
"Sayang, buka pintunya!" teriak Amey dari luar, sembari mengetuk pintu.
"Memey, kau telah membuat aku kesal!" celutuk Arsen dari dalam kamar.
Kekesalan Arsen tak dapat ditahan. Ia mengunci pintunya dan membiarkan Amey berdiri di depan pintu. Sebenarnya ia juga malu menunjukkan wajahnya yang sudah bengkak akibat sengatan lebah.
"Shittt! Aku tidak bisa melihat wajahku dengan jelas!" gumam Arsen menatap wajahnya di cermin.
Karena bengkak, matanya sedikit tertutup sehingga terlihat sipit. Ia mulai menggosokkan berbagai krim perawatan di wajahnya dan berharap wajahnya kembali tampan seperti sediakala.
Sudah hampir sepuluh menit Arsen membuat Amey berdiri di depan pintu kamar. Wanita itu tidak mau menyerah. Ia tetap mengetuk agar Arsen mau membukakannya pintu. Ia tahu jika Arsen sangat benci kalau ketenangannya diganggu, makanya Amey melakukan hal-hal yang dibenci suaminya.
Tiba-tiba Amey terpikir ide gila untuk mengerjai suaminya. Ia menendang pintu dengan keras dan langsung membaringkan tubuhnya di depan pintu. Amey menutup matanya dan berpura-pura sedang pingsan.
Seketika Arsen mendengar suara hantaman keras di pintu kamarnya. Ia menghentikan aktivitasnya dan sudah tidak lagi mendengar suara ketukan dan teriakan Amey dari luar.
"Memey!" gumam Arsen panik. Ia berlari ke arah pintu, namun karena matanya sedikit kabur, maka ia tidak melihat jika ada sebuah sofa di sana. Ia menabrak sofa itu dan ...
Brukkkk!
Ia terjatuh layaknya cicak yang menempel di lantai. "F*ck!" memukul lantai dengan tangannya. Ia kembali berdiri dengan kaki setengah pincang.
"Memey!"
Arsen membuka pintu. Bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri, namun tak menemukan sosok istrinya. Saat hendak berjalan tiba-tiba kakinya menyentuh lengan Amey yang sedang tergeletak di lantai.
"Gosssh! Memey ... ! Apa yang terjadi?!" mengangkat tubuh Amey. "Sayang, bangun! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menguncimu di luar. Aku sangat kesal karena wajahku menjadi buruk rupa!"
Tak mendengar sahutan dari Amey, ia langsung membawa tubuh istrinya dengan hati-hati menuju ke tempat tidur.
"Honey, please, open your eyes!" (Sayang, tolong buka matamu!)
"Akhirnya kau membukakanku pintu," tutur Amey tiba-tiba.
"Honey, k--kau tidak apa-apa?" tanya Arsen.
"Tidak. Aku hanya mengerjaimu! Siapa suruh kau membiarkan aku di luar!"
Arsen meremas rambutnya dengan erat. Ia tampak setres dengan kelakuan Amey. "Kau tau, Memey, aku serasa hampir mati karena melihatmu tak sadarkan diri?! Dan kau ... Ahhhh! Shit!" geram Arsen kesal.
"Ya maaf," lirih Amey. "Kalau aku tidak melakukan itu, kau pasti tidak akan membukakanku pintu," menunduk kepala, merasa bersalah.
Melihat Amey yang seperti itu membuat Arsen merasa kasihan karena telah membentak Amey. Ia langsung memeluk Amey dan mengecup puncak kepala Istrinya.
"Jangan diulangi. Jantungku berhenti berdetak dengan tiba-tiba saat kau terluka! Jadi jangan membuat jantungku berhenti berdetak! Kalau tidak aku bisa mati."
"Aku paham, Sayang. Maafkan aku ya," mengecup bibir Arsen yang tampak bengkak.
"Jangan memandangiku! Wajahku sangat jelek. Nanti kau tidak menyukaiku lagi," ucap Arsen sinis.
"Hahah! Sayang, mau wajahmu tampan atau jelek sekalipun, bagiku kau tetaplah Arsen Winston, suamiku yang arogan, berkarisma, dan selalu keren. Aku sangat bersyukur memilikimu sebagai suamiku. Kau adalah pelindung bagiku, dan aku sangat mencintaimu."
"I love you, Honey!" (Aku mencintaimu, Sayang).
"Aku juga mencintaimu, tetaplah bersamaku," memeluk Arsen dengan erat.
"Aku juga sangat bersyukur memilikimu sebagai istriku. Tetaplah hidup dan jangan terluka. Aku bisa mati jika kau terluka sedikitpun," mencium bibir Amey.
Terima kasih Tuhan. Aku sangat bersyukur untuk hadiah terindahMu. Ucap Amey dalam hati.
__ADS_1
Tuhan, aku jarang berdoa karena itu aku tidak pandai merangkai kata. Tapi, Kau sungguh hebat, telah memberikan seorang istri yang luarbiasa untukku. Thank God. batin Arsen.
***
Merasa tak nyaman berada dalam apartemen, Mark pun keluar dan mencari angin di malam hari. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran bosnya yang seenaknya membuat ia cuti selama dua hari.
"Cuti dua hari? Haha, sangat konyol!" gumamnya sembari memakai topi berwarna hitam.
Mark kembali mengingat percakapan mereka di restoran. Wajah Eggie kini berputar-putar di kepalanya. Kenangan pahit dua belas tahun lalu kembali terngiang. Mark mengepalkan tangan dan mempercepat langkahnya.
Setelah dua puluh menit berlari tanpa henti, Mark merasa tubuhnya membutuhkan asupan air. Ia pun mampir ke mini market dan membeli air mineral di sana.
Di depan mini market itu ada sebuah tempat duduk untuk bersantai. Mark memutuskan untuk beristirahat sejenak di situ sebelum kembali ke apartemen. Ia menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Aku harap Nyonya tidak berbuat ulah, mengerjai Tuan lagi!" gumamnya sambil menenggak air hingga tak tersisa.
Pandangan Mark beralih menatap seorang gadis yang berjalan menuju mini market. Ia sangat kenal dengan gadis itu. Dialah Jen, musuh bebuyutannya.
Apa itu? Apa dia pura-pura tidak melihatku? Padahal jelas-jelas pandangan mata aku dan dia bertemu! geram Mark dalam hati.
Jen memang sengaja mengacuhkan Mark. Ia tidak ingin terlibat lagi dengan pria yang dianggapnya kasar itu. Perlakuan Mark waktu lalu membuat Jen menyimpam dendam padanya.
"Cihh! Tatapan macam apa itu? Dia pikir aku akan menyapanya dengan senyuman? Hahah, jangan mimpi!" gerutu Jen saat masuk ke mini market itu.
Beberapa saat kemudian, Jen keluar dari sana. Ia melihat jika Mark masih duduk di tempat duduk yang tadi.
"Jen, sendirian aja?" ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Jen menatap ke arah pria yang berbicara dengannya yang ternyata adalah Andra. Ia langsung memutar bola matanya dengan malas dan berjalan meninggalkan Andra.
"Tunggu! Ada yang ingin aku tunjukkan padamu," tutur Andra menghentikan langkah Jen.
"Jangan menggangguku lagi!" celutuk Jen lantang dan melanjutkan langkahnya.
Nenek?! Jen menghentikan langkahnya dan berputar memandangi Andra. "Apa maksudmu?"
"Kalau kau penasaran dengan keberadaan Nenekmu lebih baik kau ikut aku!"
"Hey! Jangan macam-macam kamu! Nenekku ada di rumah. Aku tahu jika kau hanya beralasan agar aku bisa pergi denganmu! Modusmu sangat sampah!" ketus Jenifer emosi.
"Kau pikir aku main-main dengan kataku? Haha! Kalau kau tidak percaya, tidak apa-apa. Tapi jangan menyesal jika sesuatu yang buruk terjadi pada si tua bangka itu!"
"Laki-laki sialan! Apa yang kau lakukan dengan Nenekku, hah?!"
"Sudah kubilang, jika penasaran, ikut denganku," berjalan meninggalkan Jen.
"Hey! Tunggu!" Jen terpaksa mengikuti Andra. Ia sangat kawatir jika Andra nekat melukai Neneknya.
Perbincangan panas antara Andra dan Jenifer, didengar jelas oleh Mark. Awalnya ia tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan Jen, tapi saat Andra mengajak gadis itu untuk ikut dengannya, kini membuat Mark naik pitam. Ia tahu jika Andra hanya menjebak Jen.
"Dasar gadis bodoh!" berdiri dari duduknya dan membuntuti kedua orang itu.
"Katakan di mana Nenekku?" tanya Jen menaikkan nada.
"Tenang, Sayang. Nenekmu baik-baik saja."
Jen menelan saliva saat Andra mengantarnya ke sebuah gang kecil yang sepi. Ia menatap sekilingnya namun tak ada siapa pun di sana kecuali dirinya dan Andra.
"Jangan membohongiku, pria sialan! Aku akan melaporkanmu ke polisi!"
__ADS_1
"Peff--bwahahah! Melaporkanku ke polisi? Coba saja." Andra mulai mendekat sehingga membuat Jen memundurkan langkahnya.
"Jangan macam-macam kamu! Aku akan berteriak."
"Jenifer, Sayang. Ayo kembalilah bersamaku, maka aku tidak akan menyakitimu," ucapnya sembari menyentuh pipi Jen dengan sebuah pisau berukuran kecil.
Tangan Jen mulai gemetar. Tas plastik yang ia pegang pun jatuh ke tanah.
Pletakkk!
Tiba-tiba lemparan botol mendarat di dahi Andra sehingga mengeluarkan darah.
"Sialan! Siapa kau?!" tanya Andra, geram. Ia memang tidak mengenali Mark karena pria itu memakai topi.
"Jika kau tidak pergi dalam hitungan ke lima, maka jangan harap tubuhmu bisa utuh lagi!" celutuk Mark.
Pria dasi merah? ucap Jen dalam hati. Ya! benar. Itu Tuan Mark. Tuaannnn! Aku mohon selamatkan aku dari pria psikopat ini! lagi, pinta Jen.
"HAHA! Kau mengancamku?"
"Satu ..."
"Tubuhmu yang akan kubuat seperti daging cencang!"
"Dua ..."
"Kemarilah, aku akan menghabisimu!"
Mark semakin mendekat ke arah Andra. Ia mengeratkan rahangnya dan merenggangkan lehernya.
"Lima!" tiba-tiba Mark meloncat ke angka lima dan langsung menerkam Andra dengan beberapa pukulan disertakan dengan tendangan mematikan.
Jen terperanjat. Ia akhirnya melihat sisi iblis Mark yang tersembunyi.
"Dia bukan hanya mengancamnya, tapi benar-benar merealisasikan ucapannya!" gumam Jen panik.
Setelah melihat tubuh Andra yang tergeletak tak berdaya di tanah serta wajahnya yang sudah babak belur, berlumuran darah, Jen langsung mendekat ke arah Mark.
"Ya, Tuhan! Kau tidak membunuhnya 'kan?" tanya Jen.
"Aku mengirimnya di neraka!"
Mata Jen melebar. "Apa kau tidak keterlaluan melakukan itu? Nanti kau bisa masuk penjara!"
"Percuma berbicara pada gadis yang memiliki IQ jongkok!" berjalan meninggalkan Jen.
Jen berpikir sejenak. Ia mencerna ucapan Mark. "IQ jo--jongkok? Bukankah itu hinaan?! Astaga Jen, kau sangat loading!"
"Itu buka hinaan, tapi kata-kata bijak!" balas Mark dengan terus berjalan.
"Kata bijak jidatmu?! Jelas-jelas kau menghinaku," mengejar Mark.
"Jangan mengikutiku."
"Siapa yang mengikutimu? Tempat tinggalku di sana!" bentak Jenifer.
"Your welcome." (Sama-sama).
Jen tersadar jika Mark kembali menyinggungnya. "Makasih!"
__ADS_1
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*