Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Super Car


__ADS_3

Seisi rumah dibuat heboh oleh pasangan suami istri itu. Para pelayan yang sangat tahu sifat Arsen, terperangah saat melihat keromantisan yang diciptakan pria arogan itu. Mereka semua tahu jika Arsen adalah pria yang dingin, kasar dan angkuh.


Namun, mereka seketika dibuat silau dengan pemandangan langka. Terpancar dari mimik wajah Arsen, kalau ia sangat menyukai istrinya itu. Melihat adegan romantis dari Arsen dan Amey membuat hati para pelayan itu seolah dicubit karena tingkah manis Tuan Muda mereka.


Arsen mengacuhkan para pelayan yang tidak berhenti menyoroti pasutri itu. Ia malah lebih bertingkah dan memamerkan keromantisan antara dirinya dan sang istri. Pria itu merasa bangga diri serta memuji dirinya sendiri karena merasa menjadi pria idaman bagi setiap wanita yang menatapnya mengingini.


Berbeda dengan Arsen, Amey sedari tadi menyembunyikan kepalanya dibalik dada bidang milik Arsen. Ia tidak dapat menyangka jika Arsen akan senekat itu menggendong dirinya melewati para pelayan keluarga Winston.


Arsen meletakkan tubuh Amey di atas ranjang dengan hati-hati. Ia kemudian menatap wajah istrinya itu lekat. Amey memilih diam dan memejamkan matanya karena masih malu dengan situasi yang ia alami saat itu.


"Buka matamu."


"Tidak mau."


"Baiklah, jangan terkejut jika aku membukanya dengan caraku sendiri."


Deg!


Apa maksudnya? Astaga, jantungku lagi-lagi bermasalah.


Melihat Amey yang tidak merespon ucapannya, ia pun mulai menjalankan aksinya. Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan Arsen pada tubuh Amey adalah dengan mencium lehernya. Ia sangat suka mencium aroma wangi tubuh Amey dari lehernya.


Dan benar saja, tubuh Amey langsung bergetar seperti menerima sengatan listrik. Ia terpaksa membuka matanya dan mendapati tubuh Arsen telah bebaring di sampingnya dengan tangan kiri Arsen melingkar di pinggang Amey.


"Ars, hentikan," lirih Amey.


Seketika Arsen menghentikan aksinya dan menatap wajah Amey dengan tatapan penuh arti. "Apa kau masih kesakitan?"


"Sudah tidak terlalu sakit."


"Apa aku bisa menagih janjimu siang ini?"


"Tidak! Eh, ma-maksudku, aku belum bisa sekarang."


"Baiklah, aku paham."


Ehhh tumben menurut. Aduh maafkan aku Ars, bukannya aku tidak mau, tapi bagaimana aku bisa lekas sembuh, kalau belutmu selalu berkunjung ke dalam guaku.


Amey merasa tidak enak hati, karena lagi-lagi ia belum bisa mengabulkan keinginan suaminya untuk berkenjung lagi ke dalam terowongan gelap miliknya. Ia memandangi wajah Arsen yang terlihat kecewa.


"Jangan marah padaku, Ars."


"Tidak. Aku tidak marah padamu."


"Jangan bohong."


"Aku tidak berbohong, Sayang."

__ADS_1


Amey tersenyum kecil. "Ohya, kenapa kau pulang cepat?"


"Aku sangat lelah."


Amey mengangguk paham.


"Baiklah, kau sebaiknya istirahat."


Arsen memejamkan matanya sembari menyandarkan bibirnya di pundak Amey.


Kalau kau seperti ini terus padaku, maka aku tidak bisa lagi menahan diriku. Ucap Amey dalam hati.


Setelah beberapa saat, Arsen pun terlelap. Deru napas Arsen terdengar jelas di gendang telinga Amey. Wanita itu menarik tangannya ke atas dan melingkari wajah Arsen. Ia mengelus rambut suaminya itu dengan lembut, sehingga membuat Arsen lebih mengeratkan pelukannya.


***


Zoey memandangi Soffy dari kaki hingga ujung rambutnya. Mulut dan mata Zoey terbuka lebar saat melihat penampilan Soffy yang sangat cetar. Apalagi saat barang-barang bermerek menempel di tubuhnya itu.


"Bagaimana penampilan Nenek?" tanya Soffy membuka kacamata hitamnya.


"Fantastic!" puji Zoey mengacungkan dua jempolnya. "Btw, apa sepatu dan tas Nenek itu asli?"


"Ehem!" Soffy mendekat ke arah Zoey. "Kau boleh melihatnya lebih dekat."


Dengan wajah yang penuh kesombongan, Soffy memamerkan tas dan sepatunya pada gadis depalan belas tahun itu. Dan benar saja, Zoey terperanjat saat menyentuh tas itu.


"Tentu saja," tersenyum tipis. Ameyyyy, cucuku! Kau sangat terbaik. Aku bahkan tidak tahu jika tas ini hanya ada dua puluh di dunia.


"Btw, Nenek, mau ke mana di siang bolong begini?"


"Mau bertemu dengan gengku."


"Geng?"


"Hem, kau mau ikut?"


"Hah? Apa boleh Nek?"


"Tentu."


"Huaaaa! Akhirnya aku bisa keluar rumah!" teriak Zoey antusias.


(Tiga puluh menit kemudian)


Soffy dan Zoey tiba di garasi mobil. Melihat ada berbagai macam mobil di situ membuat keduanya bingung mau memilih yang mana.


"Bocil, bagaimana dengan itu?" menunjuk mobil sport berwarna hijau.

__ADS_1


"Wah, jangan itu Nek. Terlalu mencolok."


"Yayaya kau benar. Bagaimana dengan itu?" menunjuk super car berwarna ungu.


"Ya! Gunakan yang itu saja," ucap Zoey menyetujui.


Kedua orang itu menuju mobil super car yang mengkilap itu.


"Nek, kau bisa mengemudikan mobil ini?"


"Don't worry Kid. Aku mantan pembalap internasional yang sudah pensiun," mengangkat alis setengahnya.


"Wahh, keren! Kalu begitu tunggu apa lagi! Ayo berangkat," teriak Zoey antusias.


Soffy dengan penuh percaya diri mulai menyalakan mobil itu, ia membuka atap mobil agar lebih terlihat keren. Sedangkan Zoey yang duduk di sampingnya hanya terkagum-kagum melihat sang Nenek yang layaknya ABG yang hendak mengemudikan supur car.


"Bocil, gunakan seat belt-mu, kita akan meluncur ke antartika."


"Baik Nek," mengancingkan sabuk pengaman.


"Doakan, supaya kita tidak hilang di segitiga bermuda."


Soffy dan Zoey saling tatap dengan wajah sadis dan mengangguk. Tingkah kedua orang itu layaknya anggota badan intelejen negara yang akan menjalankan misi mereka.


Soffy mulai menginjak pedal gasnya. Awalnya ia terlihat kesulitan karena sudah lama tidak menyetir mobil. Mobil itu berjalan tidak terarah membuat Zoey hampir terkena serangan jantung.


Pak satpam penjaga gerbang pun terperangah saat melihat Soffy mengemudikan super car itu. Ia hanya bisa kagum sembari menggeleng kepalanya karena tidak habis pikir dengan ABG yang sudah kadaluarsa itu.


Saat lampu merah, semua kendaran berhenti, namun Soffy tidak memperhatikannya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dan itu hampir membuat ia menabrak seorang wanita paruh baya yang sedang membawa ketiga anaknya untuk menyeberang jalan.


"Nenek! Pelankan laju mobilnya, kita hampir menabrak seseorang," teriak Zoey.


"Baiklah, kau benar."


Seorang pria yang tak lain adalah Mark sempat melihat mobil yang tidak asing itu beserta kedua orang yang ada di dalamnya. Ia terbelalak saat tahu jika mereka adalah kedua majikannya. "Oh gosshh! Aku tidak mungkin salah lihat! Itu benar Nensi dan Zoey."


Mark terlihat kawatir, ia hendak mengejar mobil yang dikendarai Soffy namun lampu yang menggantung di atas belum juga berganti warna. Mark frustasi, ia mengacak rambutnya yang bahkan baru ia modifikasi di salon kecantikan.


Tentu saja Mark merasa gila! Mobil yang dikendarai Soffy adalah mobil kesayangan Arsen. Bisa dibilang, mobil itu adalah separuh jiwanya. Gara-gara mobil itu, nyawa Mark hampir melayang karena tidak sengaja menggoreskan mobil kesayangan yang mulia raja.


Mark merutuki dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan amarah tuannya jika mengetahui mobil itu sudah tidak ada dalam bagasi. Ia segera menginjak pedal gasnya saat lampu merah sudah berganti warna menjadi hijau. Namun sayang, Mark kehilangan mereka.


"Bersiaplah Mark! Bersiaplah untuk ditendang di planet jupiter."


To be continued ...


Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘

__ADS_1


__ADS_2