
(Satu jam sebelum bertemu Jayden)
Arsen menatap penampilan dirinya secara mendetail. Wajahnya datar tak memiliki ekspresi. Ia mengerjapkan matanya kemudian menatap Mark dengan tajam. "Apa kau mau mati?!" geramnya.
"Maafkan aku, Tuan. Ini satu-satunya cara agar kita bisa bertemu Sekretaris Eggie."
"Kau yakin tak memiliki cara lain?"
"Tidak ada lagi, Tuan. Beberapa hari terakhir, pengawal Mr. Collin dengan ketat memata-matai pergerakan Sekretaris Eggie."
Arsen menarik napas berat dan membuangnya dengan kasar. "Hufttt! Sialan kau!"
Ia berjalan dengan langkah yang aneh. Sedangkan Mark tersenyum kecil saat melihat penampilan bosnya yang sangat berbeda dengan dirinya sebelumnya. Tentu saja karena kedua orang itu menyamar hanya untuk bertemu dengan Eggie.
Arsen menyamar sebagai pria tua gembel yang menjual tisu di pinggir jalan saat kendaraan berhenti karena lampu merah. Sedangkan Mark menyamar sebagai tukang sapu jalanan. Penampilan keduanya tak dapat dikenali oleh siapa pun.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Orang-orang mulai berhenti melaksanakan aktivitas kerja mereka. Jalanan mulai macet karena kendaraan yang lalu lalang.
"Tuan, arah jam dua belas, tepat di sebelah mobil berwarna putih," ucap Mark.
"Mobil Eggie," gumamnya. Perlahan Arsen berjalan mendekati mobil Eggie.
"Pak, beli tisu dong!" ucap seorang wanita paruh baya yang mengemudikan mobil putih di sebelah mobil hitam milik Eggie.
Arsen menghentikan langkahnya. Seketika ia menatap wanita itu dengan tatapan tajam. "Tidak untuk dijual!"
"Lahhh kok gitu! Gimana jualan mau laku, penjualnya galak kaya gitu! Sudahlah, gak jadi beli!"
Arsen mengepalkan tangannya. "MARK!" geramnya sambil menatap Mark yang sibuk membersihkan jalanan.
Seolah mendapat kontak batin dengan Arsen, Mark langsung menatap bosnya. "Ada apa dengan ekspresi Tuan?" gumamnya. Melihat Arsen yang memandanginya dengan tatapan iblis, Mark pun paham maksud tuannya itu. Ia menghempaskan tangannya ke udara mengisyaratkan Arsen untuk melanjutkan misinya.
Tak ada pilihan lain, Arsen pun dengan berat hati mengacuhkan pengendara wanita itu sebelum lampu merah berganti warna menjadi hijau. "Kau lolos kali ini!"
Melihat mobil Eggie, Arsen langsung mengetuk jendela kaca Eggie. "Ti--tisu! Mau be--beli tisu?!" ucap Arsen dengan kaku.
Tanpa menurunkan kaca jendela itu, Eggie hanya mengangkat tangannya dan menghiraukan Arsen.
Tok ... tok ... tok
"Tisu ... tisu ... tisu!!"
Eggie menjadi kesal. Ia pun membuka jendela kacanya dan membentak pria itu yang adalah bosnya sendiri. "Tolong sopan sedikit! Sudah saya katakan kalau saya tidak membutuhkan itu! Apa kau paham?!"
Deg!
Arsen melebarkan matanya. "Apa kau bilang?!"
"Tolong minggir!" celutuk Eggie.
Arsen kena syok dengan ucapan sekretaris istrinya itu. Ia tak menyangka jika Eggie sama sekali tak mengenalinya.
"Eggie! Apa kau tidak mengenaliku?"
Eggie melepas kacamata hitamnya. Ia mendekatkan wajahnya dan melihat secara seksama siapa pria yang tidak sopan itu. "Anda kenal Saya?!"
"Kau minta dipecat?!"
Suara ini tak asing! Batin Eggie. Seketika ia sadar jika seorang pria yang dibentaknya tadi adalah bos besarnya. "Oh my God!!!" Eggie melonjak kaget. "Mr. Winston? Apa yang terjadi?! Apa kau bangkrut tiba-tiba?!"
"Shut up!"
"Ehem. Maafkan saya, Tuan."
"Katakan di mana mereka?!"
"Siapa?"
"Orang suruhan Sayur Kol Amis! Jangan sampai mereka melihat kita berbincang!"
"Astaga! Kau benar Tuan." Mata Eggie berkeliling. Ia menatap dua mobil di belakangnya dari kaca spion. "Arah jam tiga. Dua mobil itu dari beberapa hari lalu telah membuntuti saya."
"Baiklah. Aku akan pergi mencari Zoey dan Kaisar. Kau ke mansion dan temani istriku. Jalankan sesuai rencana yang telah kita susun beberapa hari lalu. Kau ingat 'kan?"
"Saya ingat Tuan."
__ADS_1
"Bagus. Aku harus segera pergi dari sini."
"Sebentar, Tuan. Berikan tisu itu dan terimalah uang ini."
Arsen menuruti ucapan Eggie. "Kau tidak perlu memberiku uang."
"Terimalah Tuan. Kau akan membutuhkan ini nanti."
Tin ... tin ... tin
"Tuan, sebaiknya Anda segera pergi. Lampu merah telah berganti warna. Semoga berhasil Tuan."
Arsen segera meninggalkan Eggie. Ia berlari di seberang jalan dan menemui Mark. "Ayo Mark! Aku sudah tak kuat lagi dengan penampilan seperti ini!"
***
Seketika rumah sakit menjadi gempar dengan kedatangan keluarga Winston bersama dengan Kaisar dan Jayden. Wajah mereka tampak memar sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian. Semua orang juga terkejut saat melihat Arsen menggendong Zoey yang sudah tak sadarkan diri.
"Di mana Pedro?!" teriak Arsen dari kejauhan.
"Mr. Winston, biarkan kami membawa Nona Muda. Dokter Pedro sedang berada di ruang beda," ucap seorang perawat.
Arsen meletakkan Zoey di ranjang pasien. Beberapa tenaga medis membawa Zoey ke unit gawat darurat namun dikhususkan untuk pasien vip. Dengan setengah berlari perawat-perawat itu mendorong ranjang itu karena takut terjadi apa-apa dengan Zoey.
"Zoey, bertahanlah!" ketus Amey.
Saat para medis itu memasuki unit gawat darurat, Arsen, Amey, Eggie, Mark, Kaisar dan Jayden menunggu di ruangan tunggu. Beberapa saat kemudian telepon Mark bergetar.
Drt ... drt ... drt ...
Mark menatap layar ponselnya. Seketika ia memandangi Arsen.
"Siapa?" tanya Arsen.
"Nyonya Besar menelpon."
"Kau angkat saja."
"Baik, Tuan."
"Halo, Nyonya."
"Mark, apa yang terjadi di sana?!" sambar Hellen dengan nada yang khawatir.
Arsen langsung menarik ponsel itu dari tangan Mark.
"Mama, ini aku Arsen. Mama jangan khawatir. Kami di sini baik-baik saja."
"Mama mendapat telepon dari Elis, katanya Zoey diculik sama Mr. Collin! Apa benar yang dikatakan Elis?"
"Benar Ma. Tapi Mama dan Papa tenang saja. Zoey telah ketemu dan aku sudah memberi pelajaran pada Sayur Kol itu! Zoey sekarang di rumah sakit. Tapi kata Pablo dia tidak apa-apa dan hanya syok saja." Arsen terpaksa berbohong karena ia tidak ingin Helen khawatir berlebihan mendengar keadaan Zoey.
"Ya Tuhan, syukurlah. Lalu bagaimana keadaan Amey dan calon bayinya? Apa Collin tidak macam-macam dengan Amey?"
"Tidak Ma. Memey dan anakku baik-baik saja. Sayur Kol amis itu tidak bisa menyakiti Memeyku karena aku selalu berada dua puluh empat jam bersamanya."
"Mama sedikit tenang mendengar ini, Sayang. Mungkin Mama dan Papa akan ke Jakarta sebentar subuh."
"Iya Ma. Kabari jika sudah sampai di Jakarta."
"Iya, Sayang."
tut ... tut ... tut
"Apa Mama dan papa akan datang?" tanya Amey.
"Hmm," mengangguk.
Arsen mengembalikan ponsel Mark. "Jangan menjawab panggilan kecuali dari orangtuaku."
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian beberapa dokter dan perawat yang memeriksa keadaan Zoey, muncul dari balik pintu unit gawat darurat.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Saya dokter yang bertanggung jawab di bagian emergency. Nona Muda sudah sadarkan diri. Nona tidak apa-apa, hanya masih terkejut dengan kejadian yang baru saja dia alami."
__ADS_1
"Trima kasih dokter," ucap Arsen.
Mereka semua menuju ruangan tempat Zoey berbaring. Setibanya di sana, mereka mendapati Zoey sedang duduk di pinggir ranjang dengan menatap ke arah dinding.
"Zoey!" panggil Amey.
Zoey buyar dari lamunannya dan menatap rombongan itu. "Kakak ipar?" sahutnya. Matanya beralih menatap Kaisar. "Kak Kai, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja kaki bagian kiriku tak bisa digerakan."
"Kai, sebaiknya kau juga di obati," usul Amey.
"Iya sebentar aku akan menemui perawat."
Arsen berjalan mendekat ke arah Mark. Ia menekan punggung Mark dengan kuat.
"Shhhhh!" desis Mark.
"Tak ada alasan lagi bagimu untuk menolak perawatan. Jelas saja kau kesakitan karena luka tembak itu!"
Mark terdiam dan mengangguk pelan.
"Aww!" ringis Arsen tiba-tiba saat Amey menekan pundaknya.
"Sudah ku duga, kau terluka. Sebaiknya kalian semua segera di rawat selama satu bulan! Eggie panggilkan semua dokter dan perawat untuk membawa keempat laki-laki ini!"
"Baik, Nyonya."
"What?! Sa--satu bulan? Sayang, Aku tak apa."
"Benar, Nyonya. Ini hanya luka kecil saja. Tak perlu untuk menginap," timpal Mark.
"Amey, aku juga tidak apa-apa. Tidak perlu untuk menginap," tambah Jayden.
"Aku rasa kakiku hanya terkilir biasa. Jadi tak perlu untuk dirawat inap. Hehe," sambung Kaisar dengan senyuman paksa.
"Membantah, berarti memperpanjang waktu sampai dua bulan!"
Keempat laki-laki itu menelan liur mereka dengan kasar saat beberapa perawat dan dokter membawa empat kursi roda untuk mereka duduki.
"Mari Tuan-tuan," ucap salah seorang perawat.
Mereka berempat menatap Amey dengan tatapan nanar, berharap Amey tak sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Bawa mereka dengan hati-hati."
"Baik, Nyonya."
"Selamat berlibur Sayang. Selamat berlibur, Mark, Kaisar dan Jayden. Sampai bertemu bulan depan!" ucap Amey tersenyum meledek.
"Sayang!! Kau hanya bercanda 'kan?' teriak Arsen saat kursi roda itu mulai menghilang dari balik pintu.
Para dokter dan perawat terkekeh pelan dengan tingkah konyol ke empat pria itu.
"Diam kau b*rengsek!" ketus Arsen pada salah seorang dokter laki-laki.
"Apa yang kau tertawakan bedebah sialan?!" tambah Kaisar emosi.
"Minta di pecat, hah?!" celutuk Jayden yang tak kalah emosi dengan Arsen dan Kaisar.
Semua kini memandangi Mark. Menunggu sindiran kasar apa lagi yang akan di ucapkan Mark. Merasa risih dengan tatapan itu, Mark pun akhirnya membuka suara.
"Aku polos, aku diam!!"
Tatapan heran sekaligus tajam dari ketiga pria yang duduk di kursi roda membuat Mark memutar maniknya. Ada apa dengan tatapan mereka? Apa aku salah bicara?!
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
__ADS_1
Follow akun ig asli Author " @syutrikastivani