Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Keputusan Milley


__ADS_3

"Oh ya sudah kalau begitu."


"Sampai di mana tadi?" tanya Jayden, linglung.


"Oh, sampai di tanggal pernikahan Mr. Smith dan Megan," celutuk Berlin.


Margareth dan Milley terperanjat.


"Oh iya. Tapi sepertinya Anda salah paham Nyonya Kaylee."


"Salah paham? Di mana letak kesalahpahamannya Mr. Smith?"


"Jadi begini, maksud kedatangan saya kemari untuk melamar salah satu anak Anda. Tapi bukan Nona Megan. Maksud saya adalah untuk melamar Nona Milley menjadi istri saya."


Deggg!


Margareth tersenyum tipis. Tampaknya ia merasa puas dengan ucapan Jayden. Baru kali ini ia melihat Berlin dan Megan di jatuhkan di depan Milley dan dirinya.


"Apa?! Kau akan melamar Milley dan bukan aku?" ketus Megan.


"Ya. Saya merasa malu untuk mengatakannya tapi memang inilah faktanya. Saya mencintai Nona Milley saat pertama kali bertemu."


Milley terkejut. Ternyata benar yang dikatakan Margareth. Tapi jangan dulu terlalu percaya pada omongannya. Bisa saja ini merupakan salah satu rencananya untuk meyakinkan Mama dan Megan.


"Meski saya tidak tahu kalau perasaan saya akan terbalaskan atau malah akan dicampakkan," jujur Jayden menatap lekat bola mata indah milik Milley.


Benar-benar tidak masuk akal! Sialan kau Margareth! Ternyata kau mempertemukan Tuan Jayden dan gadis pembawa sial ini! Berlin mulai Murka. Luapan emosi Berlin dan Megan kini tak terkatakan. Mereka mulai berniat jahat pada Milley supaya gadis itu menderita.


"Mr. Smith, tapi maaf. Milley tidak boleh menikah sebelum Megan menikah. Megan adalah kakak Milley. Dan sebagai yang tertua maka Megan akan menikah lebih dulu sebelum sang adik. Itu merupakan adat dan peraturan penting keluarga Kaylee," jelas Berlin.


Cihh! Peraturan macam apa itu?! Batin Margareth.


"Ouh, benarkah demikin?" tanya Jayden menatap Milley dan Margareth secara bergantian.


Megan tersenyum puas.


"Mama, sepertinya aku baru kali ini mendengar peraturan seperti itu di keluarga kita," ucap Milley.


"Saya juga. Sudah hampir tiga puluh tahun lebih saya mengabdi di keluarga Kaylee, tapi baru kali ini saya mendengar peraturan seperti itu, Nyonya. Bahkan mendiang Tuan Besar tidak pernah mengatakannya pada saya," sela Margareth.


Berlin dan Megan menjadi geram dengan ucapan Margareth. Terutama Berlin, ia mengeratkan rahangnya dan menatap kepala pelayan itu dengan tajam penuh dendam yang membara.


"Nyonya Berlin, saya kira Anda keliru," tutur Margareth lagi.


Kurangajar! Berani sekali si j*lang itu membantah ucapanku! Dia pikir dia siapa?! batin Berlin. "Kalau begitu, mari kita tanyakan saja pada Milley," tersenyum licik. Ia tahu jika Milley adalah gadis penurut yang selalu mengalah.


Awas saja kau b*tchh! Aku akan membunuhmu jika kau menerima lamaran tuan Jayden. Batin Megan.

__ADS_1


Nona, kau jangan takut untuk mengambil keputusan. Jangan biarkan Nyonya Berlin dan Nona Megan merebut kebahagiaanmu lagi. Kau sudah banyak menderita dibuat mereka. Jadi tolong, sekali-sekalilah melawan Nyonya Berlin demi kebebasanmu Nona.


"Aku ... " menjeda ucapannya dan melirik ke arah Berlin yang sudah tak sabar mendengar keputusannya. Milley tampak gugup karena wajah Berlin sangat mengintimidasinya.


"Iya lanjutkan sayang," tutur Berlin.


Milley mencengkeram jemarinya. Jantungnya kembali berdegup kencang antara takut di marah Berlin dan gugup karena Jayden ada di depannya dan akan mendengar keputusannya.


"Ada apa Milley? Jangan takut. Ayo katakan ... " kalau kau akan menolak lamaran Mr. Smith.


"Aku menerima lamaran Tuan Jayden, dan bersedia menikah dengannya."


Deggg!


Emosi Berlin sudah hampir meledak. Tangannya terasa gatal untuk menampar Milley. Begitu juga Megan. Ia menatap Milley dengan sejuta dendam tergambar di matanya.


Sedangkan Jayden menjadi salah tingkah. Ia meremas hidungnya dengan jemari dengan maksud menghentikan pendarahan yang hampir menerobos keluar lubang hidungnya.


Bagus Nona. Keputusanmu sangat tepat. Batin Margareth.


"Tapi Mill--"


"Saya sangat senang Nona Milley menerima lamaran saya. Saya berjanji akan membahagiakanmu," ucap Jayden menyela ucapan Berlin.


Sial sial sial!!! K*parat kau wanita j*lang! Tidakk bisa dibiarkan. Kau tidak boleh merebut Tuan Jayden dariku. Aku tidak akan membiarkan kau menikah dengannya. Jika aku tidak bisa memilikinya maka kau juga tidak bisa mendapatkannya!


"Nona Milley, selamat ya. Saya sangat bahagia mendengar keputusan Nona," ucap Margareth.


Berlin dan Megan masih membisu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dendam kini membumbung di hati kedua wanita itu. Mereka tidak akan tinggal diam dan melepaskan Milley begitu saja karena itulah yang mereka rencanakan sekarang di dalam benak mereka.


Melihat Berlin dan Megan memanas membuat Margareth mulai waspada. Ia juga tampaknya sudah merencanakan sesuatu.


"Trima kasih Tuan Jayden karena kau sudah mencintaiku."


"Kalau begitu, aku permisi dulu. Besok aku akan menjemputmu."


"Jemput? Memangnya kita mau ke mana?"


"Kita akan melakukan pendekatan. Supaya lebih mengenal satu sama lain. Anggap saja kita akan berkencan selama tiga hari sebelum menikah."


Milley tersipu malu.


"Mr. Smith, boleh saya memberi usulan?" tanya Margareth.


"Ouh, tentu. Silahkan, Margareth."


"Bagaimana kalau Mr. Smith langsung saja membawa Nona Milley bersama Anda."

__ADS_1


Degg!!


Degg!!


"Hey! Maksudmu apa Margarerth?! Lancang sekali mulutmu menyuruh Tuan Jayden membawa anakku!" ketus Berlin.


"Benar sekali. Aku bahkan belum memberi pelajaran padanya dan kau seenaknya menyuruh Mr. Smith membawa gadis sialan ini?!"


Berlin terkejut dengan ucapan Megan yang blak-blakan. Ia langsung menyubit paha Megan. Menerima cubitan dari Berlin membuat Megan tersadar dari ucapannya. Ia keceplosan karena tidak bisa lagi memendam amarah terhadap Milley.


"Ma--maksud Megan bukan begitu. Megan ingin berlama-lama dengan kembarannya karena sebentar lagi adiknya akan menikah, hehe. Begitu 'kan maksudmu Megan?" membulatkan matanya.


"I--iya benar, hehe." tersenyum kecut.


Milley terdiam. Apa maksudmu, Margareth? Kenapa aku harus terburu-buru ikut dengan lelaki ini?!


"Hmm, bisa kau berikan alasan kenapa aku harus membawa Nona Milley sekarang ini juga?" tanya Jayden.


Sebenarnya aku tidak ingin Nona Milley menerima hukuman dari Nyonya besar dan Nona Megan. Aku tidak mau melihat Nona Milley dihakimi lagi oleh mereka.


"Margareth? Ada apa? Aku tahu kau pasti memiliki alasan yang tepat," ucap Milley.


"Iya Nona. Karena kau dan Tuan Jayden harus membangun hubungan yang lebih dekat. Tiga hari merupakan waktu yang sangat singkat bagi Nona dan Tuan. Jadi saya rasa pagi ini Tuan Jayden boleh mengajak Nona jalan-jalan." Aku mohon Tuan, pahamilah maksudku. Aku yakin Anda adalah pria cerdas.


Margareth, aku tahu maksudmu. Kau tak ingin aku di marahi Mama dan Megan. Lagi-lagi kau menyelamatkanku. Kau melakoni peran yang sangat berat Margareth.


"Hmm, saya pikir kau ada benarnya juga. Saya tarik ucapanku tadi. Jadi mulai saat ini, Nona Milley akan bersamaku. Aku akan mengajaknya kencan saat ini juga," tutur Jayden, paham dengan maksud Margareth.


"Trima kasih Mr. Smith."


"Nona Milley, apa kau mau kencan denganku sekarang?"


Milley kembali panik. Ia menatap Berlin dan juga menatap Margareth. Milley dilema, antara harus menolak dan menerima. Ia tahu jika ia menerima ajakan Jayden pastilah Margareth akan di hukum habis-habisan oleh Berlin. Tapi jika ia menolaknya, maka ia akan menyia-nyiakan usaha Margareth untuk menyelamatkan dirinya dari Berlin.


"Nona, saya tidak apa-apa," tersenyum.


Kalau kau menerimanya, maka aku tidak akan segan membunuh wanita j*lang ini! Aku akan membuatmu hidup dalam rasa bersalah! Batin Berlin.


"Bagaimana, Nona Milley? Apa kau mau?" tanya Jayden lagi.


Awas saja kau Milley b*jingan! Aku akan balas dendam padamu! Batin Megan.


"Ya! Aku mau."


Degg!!


Matilah kau pembantu sialan! Neraka adalah tempatmu!

__ADS_1


To be continued ...


Like, komen, vote dari kalian akan sangat membantu Author 🥰


__ADS_2