
Di sebuah gedung pencakar langit terpampang sebuah logo yang sangat besar berinisial W dan S sebagai lambang kepemilikan dari keluarga Winston. Langit yang cerah berwarna biru seolah mempertajam betapa kokohnya gedung tinggi itu yang menjulang ke atas melebihi bangunan lainnya.
Di ruangan rapat, seorang wanita bertubuh tinggi berambut coklat panjang terurai ke belakang sedang melakukan presentasi di depan pemimpin utama perusahan itu yang tak lain adalah Arsen Winston.
Wanita itu adalah karyawan tetap yang berasal dari New York. Ia dipindahtugaskan oleh Arsen ke Indonesia dari mantan perusahaan induk yang saat ini dikepalai oleh Michael.
Terlihat wanita bule itu sedang memaparkan presentasinya melalui slide. Ia menampilkan berbagai macam produk kecantikan yang akan menjadi sponsor dari WS Group.
Wanita itu sangat cantik, seksi dan mempesona, tak heran semua petinggi perusahaan gagal fokus sehingga tidak lagi memperhatikan ucapan wanita bule itu. Tak hanya cantik dan seksi, ia juga sangat cerdas dan fasih menggunakan bahasa Indonesia.
Di ruangan itu para pria muda maupun tua sangat mengagumi wanita itu. Wajah yang cantik, hidung mancung, bibir tipis, body bahenol mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Kecuali Arsen.
Pria itu sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya pada wanita itu. Di mata Arsen wanita yang berdiri di depannya itu biasa saja. Mungkin karena Arsen sering melihatnya saat bekerja waktu di New York.
Pikiran Arsen saat ini tertuju pada satu wanita saja. Ia menjadi tidak fokus dalam mendengarkan presentasi bukan karena wanita bule itu, melainkan merasa kawatir dengan keadaan istrinya yang sedang berada di rumah.
Mark menatap Arsen yang terlihat tidak fokus mendengarkan presentasi dari wanita itu. Ia mencoba menyadarkan Arsen dari lamunannya namun Arsen tidak memperdulikan deheman yang dibuat Mark sedari tadi.
Tiba-tiba Arsen berdiri dari duduknya sehingga membuat wanita itu menghentikan presentasinya. Semua orang yang ada di ruangan itu memandangi Arsen dengan tatapan bingung. Sedangkan wanita itu terlihat panik karena pikirnya si Bos tidak menyukai hasil presentasinya.
"Pertemuannya cukup sampai di sini. Saya memiliki urusan yang sangat penting. Eggie, kirimkan file itu di email saya," tutur Arsen meninggalkan ruangan itu.
"Baik, Pak." ucap Eggie menunduk.
Semua yang menghadiri pertemuan, beranjak dari duduk mereka dan memberi hormat saat Arsen berlalu dari ruangan rapat itu. Tidak ada yang berani mengganggu gugat saat sang Bos sudah mengeluarkan titahnya.
Mark berkerut dahi saat Arsen tiba-tiba meninggalkan rapat. Selama Mark bekerja dengan Arsen, baru kali itu ia melihat Bosnya yang tidak fokus mendengarkan presentasi karyawan. Apalagi saat Arsen pergi meninggalkan ruangan itu tanpa alasan yang jelas.
"Setahuku, Tuan tidak memiliki pertemuan lain selain presentasi siang ini," gumam Mark.
Dengan penuh tanda tanya, Mark mengikuti langkah Arsen yang cepat menuju tempat parkir mobil. Ia bahkan setengah berlari karena menyesuaikan langkahnya dengan langkah Arsen.
"Mark, ayo cepat!" perintah Arsen.
"Iya, Tuan."
Mark membukakan pintu mobil untuk Bosnya.
Wajah Arsen terlihat gelisah. Sesekali ia melihat layar ponselnya yang tidak memiliki notifikasi apapun. Ia menggeram jengkel, karena tak kunjung menerima telepon ataupun pesan dari Amey.
"Tuan? Apa Tuan memiliki pertemuan penting yang tidak termasuk dalam jadwal?" tanya Mark.
"Hmmm."
"Ke mana tujuan kita, Tuan?"
"Mansion."
__ADS_1
"Ma--mansion? Apa Tuan melupakan sesuatu?"
"Tidak."
"Lalu mengapa kita pulang?" melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul sebelas siang.
"Diamlah dan jangan banyak tanya!"
Mark mengangguk paham.
***
Desiran angin di siang bolong bersamaan dengan teriknya sang surya tidak membuat wanita yang menyandang status sebagai Nyonya Winston itu terganggu. Ia menikmati udara sejuk yang menembus pori-porinya dengan senyum lebar di bibirnya.
Taman yang indah dan luas dipenuhi dengan berbagai macam bunga, terlihat begitu cantik di siang hari. Amey berteduh di sebuah gazebo dekat taman. Dan dibawah tempat duduknya yang hanya dibatasi sebuah kaca bening terdapat sebuah kolam ikan yang menampilkan berbagai macam ikan hias.
"Aku baru tahu kalau di rumah ini ada tempat yang sangat bagus seperti ini," gumam Amey.
Seorang pelayan membawakan berbagai macam buah-buahan segar dan jus melon kesukaan Amey. Olin meletakkan nampan itu di atas meja dengan penuh kehati-hatian.
"Namamu Olin, bukan?" tanya Amey.
"Iya Nyonya, nama saya Olin," ucap Olin sopan.
"Trima kasih telah mengajakku kemari, dan trima kasih juga atas cemilannya."
"Sama-sama Nyonya."
"Tidak apa-apa Nyonya, saya bisa berdiri di sini."
"Ini perintah Olin!" menaikkan nadanya.
Dengan segera wanita yang seumuran dengan Amey itu mendudukkan tubuhnya di samping Nyonya Mudanya.
"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?"
"Belum lama Nyonya, sekitar delapan bulan yang lalu."
"Wow, itu sudah cukup lama."
Olin menunduk malu. Matanya menjeling ke kiri dan kanan, memastikan jika ia tidak dilihat teman-teman pelayannya. Apalagi kalau sampai Elis tahu, pastilah ia akan mendapat hukuman.
"Aku mencarimu ke mana-mana ternyata kau ada di sini," ucap Arsen tiba-tiba.
Olin terkejut bukan main, ia segera beranjak dari duduknya dan membungkuk saat mendengar suara Arsen dari arah belakang.
"Arsen? Apa kau melupakan sesuatu?" tanya Amey menatap pria itu.
__ADS_1
"Tidak penting menanyakan itu," Arsen melihat tubuh Amey yang tidak menggunakan kursi roda. "Apa kau sudah bisa berjalan?" tanyanya dengan wajah penuh harap.
Amey menggeleng pelan.
Tergambar lekuk kekecewaan dari wajah Arsen. Ahhh sial! Berarti aku belum bisa menagih jatahku, kalau dia belum pulih! ucap Arsen dalam hati.
"Olin yang membantuku ke sini."
Arsen memandangi Olin, dan setelah itu ia mendudukkan badannya di samping Amey. "Kenapa tidak menghubungiku?"
"Aku takut kalau nantinya aku hanya akan mengganggu pekerjaanmu."
"Sama sekali tidak."
Amey terperanjat saat Arsen tiba-tiba mengendus lehernya.
"Eh, a--ada apa? Apa aku bau?" tanya Amey.
"Tidak. Kau wangi, aku suka aromamu," tutur Arsen kembali mencium leher Amey.
Olin yang sempat menyaksikan tingkah Arsen langsung menundukkan kembali kepalanya. Amey yang masih sadar akan kehadiran Olin, merasa malu. "Ars, apa yang kau lakukan?" bisik Amey seraya melemparkan pandangannya ke arah Olin.
Arsen memijat keningnya. Ia paham jika Amey malu dilihat pelayannya. "Hey, kau! Apa kau akan terus-terusan berdiri di sini dan melihat aku dan istriku bercinta?" tukas Arsen tajam.
Apa? Bercinta? Ba--bagaimana bisa dia berkata terus terang di depan Olin?
"Maafkan saya Tuan, saya akan kembali ke dapur." Olin menunduk dan langsung berlari meninggalkan tempat itu.
Jantung Olin hampir lepas saat melihat tingkah agresif Tuannya. Apalagi saat kalimat pedas dan tajam yang begitu saja keluar dari bibir Arsen.
"Ars, kenapa kau ..."
Belum saja Amey meneruskan ucapannya, Arsen telah mendaratkan kecupan lembut di bibir istrinya. Amey memerah, ia menunduk malu saat menerima ciuman mendadak dari Arsen.
"Apa kau mau ke kamar?" tanya Arsen.
"Tidak! Eh, maksudku, aku masih ingin di sini."
"Atau, kau mau kita melakukannya di sini?"
Amey menelan salivanya kasar. Gosshh! Melakukan ... di tempat terbuka seperti ini?
Arsen mengangkat tubuh Amey tiba-tiba. Ia mnggendongnya dan berjalan meninggalkan taman belakang itu.
"Arsen, turunkan aku. Aku malu dilihat pelayan-pelayan rumah."
"Kenapa harus malu? Kau adalah istriku, dan aku adalah suamimu."
__ADS_1
To be continued ...
Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘