Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pernikahan Mark dan Jenifer


__ADS_3

Teng ...


Teng ...


Teng ...


Lonceng gereja telah berdentang. Alunan musik yang tenang mulai terdengar. Pendeta telah memasuki altar bersama dengan pengantin pria. Ketika pintu gereja mulai terbuka, para hadirin yang berada di dalam gedung itu serentak berdiri.


Seorang perempuan yang mengenakan gaun berwarna putih nan mewah, perlahan mulai tampak dibalik pintu besar itu. Ya! Dialah Jenifer, pengantin wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri sah dari Mark.


Senyuman indah, dilemparkan Mark dari depan altar ke arah Jenifer yang sedang berjalan secara perlahan mengikuti lantunan musik. Dengan gaun berwarna putih yang dirancangkan khusus oleh desainer ternama terlihat sangat anggun dikenakan wanita itu.


Riasan wajahnya yang sederhana lebih menambah keanggunan Jenifer. Ia tidak terlihat seperti wanita yang ceroboh seperti sebelum-sebelumnya. Cara berjalannya pun sangat berwibah dan elegan bak ratu di istana. Semua mata yang melihat wanita itu tampak takjub dan terpukau karena kecantikannya.


"Yaaa! Dia cucuku! Dia Jeniiii! Hahaha! Kau sangat cantik cucu luckkkknuttku!" teriak Doris.


Seketika semua pandangan mata langsung beralih ke arah Doris. Jen yang melihat itu langsung menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Tenang Jen, tenang! Kau tidak boleh gugup! Nenekkk sih, pake acara teriak-teriak segala! Ini 'kan di dalam gereja! batin Jen.


Menyadari akan teriakannya, Doris pun langsung membungkam mulutnya. Bola matanya mengelilingi ruangan itu dan menyaksikan semua pandangan mata menatap ke arahnya. Doris pun langsung menunduk sebagai tanda meminta maaf. Namun seringai senyum di pipinya terus bertebaran.


"Sekretaris Jen, kau sangat cantik!" bisik Mark, saat Jen telah sampai di sampingnya.


Sementara acara di dalam gedung sedang berlangsung, di luar gereja tampa riuh. "Bocil! Coba lihat aku sekarang? Apa sudah keren?" tanya Soffy yang baru saja turun dari mobil.


"Ya! Nenek sangat keren dan cantik," ucap Zoey.


"Ya amsyonngg! Kenapa Amey dan Arsen sangat lama? Sebentar lagi cucu si kutu doggy akan bertukar cincin!" celoteh Soffy sembari mengebas kipas cantiknya.


Beberapa menit kemudian, mobil hitam milik keluarga Winston tiba di depan gereja. Untunglah cincin pernikahan Mark dan Jenifer telah diantarkan oleh seorang pengawal Arsen. Rupanya Arsen sengaja mendahulukan cincin itu karena ia tahu jika dirinya dan Amey akan bercocok tanam. Tentu saja bukan hanya satu ronde. Bukan Arsen namanya jika permainan kuda-kudaannya hanya berdurasi pendek.


Saat tiba di depan gereja, seorang penjaga membukakan mereka pintu. Arsen dan Amey pun turun bersama dengan keempat anak kembar mereka. Arsen memberikan kunci mobil kepada seorang penjaga parkiran untuk memarkirkan mobilnya.


"Kalian lama sekali?!" ucap Soffy tampak kesal.


Amey dan Arsen terdiam seketika dan saling menatap sambil tersenyum. Mereka mengingat ritual suami istri yang mereka lakukan sehingga membuat mereka terlambat.


"Adanya Nenek yang mengemudi terlalu kencang. Sudah berapa kali aku ingatkan kalau Nenek tidak usah mengemudi karena sudah tua. Tapi masih saja bandel!" tutur Amey, beralasan.


"Enggak kok! Nenek mengemudi dengan sangat pelan!"


"Pelan apanya Nek. Aku berasa sedang naik wahana!" kilah Zoey.


"Hmm, mau bagaimana lagi? Aku sudah dilahirkan menjadi Velentina Rosa!"


"Valentino Rosi kali Nek," cerca Amey.


"Hentikan percakapan kalian! Acara hampir selesai!" tukas Arsen.

__ADS_1


Soffy langsung mengambil cermin yang ada di dalam tasnya beserta dengan lipstik berwarna merah. Ia pun mengoleskan lispstik itu di bibirnya sehingga lebih berwarna. Sedangkan Zoey dan Amey yang melihat itu hanya menggelengkan kepala.


"Mommy, ayo!" ucap Edgar sembari menarik tangan Amey.


"Iya sayang."


Arsen memegang tangan Edward dan Edhan, sedangkan Amey memegang tangan Edgar dan Edzel. Ketika keluarga Winston memasuki pintu gereja, lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian publik. Mereka mengambil tempat duduk di depan sehingga bisa melihat prosesi tukar cincin dan pengucapan janji suci pengantin itu.


Mark yang melihat kedatangan Arsen tampak tenang dan legah. Bagaimana tidak, sedari tadi ia menunggu kedatangan tuannya, namun tak kunjung tiba. Meski sedikit terlambat setidaknya Arsen sempat melihat acara spesial itu. Arsen pun menyunggingkan bibirnya.


"Kena kau, asisten sialan!" gumam Arsen dengan seringai licik di bibirnya.


Arsen sangat puas menyaksikan prosesi itu. Ya! Jelas saja karena semuanya adalah rencana Arsen dari awal untuk menyatukan Mark dan Jenifer. Walaupun awalnya tampak tidak sesuai ekspektasi karena Mark terlalu dingin dan keras, namun akhirnya hati es itu dapat dicairkan oleh wanita ceroboh yang sangat dibenci Mark.


Acara demi acara telah dilaksanakan. Hingga tiba di peghujung acara, di mana pengantin pria harus memberikan kecupan cinta untuk wanita yang baru saja menjadi istrinya. Ketika Pendeta mulai mengarahkan kedua mempelai itu, Mark tampak canggung dan salah tingkah. Bagaimana tidak, pandangan mata Arsen yang angkuh tidak terlepas menatap Mark. Tatapan itu memberi arti, seolah Mark telah kalah dari Arsen.


Ya aku akui Tuan! Kau sangat jenius! Sial! Betapa malunya diriku saat mengakui jika aku lagi-lagi kalah telak. Batin Mark.


"Mark?" bisik Jen. Ia merasa risih karena para undangan terlihat sudah tidak sabar menyaksikan acara spesial itu. "Ayo lakukan! Sampai kapan kau akan bertatap-tatapan dengan Tuan Muda? Kalau seperti ini terus, lebih baik kau menikah saja dengannya!" ketus Jen tampak kesal.


"Maaf Jen. Aku ... aku hanya ..."


"Saudara Mark, berikan kecupan cinta untuk istrimu," ucap Pendeta.


Keringat dingin mulai menggerogoti belakang punggung Mark. Tatapan-tatapan para undangan di gedung itu seolah mengintimidasi Mark. Ia tak pernah membayangkan jika dirinya harus melakukan sesuatu hal yang sangat bebalik arah dengan dirinya. Tapi mau tidak mau ia harus melakukan itu karena merupakan sebuah tuntutan.


Setelah beberapa saat berciuman, Mark menatap lekat mata Jen dan berbisik di telinganya. "Aku mencintaimu, istriku."


Deg!


Mendengar itu, hati Jen bagai dipenuhi bunga-bunga. Tiga kata itu mampu melumpuhkan tubuh Jenifer sesaat. Ia terpaku menatap Mark tanpa berpaling. Matanya mulai mengeluarkan cairan bening, karena sangat terharu dengan ucapan Mark.


"A--aku juga mencintaimu, suamiku!" ucap Jen dengan air mata yang mulai menyucur di pipinya.


Semua orang yang menyaksikan itu sangat terharu. Doris dan Soffy pun terlihat sedang mengusap cairan bening di mata mereka. Kedua nenek itu saling menatap dengan raut yang teramat senang.


"Kutu Doggy, akhirnya kau juga mendapat menantu bule," ucap Soffy.


"Ya! Aku juga masih belum percaya!" membasuh air matanya dengan tisu. "Ehh, Cicak Betina, ada apa dengan matamu?"


"Kenapa? Tanya Soffy, bingung.


"Air matamu berubah menjadi hitam!" tukas Doris.


"Mana cermin! di mana aku menaruhnya?!" membongkar isi tasnya.


"Jangan bilang kalau kau memakai krayon lagi?!"

__ADS_1


Soffy mengangguk seraya mengacak-acak tasnya.


"Yaelah! Jaman sekarang, dan kau masih saja memakai riasan dulu?! Dasar kuno!"


"Diam kau, Kutu Doggy! Apa kau tidak melihat kalau aku sedang sibuk?!" telak Soffy.


Doris pun diam dan meninggalkan Soffy. Ia menghampiri Jen dan Mark yang sedang melakukan sesi pemotretan bersama dengan Pendeta.


"Selamat untuk kalian berdua," ucap Doris memeluk Jen. Setelah itu ia memeluk Mark, namun pria itu seketika menjadi kaku. "Santailah! Kau 'kan sekarang telah resmi menjadi menantuku."


Mark berdehem kaku dan membiarkan Doris memeluknya.


"Ehh, bule semangka, alias menantuku! Aku punya hadiah spesial untukmu," bisik Doris.


"Apa itu?" tanya Mark, penasaran.


"Sudah aku taruh di mobilmu."


"Nenek!" kilah Jen.


"Ohya, aku sudah menjelaskan aturan pakai pada Jeni. Dan kau Jenifer, jelaskan bagaimana cara menggunakannya!"


Jenifer menepuk jidatnya.


"Selamat, Mark! Sekarang kau bukan lagi Jodi!" ucap Arsen yang tiba-tiba muncul dari belakang Doris.


"Trima kasih, Tuan."


"Dan selamat untukmu Garfield, si kucing liar. Kini kau benar-benar telah resmi menjadi milik Mark. Kau kini telah menemukan tuanmu. Ohya, kau bisa mencakar bahkan menggigitnya jika tuanmu itu berani menyakitimu!! Tapi aku ragu jika si bucin Mark akan melukaimu!"


"Trima kasih, Tuan," ucap Jen menundukkan kepala.


Arsen mendekat ke telinga Mark dan berbisik. "Sepertinya para Nensi telah menyiapkan ramuan cinta untukmu. Aku dengar-dengar dosisnya sangat tinggi. Jadi bersiaplah, Mark!"


Mark semakin bingung. Otaknya berputar dengan keras, seolah memecahkan teka-teki dibalik ucapan Arsen dan Doris. "Tuan, aku tidak paham dengan ucapan Tuan."


"Selamat menikmati malam pertamamu yang penuh dengan kejutan!" gumam Arsen dengan seringai licik di wajahnya.


To be continued ...


.


.


.


Follow ig @syutrikastivani

__ADS_1


__ADS_2