Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Rencana Konyol


__ADS_3

(Percakapan di telepon)


"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Arsen.


"Belum, Tuan."


"Sial! Kau harus menemukannya dengan cepat. Kau tau 'kan dokumen itu sangat penting!"


"Baik Tuan. Tapi anehnya, aku sudah mencari di tempat biasa dokumen itu diletakkan, namun nihil."


"Apa kau sudah menghubungi Eggie?"


"Sudah Tuan, tapi nomornya sudah tidak aktif."


Arsen seketika hening.


"Tuannnn, aku sudah selesai berganti pakaian, kalau kau mau masuk, silahkan!" teriak seorang perempuan yang tak lain adalah Jen.


Mendengar latar belakang suara itu, Arsen terkejut. "Mark, suara siapa itu?" tanya Arsen.


Mark seketika terdiam. Ia tampak gugup karena takut Arsen mengetahui jika Jen ada bersamanya di apartemen. Jika bosnya tau, pastilah ia akan diolok-olok setengah mati oleh Arsen. "Ehmm, itu Tuan ... "


"Jangan bilang kalau itu kucing liar lagi! Kau tak pandai berbohong, Mark! Aku jelas-jelas mendengar jika itu suara perempuan!"


Deg!


Jantung Mark berdetak kencang. Telak Arsen membuat pria itu berkeringat dingin. Tak ada lagi alasan bagi dirinya untuk mengelak. Karena Arsen tak bisa dibohongi, apalagi hal-hal yang berkaitan dengan wanita.


"Halo? Tuan? Aku tidak bisa mendengar suaramu! Halo ..."


"Berhenti berbohong, Jodi sialan! Aku tau kalau kau dengan jelas mendengar ucapanku!"


Mark masih berdiam sembari mengepalkan tangannya. Sungguh memalukan! Apakah benar ini dirimu, Mark?! Aku rasa tidak lagi! batin Mark.


"Baiklah, Mark. Bersenang-senanglah dengan Garfield. Aku mendukungmu! Jika kau perlu jurus atau gaya keren agar Garfield betah dengan permainanmu, jangan sungkan untuk mengabariku. Aku siap dua puluh empat jam untukmu! Hahah!" ucap Arsen terbahak.


"Tuan? Aku tidak paham maksudmu," tutur Mark pura-pura bodoh.


"Sangat disayangkan, Mark yang ku kenal kini menjadi bodoh dan bencong! Hahah!" ledek Arsen."Berhentilah pura-pura polos Mark. Ingat! Kau sudah tua! Sangat memalukan jika pria tampan dan gagah sepertimu tidak memiliki pengalaman di ranjang!"


Tubuh Mark seketika lemas. Ucapan Arsen memang mengena tepat di hatinya. Tak bisa dipungkiri lagi, pria seperti Mark dengan umur yang sudah matang, sama sekali belum pernah membuka segel.


Menjadi pria baik dan pria fuckboy ternyata sama saja! Selalu disalahkan! ucap Mark dalam hati.


"Sudahlah Mark. Sebagai atasan dan sekaligus sahabat yang baik untukmu, aku akan mengirimkan beberapa gambar yang bisa kau tiru untuk melakukan tinju dua belas ronde di atas ring."


Tak menunggu ucapan Mark, Arsen langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Tuan? Siapa yang menghubungimu?" tanya Jen. yang baru saja menghampiri Mark di ruangan tamu.


"Jurus atau gaya keren? Ti--tinju dua belas ronde di atas ring?!" lirih Mark tak bertenaga.


Jen mengernyitkan keningnya. Ia tak paham dengan ucapan Mark. Gadis itu menggoncangkan tubuh Mark agar lamunannya buyar. "Tuan sadarlah!"


Melihat wajah Jen, sontak pria itu melonjak kaget. Pikiran kotor mulai menggerogoti benaknya. Ia berusaha menghilangkan pikiran itu. Tingkahnya pun menjadi aneh. "Tidak! Jangan sampai!" menggelengkan kepalanya sembari mendudukkan badannya yang lemas di atas sofa.


"Apa yang terjadi denganmu, Tuan?!"


"Jangan menyentuhku!"


"Baiklah." Dasar pria aneh! Batin Jen.


Jenifer melangkahkan kakinya dan berjalan menjauh dari hadapan Mark, namun karena kecerobohonnya itu, akhirnya kakinya terkilir.


Bukkk!


Tubuh Jen terjatuh di atas pangkuan Mark. Seketika mata Mark terbelalak. Jen pun tak kalah terkejutnya dengan pria yang ditindihnya itu. Detak jantung keduanya beradu kencang. Situasi saat itu sangat menegangkan bagi Mark dan Jen. Apalagi saat mata keduanya saling bertatap lekat dan hanya berjarak beberapa senti saja.

__ADS_1


Perasaan ini? Sudah lama aku tidak merasakannya!


Iblis yang sungguh tampan!


Cukup lama kedua orang itu saling beratapa. Sehingga lama-kelamaan Jen mulai merasakan ada yang aneh di bawah sana yang terasa menonjol dan keras. "Benda apa itu?!" gumamnya


Menyadari siluman ular Mark telah bangun, pria itu langsung menghempaskan Jen hingga gadis itu terjatuh di lantai.


"Awwww! Pantatku!" pekik Jen.


"Kau sengaja 'kan?!" ketus Mark dengan rona merah di pipinya.


"Apanya yang sengaja! Jangan salahkan aku! Kakiku yang salah!" elak Jen menaikan nada suaranya.


Suara bell apartemen berbunyi. Mark bernapas lega karena ia bisa bebas dari situasi aneh dan memalukan itu. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan tubuh Jen yang masih duduk di atas lantai.


Mark berjalan mendekati pintu. Saat ia hendak membuka pintu, matanya tak sengaja menatap ke arah siluman ularnya yang sudah bangkit dari tidur. "Apa kau menyukainya? Ku mohon, wanita siapa saja asalkan jangan wanita jorok itu!" gerutunya kesal.


"Selamat sore Tuan. Ini pesanan Anda," tutur seorang pria yang merupakan delivery.


Mark mengambil beberapa kotak makanan dari tangan pria di depannya dan kembali mengunci pintu. "Aku yakin makanan ini cukup untuk mengusir cacing di dalam perutnya."


Pandangan mata Jen tak berhenti memandangi Mark dari tadi. Dengan tatapan yang sayu dan lekukan kecil di ujung bibirnya, memperlihatkan jika gadis itu mengingini sosok Mark yang sedang berjalan dengan keren ke arahnya.


Sesaat kemudian Jen tersadar. "Astaga! Apa aku sudah tidak waras mengaguminya dengan diam-diam!"


"Apa kau terpesona padaku?!" tukas Mark tajam.


Ehhh! Kenapa dia bertanya seperti itu?! Apa yang harus ku katakan?!


"Aku peringatkan kau untuk jangan baper dengan sikapku hari ini! Aku hanya merasa kasihan melihat dirimu yang sangat jorok tak terurus. Aku sama sekali tidak menyukaimu!"


"Haha! Kau sangat percaya diri Tuan! Aku sama sekali tidak tertarik dengan dirimu! Hanya wanita gila yang menyukai dirimu yang dingin dan kaku seperti ini! Tipe pria idamanku sangat jauh denganmu! Jadi Tuan juga jangan terbawa perasaan!"


Deg!


"Tuan apa itu untukku?" tanya Jen tiba-tiba.


"Tadinya aku akan memberi ini untukmu. Tapi entah kenapa pikiranku berubah. Pulang saja kau! Aku akan memakan makanan ini sendiri."


"Lohh kok gitu! Apa Tuan sakit hati dan merajuk karena mendengar ucapanku?"


Mark terdiam. Wajahnya datar dan dingin menatap Jen. Benar-benar gadis sinting!


***


Sore itu Amey dan Zoey sedang menikmati teh di taman belakang. Angin sepoi-sepi yang menyambar pori-pori kedua wanita itu semakin menambah kesejukan yang menenangkan. Apalagi ditemani dengan secangkir teh asli racikan keluarga Winston turun temurun dan kue tradisional ala Soffy.


"Kakak ipar? Bolehkah aku bertanya?"


"Tentu saja."


"Menurutmu, apa aku dan kak Kaisar cocok?"


Amey meneguk tehnya, setelah itu menatap Zoey dengan lekukan kecuk di ujung bibirnya. "Hmm, apa kai mencintai Kaisar atau hanya penasaran dengannya?"


"Entahlah. Tapi aku sangat menyukainya waktu aku berumur dua belas tahun. Aku pernah mengajaknya menikah jika aku sudah kembali dan menyelesaikan studiku di sana."


"Lalu? Bagaimana tanggapan Kaisar?"


"Kak Kaisar hanya mencubit pipiku," memanyunkan bibirnya.


"Aku rasa kalian cocok. Karena Kaisar sangat perduli padamu saat kau diculik waktu itu. Dan aku juga yakin jika Arsen akan menyetujuinya."


"Kau salah kakak Ipar. Kakak sangat menentang keras jika aku bersama Kak Kaisar."


"Lahh! Kenapa? Bukankah Arsen sangat dekat dengan Kaisar. Aku begitu yakin jika dia menyetujuinya."

__ADS_1


"Justru karena Kak Kaisar dan Kak Arsen bertemen dekat makanya Kak Arsen melarangku bersamanya. Katanya Kak Kaisar bukan pria baik-baik dan suka bermain wanita!"


Amey mengangguk paham. Ia kembali mengingat jika dulunya Arsen sama seperti Kaisar dan Jayden.


"Apa yang kalian bicarakan?!" tukas Arsen yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Zoey melonjak hebat saat mendengar suara Arsen. "Ka--kakak?" lirihnya.


"Sayang, tumben sudah pulang," tutur Amey sembari memejamkan matanya karena dikecup Arsen di dahi.


"Si Jodi itu tak menemaniku di kantor. Entah apa yang dia buat satu hari ini," menyunggingkan bibir.


"Bukannya kau menyuruh Mark mencari dokumen itu?"


"Iya. Tapi katanya dokumen itu tak ada di lemari arsip ruanganmu."


"Apa sudah menelepon Eggie?"


"Tak bisa dihubungi."


Amey mengangguk pelan sembari membulatkan mulutnya. "Ohh begitu. Ohya! Tumben Mark tidak bersamamu. Biasanya kalian berdua kayak prangko selalu lengket."


"Kau tau Sayang, hari ini Mark sedang berjuang," tersenyum licik.


"Berjuang? Memangnya lagi perang?"


"Bukan. Maksudnya lagi main tinju-tinjuan dua belas ronde."


"Lahh? Mark ikut MMA?"


"Yappp! MMA melawan Garfield. Hahah!"


Amey terbelalak. Ia menatap Arsen dengan tajam. "Hey! Mereka 'kan belum menikah! Kok sudah main tinju-tinjuan! Dua belas ronde lagi! Wahhh bahaya kalau begini. Jen bisa satu abad nggak jalan."


Zoey yang mendengar ucapan kedua kakaknya hanya bisa menyimak karena ia pun tak paham maksud pembicaraan Arsen dan Amey.


"Sayang, bukankah itu bagus? Jika Mark berhasil mencetak bibit unggul di dalam lapangan sempit milik Garfield dan benih itu bertumbuh subur, maka otomatis Garfield akan memiliki kucing kecil di dalam sana."


"Hey! Apanya yang bagus! Jen gadis yang baik! Tidak mungkin akan melakukan hal seperti itu di luar nikah."


"Tunggu dulu. Aku belum meneruskan ucapanku."


"Lalu?"


"Jika Garfield memiliki kucing kecil maka itu juga merupakan milik Mark. Aku akan menikahkan mereka. Haha."


"Kau pikir Mark akan suka dengan rencana konyolmu itu."


"Mau tidak mau dia harus tanggung jawab, karena itu adalah perbuatannya. Aku sangat kenal si Jodi itu, dia adalah tipe pria yang sangat bertanggung jawab. Jika memang dia tidak mau menikah dengan Garfield ... " mengedipkan matanya. "Aku akan meminta bantuan Nensi part satu dan Nensi part dua! Haha."


"Pefff-bwahahaha!" Gelak tawa Amey meledak mendengar rencana konyol Arsen. "Tunggu dulu! Kenapa kau sangat ingin Mark menikah?"


Arsen terdiam. Wajahnya kembali datar seperti semula. "Aku malas saja melihat dia jomblo terus! Bikin sakit mata saja!"


"HAHA! Benar-benar alasan yang tidak masuk akal!


Sebenarnya aku penasaran sekali bagaimana seorang Mark dijajah perempuan! Aku ingin melihat bagaimana pria robot itu menjadi budak cinta sama sepertiku. Haha! Pasti menyenangkan. Kalau aku merasakannya, kau juga harus merasakannya, Mark! supaya kita impas. Hahahah!


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.

__ADS_1


Follow akun ig resmi Author : @syutrikastivani


__ADS_2