
Desiran angin di siang hari melenggangkan anak daun yang bersemayam di atas pohon dan diikuti dengan suara riuh burung kecil yang bersarang di atasnya. Akan tetapi suara burung yang bersiul itu tertutupi dengan suara halus nan tajam yang tak pernah absen meramaikan tempat itu.
Hampir setiap menit mobil ambulan terparkir di depan ruangan itu dan kemudian melaju lagi dengan bunyi sirene sebagai tanda jika ada pasien yang membutuhkan pertolongan. Tempat itu tak pernah sepi pengunjung. Ada yang masuk ada juga yang keluar, dan begitu seterusnya.
Dua tenaga medis keluar dari depan pintu sembari merenggangkan otot-otot mereka. Wajah mereka terlihat lesu seperti tak memiliki kehidupan. Tentu saja karena mereka baru selesai bekerja dan berganti shift.
"Aku sebenarnya merasa berat untuk berganti shift," ucap seorang perawat wanita.
"Tumben! Biasanya kau yang paling senang jika saat ini tiba."
"Apa kau tak tau? Di bangsal vvip ada ... "
"Sudah jangan dilanjutkan! Jangan mimpi kalau kau bisa memiliki salah satu dari mereka. Lagian Mr. Winston sudah menikah. Tak ada harapan lagi bagimu!" telak seorang perawat pria.
"Yeee! Masih ada tiga pria tampan lagi. Apalagi si asisten Tuan Winston. Uhhhh guanteng banget!"
"Shhhhhht! Jangan keras-keras. Kau tau tempat ini dipenuhi pria-pria aneh tanpa ekspresi, masih saja berbicara halu!" melirik pria-pria kekar yang berjaga di depan rumah sakit.
Wanita itu pun langsung membungkam mulutnya. "Astaga! Aku lupa. Ya sudah aku berbisik saja."
"Sudah ... sudah lebih baik kita menikmati liburan sementara kita."
"Menurutmu, apa yang akan terjadi jika aku menjadi simpanan Tuan Winston?" lagi kata perawat wanita itu.
"Huekkkk ... huekkk!"
"Ehhh kenapa?! Apa kau sakit?"
"Milla, jangan gila kau! Dengan wajah pas-pasanmu seperti ini tidak akan mungkin kau menjadi wanita simpanan Tuan Arsen. Dilirik saja pasti sudah membuat Tuan Arsen mual! Lagian ya, rumor mengenai Tuan Arsen bucin sama Nyonya Amey, memang benar adanya."
Milla terdiam ia mengambil cermin di dalam tasnya dan berkaca. "Aku cantik kok!" tukasnya.
"Sudahlah. Tak ada yang bisa menggantikan Nyonya Amey di hati Tuan Arsen. Mereka pasangan serasi yang sangat harmonis. Jangan merusaknya! Kau mau kena bully satu Nusantara?!"
"Ishhhhh! Serem banget ucapanmu!"
"Ehemmm!" seseorang berdehem.
Kedua perawat itu heran melihat wanita tua bersama beberapa orang yang mengikutinya. Wanita tua itu menurunkan kacamata hitamnya dan menatap kedua orang itu dengan tajam.
Milla melonjak "Omagahhh!" Apa matanya baru saja kena tonjok! batin Milla saat melihat riasan wajah Soffy.
"Siapa namamu?" tanya Soffy.
"Aku Milla, Nek."
Mata Soffy beralih menatap seorang pria tinggi di depannya. Ia kemudian menunjuk pria itu menggunakan kacamata hitamnya.
"Saya Lerry. Anda siapa?"
"Aku?" menunjuk dirinya. "Kau tak mengenaliku?"
Kedua orang itu saling bertatapan dan menggeleng kepala.
"Baiklah sepertinya aku harus memperkenalkan diriku. Namaku Angelina Jolie!"
"Ya Tuhan! Apa yang terjadi dengan wajah Angelina Jolie?! Kenapa wajahnya seperti badut?!"
Pletakkkk!
"Awww!" pekik Milla. "Minta di ha-- "
"Maafkan teman saya, Nyonya. Teman saya memang kurang pengetahuan tentang tata krama. Sekali lagi maafkan teman saya," mendorong tengkuk Milla sehingga gadis itu tampak menunduk.
Lerry sengaja memukul tengkuk Milla karena ia telah sadar siapa orang tua yang sedang berdiri di depannya.
"Ada apa denganmu Lerry?! Kau baru saja memukulku! Aku bisa saja melaporkanmu karena melakukan kekerasan fisik padaku!" celutuk Milla, masih belum menyadari.
"Lebih baik aku masuk penjara karena melakukan tindak kekerasan padamu dari pada aku harus berurusan dengan keluarga Winston karena kau!!" bisik Lerry.
"Apa maksudmu?!' tanya Milla bingung.
"Ehem! Cukup diskusi kalian. Aku akan memaafkan kalian. Lain kali jangan sembarangan bergosip. Dan juga jaga mulutmu Anak Muda. Wajah langkah seperti ini kau bilang badut! Untung saja mood-ku hari ini lumayan bagus, jadi aku tak langsung menghajarmu!"
Kedua orang itu tertegun dan tak bisa berkata-kata. Soffy pun berjalan beberapa langkah ke depan. Setelah itu ia membalikkan badannya dan berkata : "Jangan harap kau bisa menjadi simpanan suami cucuku! Sorry! Ngana masih kalah jao deng Amey! (Maaf, kau masih kalah jauh dengan Amey!)
Deg!
__ADS_1
Milla menelan liurnya kasar. "Aku tau artinya!" gumamnya. "Ja--jadi Angelina Jolie gadungan itu adalah Nenek dari Nyonya Amey?"
"Hmmm!" mengangguk datar.
"Hampir saja karierku usai!"
"Makanya lain kali jangan asal ceplos! Untung saja mood-nya bagus."
Milla melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Lerry.
***
Soffy memasuki rumah sakit. Ia dicap sebagai Nyonya Tua Arogan karena sikapnya yang pura-pura elegan padahal somplak. Ia sengaja bersikap seperti itu karena ia dikawal oleh dua orang pria berotot dan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Elis. Tentunya untuk menambah kewibawaan keluarga Winston, ia harus melakukan tata krama layaknya ibu negara.
"Nenek, kau mau ke mana. Ruangannya ada di sebelah sana," tutur Elis saat melihat Soffy yang berjalan ke arah selatan.
"Ehh, bukannya di sana ya?" tanya Soffy sembari matanya berkeliling ke sana kemari mencari sosok seorang pria tampan yang berjalan ke arah selatan.
"Bukan Nek. Apakah kau mencari sesuatu?"
"Ya! Di mana dia? Perasaan baru satu detik mataku beralih menatapmu, tapi si ganteng maco itu sudah lenyap!"
Astaga! Jadi dari tadi Nenek membuntuti dokter Pedro?
"Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana?" gumamnya lirih.
"Iya Nek. Itu adalah dokter Pedro. Dokter keluarga Winston."
"Pantas saja tak asing bagiku."
"Bukannya semua lelaki tampan memang tak asing bagi Nenek?" tanya Elis memelankan suaranya.
"Haha! Kau benar. Ya sudah ayo kita ke ruangam Bocil."
"Baik, Nek."
Keeleganan Soffy sirna saat kakinya mulai menginjakkan ruang inap Zoey. Tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sekitarnya, ia langsung menyambar pintu itu dan masuk ke dalamnya.
"Bocil!!!" teriak Soffy.
Mendengar suara legend milik Soffy, si gadis cantik yang sedang berbaring di ranjang, melonjak bangun dari rebahannya.
Seperti orangtua dan anak yang sudah terpisahkan bertahun-tahun lamanya. Begitulah sikap Zoey dan Soffy. Mereka saling berpelukan sembari menanya kabar.
"Bocil! Apa yang luka darimu? Katakan padaku?! Biar aku yang menghajar si Sayur Kol itu!"
"Aku tidak apa-apa Nek. Lihat 'kan aku sehat walafiat," menggerakkan seluruh tubuhnya.
"Ohh dragon kecilku!" memeluk Zoey lagi. "Maafkan Nenek yang sangat ceroboh ini," ucapnya dengan wajah kusut.
"Sudah. Nenek jangan bersedih. Lagian ini bukan salah Nenek. Collin memang tidak punya hati nurani sehingga memanfaatkan nenek-nenek seperti dirimu dan nenek kak Kinan. Aku sudah tau semuanya dari kakak ipar."
"Iyaaaa kau benar! Nenek tak bisa disalahkan karena Nenek juga butuh refresing di sauna. Makanya Nenek langsung cepat mengiyakan ajakan Grace."
Zoey mengangguk paham.
***
Di ruangan lain terdapat dua orang yang sedang asik suap-suapan. Ya siapa lagi kalau bukan Arsen dan Amey. Kedatangan Amey di ruangan Arsen, membuat sikap pria arogan itu menjadi manja bukan kepalang.
"Sayang, kalau seperti ini terus, aku betah berlama-lama di sini. Kau mau aku tinggal berapa bulan? Dua bepan? Empat bulan? Enam bulan? Atau satu tahun?"
Mendengar itu wajah Amey berubah menjadi garang. "Kemasi barang-barangmu! Kita pulang sekarang!" melepas sendok makan yang tadinya keluar masuk ke dalam mulut Arsen.
"Pulang?! Se--secepat itukah? Bukankah masih ada dua puluh delapan hari delapan belas jam aku di sini?"
"Tidak! Kita pulang sekarang!"
"Awww! Shhhhh! pundakku sakit sekali!" ringis Arsen pura-pura.
Amey memutar bola matanya malas. "Jangan berbohong pada ibu hamil. Pamali!"
"Tidak jadi. Aku sudah sehat!" celutuk Arsen saat mendengar ucapan tajam Amey.
Tak dapat lagi menahan gelak tawanya, akhirnya wanita itu tertawa terpingkal-pingkal. "HAHAHAHA!"
Wajah Arsen semakin kusut.
__ADS_1
"Sayang, ternyata wajah aroganmu bisa berubah menjadi lucu seperti ini. Hahaha!"
Cup!
Amey menghentikan tawanya saat bibir Arsen menancap di atas bibir tipisnya. "Apa kau sudah puas tertawa?!" lirih Arsen dengan tatapan membunuhnya.
"Sudah lama aku tidak melihat wajah garangmu dan tatapan membunuhmu seperti ini. Waktu begitu cepat berlalu. Awal kita bertemu kau sangat membenciku dan tak ingin menyentuhku sedikitpun."
Arsen menatap lekat ke arah Amey. "Memey Sayang. Lupakanlah itu. Sekarang kau adalah hidup dan matiku. Jadi jangan pernah berpikir jika aku masih membencimu," mengecup kening Amey. "Hey baby! Dengarkan aku baik-baik. Lahirlah dengan selamat dan jadilah anak yang cerdas, baik dan bijaksana!" mengelus perut Amey serta mencium perut itu yang sudah menjulang, menampakkan ada makhluk hidup yang menetap di sana.
Dua orang tiba-tiba muncul dari balik pintu itu. Mereka adalah Jen dan Mark.
"Mark! Kau tidak sopan! Selalu saja mengganggu saat-saat romantisku dengan istriku!"
"Aku ingin melihat keadaan Tuan. Maafkan aku," menunduk kepalanya.
Mata Arsen berpindah menatap Jen. "Wahh! Ada Garfield juga di sini."
"Bagaimana kabar Anda Mr. Winston?"
"Sangat buruk," menatap Amey agar istrinya itu menambahkan waktu menginapnya.
"Kelihatannya Tuan sudah sehat," lanjut Jen.
"Kau benar Jen. Rencananya sih aku akan memulangkan mereka."
"TIDAKKKK!" ketus Arsen dan Mark serentak dengan mata yang melebar.
Amey dan Jen menatap kedua pria itu dengan heran.
"Jodi, jangan ikut-ikutan denganku!"
"Tidak, Tuan. Kau tampak sehat, jadi pulanglah lebih dulu."
"Sialan kau! Apa kau juga ingin bermanja-manjaan dengan kucing peliharaanmu ini?!"
Ehhh! Kenapa jadi begini? Maksudku 'kan hanya untuk berlibur dari pekerjaanku. Batin Mark.
"Kalau begitu, kau tetaplah di sini sampai kau benar-benar pulih Mark. Aku akan meminta bantuan Jen untuk merawatmu dengan baik."
"Ehh kok aku?!" tutur Jen heran.
"Sayang, kau tau 'kan kalau aku bekerja Mark juga harus bekerja. Jadi aku dan Mark tak dapat dipisahkan! Bisakah aku juga menginap beberapa hari di sini?" bujuk Arsen dengan mengedipkan matanya kepada Mark agar pria itu membantunya.
"Benar, Nyonya. Kali ini aku mendukung Tuan Muda. Lagipula luka tembak tidak akan sembuh dengan mudah. Jangan sampai Nyonya menjadi janda muda karena Tuan sudah tidak ada lagi."
Deg!
Tatapan tajam Amey dan Arsen menancap tepat di manik Mark.
"Sialan kau Mark! Kau menyumpahiku cepat mati?! Aku menyuruhmu membantuku membujuk Memey, bukan malah mengutukku!"
"Bukan begitu maksudku, Tuan."
"Kemari kau!"
"Sudah sudah! Cukup!" celutuk Amey.
"Jen bawa pacarmu keluar dari sini. Biar Arsen aku yang urus!"
"Baik, Nyonya Muda."
Seketika Jen sadar. "Ehh pa--pacar?!" gumamnya.
Mark menatapnya dengan ekspresi datar saat tangan Jen tiba-tiba menggandengnya. "Berani sekali kau menyentuhku?!"
"Maaf Tuan. Aku pikir kau telah menyukaiku."
Menyukai? Kenapa seolah-olah satu kata ini mengintimidasiku?! Apa sebenarnya maksud ucapannya ini?!
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
__ADS_1
.
jangan lupa follow akun ig resmi Author @syutrikastivani agar readers bisa mengetahui info-info terkait seputar novel TPTA season dua :)