark terkejut saat mendengar suara Jen. "Apa dia sudah sadar?" kembali mengecilkan suara musik. Mark menatap Jen yang masih tertidur pulas dengan mulut yang menganga. "Dasar gadis aneh!"


"Aku mendengarmu, pria br*ngsek!" celutuk Jen.


"B--br*ngsek, katamu?"


Jen tak menggubris.


"Dia tidur sambil bicara? Apa dia tidak sadar dengan ucapannya itu?" gumam Mark. Ia menghentikan mobilnya dan memandangi Jen yang tampak sedang meracau.


"Nenek, aku tidak menyukai pria yang Nenek sebut Bule Semangka! Dia sangat dingin dan menjengkelkan! Lagi pula aku mana bisa bersaing dengan Sekretaris Eggie! Ohya Nek, dia juga sering menghinaku. Apa Nenek tidak sakit hati kalau cucu Nenek dikatai jorok! Pokoknya jangan memaksaku menyukai pria br*ngsek itu! Aku juga akan menentang perasaanku, jika aku mulai menyukainya!"


Deg!


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow akun ig Author @syutrikastivani

__ADS_1


__ADS_2