Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Apartemen Mark


__ADS_3

Semenjak kepergian Eggie tiga bulan yang lalu, kini Jenifer yang mengambil alih tugas sebagai Sekretaris sementara sampai Arsen menemukan orang yang telaten seperti Eggie untuk bekerja bersama Amey. Alasan Jen hanya menjabat sementara, dikarenakan ia juga memiliki tanggung jawab sebagai Manajer Umun di hotel Paradise.


Pagi itu Jen sedang meninjau beberapa dokumen di kantor Amey. Lagi-lagi gadis itu bekerja lembur dari tadi malam sampai pagi. Lingkaran gelap di bawah matanya begitu nampak. Wajahnya terlihat seperti mayat hidup karena kekurangan tidur. Tubuhnya begitu lesu layaknya orang yang tak memiliki kehidupan.


Selama tiga bulan Jen bekerja keras untuk mengimbangi ketelatenan Eggie. Meskipun kemampuan Jen belum sama seperti Eggie, namun gadis itu terus berusaha sekuat tenaga.


“Sekretaris Eggie benar-benar hebat. Pantas saja Tuan Arsen sangat mempercayainya untuk menjalankan misi berbahaya,” gerutu Jen mengacak rambutnya.


Jen mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia menghentikan aktivitasnya seketika. “Apa Amey kemari? Tapi ini ‘kan masih pukul lima pagi,” mengernyitkan dahi. “Atau jangan-jangan Pak Satpam? Bisa jadi cleaning service.” Jenifer melanjutkan kegiatannya. Tiba-tiba seseorang membuka pintu.


Gadis itu melonjak kaget. Ia melihat seorang pria bertubuh tinggi memakai topi dan masker. “Siapa di sana?” teriak Jen dengan panik. Melihat sebuah dokumen tebal di atas meja, dengan reflek, Jen melemparkannya tepat di dahi pria itu.


Plakkkk!


“Apa yang kau lakukan, hah?!” geram pria itu.


“Siapa kamu?!"


“Aku bisa saja melaporkanmu karena melakukan penyerangan fisik!” celutuk pria itu yang tak lain adalah Mark.


“Aku mengenal suara dingin ini!” gumam Jen lirih. “Apa jangan-jangan, Tu—tuan Dasi Merah?”


Mark membuka topi dan maskernya. Betapa terkejutnya Jen saat melihat wajah garang Mark. Ia beranjak dari duduknya dan mendekati Mark. “Tuan, maafkan aku. Aku kira kau orang jahat. Aku tidak sengaja melempar dokumen itu,” mohon Jen.


Mark hanya menatap wajah Jen dengan tajam, dan berjalan melewatinya menuju ruangan Amey. “Tak ada yang berbeda. Dia masih ceroboh!” gumam Mark.


Dengan wajah yang heran, Jen memandangi belakang punggung Mark. Batinnya menerka-nerka apa yang akan dilakukan pria dingin itu pagi-pagi buta di kantor dengan pakaian seperti itu. Ia mengikuti Mark menuju ruangan Direktur Utama. Ia mendapati Mark sedang mencari sesuatu di lemari arsip. Perlahan Jen berjalan mendekati Mark dari belakang.


Pria itu merasakan ada hawa-hawa aneh di belakangnya. Saat Mark membalikkan badannya ia melonjak kaget, “Goshhhh!” menyapu dadanya. “Kau mengagetkanku!” celutuknya geram.


“Apa yang kau cari, Tuan?” tanya Jen.


Mark menatap wajah Jen dengan lekat. Rambutnya yang amburadul, wajah yang polos tanpa polesan make up. Di tambah lagi sebuah tisu yang menutup lubang hidung sebelah kanan, dan sisa makanan yang melekat di gigi putih Jenifer. Sungguh! Itu membuat Mark hampir pingsan melihat tampang Jen.


Pria itu dengan reflek mundur beberapa langkah ke belakang, namun tubuhnya telah mentok tersandar di lemari arsip itu. Bibir Mark mengatup dengan rapat. Ia tak tahu lagi harus berkata apa saat melihat pemandangan di depannya. Jelas saja karena Mark adalah pria yang sangat bersih, untuk itu dia sangat syok melihat Jen yang berantakan.


“Ada apa, Tuan? Kau seperti melihat hantu saja. Apa yang sedang kau cari? Siapa tau aku bisa membantumu,” tawar Jen.


Mark mengepalkan tangannya. Wajahnya berubah menjadi beringas. “Menjauh dariku! Coba lihat dirimu,” menunjuk tubuh Jen. “Kau sangat jorok! Jangan bilang kalau kau belum mandi dan sikat gigi dari kemarin!”


Jen tersenyum kecut. “Hehe. Kau benar Tuan. Sejak kemarin aku belum membersihkan diri. Habisnya tugas yang harus aku kerjakan masih banyak,” menggaruk kepalanya.


“Stop! Jangan menggaruk kepalamu!” teriak Mark dengan panik. “Nanti kutu-kutumu terpental!”


“Aku tidak memiliki kutu. Tuan tenang saja.”


Mark masih menganalisa tubuh Jen dari ujung kepala sampai ujung kaki. Apa gadis ini tidak tidur dari semalam? Kantung matanya semakin besar. Pupilnya juga tampak lelah! Ternyata dia juga bekerja keras.


“Tuan?” panggil Jen.


“Sudah sejak kapan kau seperti ini?” tanya Mark tiba-tiba.


Wanita itu terdiam sejenak. Ia memutar otaknya dan mencerna ucapan Mark. “Aku tak paham dengan pertanyaanmu.”

__ADS_1


“Sejak kapan kau bekerja seperti ini? Dari penampilanmu, kau terlihat kekurangan banyak darah dan stamina.”


“Oh maksud Tuan bekerja lembur, yayaya aku paham. Mungkin sudah tiga bulan sejak Sekretaris Eggie mengambil cuti.”


“Dasar bodoh! Kau pikir dengan bekerja seperti ini kau bisa menjadi seperti Sekretaris Eggie?! Kau hanya menyakiti dirimu!” ucap Mark naik pitam.


“Aku tidak pernah berpikir untuk menjadi sama seperti Sekretaris Eggie. Tapi aku selalu berusaha menjadi yang terbaik, dapat diandalkan, dan tentunya mengerjakan semua tugas-tugasku sampai tuntas! Apa kau mempedulikanku, Tuan?”


Kalimat terakhir Jenifer, mampu melumpuhkan otot-otot pada tubuh Mark. “Omong kosong! Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada dirimu, karena itu urusanmu."


"Lalu?"


"Tapi kalau kau bekerja seperti ini, nantinya hanya akan menyusahkan Nyonya Muda saja. Bagaimana jika kau jatuh sakit? Siapa yang akan menangani urusan kantor sedangkan kondisi Nyonya masih belum stabil. Kau pikir mencari pengganti yang serupa Sekretaris Eggie segampang membalikkan telapak tangan?! Dan juga …” menjeda ucapannya.


“Dan juga?” ulang Jenifer.


Mencari pengganti yang serupa denganmu, mau bekerja keras dan mau berusaha sangat sulit di temukan! Lanjut Mark dalam hati.


Mark membuang napasnya dengan berat. "Hufthh! Lupakan!" Melanjutkan aktivitasnya mencari sesuatu di dalam lemari arsip. Namun karena merasa tak nyaman dengan situasi yang ada, ia akhirnya menghentikan pencarian itu. "Hey, kau!" panggilnya pada Jen.


"Ada apa?"


"Bersihkan wajahmu dan ikut aku."


"Ke mana?"


"Lakukan saja apa kataku."


Jen mengangguk dan berjalan menuju meja kerjanya. Mark memandangi belakang punggung Jenifer. Perasaan iba sekaligus kesal menghampiri benaknya.


"Selesai!" ucap Jen.


Kedua orang itu berjalan menuju lift. Saat hendak memasuki lift, penglihatan Jen menjadi buram. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut hebat. Seketika tubuhnya melemas. Kedua kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya.


Mark yang melihat tubuh Jen yang hampir jatuh ke lantai, langsung menangkapnya dengan sigap. "Hidungmu berdarah!" ketus Mark.


Jen menyeka cairan kental itu. Ia menatap wajah Mark dan menutup matanya. Bayangan masa lalu Mark sejenak terlintas di benaknya, dan itu membuat dirinya teringat akan Rachel, adik perempuan Eggie yang telah meninggal karena penyakit.


"Hey! Sadarkan dirimu!" menepuk pelan pipi Jen. "Jenifer!" teriak Mark, lantang. Untuk pertama kalinya, Mark memanggil nama gadis itu dengan benar.


Jen sempat mendengar jika Mark memanggil namanya. "Jangan bawa aku ke rumah sakit. Nenek pasti akan khawatir." Setelah mengucapkan kalimat itu, Jen langsung tak sadakan diri.


***


Bunyi detak jarum jam memecah keheningan di dalam ruangan itu. Seorang pria tak memiliki ekspresi sedang duduk di sofa sembari membaca buku. Sesekali mata pria itu menatap ke arah ranjang.


"Kapan dia akan sadar?!" gumamnya dengan wajah kesal.


Sudah tak ada cara lain selain memberi tumpangan pada Jen untuk menginap di apartemen Mark. Ia juga tak mungkin membawa Jen ke rumah sakit karena wanita itu tidak ingin membuat nenek Jenifer khawatir.


Tapi tidak mungkin juga bagi Mark untuk langsung membawa Jen pulang ke kosnya. Jika ia memulangkan Jen, itu sama saja ia menyerahkan dirinya di kandang Harimau. Untuk saat ini, Mark sangat takut pada Doris karena tingkah barbar nenek micin itu.


Secara perlahan, mata Jenifer mulai terbuka. Tatapannya begitu sayu dan masih buram. Bola matanya berkeliling ka sana kemari.

__ADS_1


"Tempat ini tak asing bagiku?" ucap Jen lirih.


"Akhirnya kau sadar juga!"


Jen terbelalak mendengar suara berat itu. Ia melonjak dari tempat tidur dan menatap Mark yang sedang duduk di sofa. "Apa aku di rumahmu?" tanyanya.


Mark meletakkan buku yang ia baca tadi di atas meja. Ia berjalan menuju ke arah Jen dan itu membuat gadis yang tengah duduk di atas ranjang menjadi kaku dan tegang. "Tu--tuan?" lirihnya.


Jantung Jen memompa begitu kencang. Apalagi saat menatap manik Mark yang begitu mengerikan. Pandangan mata Mark mampu membekukkan tubuh Jenifer.


"Jangan salah paham! Aku membawamu kemari karena kau tidak mau ke rumah sakit. Dokter sudah memeriksa keadaanmu tadi. Kau baik-baik saja dan hanya perlu istirahat yang cukup," jelas Mark.


*Di balik sikapnya yang cuek dan dingin, tern*yata dia juga perhatian. Batin Jen.


"Jangan menatapku seperti itu!" tukas Mark.


Jen menundukkan kepalanya. "Berapa lama aku pingsan?"


"Hampir enam jam."


"Hah?" kaget. Sial! Aku bukan pingsan tapi ketiduran di sini.


"Bersihkan dirimu dan pulanglah. Mungkin Nensi part dua menghawatirkanmu." ucap Mark sembari melemparkan pakaian ke tubuh Jen.


"Tidak apa-apa Tuan. Aku langsung pulang saja."


"Dasar jorok! Sudah dua hari satu malam kau mengenakan pakaian itu. Badanmu sudah tidak steril lagi!"


"Maaf aku merepotkanmu lagi," berjalan menuju kamar mandi.


Mark hanya bisa menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. "Ada apa dengan diriku ini?!" gumamnya.


Di dalam kamar mandi Jen tampak tersenyum kecil membayangkan sikap Mark padanya. Walau pria itu selalu menyakiti Jen dengan ucapan tajamnya, namun gadis itu yakin jika maksud Mark adalah baik. Hanya saja penuturannya yang kasar sehingga memberi kesan tidak baik.


"Hey! Kau tidak membawa handuk dan bajumu. Bagaimana kau bisa keluar dari sana!" teriak Mark dari luar, membuyarkan pikiran Jenifer.


"Astaga! Aku lupa. Tuan, bisakah kau menolongku untuk membawakannya? Aku tidak bisa keluar mengambilnya karena aku sudah membuka semua pakaianku!"


Mark terkejut. Sifat polos Jen membuat jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. "Apa dia memang selalu begini? Atau dia sedang memancingku?! Bagaimana pun juga aku adalah pria normal!" lirih Mark.


"Tuan! Aku percaya padamu! Jika kau keberatan untuk membawanya, tidak masalah. Kau keluarlah dulu dari kamarmu sampai aku selesai mengganti pakaian."


"Ehhh! Apa dia mengusirku?!" Mark menggertakkan giginya. "Ya! itu lebih baik dari ide yang sebelumnya."


To be continued ..


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.

__ADS_1


Follow akun ig resmi Author : @syutrikastivani


__ADS_2