Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pohon Mangga


__ADS_3

Tiga jam telah berlalu. Mark masih tak bergeming dari posisinya yang duduk sambil memeriksa tablet. Ia tahu apa yang dilakukan Tuan Mudanya di dalam sana. Ya! Apalagi kalau bukan mengunjungi tamu vvip-nya. Dan tiga jam bukanlah apa-apa bagi pria Casanova itu.


Ponsel Mark begetar. Ia meraihnya dari dalam saku setelannya dan menjawab panggilan telepon yang ternyata dari Zoey.


"Halo." tutur Mark.


Pria itu melonjak. "Nensi jatuh dari pohon?"


Setelah memberitahu berita penting itu, Zoey langsung mematikan sambungan telepon. Mark pun menjadi bingung. Tidak mungkin ia menganggu pergulatan Tuan dan Nyonya mudanya di dalam sana.


"Apa aku mengetuk pintu saja dan memberitahu Nyonya, jika neneknya di rumah sakit!" gerutu Mark yang tampak mondar-mandir di depan pintu. "Tidak tidak! Bisa-bisa Tuan membunuhku!" tambahnya lagi.


Setelah beberapa saat kemudian, pintu itu akhirnya terbuka. Dan benar saja, Mark sementara merapikan kemejanya, sedangkan Amey mengatur rambutnya yang terbongkar. Tak disadari Amey jika lehernya menyisakan banyak tanda berwarna merah yang dibuat Arsen di sana.


"Nyonya, aku memiliki berita penting untukmu," tutur Mark setelah Amey membuka pintu.


"Ada apa Mark?"


"Nensi kena azab!"


"Hah?!" Amey berkerut dahi. "Kena azab? Maksudmu?"


"Maksudku, Nensi masuk rumah sakit. Katanya jatuh dari pohon mangga."


Amey melonjak. "Astaga! Siapa yang memberitahumu?"


"Nona Muda baru saja menelponku beberapa menit yang lalu."


"Kalau begitu ayo langsung saja kita ke rumah sakit!" tuturnya pada Mark. "Sayang, sepertinya kita akan ke rumah sakit dulu," menatap Arsen yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin.


Arsen menghentikan aktivitasnya saat mendengar kata Rumah Sakit. "Memey! Apa kau kesakitan?" berlari mendapatkan Amey di depan pintu.


"Tidak-tidak. Bukan aku. Tapi Nenek!"


"Nensi?"


"Iya. Ayo Ars, kita ke rumah sakit. Aku takut Nenek kenapa-kenapa lagi."


"Baiklah. Tapi kenapa Nensi di sana?"


"Lagi main bola. Ya lagi sakitlah Sayang. Nenek jatuh dari pohon mangga."


"Gossshh! Sudah umuran tapi masih lincah. Kalau begitu ayo."


***


Dalam perjalanan, Amey sangat panik. Wajahnya tak secerah seperti yang sebelum-sebelumnya. Arsen yang meilihat kepanikan istrinya, hanya bisa mengelus lembut punggung Amey, dan sesekali memeluknya.


Tak lama kemudian tibalah mereka di rumah sakit. Ketiga orang itu menuju ruangan Soffy sesuai info dari pesan Whatapp Zoey. Mark membuka pintu, kemudian mempersilahkan Amey dan Arsen masuk.


Di dalam sana sudah berkumpul beberapa perawat dan dua orang dokter bersama dengan Zoey. Mereka tampak kawatir. Para medis itu seperti menggeledah ruangan itu karena sedang mencari sesuatu.


"Zoey?!" panggil Amey.


"Kakak Ipar!" memandangi Amey. "Kakak Ipar, gawat! Nenek kabur!"


"Hah? A--apa?!" Amey semakin panik. Ia melonjak kaget karena mendengar ucapan Zoey.

__ADS_1


"Aku hanya keluar sebentar memanggil dokter untuk segera menyuntik Nenek, karena Nenek tidak mau makan. Tapi setelah aku kembali bersama dokter, Nenek sudah tidak ada di atas ranjang," jelas Zoey.


"Astaga! Pantas saja Nenek kabur."


"Ada apa Kakak Ipar?"


"Nenek takut suntik. Melihat benda itu saja bisa membuat Nenek berkeringat hebat apalagi jarum itu memasuki kulit Nenek, bisa anfal Nenek."


"Oh begitu ya. Tapi Nenek ke mana sekarang. Aku sangat kawatir. Kalau tau begini lebih baik aku saja yang naik ke pohon mengambil layangan anak kecil yang tersangkut di sana."


"Jadi gara-gara itu sampai Nensi bisa naik pohon mangga? Aku kira karena ngidam buah mangga," ucap Arsen.


"Ihh Sayang! Seharusnya aku yang ngidam!'


"Hmm, kalau begitu ayo kita pulang," ajak Arsen.


"Pu--pulang? Kalau mau pulang kau saja! Aku mau mencari Nenek," tegas Amey.


"Memey, Nensi pasti sudah di mansion. Mungkin sedang asik minum kopi."


Amey meraih ponselnya di dalam tas dan memeriksa sesuatu di sana. Dan benar saja, Amey terkejut bukan main saat melihat postingan Facebook Soffy. "Kau benar Sayang," menunjukkan postingan Nensi.


"Ya! Apa ku bilang. Tapi kau masih saja meragukan kekuatan supranaturalku."


Amey memutar bola matanya malas. "Ya sudah ayo kita pulang! Postingan Nenek baru dua menit yang lalu. Pasti Nenek baru saja tiba di mansion."


Mereka semua memutuskan pulang. Zoey pun menajdi penasaran isi postingan Soffy. Pasalnya Nenek itu beberapa jam lalu sedang menjerit kesakitan karena mungkin salah satu tulang dalam tubuhnya ada yang patah.


Zoey membuka akun Facebook-nya dan melihat postingan Soffy. Ia pun melebarkan mata dan mulutnya karena melihat isi postingan itu yang di mana menunjukkan gambar diri Soffy layaknya mumi yang di bungkus kain putih diseantero tubuhnya.


"Astaga dragon! Kenapa seperti ini? Bukannya tadi tubuh Nenek tidak di pakai kain putih seperti ini? Kalau tidak salah hanya bokong Nenek saja yang kesakitan. Wajah tangan dan bagian lain perasaan tidak ada yang luka!" gerutu Zoey.


^^^'Soffy Imutzz Awet Muda'^^^


^^^Begini jadinya saat agen badan intelejen turun lapangan! Tapi tak apa demi NKRI, aku siap mati. Merdeka!!!^^^


***


(Tiga jam sebelumnya)


Cuaca siang itu tampak menggerahkan Soffy. Sedari tadi ia menunggu Zoey untuk selesai kelas, namun belum juga usai. Ia memutuskan untuk pergi ke kantin dekat kampus dan menikmati es cendol kesukaannya.


"Hik ... hik ... hik"


Suara anak kecil yang menangis membuat Soffy menghentikan kegiatannya. Ia mencari sumber suara anak kecil itu.


"Di mana suara anak kecil yang menangis itu?" gumam Soffy sambil matanya melirik ke sana kemari mencari sosok anak kecil itu.


Soffy memanglah wanita yang sangat perduli jika menyangkut anak kecil. Meski ia tidak kawin, tapi kehidupannya banyak dipenuhi dengan anak-anak kecil sewaktu ia bekerja di panti asuhan. Dan hal itu membuat Soffy sangat perhatian kepada anak kecil.


"Halo anak kecil," sapa Soffy lembut.


"Huaaaaaa .... hik hik hik!" Tangisan anak kecil itu lebih menjadi saat melihat sosok Nensi. Bagaimana tidak, Nensi lagi-lagi merias wajahnya layak personil kuburan band. Lipstik hitamnya membuat anak kecil itu ketakutan.


"Cupcupcup. Tenanglah little boy, jangan menangis. Aku bukan Chukky atau Annabelle yang kalian takuti. Aku Soffy, Nenek berhati malaikat yang tampangnya mirip Park Shin Hye," tutur Soffy sambil menyodorkan permen.


Anak laki-laki itu berdiam dan menerima permen cokelat dari Soffy. "Nenek tidak meracuniku 'kan?"

__ADS_1


"Eh, apa?"


"Kata Daddy, orang asing yang suka memberi permen kepada anak kecil, itu penjahat," ucap anak laki-laki itu dengan polos.


"Benar kata Daddy-mu. Tapi Nenek bukan penjahat," tersenyum hangat. "Terus kenapa kamu menangis? Dan kenapa anak kecil sepertimu berkeliaran di kampus orang dewasa?"


"Itu Nek, layangan aku nyangkut di sana," menunjuk ke arah pohon mangga.


"Wah, itu mah gampilpilpil!" menjentikkan kukunya. "Nenek akan mengambilkan layangan itu. Tapi kamu harus jawab pertanyaan Nenek."


Anak laki-laki itu mengangguk kegirangan.


"Siapa namamu? Berapa umurmu? Dan di mana orangtuamu?"


"Aku Henokh umur delapan tahun. Daddy-ku lagi di kelas. Lagi mengajar kakak-kakak."


"Ouhhhhh, jadi kamu anak dosen? Hmm, pantasan saja berkeliaran di kampus."


"Aku sudah menjawab pertanyaan Nenek. Ayo ambilkan mainanku di atas sana," rengek Henokh.


"Baiklah. Tunggu Di sini," tutir Soffy dan dibalas anggukan dari Henokh.


Soffy mulai melakukan peregangan otot. Setelah itu ia melepas sepatu botnya dan mulai memanjat pohon mangga yang tingginya kira-kira hanya dua meter saja. Soffy tersenyum semringah saat ia telah sampai pada tujuannya.


"Henokh, Nenek mendapatkan mainanmu."


"Yeeeehhhhh!" meloncat-loncat kegirangan.


"Henokhh!" teriak seorang pria.


Anak itu mengada ke sumber suara yang sangat dikenalnya. "Daddyyyyyyy!"


Soffy yang melihat pria yang memanggil anak kecil itu pun terbelalak. "Astaga dragon! Minho Oppa, adalah ayah dari anak kecil ini?"


Melihat yang bening-bening menyilaukan mata, membuat Soffy cepat-cepat turun dari pohon mangga yang tidak terlalu tinggi itu. Ia tidak mau melewatkan satu detik pun untuk memandangi pria bening bagai aktor Korea Selatan itu.


Karena terlalu tidak sabaran, kaki Soffy terkilir dan akhirnya ...


Brukkkkkk!


"Aduhhhh pantatku yang bahenol!" pekik Soffy.


"Ya ampun Nenek!" teriak Zoey yang ternyata berada di belakang Zain ayah Henokh.


"Nenek!" susul Henokh panik."Daddy, Nenek pirang ini yang mengambilkan mainanku yang tersangkut di atas sana."


Zoey langsung berlari mendapatkan Soffy. Begitu juga dengan Zain dan Henokh.


"Nenek, apa Nenek terluka? Maafkan anak saya yang memintamu mengambilkan layangan ini. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang menimpamu, Nek. Saya akan mengantarmu ke rumah sakit!" ucap Zain tak enak hati.


Soffy hanya termangu. Ia sedang mengagumi pria bening di depannya sambil mengangguk. Sebenarnya ia paling tak suka jika berada di rumah sakit karena takut di suntik. Tapi kali ini ia tak memperdulikan urusan itu. Yang penting si papa muda yang mengantarkannya.


"Nenek, sini ku bantu berdiri," tutur Zain mengangkat tubuh Soffy."


Bushyetttt! Tangannya begitu lembut bagai kapas. Aromanya bagai bunga lavender pada obat nyamuk baygon!


To be continued ...

__ADS_1


Dukung Author dengan memberikan Like, Komen, Vote dan Rate :*


Follow ig : @stivaniquinzel


__ADS_2