Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Mencari Petunjuk


__ADS_3

"Di mana anak-anak?" tanya Arsen yang baru saja tiba di mansion.


"Mereka mengikuti les," jelas Amey.


"Jam berapa mereka pulang?"


"Mungkin mereka sudah di jalan bersama Dinar dan Candy."


Arsen tampak panik. Namun ia tak ingin membuat Amey tahu jika dirinya sudah mengetahui dalang dari penyerangan beberapa hari lalu lantaran trauma Amey pasti akan kembali bergentayangan.


"Sayang, ada apa? Kau tidak biasanya bersikap seperti ini?"


"Memey dengarkan aku," memegang pundak Amey. "Untuk sementara waktu kau tinggalah dulu di mansion. Jangan ke mana-mana. Urusan pekerjaan serahkan semua padaku," menatap lekat istrinya.


"Ars, ada apa sih?" terkekeh pelan sembari mengsuap tangan Arsen. "Jangan berlebihan mengkhawatirkanku. Aku tidak apa-apa."


"Kau tahu Sayang semenjak hari itu aku tak berhenti mengkhawatirkanmu. Sampai-sampai aku mengesampingkan pekerjaanku hanya karena mengutamakan keselamatanmu dan anak-anak."


Amey mengernyitkan dahi. Ia merasa jika Arsen menyembunyikan sesuatu darinya. "Ars, kau tak memiliki bakat dalam berbohong! Jadi ceritakan padaku hal apa yang membuatmu menjadi seperti ini."


Arsen terdiam. Ia mengecup dahi Amey dan kembali menatapnya lekat. "Berjanjilah padaku kau tidak akan khawatir. Dan percayakan semuanya padaku."


Amey mengangguk.


"Memey, aku sudah tahu siapa yang menyerangmu dan menembakku waktu lalu."


Amey termangu dengan manik melebar.


"Gazza Dominic. B*jingan gila itu yang membuatmu terluka dan hampir menghilangkan nyawa anak kita yang berharga," mengusap perut Amey.


"Dari mana kau tahu?"


"Dokter Chemy. Dokter kandunganmu dan sekaligus temanku waktu kecil."


"Lalu ... ke--kenapa dia mengganggu keluarga kita? Apa dia adalah musuh bebuyutanmu?"


"Aku baru mengenalnya. Nanti aku ceritakan semuanya padamu setelah menangkap b*debah gila itu!"


"Ars, jangan sampai terluka. Aku hampir mati saat melihatmu tertembak waktu itu. Jadi ku mohon jangan terluka," menitikkan air mata.


"Aku janji, Sayang. Kalau begitu kau tunggu di mansion bersama anak-anak. Aku harus mengurus sesuatu," mengecup bibir Amey.


"Baik. Aku akan menunggumu di sini." Amey memeluk erat tubuh Arsen dan mencium dada bidang suaminya.


"Aku pergi dulu. Kabari aku kalau anak-anak sudah tiba."


Amey mengangguk sembari menatap belakang punggung Arsen yang sudah beranjak dari kamar.


"Mark!"


"Iya, Tuan."


"Hubungi Kaisar, Jayden dan Pedro. Kita ke tempat tinggal Chemy," perintah Arsen.


"Baik, Tuan."


Mark segera menghubungi Kaisar dan Jayden.


***


Nomor yang anda tuju sedang tidaf aktif atau berada di luar jangkauan ....

__ADS_1


Seorang pria yang masih mengenakan jas putih mondar-mandir di depan meja kerjanya seraya menghubungi salah satu kontaknya. Lelaki itu adalah Pedro. Ia mencoba menghubungi Chemy, namun nomor itu sudah tidak aktif.


"Aku harus tenang dan menunggu kabar dari yang lain," gumamnya.


Drt ... drt ...


gawainya bergetar. Dengan segera ia menjawab telepon itu yang ternyata dari Mark.


(Percakapan di telepon)


"Bagaimana? Apa sudah mendapat kabar dari Chemy?" tanya Pedro.


"Tuan Arsen sudah menelepon dokter Chemy tadi. Tapi ada yang mencurigakan. Dokter Chemy meninggalkan petunjuk sebelum menutup teleponnya bersama Tuan Arsen."


"Petunjuk? Baiklah. Selanjutnya langkah apa yang harus kita ambil?"


"Mari bertemu di tempat tinggal dokter Chemy."


"Baik Mark."


Pedro segera menuju apartemen Chemy. Setelah beberapa menit berkendara, tibalah ia di sebuah gedung pencakar langit. Pedro memarkirkan mobilnya dan segera menuju lantai dua belas tempat tinggal Chemy.


"Pedro!" panggil Arsen dari belakang.


"Tuan Arsen, ehm ... maksudku Ars, di mana yang lainnya?" tanya Pedro.


"Tidak tahu. Mungkin masih dalam perjalanan."


"Ayo kita duluan," ajak Pedro sembari menaiki lift.


Setibanya mereka di lantai dua belas, mereka mendapati Kaisar dan Jayden yang sudah lebih dulu berada di depan pintu apartemen Chemy.


"Ars, Pedro! Kami baru saja tiba. Tapi aku dan Kai tidak tahu sandi pintu ini!" ucap Jayden.


Ketiga orang itu terperanjat saat Arsen berhasil membuka pintu apartemen itu. "Huaa! Dari mana kau tahu sandinya?" tanya Kaisar.


"Tiga puluh satu Januari dua ribu. Itu adalah sandi pintu ini," jawab Arsen.


"Itu 'kan pertemuan terakhir kita berlima. Saat Chemy akan ke Inggris untuk bersekolah di sana," ketus Pedro .


"Right. Ayo masuk! Jangan bengong di luar kayak orang bego!"


Mereka semua masuk ke dalam tak terkecuali Mark. Mereka sudah tahu jika Chemy tidak ada di dalam sana.


"Biola! Di mana kau meletakkan benda itu, Chemy?" gumam Arsen sambil melirik ke segala penjuru ruangan itu.


"Ada apa dengan biola? Bukankah kita mencari petunjuk seperti cctv atau sejenisnya?" tanya Jayden.


Arsen tak menggubris. Ia menatap ke lemari pajangan yang menempel di dinding dan mendapati sebuah biola berwarna cokelat terpajang rapi di sana. "Jangan menghalangi jalanku!" mendorong tubuh Mark ke samping lantaran Mark berdiri mematung di sana.


Kaisar, Jayden dan Pedro merasa aneh dengan Arsen. Secara mereka tidak tahu isi pikiran Arsen. Yang mereka tahu hanyalah berkumpul di apartemen Chemy untuk menemukan petunjuk berupa rekaman cctv. Karena Chemy sempat mengatakan jika terjadi apa-apa dengan dirinya maka carilah sebuah alat perekam yang nantinya akan menjadi bukti akurat mengenai penculikan dirinya.


"Ars, apa yang kau lakukan?" tanya Jayden penasaran.


"Dasar t*lol! Seharusnya aku yang tanya apa yang sedang kalian lakukan. Kenapa diam saja dan tak ikut membantuku?!" celutuk Arsen geram.


Semua pria perkasa itu tergelitik dengan ucapan Arsen. Seketika mereka mengobrak-abrik apartemen Chemy untuk menemukan petunjuk.


"Woy! Kenapa kalian malah mengacak-acak tempat ini?" teriak Arsen.


"Yaelah, Ars. Tadi 'kan kau menyuruh kami untuk ikut membantumu!" ketus Kaisar sembari memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Hentikan. Kalian sama sekali tidak membantu dan malah mengacau saja! Aku sudah menemukannya," meraih biola itu dari dalam lemari pajangan.


Ketiga pria yang mendengar ucapan Arsen itu menghembuskan napas dengan kasar. Seketika mereka emosi karena Arsen ternyata sudah tahu dari awal di mana benda itu berada dan ia malah menyuruh mereka ikut mencari benda itu yang pada akhirnya hanya membuat tempat tinggal Chemy berantakan.


"Ars, ngemeng dong dari tadi! Kita tidak perlu repot lagi mencari ke segala penjuru mata angin!" cibir Pedro.


"Hooh," dijawab serantak oleh tiga pria lainnya.


"Alat perekam ini akan menjadi bukti kejahatan Cacing Sawah itu!" gumam Arsen.


"Woy, Ars. Lokasi Chemy menyala!" ketus Jayden melirik ponselnya.


"Di mana dia?" tanya Pedro, panik.


Jayden menunjukkan lokasi Chemy dari gawainya kepada Arsen, Pedro dan Kaisar. "Bagus Kai! Alat pelacak yang kau berikan pada jam tangan Chemy sangat membantu!"


"Ada gunanya juga aku berteman dengan orang idiot seperti kalian," tersungging. "Segera menuju lokasi Chemy. Jangan lupa bala bantuan!" tukas Arsen.


"Tentu saja!" ucap Jayden.


Drtt ... drtt ... drtt


Telepon genggam Kaisar bergetar.


"Siapa?" Tanya Jay.


"Tidak di kenal!" jawab Kaisar sembari menyodorkan gawainya pada Arsen.


(Percakapan di telepon)


"Halo, Tuan. Ini Dinar, pengasuh dari keluarga Winston."


"Bicaralah, ini aku!" tutur Arsen.


"Tu--tuan, aku menghubungimu dan Tuan Mark namun tidak di jawab, begitu juga dengan Nyonya Muda. Tu--tuan ... "


"Ada apa? Kenapa kau terdengar panik?!"


"Mobil kami di hadang oleh beberapa orang aneh yang memakai topeng!"


Deg!!


"Apa anak-anak bersamamu?" tanya Arsen mulai khawatir bukan kepalang.


"Be-benar, Tuan. Tuan-tuan muda kecil ada bersama kami. Aku dan Candy belum membuka pintu mobil. Pak Sopir juga menyuruh kami untuk berdiam di sini dan Pak Sopir telah turun lebih dulu."


"Kalian tenang. Aku akan segera ke sana. Di mana lokasi kalian?!"


Brukkkk!!!


"Ahhhhhhh!" ringis Dinar dari balik telepon.


Tut ... tut ... tut


"Halo! Dinar!!! Halooo! DINARRRR?!"


Arsen membanting ponsel Kaisar dengan kasar. Urat-urat kecil kini mengerat di leher Arsen. Wajahnya menjadi garang dan tampak mengerikan. Sekitaran matanya juga mulai mengeluarkan urat-urat merah kecil dan pupilnya tampak berkaca-kaca.


BRAKKKKK!


Ia menendang kaki meja yang ada di depannya dengan sangat keras sehingga meja kaca itu hancur berkeping-keping. "F*CKKKKKKK! ANJ*NGGGG!"

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2