
Makan siang keluarga Winston berakhir. Keempat Winston Junior telah menuju kamar mereka untuk tidur siang. Sedangkan Arsen dan Mark telah bersiap menuju ke kantor induk.
"Kita akan menuju WS Group dan setelahnya ke Alganda Group," ujar Arsen.
"Baik Tuan."
Arsen meninggalkan perusahaanya selama empat tahun, ia ingin melihat bagaimana perkembangan perusahaannya. Dan juga ada sesuatu hal yang akan ia tunjukkan pada Mark di sana.
Saat tiba di kantor, Arsen disambut meriah oleh seluruh karyawannya. Lobi itu telah dipenuhi dengan kembang-kembang ucapan selamat datang. Tak hanya itu, para karyawan wanita pun telah menyiapkan berbagai hadiah untuk Presdir WS Group.
"Mark kau urus semuanya," ucap Arsen.
"Baik Tuan."
Arsen dan Mark menuju ruangan Presdir yang ada di puncak gedung pencakar langit itu.
Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang untukku. Membuka semua hadiah-hadiah itu sangat memakan waktu! Percuma saja ini semua, toh Tuan pasti akan membuangnya. Batin Mark.
Ketika lift berhenti di lantai paling terakhir, seorang wanita cantik dengan rambut yang terurai rapi, mengenakan pakaian yang ilegan menyambut kedatangan Arsen dan Mark.
"Selamat datang, Tuan Muda, selamat datang Tuan Mark," ucap suara lembut itu dengan lekukan kecil di bibirnya.
Arsen menganggukkan kepalanya kepada wanita itu, sedangkan Mark masih terperangah dengan pemandangan di depannya.
"Bagaimana, Mark? Kau menyukai kejutanku?" tutur Arsen, tersenyum licik.
Mark terdiam dan memilih berbicara di dalam hatinya. Kapan Tuan menyuruhnya kemari dan kenapa aku tidak mengetahui hal ini?! Tidak ... tidak bukan itu maksudku, tapi ... apa yang Tuan rencanakan?!
"Berhentilah berbicara dengan dirimu sendiri, Jodi Sinting!"
"Tidak, Tuan."
"Garfield ... ehm, maksudku, Sekretaris Jenifer, bagaimana kabarmu?" tanya Arsen.
"Saya baik, Tuan. Bagaimana kabar Anda?" tanya Jen dengan formal.
"Seperti yang kau lihat ini. Ohya, kenapa kau tak menanyakan kabar pria tua di sampingku? Mungkin saja dia ingin kau juga menanyakan kabarnya," singgung Arsen masih dengan senyumannya yang licik.
"Saya juga berniat untuk menanyakan kabar, Tuan Mark," menatap Mark. "Tuan Mark, bagaimana kabar Anda."
Sialan! Kenapa dia bersikap formal seperti ini! Apa yang terjadi padanya? Batin Mark.
Seketika Mark menjadi gugup dengan pertanyaan Jenifer. Ia seolah tidak melihat sosok Jen yang dulu. Wanita yang berdiri di depannya benar-benar terasa asing bagi Mark. Padahal Wanita itulah yang sering menjadi bahan cercaan Mark.
"Tuan, Mark? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Jen.
Mark buyar dari lamunannya. Ia langsung menetralkan wajahnya dan menekan sikap gugupnya itu agar tidak diketahui Jenifer. "Tentu saja, aku sangat baik. Trima kasih telah perhatian," tutur Mark, dingin.
Kau tak perlu menyembunyikan kegugupanmu, Jodi Sinting. Aku bisa membacanya dari gerak-gerikmu. Ucap Arsen dalam hati.
"Saya sudah menyiapkan ruangan Anda, Tuan," mempersilahkan Arsen dan Mark masuk ke ruangannya.
"Kau telah bekerja keras. Kalau begitu lanjutkan tugasmu!"
"Baik, Tuan. Saya akan kembali ke Alganda untuk menyelesaikan dokumen ini," menundukkan kepala dan berjalan meninggalkan Arsen dan Mark.
Mark sempat menengok ke belakang dengan tatapan heran. Dia terlihat berbeda dari terakhir kali kita bertemu. Benarkah dia, gadis dasi merah yang jorok itu?
"Kau pasti bingung 'kan Mark?!"
__ADS_1
"Iya Tuan." Mark keceplosan. "Ti--tidak Tuan!"
"Ayolah, Mark. Kita sudah saling mengenal selama berabad-abad lamanya, dan kau masih saja berpikir kalau kau bisa membohongiku?! Hahaha!"
Sialan! Kenapa jadi begini?!
"Apa kau masih mengenalinya?" tanya Arsen dengan nada mengejek.
"Tentu saja Tuan. Dia adalah Sekretaris Jenifer."
"Bodoh! Ya iyalah, sangat jelas kalau dia si Garfield! Tapi yang aku maksudkan bukan itu! Apakah kau masih mengenali penampilan dan sifatnya?"
Mark seketika bungkam. Ia berpikir sejenak, mencari jawaban yang tepat, agar dirinya tak terlihat salah tingkah di depan Arsen.
"Diam, tandanya kau terpukau dengan penampilannya!" telak Arsen.
"Penampilan dan karakternya sedikit berubah. Tapi dia tetap saja ga---"
"Gadis jorok, ceroboh dan bodoh?! begitu?" sambung Arsen.
Mark lagi-lagi terdiam. Kali ini aku benar-benar kalah telak dari si bos Arogan.
"Apa kau masih ingat beberapa tahun yang lalu saat aku mau menjodohkan kalian berdua?"
"Aku ingat Tuan. Aku tak bisa lupa, bagaimana perjuangan Tuan untuk menikahkan Aku dan Sekretaris Jen."
"Apa kau masih ingat juga saat Garfield menyatakan perasaanya padamu dan kau menolaknya mentah-mentah? Malahan kau mengatainya---"
"Maaf, Tuan. Tapi aku tidak ingin membahas itu," tutur Mark memotong ucapan Arsen.
Brakkkk!
"Maaf, Tuan."
"Baik, aku maafkan. Sekarang aku lanjutkan!"
"Baik Tuan."
Arsen menyipitkan matanya. "Sial! Aku lupa sampai di mana tadi!"
Mark kembali larut dalam pikirannya.
"Pokoknya inti dari ini semua, aku tetap akan memberlakukan ucapanku enam tahun lalu! Kali ini kau pasti tidak akan menolaknya!"
Deg!
Flasback ON
(Enam tahun lalu)
Kepergian seorang Ibu benar-benar menyayat hati salah satu karyawan WS Group yang tak lain adalah Jenifer. Sudah satu bulan lebih Jenifer merasa kehilangan sosok Ibu yang sangat ia cintai. Selama satu bulan juga ia sering mendapatkan perhatian khusus dari asisten pribadi Tuan Muda.
Selama satu bulan juga, hari-hari Jen yang kelam diisi dengan kebahagiaan. Seorang Mark yang dingin dan tak tersentuh, bisa bersikap sedikit lebih baik padanya dan itu membuat Jenifer merasa senang. Sebelumnya, Jen belum yakin dengan perasaannya kalau dia menyimpan rasa pada Mark. Namun hari demi hari ia semakin dekat dengan Mark, sehingga ia mulai yakin jika dirinya sudah mencintai Mark.
Jenifer belum paham, jika Mark melakukan itu semua karena disuruh oleh Arsen. Mark dihadapkan dua pilihan. Pilihan yang pertama langsung dinikahkan dengan Jen, dan pilihan yang kedua menjadi sandaran bagi Jenifer selama satu bulan agar wanita itu tidak larut dalam kesedihan.
Niat Arsen sebenarnya untuk mendekatkan Mark pada Jenifer. Dan Mark paham akan itu, makanya ia lebih memilih pilihan yang kedua agar dia tidak jadi dinikahkan dengan Jen. Meski ia tau cepat lambat pernikahan dadakan itu akan terjadi. Mark bermaksud menundanya terlebih dahulu sampai ia benar-benar siap untuk mencintai lagi.
Alganda Group
__ADS_1
23.00
"Astaga! Aku harus menyelesaikan dokumen-dokumen ini sekarang!" gerutu Jen.
Lagi-lagi gadis itu menyita waktu istirahatnya hanya untuk menyelesaikan tinjauan dokumen untuk persiapan presentasi besok hari dengan perusahaan dari luar negeri. Meski matanya mulai terpejam dengan sendirinya karena mengantuk, namun ia tetap memaksakan diri untuk menyelesaikannya malam itu juga.
Plakkkk! "Sadarlah Jen!" menampar pipinya agar tidak tertidur.
"Jangan memaksakan dirimu!" ketus seorang pria yang sedang berdiri di depan pintu.
"Tuan, Mark?" Jen menggeleng kepalanya. "Sialan! Sepertinya aku sedang mengkhayal!" gumamnya.
Pria itu yang tak lain adalah Mark berjalan menuju ke arah Jen dengan membawa sesuatu di tangannya. "Minumlah ini," menyodorkan gelas plastik yang tampak mengeluarkan uap berwarna putih dari dalam.
Jen menyipitkan matanya. "Apa aku tidak sengaja memakan kokain atau menghirup ehabon?! Kenapa aku berkhayal Tuan Dasi Merah?!" gumamnya lagi seraya mengucek matanya.
"Kau tak berkhayal. Minumlah sebelum dingin."
Saat menerima gelas itu, Jen merabah gelas yang sudah berpindah ke tangannya. "Astaga, panas!!!" Jen hampir menjatuhkan gelas itu.
"Hati-hati! Kau bisa terluka. Ini masih panas," mengambil kembali gelas itu dan meniupnya.
Jadi aku tidak berkhayal?! Ini benar-benar Tuan Mark! Ya ampun Jenifer, kau sangan OON!!
"Ini munumlah. Aku sudah meniupnya," menyodorkan kembali gelas itu.
"T--trima kasih, Tuan."
Mark mengangguk kecil. Ia berjalan menuju ke arah sofa dan mendudukkan badannya di sana. "Aku tau kau sangat keras kepala. Percuma saja aku menyuruhmu berhenti, pasti kau tidak akan mendengarnya."
Jen tersenyum kecil.
"Aku akan menemanimu sampai selesai."
"Tidak perlu Tuan. Kau sudah banyak kali menemaniku dan membantuku. Aku tidak ingin lagi menyita waktu istirahatmu, jadi kau pulanglah duluan."
"Aku akan pulang jika kau juga akan pulang. Jangan memaksaku karena kau juga sudah mengetahui keputusanku!" Mark menyandarkan kepalanya di kepala sofa dan memejamkam matanya.
Jen mencuri kesempatan untuk menatap pemandangan indah di depannya. Alis yang tegas, hidung yang menjulang ke atas, bibir seksi dengan bulu tipis yang tumbuh di dagu dan pipi. Semuanya terlihat sempurna di mata Jenifer. Ia sangat mendambakan wajah yang tampak tenang itu.
Mungkin saatnya untukku menyampaikan perasaanku yang sebenarnya. Semoga saja Tuan Dasi Merah mempunyai perasaan yang sama padaku.
"Tuan ... "
"Hmm," sahut Mark dengan nada berat namun seksi.
"Jika aku mengakui perasaanku padamu, apa kau tetap akan tinggal dan menetap?"
Deg!
Tbc ... (Flashback masih akan berlanjut)
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
__ADS_1
Follow ig : @syutrikastivani