
Setelah lama bermain di lehernya Arsen, kini pria itu sudah tidak dapat menahan sesuatu yang menegang di bawah sana. Bagai sengatan listrik yang hinggap di tubuh Arsen, ia pun menggendong tubuh Amey dan membawanya ke atas ranjang.
"Sayang, kau sudah membangunkannya," ucap Arsen.
"Siapa?"
"Sesuatu yang berbisa di bawah sana."
"Oh belut? Ya ampun, sudah lama dia tidur jadi saatnya dia untuk bangun," tutur Amey santai, seolah memberi lampu hijau bagi Arsen untuk menyantapnya.
"Wow! Apa yang membuatmu menjadi panas seperti ini, Sayang?" tanya Arsen tersenyum nakal.
"Entahlah, tapi sepertinya aku ingin bermain denganmu."
Senyum semringah mengembang di wajahnya. Arsen tak pernah berpikir jika Amey akan meminta tanpa di pancing Arsen. Justru sebaliknya, Ameylah yang menginginkan pergulatan itu terjadi. Ya, asalkan tak lewat dari lima ronde. Tapi tak apa juga kalau lewat, tergantung Ameynya.
Setelah meletakkan tubuh Amey di atas ranjang, ia dengan beringas melucuti pakaian Amey. Saat tubuh Amey polos, ia semakin terangsang dan ingin cepat-cepat memanjakan belutnya yang mengeras tak tertolong.
Arsen tersadar jika Amey sedang mengandung. Hal pertama yang ia lakukan pada tubuh istrinya yakni mencium perut itu berulang kali. Ia bahkan membuat label kepemilikkan di sana, sehingga perut Amey penuh dengan logo merah khas suaminya.
Untuk pertama kalinya Amey yang meminta bergulat sekaligus yang paling agresif. Entah apa yang membuat wanita itu bisa panas dalam bercinta. Biasanya Arsenlah yang paling panas dan liar. Belum saja guanya di datangi tamu VVIP, ia sudah mengerang hebat.
"Sayang, cepat! Jangan membuatku menunggu!" lirih Amey dengan napas memburu.
"Memey, Sayang. Kau terlihat tidak sabar," tutur Arsen menyunggingkan bibir.
Arsen yang memang sedari tadi bertelanjang dada, kini membuka boxernya. Dan Wow! Amey termangu melihat adik kecil Arsen yang kini tak lagi kecil. Belut raksasa itu menari-nari di depan terowongan gelap Amey.
Wanita itu menelan saliva, sambil tersenyum penuh pengharapan. Kali ini Arsen sengaja belum memulai penelusurannya. Ia membuat Amey merontah-rontah karena tak sabar untuk dikunjungi tamu VVIP. Amey mendesah hebat saat belut itu menggesek di bawah sana.
"Sayang, kenapa masih di luar? Ayo masuklah! Jangan membuat aku menggila!"
"Baiklah, Sayang. Aku masuk." Arsen pun memulai petualangan belutnya di dalam terowongan gelap Amey.
Perlahan namun pasti, akhirnya belut itu memasuki area khusus secara menyeluruh. Erangan dahsyat Amey keluar dari bibirnya, namun Arsen segera mencium bibir itu dengan lembut dan mulai membuat gerakan maju mundur andalannya.
"Yes, honey! K--kau memang, Arghhh! uhhhh! Lu--luar biasa!" puji Amey tersengal-sengal.
Tempo hentakan Arsen perlahan mulai melaju. Bagai Valentino Rosi yang melambung Dani Pedrosa. Sangat cepat namun masih bisa terkontrol. Bagi Arsen Nanyian seriosa Amey, mengalahkan Isyana Sarasvati.
Tak hanya bermain di bawah, tangan dan bibirnya pun ikut bekerja. Ia memainkan ujung tempurung Amey dengan alat perasanya, sesekali ia menggigit sehingga membuat Amey berteriak nikmat.
"Suamiku ... kau membuatku ingin menangis! Lag--lagi, Arghhh!" Amey berteriak saat Arsen memaksimalkan temponya.
Napas Arsen pun menjadi tak karuan. Apalagi saat mendengar nyanyian-nyanyian Amey. Peraduan keduanya semakin panas dan semakin menjadi. Amey yang biasanya hanya mengikuti arahan sang suami, kini menjadi pemimpin dalam pertarungan satu lawan satu.
__ADS_1
Aksi mereka tidak monoton. Berbagai pose telah mereka lakukan agar masing-masing mencapai klimaks yang tak terbantahkan. Arsen yang begitu beringas ternyata juga kreatif. Ya! Kreatif dalam menciptakan gaya-gaya aneh dalam bertarung.
"Memey Sayang, tumben kau belum keluar," bisik Arsen di telinga istrinya.
"Su--sudahhh hamp ... " belum saja meneruskan ucapannya, tiba-tiba Arsen menghentakkan goyangannya dengan sangat kencang sehingga vla puding Amey menyembur keluar dan mengalir cukup deras.
"Sayang, bersiaplah!" Giliran Arsen yang mengeluarkan vla pudingnya.
Amey menggeliang hebat seperti menerima sengatan ubur-ubur. Peluh menyucur di dahinya. Tak hanya Amey, seluruh badan Arsen pun mengeluarkan keringat sehingga tubuh kekarnya terlihat menggiurkan di mata Amey.
Amey terasa sangat lelah dan kehabisan energi. Namun dalam tubuhnya seolah masih ada hasrat untuk melanjutkan pertarungan ke ronde berikutnya padahal mereka sudah mencapai durasi sesuai kesepakatan bersama.
"Sayang aku sangat lelah, tapi sepertinya aku masih mau lagi."
Arsen melotot tak percaya dengan apa yang didengarnya. Untuk pertama kali seorang wanita yang bercinta dengannya meminta untuk menambah rondenya, dan itu adalah istrinya. Biasanya ia yang memaksa meski lawan mainnya sudah tak berdaya lagi.
"Wow! Aku sangat senang kau yang meminta lagi, tapi kali ini permintaanmu tak akan aku setujui."
"Lah, kenapa Sayang?" Amey terlihat kecewa.
"Aku tidak mau kau kelelahan dan berujung pingsan lagi. Kau tahu 'kan adik kecilku tak bisa dikontrol jika dia mengamuk! Dan satu lagi, aku tidak mau membuat anakku dalam perutmu memarahiku karena mengusik ketenangannya."
"Justru sekarang kau yang membuatnya marah!"
"Sayang, aku tak paham maksudmu. Sudah ya. Sini kupeluk." Arsen memeluk Amey dan mengecup keningnya lembut. Ia membujuk Amey agar Amey tidak cemberut lagi.
***
(Percakapan di telepon)
"Ada apa kau menghubungiku? Kau menganggu saja!" Arsen jengkel karena Mark menghubunginya pagi-pagi.
"Maaf Tuan. Pagi ini Tuan ada jadwal pertemuan dengan Mr. Dusley dari Jerman."
"Batalkan saja dan kosongkan jadwalku hari ini."
"Baik Tuan."
"Ohya, tambahkan juga jadwal seminggu dua kali untuk mengunjungi Alganda Group. Aku ingin memeriksa kinerja mereka."
"Baik Tuan. Apa hari ini Tuan akan ke Alganda Group bersama Nyonya?"
"Hmm, kau datanglah pukul sembilan. Memeyku masih tertidur pulas dan aku tidak ingin menganggunya."
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Ada lagi yang harus kau kerjakan. Pecat semua bawahan Lauren yang masih berpihak padanya! Kalau perlu rombak kembali dan pasang poster lowongan pekerjaan."
"Baik Tuan. Apa masih ada lagi Tuan?"
"Ya, ada!"
"Apa Tuan?"
"Cepatlah menikah dengan seorang wanita dan bercinta dengannya, agar kau bisa mencetak Mark kecil di sana!" ledek Arsen.
Tut ... tut ... tut
Arsen memutuskan sambungan telepon.
"Sayang?" lirih Amey.
"Good morning my love," sapa Arsen tersenyum lebar.
"Aku pengen mual," berlari menuju kamar mandi.
"What? Apa setelah mendengar ucapanku dia merasa mual?" gumam Arsen.
Arsen menyusul Amey ke kamar mandi. Ia mendapati Amey sedang berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya namun tak kunjung keluar.
"Memey, apa mau aku panggilkan dokter?"
"Tidak usah Sayang, aku tidak apa-apa. Ini hanya pembawaan saja."
"Kalau begitu ayo kembalilah tidur."
"Aku sudah tidak mengantuk."
"Baiklah. Apa kau mau mandi? Aku akan menyiapkanmu air."
"Hmm, aku mau mandi," mengangguk.
"Tunggulah Sayang."
Amey tersenyum saat melihat suaminya yang sangat manis dan lucu. Arsen yang dulu bukanlah Arsen yang sekarang. Dulu dikenal sebagai pria kejam dan kasar yang tak mengenal cinta, tapi sekarang dikenal dengan Arsen yang bucin dan perhatian dan penyayang.
"I Love you Honey."
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘
__ADS_1