
Seorang pria yang sedang asik bermain dengan istrinya tiba-tiba merasa kesal. Sedari tadi gawainya berdering dengan sangat kuat. Arsen menghiraukan bunyi telepon genggamnya dan kembali fokus mengeluar-masukkan belut raksasanya ke dalam terowongan gelap.
Beberapa saat kemudian gawai Amey yang berdering. Arsen semakin jengkel, ia pun naik pitam karena ada-ada saja hal yang mengganggu dirinya saat bercocok tanam.
“Sayang, maafkan aku. Sepertinya aku harus menjawab panggilan telepon itu,” tutur Amey.
“Tidak boleh. Sedikit lagi aku akan mencapai puncak!”
“Sayang, jangan sampai kau menyesal karena tidak menjawab panggilan telepon itu!”
“Aku tidak akan menyesal! Jika kau mengangkatnya, aku akan membunuh penelepon itu!”
Amey mendesis pelan. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia juga tidak ingin mengambil risiko. Karena ia sangat paham bagaimana sifat Arsen.
Telepon terus berdering. Bukan hanya gawainya saja, melainkan telepon rumah pun berdering.
“Arghhhhhh! F*ck!!” teriak Arsen, geram. “Angkatlah! Tapi awas saja kalau tidak penting. Aku bunuh mala mini juga!”
Mendengar ucapan Arsen, membuat jantung Amey berdegup kencang. Ia langsung mengangkat panggilan telepon itu. “Ha—"
“Nyonya Muda!! Jen pingsan!” teriak seseorang dari balik telepon.
“What? Kenapa bisa?” tanya Amey panik.
Mendengar istrinya mulai panik, membuat Arsen langsung merebut ponsel itu dari tangan Amey. “What’s wrong?!”
“Tuan Muda, apa yang harus aku lakukan? Sekretaris Jen tiba-tiba tak sadarkan diri,” ucap Mark terengah-engah.
“Apa kau membunuhnya di malam pertama?”
“Tidak, Tuan. Aku saja belum memasukkan si Siluman Ularku!” ucap Mark dengan polos.
“Hahahaha!” Gelak tawa Amey pecah saat mendengar ucapan Mark. “Ada-ada saja kau, Mark.”
“Tuan dan Nyonya, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau Jeni meninggal? Aku akan menjadi Duda!”
“Jangan lebay kau!” tukas Arsen.
“Tenang saja Mark. Jeni akan baik-baik saja. Mungkin dia hanya terkejut saat melihat Siluman Ularmu. Hahaha!” tutur Amey.
Sialan! Aku jadi penasaran seberapa besar, kuat dan perkasanya si Johny milik Mark! Tidak! Aku tidak boleh insecure. Belut raksasaku di atas segala-galanya. Aku tidak boleh kalah saing! Ucap Arsen dalam hati.
“Kau tunggu saja, Mark. Sebentar lagi Jenifer akan sadar. Ohya, sepertinya kau harus menunggu. Tahan dulu hasratmu. Karena ada kemungkinan Jenifer masih trauma.”
“Trima kasih, Nyonya Muda.”
“Sama-sama Mark.”
Amey mematikan panggilan teleponnya.
“Sayang, ada apa?” tanya Amey yang mendapati Arsen terdiam dengan wajah yang datar.
“Tidak apa-apa.”
***
Fajar telah menyingsing, cuaca pagi itu begitu cerah. Seorang pria berbadan atletis tampak sibuk menyiapkan sesuatu di dapur. Hampir dua jam Mark menyiapkan sarapan untuknya dan istri tercintanya. Sementara Mark sibuk meletakkan sarapan di atas meja makan, tiba-tiba seorang wanita keluar dari dalam kamarnya.
“Huayemmm.” Jen merenggangkan otot-ototnya dan menyeka cairan bening yang memenuhi pipi kanannya.
Mark memandang Jen dengan tatapan yang penuh arti. Ia tersenyum tipis dan kembali melanjutkan aktivitasnya meletakkan sebuah mangkuk di atas meja makan. “Apa tidurmu nyenyak?”
__ADS_1
Jen terperanjat mendengar suara berat milik Mark. Matanya yang tadinya sayu kini melebar. “Suara siapa itu?” gumamnya kaget. Ia melihat pria yang berdiri di sebelah meja dengan tatapan yang masih buram. Jen mengucek matanya berkali-kali. “Tuan Mark? Tidak! Aku mungkin sedang berkhayal,” mengucek matanya lagi.
Mark yang melihat tingkah konyol istrinya pun terkekeh pelan. Ia kemudian menghampiri Jen yang mengenakan pakaian seksi. “Istriku?” bisik Mark.
Deg!
Seketika Jen sadar jika dirinya telah menikah. “Astaga?!”
“Ada apa?” tanya Mark memegang bahu Jen.
Wanita itu melotot dan memegang pipinya yang tampak mengeluarkan rona merah akibat menahan malu. “Tuan … jangan mendekat!” mendorong Mark, pelan.
“Kenapa?” tanya Mark lagi dengan heran.
Jen dengan segera merapikan rambutnya yang amburadul serta menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya. Pakaian Jen sangat seksi. Lingerie yang di kenakan Jen berwarna merah transparan dan panjangnya hanya sampai di paha saja. Pakaian itu dengan jelas menampilkan bagian atas dan bagian bawah Jenifer.
“Mark tutup matamu. Aku malu!” tukas Jen.
Mark terkekeh. “Sayang, kau tak perlu malu. Aku adalah suamimu. Dan aku sudah melihat luar dan dalam tubuhmu.”
“What? Ba—bagaimana bisa?”
“Kau lupa dengan apa yang kita lakukan semalam?” goda Mark sembari mendekat ke arah Jenifer.
“Aku …” kembali mengingat kejadian tadi malam. “Seingatku, aku …” ucapan Jen terhenti karena ia telah mengingat semuanya. “Apa kita telah melakukannya?” lirih Jenifer dengan malu.
Mark mengangguk pelan dengan seringai menggoda di wajahnya.
“Jadi, waktu aku pingsan, kau telah menunggangiku?” tanya Jen lagi dengan eskpresi yang sangat penasaran.
“HAHAHA!” Mark terbahak. “Kau hampir membuat jantungku keluar dari dalam sini,” menunjuk dadanya. “Katakan padaku kenapa kau pingsan?”
Mark hanya menggunakan kaus berwarna putih tipis dan celana boxer. Bagian atas menampilan kedua benda kecil berbentuk kelereng serta beberapa kotak di bagian perutnya. “Kau takut padanya?” menunjuk benda yang menonjol di bawah sana dengan matanya.
“Ti-tidak!” menggeleng kepala.
“Begitukah?” tersenyum licik. Mark mendekat dan berbisik tepat di telinga kanan Jenifer.
“Hentikan Mark,” lirih Jen.
Mark Mendekap Jenifer dengan erat serta mencium keningnya. “Aku belum menunggangimu tadi malam karena kau telah pingsan terlebih dahulu. Kau membuatku khawatir Sayang. Apa kau tau? Nyawaku menjadi taruhan karena menelepon Tuan Muda dan Nyonya Muda.”
“Kenapa kau menelepon mereka?”
“Aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk padamu,” bisik Mark lagi dengan nada yang menggoda.
Sifat kaku Mark kini telah hilang. Di mata Jenifer, pria bule dingin itu telah menjadi hangat dan perhatian. Jen tersenyum Bahagia dan membalas pelukan Mark.
“Sebenarnya, aku takut melihat benda itu. Sangat-sangat besar, berotot dan tampak kuat,” ucap Jen masih dengan wajah yang memerah bagai tomat.
“Jangan takut Sayang. Tampaknya saja yang mengerikan. Tapi aku jamin, setelah dia bertemu dengan goanya, maka rasanya akan terasa nikmat,” goda Mark lagi.
Plakkk!
Jen memukul dada Mark. “Apa sih kamu?! Ngaku deh, sudah berapa wanita yang kamu tiduri?!" Tanya Jen dengan jengkel.
“Aku bersumpah. Aku belum pernah menyentuh wanita manapun. Aku memang telah menikah tapi aku belum pernah tidur dengan mantan istriku karena dia telah meninggal setelah pernikahanku,” tutur Mark.
“Lalu bagaimana dengan Sekretaris Eggie?”
“Sekretaris Eggie dulunya adalah wanita yang sangat baik, pintar dan berwibawa. Dia tidak dengan muda memberikan tubuhnya kepada lelaki yang belum tentu menjadi suaminya. Bahkan aku pun tidak diijinkannya menyentuh tubuhnya.”
__ADS_1
“Tapi kalau dia wanita yang baik, pintar dan berwibawa kenapa dia memberikan tubuhnya kepada Tuan Rion Collin? Malahan dia berkhianat padamu dan Tuan Arsen!”
“Semua orang bisa berubah. Tergantung dengan keadaan yang mereka alami.”
Jen mengangguk menyetujui ucapan Mark. “Sekarang aku tidak ragu memberikan tubuhku sepenuhnya untuk suamiku.”
Mark tersenyum. Ia langsung menggendong tubuh Jenifer dan membawanya ke atas ranjang. "Kalau bisa pagi, kenapa harus malam?" mengedipkan matanya.
"Malu ah!" gumam Jen menutup mata dengan kedua tangannya.
Setibanya di kamar, Mark meletakkan tubuh Jen di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Sentuhan lembut bibir Mark mampu mendiamkan rontahan Jenifer. Ia hanya menuruti permainan Mark. Meski belum berpengalaman tetapi pria itu terlihat profesional.
"Markkkk!" desis Jen.
"Iya Sayang?"
"Aku takut."
"Tenang saja. Aku akan berhati-hati, supaya kau tidak kesakitan."
Mark melepaskan seluruh pakaiannya sehingga tak ada satu pun benang yang tersisa membaluti tubuhnya. Ia kemudian beralih melepaskan lingerie yang dikenakan Jenifer.
"Aku malu," bisik Jen.
"Tidak apa-apa. Bukalah matamu. Setelah ini kau akan terbiasa," ucap Mark, menatap wajah Jen dengan seksama.
Jen membuka matanya secara perlahan. Ia pun mendapati pemandangan yang amat elok di depan matanya. Tubuh yang kekar, lengan berotot, perut yang memiliki potongan bagai roti sobek dan tak hanya itu, ia pun melihat terong raksasa yang bergelantung di bawah pusar Mark. Pemandangan itu begitu jelas dan nyata. Jen tidak mengedipkan matanya sedikitpun. "Goshhhhh!" ucap Jen dengan mulut menganga.
"Aku harap kau tidak pingsan lagi," ucap Mark tersenyum licik.
Jen membisu. Ia hanya bisa menelan salivanya dan pasrah akan keadaan. Mark pun memulai aksi pemantapannya dengan menyentuh bagian-bagian terlarang milik Jen.
"Ssshhhhh!" desah Jen.
Tubuh Mark menerima gejolak yang amat dahsyat. Ia seakan tak sabar untuk memasukkan terong raksasa itu ke dalam terowongan gelap Jen. Tapi seketika ia sadar jika ini merupakan permulaan bagi keduanya. Apalagi Jen, ia terlihat sangat takut sehingga tubuhnya gemetar.
Mark menatap goa Jenifer yang tak berpenghuni. Pinggiran goa itu bersih dan tak berumput. Ia pun mulai merabah pinggiran goa itu secara perlahan. Setelah itu ia pun mulai menyentuh benda kecil yang berbentuk kacang sehingga membuat Jen mengeluarkan suara disertai dengan napas membara.
"Ahhhh!" Jen meremas lengan Mark dengan sangat kuat.
Pria itu langsung mengarahkan Siluman Ular yang berkedok terong raksasa tepat di depan mulut goa gelap Jen. "Bertahanlah sayang, rasa sakit hanya sebentar."
Jen mengangguk.
Mark masih menunggu waktu yang pas untuk membuka terowongan yang masih disegel itu. Tak lama kemudian ...
"Markkkk! Arghhhh! Perihhh!" jerit Jenifer menahan sakit.
"Iya Sayang. Tinggal sedikit lagi dia akan masuk sepenuhnya."
Jen hanya bisa pasrah. Terong itu sangat besar dan berotot. Mirip seperti Belut Raksasa punya Arsen. Hanya saja milik Mark lebih menggoda karena Jenifer wanita pertama yang menyicipnya.
To be continued ...
.
.
.
Follow ig : @syutrikastivani
__ADS_1