
Jantung Amey berdetak kencang saat para perawat mulai membawa dirinya ke ruangan operasi. Ia menatap Arsen dari kejauhan sembari air matanya menyucur di pipinya. Sedari tadi ia menahan tangisannya karena ia tidak ingin Arsen bersedih melihat dirinya menangis. Ia berdoa dalam hatinya agar Tuhan selalu menyertainya.
Udara disekitarnya seolah mencekik lehernya. Dada yang terasa sesak, perut yang seperti akan meledak serta tubuh yang begitu lemas tak bernergi. Itulah yang sementara dirasakan Amey. Rasa itu bercampur aduk sehingga ia hanya bisa mendengar suara detak jantungnya yang berbunyi. Selain itu ia tidak dapat lagi mendengar bunyi suara lain.
Begitu pula dengan Arsen. Ia tahu jika istrinya itu sedang berpura-pura tegar di depannya. Padahal ia sangat tahu jika Amey sedang merasakan kepanikan yang luar biasa. Tentu saja karena ini merupakan persalinan perdana Amey dan akan mengeluarkan empat nyawa sekaligus.
Bukan hanya Arsen yang khawatir akan kondisi istrinya, namun seluruh keluarganya bahkan kerabatnya yang berada di ruangan tunggu pun merasakan hal yang sama. Apalagi Helen dan Michael. Semenjak mereka tiba di rumah sakit beberapa jam yang lalu, wajah mereka tampak pias menyaksikan keadaan Amey.
Kebahagiaan sekaligus kekhawatiran menggerogoti pikiran mereka. Hanya bisa berdoa dan menunggu agar segalanya berjalan dengan lancar. Melihat bayang Amey yang sudah menghilang tertutupi pintu, ia pun dengan lemas mendudukan badannya. Ia melipat kedua tangannya sembari menundukkan kepala.
Situasi hening melanda tempat itu. Tak ada yang berani bersuara. Bahkan Kaisar dan Jayden yang baru saja tiba hanya bisa berdiam saat memandangi Arsen. Mereka paham dengan situasi yang terjadi. Apalagi saat mendapati sahabat mereka sedang membisu dan kaku.
"Mark!" panggil Arsen tiba-tiba.
Mendengar Arsen yang bersuara, semua orang yang ada di situ tampak bernapas lega.
Mark pun mendekat. "Ada apa, Tuan?"
"Kau sudah menghubungi para Pendeta?"
"Sudah Tuan. Mereka sedang berkumpul di Gereja dan mendoakan Nyonya Muda."
Arsen mengangguk. Ia kembali menundukkan kepala dan kembali ke posisinya yang semula. Situasi kembali hening.
Tak ada lagi yang bersuara setelah percakapan singkat antara Arsen dan Mark. Soffy yang biasanya cerewet bukan main pun tak bisa berbuat apa-apa selain duduk dan berdoa dalam hatinya. Ia terlihat tegang dan lemas. Jen dan Zoey yang berada di sampingnya, mengelus-elus pundak Soffy agar Nenek itu merasa tenang.
Jarum jam terus berputar. Posisi semua orang yang ada di situ masih sama. Arsen menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Rasa khawatirnya kembali memuncak karena sudah dua jam setengah Amey berada di dalam sana. Arsen kembali mengingat ucapan Paulina yang mengatakan jika persalinan hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu jam.
Sudah lebih dari dua jam Memey di dalam sana! Apa yang mereka lakukan pada istriku?! Arsen kau harus tenang! Mungkin operasinya lama karena bayi di dalam perut istrimu ada empat! Jangan panik, Ars! Batin Arsen sembari menggoyang-goyangkan kaki kanannya dengan cepat akibat gugup.
Beberapa menit kemudian Paulina keluar dari dalam ruangan operasi. Semua orang yang ada di situ, sontak kaget dan beranjak dari duduk mereka. Semuanya menjadi tegang sekaligus lega karena akhirnya waktu yang mereka tunggu-tunggu pun telah tiba.
"Katakan padaku jika Memey dan keempat anakku selamat!" ketus Arsen.
Paulina tersenyum menatap Arsen. "Banyak selamat, Mr. Winston, Anda telah resmi menjadi Ayah dari keempat bayi lucu dan menggemaskan!"
Brukkkk!
__ADS_1
Arsen tersungkur di lantai dengan tubuh yang bertumpuh pada kedua lututnya. Otot-otot pada kakinya seketika menjadi lemas. Semua orang yang ada di situ terkejut bukan kepalang.
"Arsen!" teriak Helen.
"Mr. Winston, ada apa?" tanya Paulina.
"Kau benar-benar telah membuktikannya!" gumam Arsen lirih.
Paulina dan Helen bingung dengan ucapan Arsen. Saat Helen dan Michael hendak mengangkat tubuh Arsen, pria itu mengangkat tangannya sebagai isyarat jika ia bisa berdiri sendiri.
"Apa aku bisa melihat istriku dan ... anak-anakku?" tanya Arsen.
"Tentu saja Mr. Winston."
Arsen mengangkat tubuhnya yang terasa berat menuju ruangan operasi. Perasaannya kini berubah seratus persen. Beberapa tetes air mata tampak keluar dari maniknya. Tangis haru Arsen menjadi bukti, jika ia sangat senang dan bahagia.
"Karena Nona Muda masih di ruangan operasi, sebaiknya keluarga yang lain menunggu di luar saja. Nanti jika Nyonya telah dipindahkah ke ruangan lain, barulah keluarga yang lain bisa mengunjunginya," ucap Paulina tersenyum kecil.
"Trima kasih Dokter!" tutur Helen.
Soffy mengelus dadanya sembari mengucapkan doa. Mimiknya juga berubah dari panik menjadi bahagia. Tak hanya Soffy, semua orang yang ada di tempat itu merasa sangat senang karena Amey bisa melewati masa kritisnya.
"Kalau begitu, saya pamit ke dalam. Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan pada Tuan Arsen." Paulina meninggalkan mereka dan menyusul Arsen.
Sedangkan di dalam sana, Arsen dengan jelas melihat tubuh Amey yang terbaring di atas ranjang dengan perut yang sudah mengempis. "Berapa lama lagi Memey akan sadar?" tanya Arsen tiba-tiba, mengagetkan para perawat yang ada di dalam.
"Tu--tuan Arsen," ucap mereka terbata.
"Apa Memey akan segera sadar?" tanyanya lagi.
"Tentu saja Mr. Winston. Mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas menit Nyonya Muda akan sadar," tukas Paulina yang tengah berdiri di belakang Arsen.
Pria itu membuang napasnya dengan lega. "Lalu di mana anak-anakku?" tanyanya antusias.
"Ada disebelah sana," menunjuk sebuah ruangan lain yang terhubung dengan ruangan itu. "Mari Mr. Winston. Saya antarkan."
Paulina berjalan lebih dulu dan menuntun Arsen menuju ruangan sebelah. Masih dalam jarak yang jauh Arsen sudah mendengarkan tangisan bayi yang sangat kuat. Bagi Arsen tangisan itu merupakan paduan suara yang sangat indah dan merdu. Gendang telinganya bahkan ikut menari-nari mendengar suara rengekkan yang beruntun.
__ADS_1
"Silahkan Tuan," ucap Paulina.
Arsen memandangi tiga kotak kaca yang di dalamnya terdapat kasur kecil beserta bayi-bayi dan satu kotak kaca yang ukurannya lebih besar dari ketiga kotak kaca sebelumnya. "Kenapa yang satu terpisah?"
"Jarang sekali ada ibu hamil yang melahirkan anak kembar yang lebih dari dua. Karena sangat berisiko bagi ibu dan bayi. Namun suatu hal yang luar biasa, Nyonya Amey bisa melahirkan keempat bayi dengan kondisi yang cukup baik. Bukan hanya kondisi bayi, melainkan juga kondisi sang ibu. Untuk kasus ini, Nyonya Amey telah melahirkan ketiga bayi yang sehat dan nomal. Tetapi bukan berarti bayi yang satunya tidak normal. Kami sengaja meletakkannya di inkubator karena bayi itu lebih lemah dibandingkan ketiga bayi yang lainnya."
"Apa itu tidak apa-apa?" kilah Arsen.
"Saya rasa tidak Tuan. Selama bayi itu dirawat di inkubator, pasti secara perlahan kondisinya akan pulih. Sangat wajar ini terjadi pada bayi kembar. Apalagi mereka baru berusia delapan bulan lebih dalam kandungan. Bisa dibilang bayi yang paling terakhir keluar itu adalah bayi prematur. Tapi Tuan tenang saja, semua organ tubuhnya lengkap dan baik hanya saja ia begitu lemas dan perlu penanganan khusus. Di inkubator juga dapat mengatur suhu tubuh bayi dengan baik agar cepat berkembang dan menyesuaikan diri."
"Lakukan yang terbaik untuk keselamatan bayiku!"
"Akan saya usahakan dengan semaksimal mungkin."
Penjelasan Paulina membuat Arsen merasa lega. Awalnya ia menjadi sedih karena anak bungsunya diletakkan di inkubator. Namun ia juga tersadar jika memiliki anak kembar tentunya harus menerima risiko-risiko yang ada. Ia pun menatap ke empat bayi itu. Tiga yang sedang menangis keras, serta satu yang terlihat tidur di dalam kotak kaca.
"Aku sangat bersyukur, Tuhan. Kau mengabulkan doa-doa kami! Sepanjang hidupku, baru kali ini aku merasakan anugerah dan berkat yang sangat luar biasa. Dengan kehadiran keempat anakku, aku sadar jika segala sesuatu telah ditentukan olehMu. Kini aku tahu seberapa berkuasanya Engkau. Ampuni diriku yang selalu mengandalkan diri sendiri dan sering melupakanMu!" ucap Arsen dalam doanya.
Pria itu memandangi wajah kecil anak-anaknya yang mirip dengan wajahnya. Ia kembali menitikkan air mata karena tak kuasa menahan tangis bahagia saat melihat keempat bayi itu.
Welcome to the world, my babies! (Selamat datang di dunia, bayi-bayiku)
Ucapan Arsen membuat ketiga bayi mungil itu menghentikan tangisan mereka.Tak lama kemudian ketiga bayi itu bergerak-gerak seolah sedang bermain dengan mata yang masih terpejam. Lekukan kecil di bibir bayi-bayi mungil itu menandakan jika mereka senang mendengar ucapan Arsen.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
.
Follow ig : @syutrikastivani
__ADS_1