
Keempat mobil mewah itu melaju menuju lokasi penawanan. Kaisar sebagai penunjuk arah di depan dan diikuti Arsen bersama yang lainnya di belakang. Keempat mobil itu terlihat ugal-ugalan di jalan raya sehingga membuat pengendara lainnya merasa risih. Namun mereka tidak mempedulikan sekitar mereka dan mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan Chemy bersama keempat Ed.
Tak sampai setengah jam mereka tiba di tempat kejadian perkara. Dari kejauhan Arsen dan yang lainnya telah memantau gedung yang sementara di bangun itu, namun sepertinya sudah terbengkalai. Tempat itu merupakan markas besar penyelundupan narkoba, senjata ilegal dan tempat terjadinya prostitusi.
Bangunan itu di bawa kekuasaan Gazza Dominic. Sejauh ini, tidak ada pemerintah yang berani mendekati tempat itu karena menerima sogokan dalam jumlah yang besar. Dan bagi anggota kepolisian yang masih mencari tahu bisnis gelap Gazza, maka akan menerima hukuman dari atasan, sebab Gazza telah bekerja sama dengan petinggi-petinggi kepolisian.
Bisnis gelap Gazza mulai diselidiki oleh Badan Intelejen Negara, maka dari itu untuk menjatuhkan Gazza dibutuhkan bukti-bukti yang kuat dan akurat. Pihak yang bekerja sama dengan bisnis gelap Gazza pun akan ikut terseret dan tak terkecuali pihak kepolisian.
Dengan bantuan empat keluarga besar yang memiliki kekuasaan di dalam negeri maka Badan Intelejen setuju untuk mengungkap kedok Gazza. Tak hanya Arsen, Kaisar, Jayden, Pedro dan Mark yang tiba di tempat itu. Beberapa agen dari Badan Intelejen telah lebih dulu ada, memantau sembari menunggu kode dari Arsen untuk mulai bergerak.
"Lindungi aku. Aku akan masuk lebih dulu," tutur Arsen.
"Baik, Ars. Kau masuklah ke dalam, dan kita berempat akan mengurus b*jingan-b*jingan di sini!" ucap Kaisar.
"Biarkan aku ikut bersamamu, Tuan," ketus Mark.
"Ya. Ikutlah dengan Arsen, Mark. Kita tidak tahu jumlah b*jingan yang ada di dalam gedung ini!" tambah Jayden.
Kelima pria itu mulai bergerak. Di tangan mereka masing-masing memegang sebuah benda yang tak lain adalah senjata api yang diberikan BIN. Mereka diijinkan Badan Intelejen untuk menggunakan pistol karena lawan mereka adalah psikopat yang memiliki hobi gila mempermainkan nyawa manusia sesuka hati.
Di telinga mereka telah dilengkapi benda kecil yang menempel sebagai alat komunikasi. Persiapan yang mereka lakukan bersama Chemy bukanlah main-main. Meski nyawa sebagai taruhan, tapi Chemy bersedia di culik demi mendapatkan bukti rekaman yang akurat untuk menjatuhkan Gazza Dominic. Dan rencana mereka hampir mendekati kata sempurna. Hanya saja mereka dikejutkan dengan berita penculikan keempat Ed yang sama sekali tidak terlintas dipikiran mereka jika Gazza akan berlaku nekat menculik anak-anak itu.
"Sial!! Kau harus mati di tanganku meski aku harus jadi pembunuh sekalipun!" gumam Arsen sembari berjalan perlahan menuju ruangan tempat tawanan berada.
"Tuan, gps dokter Chemy berada di utara gedung ini."
"Tetap waspada!"
Perlahan Arsen dan Mark menuju lokasi tempat sandera berada. Beberapa musuh mereka tampak lalu lalang, namun mereka belum menyadari kehadiran Arsen dan Mark. Mark kemudian berjalan mendekati anak buah Gazza secara hati-hati dan mematahkah leher mereka dari belakang sehingga anak buah Gazza tidak sadarkan diri.
Kalau sampai terjadi apa-apa sama anak-anakku, aku aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri!! Dan pastinya si b*ngsat itu akan mati di tanganku!
"Tuan, sepertinya itu pintu masuk menuju ruangan Gazza!" menunjuk sebuah pintu di depan mereka yang di kelilingi oleh enam pria bertubuh kekar mengenakan topeng.
"Aku menemukan mereka. Beberapa musuh juga sudah terlihat. Kirim bala bantuan sekarang!" perintah Arsen melalui alat komunikasi yang masih menempel di telinganya.
__ADS_1
Arsen memberi kode kepada Mark supaya Mark mengalihkan perhatian mereka. Namun seorang pria berlari pontang-panting dan masuk ke dalam ruangan itu. Pria itu berlumuran darah di bagian bahunya sehingga membuat anak buah Gazza yang sedang menjaga pintu tampak waspada.
"Tuan berhati-hatilah. Aku akan membuat keributan di sebelah sana supaya Tuan memiliki kesempatan untuk masuk," tutur Mark.
"Kau juga hati-hati, Mark. Jika kau tertembak aku akan menghukummu!"
"Baik, Tuan."
Mark segera berlari menuju arah berlawanan. "Aku hampir sampai di titik!" ucapnya, memberitahu yang lain.
Pasukan elite dua bersiap menuju titik! Diulangi, pasukan elite dua bersiap menuju titik!
Dilaksanakan!
Mark tiba lebih dulu. Beberapa anak buah Gazza sudah menemukan Mark dan berlari sembari menodongkan senjata di tubuh Mark. Kini asisten Tuan Muda itu sudah dikepung anak buah Gazza.
Pasukan elite dua tiba di titik! Diulangi, pasukan elite dua tiba di titik!
Suara itu berasal dari alat komunikasi di telinga mereka.
Arsen mengeratkan rahangnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Arsen langsung membuang tembakan tepat di dahi kedua pria kekar itu. Senjata api yang ada di tangan Arsen telah dilengkapi dengan peredam suara sehingga mengurangi bunyi suara dan kilatan cahaya yang dihasilkan dari tembakan tersebut.
Kedua pria itu langsung terjatuh di lantai dengan kepala yang berlubang. Arsen pun membuang senjata peredam suara itu dan digantinya dengan senjata api miliknya. Ia meraih pistol yang diletakkan di saku bagian dalam setelan jasnya.
"Sepertinya aku telah membunuh dua orang. Satu orang lagi, maka kalian boleh menangkapku!" tutur Arsen seraya melemparkan alat komunikasi itu ke lantai sehingga meninggalkan bunyi yang tak enak di dengar di telinga orang-orang yang memakai alat itu.
Kaisar dan lainnya yang mendengar ucapan Arsen hanya bisa melebarkan maniknya dengan mulut yang menganga. Jelas mereka terkejut karena Arsen telah melakukan hal gegabah dan telah menjadi seorang pembunuh.
Sementara yang lain mengkhawatirkan dirinya, Arsen tampak tak peduli lagi dengan reputasinya. Yang ada di benaknya hanyalah membunuh Gazza! Pria psikopat yang sudah mengusik keluarganya. Bisikan iblis terus terdengar di gendang telinga Arsen. Ia telah bersumpah untuk menghabisi Gazza secara brutal dan tidak akan membiarkan pria itu lolos dari penderitaan.
Doorrr!!
Bunyi yang begitu keras menggelegar di ruangan Chemy dan keempat Ed berada. Chemy yang mulai sadar, melonjak dengan hebat saat melihat salah satu keempat Ed tidak sadarkan diri. Matanya pun menatap cairan merah kental yang menggenangi lantai itu.
"Mati kau babi hutannnn!" teriak Arsen dengan ganas. Urat-urat berwarna hijau kembali merenggang di leher putih miliknya.
__ADS_1
Tak hanya Gazza yang terkejut, keempat Ed pun segara berteriak memanggil Arsen. Chemy yang sementara duduk dengan tali yang melingkar di badannya, mendongakkan kepala dan melihat sosok Arsen yang sudah dirasuki iblis.
"Doorrr!"
Tembakan kedua Arsen membuat Gazza terjatuh di lantai. Arsen menendang tangan Gazza sehingga pistol yang ada di tangan Gazza terpental jauh.
"Daddy!!!" teriak anak-anak.
"Maafkan Daddy yang sudah membuat kalian menunggu. Maafkan Daddy juga karena harus menunjukkan hal tak sepantasnya kalian lihat," tutur Arsen sembari membuka tali yang melilit di tangan dan kaki anak-anaknya. Jiwa membunuhnya semakin merontah-rontah saat ia melihat luka di tangan dan kaki keempat Ed. Tak hanya itu, bibir Edhan pun tampak memar. "Anak-anak, apa si br*ngsek ini yang menyakiti kalian?!"
"Bukan Daddy. Hanya Edhan yang di pukul oleh teman paman ini," menunjuk ke arah Gazza yang sudah terbaring di lantai.
Arsen mengecup puncak kepala anak-anaknya satu persatu. "Sayang, tunggu Daddy di luar. Daddy akan melepaskan wanita itu dan memberi hukuman kepada psikopat ini!"
Keempat Ed mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan itu. Giliran Chemy yang dibebaskan Arsen.
"Ars ... " lirih Chemy.
"Chemy, bertahanlah. Aku akan membunuh psikopat gila ini! Pedro dan lainnya berada di luar. Apa kau bisa berjalan?"
Chemy mencoba berdiri namun ia terjatuh. Kepala wanita itu terasa sangat pusing. Wajahnya pun berlumuran darah dan terdapat memar di mana-mana. "Aku ... aku tidak bisa berjalan," lirihnya.
Arsen membopong tubuh Chemy dan membawanya di luar bersama keempat Ed. "Anak-anak jaga Aunty kalian. Kalau Kaisar dan lainnya sudah kembali, kalian ikutlah dengan mereka."
"Apa Daddy tidak ikut?" tanya Edward memegang tangan Arsen.
"Nanti Daddy menyusul."
"Daddy, Edzel sepertinya sakit," tukas Edhan.
Arsen melirik wajah Edzel yang begitu pucat. "Edzel anak Daddy, bertahanlah sayang. Nanti Uncle Pedro akan mengobatimu. Edward, Edhan, Edgar, Daddy titipkan Edzel pada kalian. Jaga adik kalian baik-baik. Daddy akan masuk kembali ke dalam. Ada urusan penting yang harus Daddy selesaikan. Apa kalian paham?"
"Yes Daddy!" ucap ketiga anak itu serentak.
To be continued ...
__ADS_1
Like, komen dan vote ya gaess 🥰