
Hari cuti mereka masih berlanjut. Amey terlihat sedang membaca buku saat Arsen selesai membersihkan badannya. Ia melirik tubuh Arsen yang sixpack serta rambut yang acak-acakkan karena basah membuat ia menelan salivanya. Tubuh itu begitu menggiurkan.
Amey yang menyadari pikiran liarnya langsung menggeleng kepala dan kembali membaca buku. Ternyata Arsen lebih berisi daripada Arka. Lihatlah otot-otot itu yang menegang! Sangat menggugah selera. batin Amey kembali liar.
Amey membandingkan tubuh Arka dan Arsen. Almarhum Arka memiliki bentuk tubuh yang lebih kecil alias otot-ototnya masih besaran Arsen. Mungkin itu efek makanan.
Arsen tidak memakan nasi dan hanya memakan makanan barat. Ia juga rajin berolahraga. Sedangkan Arka ia jarang berolahraga karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan, sehingga waktu luang Arka hanya untuk Amey dan keluarganya.
"Ahh Shitt!" teriak Arsen dari dalam walk in closet.
Amey yang mendengar itu hanya mendengus tak menggubris. Arsen yang masih melilitkan handuk berwarna putih dipinggangnya menghampiri Amey yang sedang membaca buku. Ia mengobrak-abrik nakas itu namun ponselnya tak kunjung ketemu.
"Hey kau!" panggil Arsen.
Amey tidak perduli.
Arsen berdecak. Ia menarik selimut Amey dengan kasar. Wanita itu pun melonjak kaget. "Hey! Apa yang kau lakukan?" tukas Amey kesal.
Arsen tidak bersuara. Ia melihat samping kiri kanan Amey dengan seksama. Amey mulai merasa risih dengan tingkah Arsen. Pasalnya pria itu menatap bagian bawah Amey.
"Minggir kau!"
"Sorry?" ucap Amey heran.
Arsen semakin jengkel. Ia menatap Amey dengan tajam. Tiba-tiba Arsen menggendongnya.
"Apa-apaan ini! Woy! Turunkan aku!" rontah Amey.
Amey merasa bingung dengan apa yang dilakukan Arsen padanya. Ia merontah dengan hebat sehingga membuat Arsen semakin emosi.
Bukkkk
Arsen melemparkan Amey di sofa.
"Aduhhh pantatku!" pekik Amey.
"Kau menyuruhku melepaskanmu. Sudah ku lakukan." ucap Arsen datar.
"Dasar gila!" celutuk Amey.
Arsen mengepalkan tangannya dan kembali menatap Amey dengan tatapan mengerikan. Amey menjulurkan lidahnya, meledek Arsen.
"Wanita aneh!"
Arsen segera kembali ke ranjang dan mengacak-acaknya. Ia terlihat emosi saat ponselnya tidak ketemu. Ia melempar bantal dan badcover ke lantai dengan kasar.
"Arghhh! Di mana ponselku!"
"Kau mabuk tadi malam." tukas Amey.
Arsen berpikir sejenak. Ia menggunakan telepon rumah menghubungi Mark. "Kemarilah! Belikan aku ponsel baru. Ohya beli juga setelan yang banyak. Kalau perlu beli tokonya sekalian."
"Ada lagi Tuan?"
"Ukurannya harus sesuai dengan badanku. Jangan terlalu kecil jangan terlau besar. Beli yang berkualitas!"
"Ada lagi Tuan?'
"Ya. Jangan pakai lama!"
Tut ... tut ... tut
Arsen mematikan sambungan teleponnya.
"Kau mau ke mana?"
"Bukan urusanmu!"
"Kau 'kan masih cuti."
"Bacot!"
__ADS_1
Amey mengerutkan kening. "Sudahlah. Ngapain juga aku perduli. Diwwww."
***
Arsen menatap Mark dengan datar. Amey pun demikian.
"Apa yang kau lakukan Mark?" ucap Arsen.
"Sesuai dengan perintah Tuan." menunduk kepala.
"Perintah jidatmu! Aku menyuruh kau membeli setelan kantorku, bukan menyuruhmu membeli wanita-wanita ini!" tukas Arsen naik pitam.
Yang benar saja, Mark membawa puluhan wanita yang masing-masing membawa jas yang di beli Mark untuk Arsen.
"Tuan, aku hanya menyuruh mereka membawanya. Bukan membeli mereka."
"Usir mereka!" teriak Arsen.
"Baik Tuan." menunduk kepala. "Ladies! Tugas kalian sudah selesai. Silahkan keluar dari tempat ini." lagi kata Mark mempersilahkan para wanita itu.
"Stupid!" celutuk Arsen.
Amey terkekeh. "Asisten dan bosnya sama-sama tidak waras!"
"Diam kau!" teriak Arsen.
Santai kali! Dikit-dikit teriak, nggak kasihan ama pita suaranya! batin Amey.
***
Amey meninggalkan kamarnya. Ia berjalan menuju dapur hendak memasak sesuatu. Ia melihat para pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Halo Nyonya Muda. Perkenalkan, saya Elis. Kepala pelayan di rumah keluarga Winston." ucap seorang perempuan berumur empat puluh lima tahun.
"Halo Elis." melambaikan tangan. "Aku Amey." ucap Amey memperkenalkan diri.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?"
"Ya. Keluar dari sini." perintah Amey tersenyum kecil di ujung kalimatnya.
"Aku yang akan memasak." tukas Amey.
"Tapi Nyonya, ini tugas kami."
"Elis? Trima kasih atas pengertiannya." Amey mempersilahkan Elis dengan tangannya.
Nyonya Muda sangat keras kepala. Ya sudahlah aku biarkan saja. batin Elis.
Elis menunduk dan meninggalkan Amey.
"Elis?" panggil Amey kembali.
"Ya Nyonya?"
"Jangan pergi sendirian. Ajak juga anak buahmu." tersenyum.
"Baik Nyonya."
Elis mengerahkan seluruh bawahannya yang berkisar dua belas orang untuk meninggalkan Amey di dapur. Amey tersenyum dan menpersilahkan semua pelayan itu.
"Nyonya Muda begitu keras kepala," bisik pelayan wanita seumuran dengan Amey.
Elis yang mendengar itu melemparkan tatapan tajam dan menggelengkan kepalanya kepada pelayan wanita itu. Ia pun langsung berdiam dan menunduk takut saat sorot mata Elis menusuk maniknya.
Amey mulai dengan aktivitasnya. Ia sangat lihai menggunakan pisau. Selain cantik ia juga memiliki keahlian dalam memasak. Tentu saja karena Neneknya yang selalu mengajarinya memasak.
***
Amey berjalan menuju kamar mertuanya. Ia mengetuk pintu dan di balas sahutan dari dalam. Amey pun masuk dan mendapati mertuanya sedang berbenah.
"Mama, Papa? Kalian mau ke mana." tanya Amey ketika melihat dua buah koper besar di atas ranjang.
__ADS_1
"Amey, Sayang. Mama dan Papa akan ke Amrik."
"Saat ini juga?" tanya Amey melotot.
"Iya Sayang. Papa kamu akan menangani perusahaan induk di New York."
Amey terkejut. "Lalu? Arsen?"
"Arsen akan menangani perusahaan di sini menggantikan Papa." jelas Helen.
Denjerrrr! Jadi aku di tinggal berdua sama laki-laki kasar itu? Goshhh! Tak bisa ku bayangkan.
"Sayang? Kamu tidak apa-apa 'kan?" ucap Helen membuyarkan lamunan Amey.
"Ehmm, Ma? Apa Mama dan Papa akan berlama-lama di sana?"
"Belum pasti. Pokoknya kamu jaga diri ya, dan jangan lupa tugasmu sebagai istri. Mama tahu pernikahan kalian didasari tanpa cinta. Namun, kamu tahu 'kan kalau pernikahan bukanlah hal main-main. Kau dan Arsen telah sah di hadapan Tuhan, jadi berlakulah layaknya istri terhadap suami. Lagi pula adat keluarga Winston sangat ketat mengenai pernikahan. Tidak boleh bercerai, selain maut yang memisahkan." tutur Helen panjang lebar.
Seketika itu juga hati Amey serasa dicubit. Ia berniat meminta cerai pada Arsen, namun sayangnya ucapan Helen mengena di hatinya. Apalagi bagi keluarga Winston, pernikahan adalah suatu hal yang sakral. Cinta tidak cinta, mau tidak mau, maka sepasang suami istri yang telah mengucapkan janji dihadapan Tuhan, sama sekali tidak boleh bercerai. Kecuali Atas ijin Tuhan.
"Amey, salah satu kepergian Mama dan Papa juga adalah untuk menenangkan diri. Terlalu banyak kenangan dengan Arka di rumah ini. Semakin Mama mengingatnya, semakin Mama merasa sakit hati. Mama rasa kau paham, Nak."
"Iya Mama. Aku mengerti." memeluk Helen. "Ma? Apa Arsen tahu kalau Mama dan Papa akan pergi?"
"Tentu Sayang. Mama dan Papa sudah memberitahunya."
"Baiklah Ma. Ohya, Amey baru selesai memasak. Sebelum Mama dan Papa pergi, Ayo sarapan bareng Amey. Masakan Amey enak lohh." goda Amey mengalihkan pikiran sedih Helen.
"Oke Sayang. Kamu memang menantu idaman." puji Helen.
***
"Elis. Aku suka masakanmu kali ini." mengusap mulutnya dengan tissue.
"Maaf Tuan Muda. Bukan saya yang memasak ini."
"Lantas?"
"Nyonya Muda yang memasak seluruh makanan ini,"
Arsen melotot. "Maksudmu? Wanita itu?"
"Iya Tuan. Istri Anda."
Arsen berdehem. Secara masakan Amey begitu enak. Apalagi saat ia menyantap makanan ala barat yang dibuatkan Amey. "Elis kau duduk di sini." perintah Arsen.
"Tapi Tuan?"
"Jangan membantah atau kau dipecat!"
Deg!
Dengan segera Elis duduk di tempat duduk Arsen sebelumnya. Pria itu telah berdiri di samping Elis.
Amey dan kedua orangtuanya tiba di ruang makan. Arsen menatap Amey seketika dan melemparkan pandangnya ke arah Elis. "Elis kau makan begitu banyak!" ketus Arsen.
Elis menganga tak percaya dengan ucapan Arsen. Ma--maaf Tuan, tapi ..."
Arsen melotot dengan tajam ke arah Elis. Wanita paruh baya itu berdiam.
"Aku tidak mau makan. Makanan ini tidak enak."
Tuan kau sangat aneh. Bukannya tadi kau memuji makanan ini karena sangat enak? Dan kenapa aku yang jadi tumbal? batin Elis.
Helen menggeleng kepala dan tersenyum kecil. Ia tahu jika anaknya sedang bersandiwara. "Sepertinya kau sudah makan Sayang?" goda Helen.
Arsen salah tingkah. "Tidak! Makanannya tidak enak!"
"Dari mana kau tahu jika makanan itu tidak enak, kalau kau belum menyicipnya?" tanya Amey lebih membuat Arsen salah tingkah.
"Ehem." Arsen berdehem. "Aku punya kekuatan supranatural!" meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘