Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Penyamaran ~ Misi Jayden dan Edhan


__ADS_3

Jayden memperhatikan penampilan Edhan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia mengerutkan keningnya sembari memegang dagu saat melihat ada sesuatu yang kurang dari penampilan Edhan.


"Ada apa, Uncle?" tanya Edhan.


"Sepertinya ada yang kurang." Jayden mengambil debu dari tanah dan menggosokkan pada kedua lengan Edhan. Tak hanya lengan, pipi Edhan pun dipenuhi bubuk berwarna coklat itu.


"Huekkk!"


"Tahan! Jangan muntah, Edhan!" ketus Jayden.


"Uncle, ini sangat menjijikkan! Huekkkk!"


"Bertahanlah sebentar saja. Hanya ini cara satu-satunya kita agar bisa masuk ke dalam rumah itu."


Edhan mengangguk paham. "Baiklah, Uncle. Demi misi rahasia kita!"


Ketika Edhan hendak berjalan menuju gerbang, Jayden tiba-tiba menarik pergelangan tangan anak itu. "Tunggu!"


"Ada apa lagi, Uncle?"


Jayden kembali menatap penampilan Edhan yang menggunakan pakaian yang compang-camping, di tambah dengan tangan, kaki serta wajah yang kotor. "Semuanya sempurna! Tapi ... kenapa kau masih terlihat bening meski dengan penampilan gembel seperti ini?!" lirih Jayden.


"Apa lagi yang kurang, Uncle?"


"Aku kira semuanya sudah beres. Tapi entah kenapa wajah dan penampilanmu tetap terlihat titisan sultan hamengkubuwana ke sepuluh! eh salah maksudku titisan dari keluarga bangsawan di Inggris!"


Edhan menyipitkan matanya. "Aku tak paham maksud, Uncle."


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Ayo kita masuk saja."


"Come on!" (Ayo) ketus Edhan.


"Wait!" (Tunggu!).


Edhan menghentikan langkahnya. "What's wrong?!" (Apa yang salah?!)


"Jangan lupa tentang naskahnya. Kau harus memanggilku dengan sebutan Kakak. Karena dalam drama ini, kau akan menjadi adikku. Okeyy?"


"Okeyyyy," menunjukkan jempolnya.


"Ayo kita latihan dulu. Coba kau panggil Uncle dengan sebutan kakak."


"Kakak, aku mau eek!"


Deg!


"Nggak gitu juga plotnya, bambang! Coba yang lain."


"Tapi ini beneran, Uncle. Aku mau eek!"


Ekspresi Jay seketika berubah menjadi lesu. "Ke--kenapa disaat seperti ini sih, bambang!"


"Apa itu nama baruku, Uncle?" tanya Edhan.


Jayden menepuk jidatnya. Ia menarik napas panjang dan membuangnya dengan perlahan. "Bukan."


"Lalu kenapa Uncle memanggilku seperti itu?"


"Lupakan. Tadi kau bilang mau eek?"


"Iya, Uncle"


"Tahan sebentar. Kita akan masuk ke dalam rumah." Jay memegang tangan Edhan dan berjalan menuju gerbang utama. Ia sengaja memarkirkan kendaraannya sedikit jauh dari rumah Miley supaya satpam tidak mengetahuinya.


Jayden sangat nekat untuk bertemu dengan gadis misterius itu. Ia bahkan rela merubah penampilannya yang elit menjadi compang-camping hanya untuk melihat gadis incarannya itu. Beberapa hari lalu Jay tak sengaja menemukan sebuah kertas yang berisikan lowongan pekerjaan yang di tempel di gerbang utama rumah Miley.


Siapa yang dapat menyangka jika Jay ingin mendaftar sebagai tukang kebun keluarga Miley. Tak hanya itu, ia juga mengajak Edhan bersamanya untuk menjalankan misi mereka yang sudah lama tertunda.


"Edhan, mulai sekarang namamu di ganti menjadi Elang."


"Tapi aku bukan burung, Uncle."


"Iya, Uncle juga tau kalau kau manusia bukan burung, tapi kan kita lagi menyamar!"


"Kau benar, Uncle. Aku suka nama baruku. Elang si burung kecil," celutuk Edhan.


Mendengar itu, Jayden terbahak dengan kuat sampai cairan bening keluar dari maniknya. "Hahahahah! Sudah sudah hentikan candaannya. Uncle tak kuat lagi," lirihnya, terengah-engah.


"Baiklah, Uncle."


"Jangan sampai Arsen tau jika anaknya menjadi cemong seperti ini. Bisa mati muda aku!"


"Ada apa, Uncle?" tanya Edhan.


"Tidak apa-apa. Lebih baik kita mempercepat langkah kita, sebelum Daddymu atau seseorang melihat penampilanmu yang seperti gembel ini! Jika itu terjadi, kemungkinan besar Uncle akan kehilangan batang sakti Uncle karena di potong bapak kau!"

__ADS_1


"Okeyy, Uncle."


Kedua orang itu berjalan dengan langkah yang sangat cepat. Mereka pun tiba di depan gerbang dan bertemu dengan satpam.


"Permisi, Pak. Saya dan adik saya ingin melamar pekerjaan di sini," menyodorkan selembar kertas yang ia pegang sejak tadi.


"Oh silahkan masuk," ucap satpam itu mempersilahkan.


Jay mengatur tompel palsunya yang ditempelkan di pipi. "Sepertinya misi ini akan berhasil," gumamnya.


"Apa kalian telah memenuhi persyaratan yang ada?" tanya satpam itu.


"Sudah, Pak."


"Bagus. Ohya, nama kamu siapa?"


"Saya Jali, Pak. Nama panjangku Rojali, dan ini adik saya namanya Elang."


"Kalau begitu, Pak Jali sama adek Elang, langsung saja masuk ke dalam. Bawa kertas ini, dan kalian akan di wawancara oleh kepala pelayan keluarga Kaylee."


Jayden mengangguk. Ia kembali memegang tangan Edhan dan berjalan menyusuri halaman depan kediaman keluarga Kaylee.


"Uncle, kita berhasil," bisik Edhan.


"Shhtttt! Jangan keras-keras. Nanti kita ketahuan."


"Ohiya."


"Apa kau masih ingin eek?"


"Sudah tidak lagi, Uncle. Mereka sudah masuk kembali ke dalam perut."


"Mereka siapa?" tanya Jay menyipitkan mata.


"Ya eek-kulah, Uncle!"


"Gebleggg!" ketus Jayden tanpa sadar.


"Uncle, kau bisa diam?!"


"Upsss, sorry!"


Setibanya mereka di depan pintu utama, Jay kembali merapikan pakaian compang-campingnya. Setelah selesai mengatur penampilannya, ia pun segera merapikan pakaian Edhan.


"Ingat, panggil Uncle dengan sebutan, Kakak."


"Bagus. Siapa namaku?"


"Kakak Rojali alias Jali."


"Siapa namamu?"


"Burung Elang."


Jay melotot. "Elang! Hanya Elang saja! Hilangkan burung yang di depan," celutuk Jay sembari mengeja satu persatu kata Elang.


"Ohiya, aku lupa," menepuk jidatnya.


"Sekali lagi, kita latihan dulu," mengatur napas. "Siapa namamu?"


"Aku Elang," jawab Edhan.


"Anak pintar!" mengacak rambut Edhan,


Setelah selesai latihan berakting, Jay pun menekan door bell. Ia tampak gugup. Tangannya bergetar hebat.


Tak lama kemudian seorang wanita berwajah datar muncul di hadapan mereka dengan pintu yang telah terbuka.


"Sa--"


"Masuklah!"


Belum saja Jayden memberikan salam, si wanita paruh baya itu telah lebih dulu menyuruh mereka masuk dengan tatapan dingin serta nada suara yang seolah mengintimidasi Jayden.


"Trima kasih," lirih Jayden.


Wanita itu tiba-tiba menghentikan langkahnya sehingga Edhan tak sengaja menabrak bokong wanita paruh baya itu.


Brukkkk!


Jayden syok melihat kejadian itu. Bagaimana tidak, kotoran debu yang menempel di pipi Edhan telah berpindah tempat ke rok berwarna putih yang dikenakan wanita itu.


"Maaf, Tante, aku tidak sengaja," ucap Edhan.


"Panggil saya, Margareth. Saya kepala pelayan di sini."

__ADS_1


"Baik, Margareth," tutur Jayden dan Edhan, serentak.


"Duduklah!" Margareth mempersilahkan Jay dan Edhan untuk duduk. Wawancara akan dimulai.


"Apa kalian sudah mendengar tentang keluarga Kaylee?" tanya Margareth.


"Belum," jawab Jayden.


"Baiklah. Aku akan menjelaskan sedikit. Keluarga Kaylee baru saja pindah dari Kanada dua tahun lalu karena sebuah alasan. Bisnis keluarga Kaylee sangat besar di Kanada. Namun, di sini juga bisnis keluarga ini perlahan mulai tersebar luas. Jadi, intinya, keluarga Kaylee merupakan keluarga terpandang dan elit. Saya tidak ingin mempekerjakan orang-orang sembarangan di rumah ini!"


"Kami mengerti."


"Apa kelebihan kalian?" tanya Margareth.


"Kami bisa apa saja."


Margareth mengangguk kecil. Namun wajahnya tetap garang dan kaku. "Apa dia anakmu?" menatap Edhan.


"Bu--bukan. Dia adikku," ujar Jayden.


"Hmm, sepertinya wajahnya familiar," lirih Margareth. "Dan kau juga. Wajah kalian sangat tidak asing di mata saya! Bisakah kalian menunjukkan identitas kalian?"


"Baik," menyodorkan map berwarna coklat yang berisi data diri Jayden dan Edhan yang telah di palsukan.


Margareth mulai membuka map itu dan membacanya. Sesekali wajahnya menatap sinis ke arah Jayden dan Edhan. Bibir seksi yang terbalut warna merah menyala itu pun terlihat menyeramkan di mata Jayden dan Edhan.


"Kalian mulai bekerja hari ini!"


Yessssss! teriak Jay dalam hati.


"Trima kasih, Margareth," ucap Edhan.


"Sama-sama. Kamu Elang 'kan?"


Edhan mengangguk.


"Kau sangat sopan. Saya suka sifatmu," puji Margareth.


Mendengar itu Jayden pun menunjuk dirinya dengan telunjuk. Ia berharap Margareth pun memuji dirinya seperti Edhan.


Wanita itu menatap Jayden dengan tajam. "Saya tidak suka melihatmu. Kau tampak lemah dan payah!"


Deg!


Seketika semangat Jayden surut. Sialan kau wanita tua! Untung saja aku dalam mode penyamaran. Jika tidak, sudah ku giling kau! Tapi boong! Hahaha! batin Jayden.


Margareth pun lebih heran dengan tingkah Jayden. Tentu saja, karena Jay senyum-senyum seperti sedang jatuh cinta. Padahal Jay sebenarnya sudah tidak sabar bertemu dengan Miley.


"Margareth, boleh aku bertanya?" tanya Jay.


"Silahkan."


"Apa di sini ada yang bernama nona Miley?"


Deg!


Margareth terbelalak. Ia menatap Jay dengan sorot mata yang tajam seperti ingin menerkam pria itu. "Siapa kau sebenarnya?!" celutuknya tiba-tiba.


Jayden langsung syok. Gilaaaa! Matanya serasa ingin keluar dari sana! Kenapa ekspresinya langsung kaget begitu?! Apa aku salah bertanya? Sial! Jangan sampai wanita dacjal ini mengetahui penyamaranku!


"Kenapa kau bisa tau nama itu?" tanya Margareth dengan nyaring.


"Aku ... aku ... "


"Kami tau dari Pak Satpam penjaga gerbang," sambung Edhan.


"Apa alasan dia memberitahu kalian?!"


"Kami bertanya, siapa-siapa yang menghuni di rumah ini," timpal Jayden. Peluhnya mulai menyucur deras di belakang punggungnya.


"Tak seharusnya dia memberitahu kalian!" lirih Margareth. "Baiklah, kalian jangan sampai menyebut nama itu di depan Nyonya besar! Mengerti?"


Dengan bingung, Jayden dan Edhan mengangguk.


Ada apa dengan nama itu? Batin Jay.


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.

__ADS_1


Follow ig @syutrikastivani


__ADS_2