Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Insiden


__ADS_3

Mark tiba di mansion. Ia melihat Soffy sedang menonton TV sembari mengunyah cemilan. "Bahaya! Nensi sedang menonton." gumam Mark.


Ia berjalan mengendap-endap. Ia menerawang ke arah lift. "Pakai tangga saja Mark. Di situ zona merah." gumamnya lagi.


Mark memilih menggunakan tangga karena jika menggunakan lift, Soffy akan melihatnya. Mark berjalan dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian. Elis melihat Mark yang berjalan berjinjit. Elis menghampiri Mark. "Tuan Mark?"


Mark terkejut bukan kepalang. Ia melihat seseorang yang memanggilnya. "Gosh! Kau membuatku terkejut." bisik Mark hati-hati.


"Ada apa? Kenapa Tuan berjalan seperti itu?"


"Shttt! Jangan bicara keras-keras. Nensi bisa mendengarmu."


"Nensi?" mengerutkan kening.


"Pergilah. Aku akan menuju lantai dua."


"Siapa Nensi Tuan?" tanya Elis penasaran.


"Elis! Berhenti bertanya dan kembalilah melanjutkan tugasmu."


"Baiklah Tuan." ucap Elis menunduk.


Elis meninggalkan Mark dan berjalan menuju Soffy yang sedang asyik menonton TV."


"Nenek?" panggil Elis.


"Tidak bisa diganggu!" tukas Soffy yang tegang menonton sinetron pelakor.


"Maaf Nek, makanan telah siap."


"Dasar g*blok! Kau harus merebutnya kembali. Dia suamimu." gerutu Soffy, membuat Elis bingung.


"Maaf Nek?"


"Cecunguk sialan!" Mati saja kau!"


Elis terperanjat.


Soffy menyadari kalau ada orang yang sedang berbicara dengannya. Ia memandang Elis yang memasang raut pias. "Elis?"


"Nek, maaf jika saya salah."


"Kenapa kau meminta maaf?" seketika Soffy berpikir. Ia tersadar bahwa ucapannya menyakiti hati Elis. "Haha, maaf Elis. Aku sedang menonton TV, jadi aku terbawa suasana. Habisnya aku gemes sama pelakor itu! Pengen tabok palanya, biar sadar." jelas Soffy.


"Tidak apa-apa Nek."

__ADS_1


"Apa kau bilang tadi?"


"Oh itu, makan malam telah siap."


"Oh baiklah. Aku akan memanggil kedua cucukku." ucap Soffy sembari beranjak dari duduknya.


Saat matanya tidak sengaja memandang ke arah tangga, ia melihat sosok pria yang berjalan mengendap menaiki anak tangga. "Mayyy Braderr?" gumamnya melebarkan senyuman.


"My Brother?" lirih Elis.


"Itu buleku." tunjuk Soffy dengan jarinya.


Elis melihat ke arah tatapan Soffy. "Tuan Mark?"


"Siapa namanya?"


"Namanya Mark, Nek."


"Mak?"


"Bukan Mak, Nek. Tapi Mark. Dia adalah asisten pribadi Tuan Muda."


"Ya ya ya. Maksudku itu. Aku akan memberikannya kejutan." berlari menyusul Mark dengan semringah.


Elis menggelengkan kepala dan kembali menuju dapur. Sementara Soffy berjalan berjinjit agar Mark tidak melihatnya. Kedua orang itu berjalan mengendap-endap layaknya maling. Mark berusaha mengumpat agar Nenek itu tidak melihatnya. Begitu juga sebaliknya.


Mark terkejut minta ampun seperti melihat setan. "G--grandma?" ucap Mark gagap.


"Buka pintunya! Aku mendengar cucuku berteriak. Cepat Mark!" perintah Soffy panik. Mark pun segera menarik gagang pintu.


Ceklek


"Cucukku!"


"Mr. Winston?"


Reflek Amey dan Arsen menatap sumber suara dari arah pintu. Keduanya menegang seraya membelalakan mata. Soffy dan Mark tak kalah terkejut dengan pemandangan yang dilihat mereka.


"Astaga dragon!" ucap Soffy menutup mata sebelahnya. "Mark, Ayo keluar! Ayo Mark, kau jangan melihat adegan yang tak senonoh. Kau belum menikah!" ucap Soffy menarik tangan Mark.


Mark segera keluar mengikuti Soffy. Amey dan Arsen belum bergeming dari posisi mereka.


"Nenek! Jangan salah paham." teriak Amey.


Arsen mencoba berdiri namun sayangnya telapak kakinya licin sehingga ia kembali terjatuh menindih tubuh Amey.

__ADS_1


"Aghhhhh." Amey berteriak lebih keras lagi.


Soffy yang mendengar erangan Amey tersenyum geli. "Gunakan kasur! Jangan menggunakan lantai." teriak Soffy dari luar. "Menantuku? Jangan terlalu memaksanya, Amey masih rapat, agak susah dibuka."


Deg!


Mark menelan salivanya kasar. Soffy begitu frontal mengatakan kalimat itu. Sedangkan di dalam kamar, Arsen segera berdiri, namun kakinya masih sakit jika diangkat. "Ahhh kakiku." pekiknya.


"Kau pikir hanya kau yang kesakitan? Seluruh badanku terasa perih! Badan besarmu menindih tubuhku yang kecil. Tulangku terasa pat ..." menjeda ucapannya saat melihat pemandangan di depan matanya.


Amey terbelalak. Bibirnya bergetar saat melihat perangkat lunak milik Arsen yang telah bangkit dari tidurnya. "H--handukmu terlepas." ucap Amey pelan.


Arsen tidak memperdulikannya. Ia berjalan dengan pincang menuju ranjang. "Sial! Kenapa kau bangun di saat seperti ini?" gumamnya.


Arsen mengerang saat kakinya tidak bisa digerakan. Kini ia mendudukkan badannya di pinggir ranjang dan memijat kakinya yang terlihat bengkak.


Melihat Arsen menjerit kesakitan, rasa iba menggelitik dihati Amey. Ia mengambil kembali handuk yang jatuh di lantai dan segera mendekat menuju ke arah Arsen. "Astaga kakimu bengkak!" ketus Amey kaget.


Amey menutupi perangkat lunak yang masih menegang itu dengan handuk.


Ayolah adik kecil! Kau harus kembali tidur. Wanita ini bukan makananmu. batin Arsen.


Amey mengangkat kaki Arsen perlahan. "Ini harus dikompres. Jika tidak kakimu akan semakin membengkak." ucap Amey mengusap lembut kaki Arsen.


Pria itu menatap Amey yang sedang berlutut memijat kakinya dengan lembut. Tiba-tiba suhu tubuh Arsen memanas. Jantungnya pun mulai berdenyut tak biasanya. "Arghh." pekik Arsen saat Amey menekan bengkak itu sedikit kuat. "Kau mau membunuhku?" ucap Arsen menahan rasa sakit.


"Bertahanlah sebentar. Aku akan mengambil air hangat untuk meredahkan bengkaknya." ucap Amey menuju kamar mandi.


Arsen menatap belakang punggung Amey. Wanita itu juga berjalan dengan sedikit pincang. "Dia juga terlihat kesakitan." gumam Arsen pelan.


Beberapa menit kemudian Amey kembali dengan membawa gayung berisi air dan juga handuk kecil menggantung di pundaknya. Amey mengatur posisi bantal agar Arsen bisa bersandar di kepala ranjang. "Bersandarlah di sini. Aku akan mengangkat kakimu. Tenang saja ini tidak akan sakit."


Arsen menuruti perintah Amey. Perlahan ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Amey mengangkat kaki Arsen dengan penuh kehati-hatian. "Tidak sakit 'kan?" tanya Amey tersenyum.


Arsen menjadi salah tingkah saat melihat Amey tersenyum. Senyuman Amey terlihat sangat manis.


"Ehem." Arsen berdehem. "Biar aku saja. Kau tidak perlu repot-repot membantuku."


"Diam! Kau sangat cerewet." cicit Amey sembari mengompres pergelangan kaki Arsen.


Dengan penuh kelembutan, Amey mengompres kaki pria dingin itu. Peluh menyucur di dahi Amey tanpa disadarinya. Setelah tiga puluh menit Amey tak bergeming dalam posisinya, kini ia melihat Arsen telah memejamkan mata. "Aku tahu, pijatanku telah menghipnotismu." gumam Amey.


Ia mengembalikan gayung dan handuk itu ke dalam kamar mandi. Setelahnya, ia menyelimuti Arsen yang tertidur sambil bersandar. "Kau mirip sekali dengan Arka. Mata, hidung, bibir," tanpa sadar menyentuh wajah Arsen. "Aku merindukanmu Arka. Sangat-sangat merindukanmu." lirik Amey menitikan air mata.


Amey lama menatap wajah Arsen. Sehingga ia kembali mengingat segala kenangan manis bersama dengan Arka. Senyuman kecil terbentuk di pipi Amey. "Astaga! Apa yang aku lakukan?" Amey tersadar. "Dia bukan Arka, Mey! Dia Arsen pria kejam dan dingin!"

__ADS_1


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


__ADS_2