
(Beberapa saat sebelum Mark pulang)
"Nek, sudah hentikan!" menahan gelas kecil yang sudah dituangkan alkohol.
"Jangan melarangku anak nakal!" teriak Doris.
"Nenek ada masalah hidup apa sih? Kok jadi begini?" tanya Jen yang mulai khawatir.
"Nenek galau!"
"Kenapa Nenek galau?" tanya Jen.
"Kau tau Jeni, si Kakek yang tinggal di rusun sebelah udah pindah. Anak-anaknya mengajak Kakek itu keluar negeri!"
"Maksud Nenek, Kakek Jamil yang biasa nongkrong di koskosan?" tanya Jen memastikan.
"Albert! Namanya Albert Jamiludin!"
"Sama saja kali Nek! Kakek Jamil atau apalah namanya, bodo amat! Trus Ngapain juga Nenek mabuk-mabukan. Kayak anak muda saja!"
"Nenek galau! Pokoknya Nenek mau mabuk aja! Hik ... hik ... hik!"
Jenifer hanya bisa menggelengkan kepala sambil menepuk jidatnya.
Doris memakan semua cemilan. Kemasan-kemasannya pun berjatuhan di mana-mana. Sisa-sisa makanan dibiarkan Doris jatuh di lantai. Beberapa botol anggur merah beserta soju tampak terbolengkar di atas meja. Saat itu Doris mabuk berat.
"Nenek sini aku bantu," merangkul Doris menuju ke kamar.
"Aku nggak mau tidur! Aku mau Albert!" teriak Doris.
Nenek-nenek kalau galau bisa juga ya kayak anak muda! Uhhh Kakek Jamil, kau membuat Nenekku berantakan!
Jen mengangkat tubuh Doris dan membawanya ke kamar tamu. Badan Doris yang begitu berat melangkah ke sana kemari. Jen sampai terjatuh karena harus menopang tubuh Doris yang berat.
"Istriku!!" teriak seorang pria.
Jenifer membersarkan maniknya saat mendengar suara yang tak asing itu. "Tu--tuan Mark?! Mati aku! Belum sempat merapihkan apartemennya ehh udah pulang aja tu orang!"
Jen mempercepat langkahnya dan membaringkan Doris yang sudah tak sadarkan diri ke atas ranjang. Ia berlari menuju sumber suara Mark dengan langkah pontang-panting.
"Sa--sayang kau su--"
"Istriku, apa kau tidak apa-apa?" memeluk Jenifer dan mengecup keningnya berulang kali.
"Aku tidak apa-apa Mark. Seharusnya aku yang bertanya? Apa yang terjadi padamu? Ke--kenapa tiba-tiba kau ..."
"Aku menghawatirkanmu, Jen. Saat aku pulang aku melihat tempat ini telah amburadul."
Jen tersenyum kecil. Ia langsung memundurkan langkah kakinya dan menjauh dari dekapan Mark. Jen menggaruk tengkuk lehernya dan berusaha mengatakan sesuatu atas kekacauan yang terjadi. "Aku ... aku minta maaf, Mark."
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Mark dengan lembut.
"Tadi Nenekku mampir kemari dan dia ..." menunjuk beberapa botol di atas meja.
"Ada apa dengan Nensi Part Dua? Apa dia mabuk?" tanya Mark mengangkat kening sebelahnya.
"Pacarnya pergi meninggalkannya. Makanya dia kemari dan curhat ke aku. Tapi aku salah karena telah memberinya alkohol."
Mark mendengarkan ucapan istrinya dengan baik. Ia pun memeluknya kembali. "Kau tau, jantungku hampir berhenti saat melihat kekacauan ini. Aku pikir kau telah disakiti!"
"Maafkan aku Suamiku."
Mark mengecup kening Jenifer dengan lembut. "Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kita urus Nenekmu. Jangan sampai sakit," membelai rambut Jenifer.
"Trima kasih Sayang," tersenyum kecil sembari membalas pelukan hangat dari Mark.
"Kalau begitu, maukah kau melanjutkan permainannya?" tanya Mark dengan tatapan menggoda penuh dengan sensasi.
Jenifer terlihat malu. Namun matanya tak dapat berbohong jika ia juga sangat menikmati permainan Mark. "Sayang, sebenarnya punyaku masih sangat sakit," lirih Jen malu-malu.
"Ya sudah aku tidak akan memaksamu, Jen. Katakan padaku jika dia telah sembuh. Maka kita akan melanjutkan permainannya."
Jen menahan lengan Mark dan menatap pria itu dengan lekat. "Aku tidak apa-apa, Mark. Bukankah tugas seorang istri untuk melayani suaminya?"
Deg!
Jen menelan salivanya. What?! Bisa-bisa aku di rawat seumur hidup di rumah sakit!
***
"Hufthhh!! Sangat-sangat tidak nyaman!" gerutu seorang wanita yang sedang duduk memainkan tabletnya.
"Nyonya Muda, apa Nyonya ingin saya berhenti sejenak untuk istirahat?" tanya seorang pria berbadan atletis yang sedang memutar kemudi.
"Boleh," ucap Amey.
Siang itu Amey sedang melakukan perjalanan bisnis ke kota A. Butuh waktu sekitar delapan jam untuk tiba di sana. Di kota itu terdapat beberapa kecamatan terpencil yang bahkan tidak terlalu di kenal masyarakat pada umumnya. Amey bersama dengan rekan-rekan bisnisnya menjalankan proyek baru di kota tersebut. Mereka sedang mendirikan perusahaan cabang Alganda Group di bawah naungan WS Group.
Amey sebagai Direktur Alganda Group mengutus dirinya sendiri untuk memantau langsung perkembangan dari pembangunan proyek baru itu. Awalnya Arsen tidak mengizinkan Amey untuk pergi sendirian. Namun karena ibu dari keempat Ed merupakan wanita yang keras kepala dan independen makanya Arsen mengiyakannya dengan syarat, bahwa Amey harus di kawal beberapa pengawal terbaik pilihan Tuan Muda Arsen Winston.
"Pak, kita berhenti saja di sini. Sepertinya tempat ini bagus," pinta Amey.
"Baik, Nyonya."
Pak Sopir itu pun menepikan mobilnya, diikuti dengan beberapa mobil pengawal yang berjejer rapih di belakang mobil Amey.
Amey turun dari dalam mobil sembari menghela napasnya panjang. Ia merenggangkan otot-ototnya yang mulai keram karena sudah beberapa jam ia duduk dalam perjalanan.
Amey sengaja menyuruh Pak Sopir untuk menghentikan mobil itu di tepi pantai. Pantai itu sangat indah dan memiliki warna yang biru jernih. Dari kejauhan tampak derai ombak yang berlarian menyapu batu karang. Hempasan angin diikuti dengan bunyi suara ombak terasa begitu teduh dan menenangkan.
__ADS_1
"Nyonya, jangan pergi jauh-jauh. Kami harus menjamin keselamatan Nyonya. Ini adalah perintah Tuan Muda," ucap seorang pria berotot.
"Tenang saja. Aku tidak akan hilang. Lagipula siapa yang berani menculikku? Apa kurang cukup pengawal yang di utus suamiku untuk menghabisi para penculik? Hahah!" tukas Amey terkekeh.
Pria itu hanya menunduk kecil tanpa bersuara. Wajah para pria itu sangat menakutkan. Mereka merupakan mantan kopasus yang telah dipekerjakan Arsen. Mereka rela keluar dari unit mereka karena bayaran Arsen yang lebih menggiurkan.
"Apa kalian sudah lapar?" tanya Amey.
"Tidak Nyonya," ucap pria-pria itu dengan serentak.
Amey mengangguk pelan dan berjalan meninggalkan para pengawal itu. Amey melepas heels-nya serta menggulung celana bagian bawah. Ia melangkahkan kakinya menuju pasir pantai yang berwarna putih itu. Melihat Amey seperti itu membuat para pengawal berlari dan stand by di posisi mereka masing-masing.
Amey terkejut bukan kepalang. Ia menatap beberapa pria itu dengan terheran-heran. Bagaimana tidak posisi mereka bagaikan di medan perang yang harus membentuk formasi untuk melindungi sesuatu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Amey penasaran.
"Kami hanya bersiaga Nyonya," ucap salah seorang pria berseragam hitam.
"Jangan lebay deh. Haha! Aku tidak apa-apa. Malahan aku merasa tidak nyaman karena perlakuan kalian!"
"Maaf Nyonya. Tapi kami hanya menjalankan perintah saja. Nyawa Nyonya adalah segala-galanya bagi kami. Jika Nyonya terluka sedikitpun maka kami harus menebus dengan nyawa kami!"
Deg!
"Peftt-bwhahaha!" gelak tawa Amey menggelegar. Ia merasa lucu mendengar ucapan pria garang itu. "Apa kalian pikir aku istri presiden? Atau istri Raja di kerajaan Majapahit?! Hahaha!"
Ketujuh pria itu tidak bergeming. Seperti biasanya mereka hanya mendengarkan Amey dengan raut wajah datar dan tegas. Dan itu benar-benar menakutkan.
"Arsen, Arsen! Ada-ada saja kamu!" gumam Amey menggeleng kepalanya.
***
Seorang pria menekan pedal gasnya dengan sangat kuat. Jarum kecepatan bergerak dan hampir kandas pada angka terakhir. Ini menandakan jika pria itu melajukan mobilnya di atas kecapatan rata-rata.
"Sialan!!" pekik Arsen.
Ia kembali mengecek ponselnya yang sudah tidak memiliki jaringan. Arsen tampak emosi karena sudah berjam-jam dalam perjalanan namun ia tidak bisa menyusul Amey. Meskipun ia telah menugaskan beberapa pengawal terbaik untuk bersama Amey, namun perasaannya masih saja tak tenang.
"Kota macam apa itu?! Tidak ada jaringan, terpencil, kumuh pula! Bisa-bisanya Memeyku mendirikan perusahaan cabang di sana! Kalau saja di sana ada tempat untuk mendaratkan pesawat sudah lama aku menyusulnya menggunakan pesawat pribadi! Sepertinya aku juga akan mendirikan proyek baru di sana. Di sana harus ada airport! Demi Memeyku aku akan membangun bandara!"
To be continued ...
.
.
.
follow ig : @syutrikastivani
__ADS_1