Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Memberi tahu Arsen ~ Pria Topeng?


__ADS_3

Mengetahui Arsen dan Amey baik-baik saja, membuat Hellen dan Michael senang. Arsen bahkan menyuruh kedua orangtuanya untuk tidak usah datang menjenguk mereka. Namun Hellen dan Michael tetap gigih ingin bertemu anak-anak dan cucu-cucu mereka.


"Mark, jika kau ada waktu besok, tolong kau jemput mama dan papa di bandara," pinta Amey.


"Baik Nyonya."


"Ohya, Mark kau boleh pulang rumah. Sudah dua hari kau di sini mengurus aku dan Arsen. Jen pasti sangat merindukanmu," ucap Amey.


"Tidak apa-apa Nyonya. Lagi pula istriku selalu berkunjung dan membawakan aku pakaian ganti."


"Hmm. Tapi kau pasti ingin berduaan dengan istrimu. Apalagi kalian pengantin baru."


Mark menundukkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Trima kasih Nyonya."


"Memey, aku mendengar percakapan kalian," sebuah kalimat yang tiba-tiba menyosor dari arah ranjang.


"Tuan, aku akan tetap di sini bersamamu," ucap Mark, panik.


"Sayang, ada kabar baik yang ingin aku katakan padamu."


"Katakan saja," ucap Arsen.


"Tapi dengan satu syarat."


"Apapun itu Memey Sayang. Aku akan menuruti semua permintaanmu."


Si Tuan bucin mulai beraksi ... Batin Mark.


"Aku tahu, Mark. Kau pasti mengejekku lagi!" tukas Arsen, menerawang ucapan batin Mark.


"Tidak Tuan"


"Ohya, aku hampir melupakan pembahasan dengan istriku. Semua gara-gara kau!"


"Maaf Tuan."


"Sayang, aku mau kau mencabut hukumanmu terhadap Mark. Itu adalah syaratnya."


"Aku lupa bilang pengecualian yang ini. Kau bisa meminta apapun, kecuali mencabut hukuman Mark."


"Katanya apapun permintaanku akan dipenuhi semua," pura-pura mengambek dengan menunjukkan wajah imutnya.


"Ba-baiklah, Sayang. Aku tidak tahan melihat kau bersikap imut seperti itu.Rasanya aku akan mati suri jika kau membujukku dengan sikap lucu seperti itu," goda Arsen.


Ehemmm! Di sini masih ada makhluk hidup. Batin Mark.


"Baiklah. Kau boleh pulang Mark. Tapi ingat, saat aku sembuh nanti aku akan menghukummu lagi."


"Ahh Sayang, sudahlah, lupakan itu," membujuk Arsen dengan nada manja.


"Sial, aku sepertinya akan mimisan," gumam Arsen.


"Pulanglah Mark. Sampaikan salamku pada Jenifer."


"Baik, Nyonya. Saya permisi dulu." Bergegas meninggalkan tempat itu sebelum Arsen berubah pikiran.


"Ohya Memey, apa kabar baik apa yang akan kau katakan padaku?"

__ADS_1


Amey menatap lekat manik Arsen. "Sayang, sebelumnya aku minta maaf baru mengatakannya sekarang. Karena aku pikir aku akan memberikan kejutan padamu saat aku balik dari perjalanan bisnisku."


"Hmm, apa itu? Kau membuatku semakin penasaran," tutur Arsen. Ia bangun dari rebahannya di bantu oleh Amey.


"Apa kau sudah siap untuk mendengarnya?" goda Amey.


"Sangat siap, Memey!"


"Aku .... "


"Kamu .... "


"Aku hamil!"


"Kamu hamil ... " gumam Arsen tanpa disadarinya.


"Iya, Sayang."


"A--apa? Kamu hamil?" teriak Arsen penuh kegembiraan.


Arsen memeluk erat tubuh istrinya itu. Ia tampak sangat bahagia. "Sayang, kita harus merayakannya!"


"Iya, tapi nanti. Saat kau sudah sembuh total."


"Aku sudah sembuh! Lihat aku sudah bisa berdiri dan berjalan," meyakinkan Amey.


"Biarku tebak, pasti kali ini bayinya kembar enam!" ucap Arsen dengan bahagia.


"Ishhh, kamu ada-ada saja!"


"Hmm, boleh saja enam kembar, oh tidak dua belas kembar saja. Supaya genap satu lusin. Tapi kau saja yang mengandung. Supaya kau bisa merasakan bagaimana rasanya, Haha!"


"Tidak apa-apa, Memey. Aku akan menanggung semua penderitaanmu. Pokoknya apapun akan aku lakukan untukmu."


***


Pria berdasi menggunakan setelan hitam sedang duduk di kursi kayu mengahadap dua orang pria yang tampak berlutut di lantai. Wajah kedua pria itu memar sehingga hampir menutupi wajah mereka secara keseluruhan. Cairan kental berwarna merah kini bereserakkan di mana-mana memenuhi baju dan celana yang mereka kenakan.


"Masih tidak mau bicara lagi?" tanya pria memakai jas itu sembari mengayunkan cambuk ke udara.


Plakkkk!


"Ahhhh!"


Jeritan kedua pria misterius itu terdengar menggelegar memenuhi ruangan yang cukup besar itu. Rupanya tempat itu merupakan sebuah gudang bekas penyimpanan gandum karena melihat dari sisa-sisa gandum yang bertebaran di lantai yang sudah berwarna gelap, tempat itu sudah lama tidak digunakan.


Engsel pintu berbunyi. Pertanda seseorang telah masuk ke dalam gudang tua itu. Hamparan cahaya dari luar menyilaukan mata kedua pria yang sedang berlutut itu. Jejak kaki terdengar sangat nyaring, seolah mengintimidasi kedua tahanan yang babak belur tersebut.


"Giliran aku yang menghukum mereka," ucap seorang pria yang baru datang.


"Baik, Tuan."


Pria bersetelan hitam itu berdiri dari duduknya. Ia adalah Mark, asisten pribadi Arsen. Mark menyeka kedua tangannya dengan kain yang ia ambil di lantai untuk membersihkan sisa-sisa darah.


Dengan tubuh yang telah sehat bugar, Arsen kini sudah mulai bebas beraktivitas. Hampir satu minggu ia berbaring tak berdaya di rumah sakit dan sekarang kekuatannnya sudah pulih kembali.


Betapa terkejutnya kedua pria itu saat mengetahui jika Arsen telah sadar dan saat ini telah berhadapan dengan mereka secara langsung.

__ADS_1


"Tu-tuan Arsen," lirih seorang pria yang mengalami bengkak di mata hingga mata setengahnya tertutup.


"Shhhhtttt," desis Arsen. "Jangan bersuara!" tuturnya lagi dengan nada pelan. Wajah Arsen terlihat tenang, namun menghanyutkan.


"Bunuh saja aku" celutuk pria yang satunya lagi.


Seringai licik terpampang di wajah Arsen. "Bunuh? Enteng sekali mulutmu berkata seperti itu!"


Kedua pria itu terdiam seketika. Tangan dan kaki mereka gemetar hebat. Apalagi mata mereka sempat bertemu dengan bola mata Arsen yang sangat ganas dan mengerikan.


"Aku akan bertanya satu kali. Dan pertanyaanku ini tidak akan kuulangi!"


"Kau pikir kami akan memberitahumu! Meski itu akan memakan nyawa kami sendiri!" tukas pria berwajah bengkak itu.


"Namamu Dava 'kan? Usia tiga puluh tujuh tahun, menikah dengan perempuan berusia tiga puluh lima tahun, dan memiliki seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun."


Degggg!!


Pria yang bernama Dava itu terperanjat. Ia manatap Arsen dengan tatapan tajam. Urat-urat merah di mata sebelahnya mulai muncul. Pupilnya berubah warna menjadi hitam pekat. Cairan bening mulai mendominasi si matanya. Bukan hanya urat matanya yang timbul, urat-urat kecil di lehernya pun mulai nampak. "Sialan! Jangan berani kau sentuh istri dan anakku!"


"Cupcupcup!" meletakkan jari telunjuk di bibir. "Jangan marah dong! Seharusnya aku yang marah karena kau berani mencelakakan istriku! Kau tahu Memeyku sedang mengandung dan kau bersama dengan teman-temanmu yang b*jingan itu berani melukainya!" Arsen menggeram kesal.


"Bunuhlah aku tapi tolong jangan lukai istri dan anakku," mohon Dava dengan meneteskan air mata.


"Siapa dalang dari semua ini?" mengepalkan jemarinya.


"Aku tidak tahu Tuan. Tapi yang aku tahu pria itu sangat berbahaya. Dia merekrut kami semua, orang-orang yang memiliki latar belakang hidup berkukurangan dan memberi kami uang. Jika kami tidak mengambil uangnya, maka istri dan anak-anak kami akan dibunuh!" jelas Dava memelas.


Bukkkk!


Arsen tak dapat lagi menahan amarahnya. Ia menendang wajah Dava sehingga pria itu terpental.


"Tu--tuan. Dia berkata benar. Aku juga di ancam olehnya. Pria topeng itu akan membunuh tunanganku jika aku tidak bekerja sama dengannya. Aku bahkan menolak bekerja sama dengan pria topeng itu karena aku tahu jika akan berurusan dengan keluarga Winston. Namun dia memaksaku untuk mengambil uangnya serta mengancam akan membunuh tunanganku," ucap pria bernama Anton.


"Kasihanilah kami Tuan. Kami hanyalah pria miskin tak berguna. Kami hanya ingin melindungi orang yang kami sayang," sambung Dava.


"Melindungi orang yang kalian sayang, tapi menyakiti orang lain dan bahkan hampir membunuh!" celutuk Arsen dengan emosi yang membara.


"Maafkan kami, Tuan. Kami terpaksa harus mengikuti pria topeng itu. Dia sangat gila. Bahkan dia dijuluki sebagai psikopat yang tak berperasaan. Ada rumor yang mengatakan jika pria topeng itu membunuh istri dan anaknya," jelas Anton.


"K*parattt! Siapa laki-laki gila itu?! Ada dendam apa dia dengan keluargaku? Meskipun nyawaku taruhannya, aku akan melindungi keluargaku!" tukas Arsen.


Arsen kembali menatap kedua pria sekarat itu. Dengan penuh amarah dan kebencian ia menendang kedua pria itu sampai tidak sadarkan diri. Ia sangat marah kepada pria topeng psikopat yang disebutkan oleh kedua pria itu. Arsen pun melampiaskan amarahnya kepada mereka.


"Mark, urus mereka berdua. Aku akan mencari tahu siapa pria psikopat itu!" celutuk Arsen seraya merapikan setelannya.


To be continued ...


.


.


.


Jangan lupa like dan komen 🥰


follow ig @syutrikastivani @stivaniquinzel

__ADS_1


__ADS_2