Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Panas


__ADS_3

Kegaduhan yang terjadi di tengah malam membuat semua orang-orang yang ada di hotel itu menjadi riuh. Alarm yang berbunyi membuat semua pelanggan hotel panik. Belum diketahui penyebab alarm berbunyi, tetapi yang pasti tidak ada peristiwa apa pun yang terjadi. Pikir orang-orang, mungkin orang iseng saja yang membunyikannya.


Setelah lima belas menit dikejutkan dengan kejadian misterius itu, kini manajer hotel telah mengkonfirmasi bahwa itu adalah kesalahan dari sistem mereka. Pihak hotel sedang mencari tahu penyebab kagaduhan itu. Dengan penuh rasa bersalah pihak hotel meminta maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi.


Mereka juga menyuruh pelanggan untuk masuk kembali ke dalam kamar. Amarah membara Arsen belum kunjung padam. Entah dengan cara apa yang bisa dilakukan untuk menurunkan amarah serigala yang naik pitam. Mark pun tidak bisa melakukan apa pun selain diam.


Untuk situasi saat itu, diam menjadi cara berlindung yang aman agar tidak menjadi santapan serigala buas yang haus akan mangsa. Amey pun bingung harus berbuat apa, di ruangan sebesar itu hanya ada keheningan dan aura gelap mematikan yang tentunya melingkari tubuh Arsen.


Tatapan Arsen lurus ke depan dengan raut datar tanpa ekspresi. Kepalan tangan yang erat serta rahang yang mengetat membuktikkan bahwa pria itu tidak dapat disentuh. Hanya orang yang nyawanya lebih dari satu yang bisa berbicara padanya dalam kondisi seperti itu.


Amey yang duduk di sebelah Arsen, kini perlahan berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat Mark bertumpu. Langkah demi langkah dengan penuh kehati-hatian akhirnya wanita itu bisa sampai tanpa mengusik ketenangan yang mulia raja yang masih duduk dengan tatapan garang.


"Mark," bisik Amey.


Mark menunduk tanpa bersuara.


"Apa yang harus kita lakukan? Kelihatannya Arsen sangat marah sekali."


Mark menundukkan kepala kembali cukup lama dari yang sebelumnya.


"Wajahnya begitu mengerikan!"


Kali ini Mark tidak menunduk, namun memberikan isyarat menggunakan tangannya. Amey berkerut dahi saat melihat tingkah Mark yang lincah memainkan tangannya seperti sedang berbicara kepada kaum tunarungu.


"Hey! Kau pikir aku tuli? Berhenti memainkan tanganmu!" ketus Amey menaikan nada.


Mark menundukkan kepala meminta maaf pada Amey. Seketika maniknya menjeling ke arah pria bule yang duduk di sofa. Nyonya! Ku mohon berhentilah brrbicara. Nyawa kita sedang berada di ujung tanduk! batin Mark.


"Lakukan sesuatu Mark! Kau 'kan asistennya. Pasti ada cara yang bisa kita lakukan untuk meredahkan emosinya," celutuk Amey dengan sedikit kuat.


Mark berpikir sejenak, ia mencerna kalimat Amey yang masuk ke dalam otaknya. Seketika wajahnya berubah, ia tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi untuk menjawab ucapan Amey, pria itu menggunakan bahasa isyarat.


"Bodoh! Berhenti memainkan tanganmu, aku sedang tidak ingin bercanda!"


Mark memandangi Arsen, ketika melihat pria itu belum bergeming dari posisinya, ia memberanikan diri mendekatkan mulutnya ke telinga Amey dan berbisik sesuatu. "Aku punya obatnya, Nyonya," tutur Mark.


"Oh ya? Mana?" tanya Amey antusias.


"Sebentar Nyonya, aku ambilkan," tutur Mark sembari meninggalkan Amey.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Mark kembali dengan membawa sebuah botol berukuran sedang yang di dalamnya berisi cairan.


"Apa ini, Mark?"


"Ini obat yang biasa aku pakai untuk menenangkan diri dari berbagai ketegangan, Nyonya," jelas Mark masih dengan suara berbisik.

__ADS_1


"Yayaya! Ini yang kita perlukan," menarik botol itu dari tangan Mark.


"Tapi bagaimana caranya agar Tuan meminum ini, Nyonya? Aku masih tidak berani membuka mulutku. Jika aku melakukannya, sama saja aku menjerumuskan diri ke kandang singa."


"Lahh, kau pikir aku juga berani, hah?"


"Tapi, selama ini baru Nyonya wanita pertama yang sanggup berdebat dengan Tuan Arsen. Sebelum-sebelumnya tidak ada yang berani. Kalau pun mereka berani membantah, maka siap-siap untuk menerima hukuman yang teramat sadis dari Tuan."


Amey mengangkat alis setengahnya. "Maksudmu?"


"Iya Nyonya. Dikaulah Wanita pertama yang berani bertengkar dengan Tuan Arsen, dan dikau juga wanita pertama yang tidak pernah menerima hukuman mematikan dari Mr. Winston."


"Jadi maksudmu, kau menumbalkan aku? Kau menyuruhku berbicara pada mayat hidup itu? Oh God! Tidak terima kasih Mark, aku masih ingin hidup, memiliki anak dan bahagia!"


"Bukan begitu, Nyonya. Tapi ..."


"SHUT UP!!!"


Kedua orang yang sementara bercakap itu melonjak bukan kepalang. Teriakan amarah dari yang mulia baginda raja, kini memecah keheningan di tengah malam. Amey dan Mark membuka mata mereka selebar lima senti. Jantung keduanya berlomba-lomba mengeluarkan denyut kencang.


"Mark, aku sarankan kau pergi dari tempat ini sebelum nyawamu hilang sepenuhnya," ancam Arsen, dingin.


Tanpa menerima aba-aba lagi dengan segera Mark menundukkan kepala dan berlari meninggalkan ruangan itu. Amey melirik Mark yang berjalan meninggalkan ruangan itu dengan raut pias.


"Hey ... hey! Mark, kembalilah! Jangan pergi begitu saja. Sialan kau, Mark! beraninya kau meninggalkan aku, berduaan dengan harimau." Dengan sekuat tenaga Amey berbisik memanggil Mark yang telah berlalu, namun tubuh Mark telah menghilang setelah melewati pintu.


"Kembalilah tidur," ucap Arsen.


"Ha? Eh ... i--iya." Amey melangkahkan kakinya dan segera menuju ranjang. Tidak lupa juga ia meletakkan botol yang Mark berikan itu di atas nakas, sebelah tempat tidur.


Arsen mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang remang-remang. Ia menahan emosinya karena hari itu sudah sangat larut, percuma saja ia marah, toh orang yang ingin sekali dibunuhnya tidak ada di tempat itu.


Memang sedari tadi Arsen mencari keberadaan pemilik hotel itu namun manager hotelnya mengatakan jika George tidak ada di hotel. Arsen memendam amarahnya sehingga membuat ia tidak dapat tersentuh. Sebenarnya hanya Amey yang dapat menjinakkan Arsen, hanya saja Amey belum tahu jika ia memiliki suatu kelebihan terupdate.


Amey memilih tidur. Ia juga terlihat lelah karena baru saja melaksanakan pergulatan yang belum tuntas dengan Arsen. Ditambah lagi ia juga dikejutkan dengan suara riuh alarm yang membuat ia kehilangan banyak tenaga karena berlarian tidak jelas.


Arsen membaringkan tubuhnya di samping Amey. Ingin sekali ia melanjutkan pertarungan sengit itu namun ia juga merasa kasihan dengan Amey karena wanita itu terlihat lelah. Membutuhkan banyak tenaga juga jika belut besar itu merobek penutup terowongan gelap istrinya.


Pria itu memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Ia masih membuka matanya lebar dan memutar badannya memunggungi Amey. Ia juga tidak ingin terpancing kembali jika harus memandangi tubuh Amey yang begitu menggugah selera.


"Apa kau tidur?" tanya Amey.


"Hmmm."


"Jika kau masih marah, aku menyarankan kau meminum obat yang diberikan Mark tadi. "

__ADS_1


"Apa kau dan Mark bersekongkol untuk membunuhku!"


"Oh goshhh! Mana mungkin. Kau tenang saja, kata Mark itu obat yang biasa dia minum untuk menenangkan diri. Siapa tahu obat itu bisa membuatmu lebih baik."


"Di mana kau menaruhnya?"


"Di atas nakas. Itu berupa cairan yang ditaruh di dalam botol sedang, mungkin rasanya akan sama seperti sirup, jadi minumlah. Semoga bisa membantumu meredahkan emosi."


Tanpa menoleh, Arsen meraba-raba di atas meja kecil itu dan meraih botol yang dimaksud Amey. Ia menegakkan tubuhnya dan meminum obat itu. Meski wajah Arsen tampak kusut saat mencium bau dari obat itu namun ia menenggaknya tanpa sisa.


"Baunya amis!" ketus Arsen.


"Tidak masalah dengan baunya, yang pasti khasiatnya bagus."


Arsen meletakkan kembali botol itu. Ia membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Lumayan."


Amey bernapas legah, ia kini bisa tidur dengan nyenyak saat emosi suaminya mulai padam.


Selang beberapa menit Arsen mulai kepanasan. Ia membuka selimutnya karena suhu tubuhnya mulai memanas. Ia juga mengipas wajahnya dengan tangan. Kini ia mulai merasakan ketidaknyamanan.


"Apa kau mematikan ac-nya?"


"Tidak. Kenapa memangnya?"


"Ini sangat panas. Oh f*ck!"


Arsen bergerak layaknya cacing kepanasan, membuat Amey harus menegakkan tubuhnya. "Apa yang terjadi?Apa jangan-jangan itu adalah efek dari obatnya?" tanya Amey.


"Mana ku tahu!"


Amey memandangi nakas, tempat ia menaruh botol dari Mark. Matanya membesar saat melihat ternyata bukan hanya satu botol yang ada di situ. Seketika terlintas dalam benaknya jika, ia pernah menaruh botol yang satu lagi di atas nakas tersebut.


Dan lebih parahnya lagi botol yang satu itu berisi ramuan dari Soffy. Ramuan tradisional yang menguatkan kejantanan pria dan juga sebagai obat perangsang.


"Jangan bilang kau salah mengambil botol!" menatap kedua botol berukuran sedang itu yang hampir mirip.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


Note :

__ADS_1


Maafkan Author yang belum bisa memenuhi permintaan kalian untuk up lebih dari satu bab. Akhir-akhir ini Author memiliki banyak sekali pekerjaan yang sangat penting :( Untuk itu harap maklum ya readers. Nanti jika pekerjaan Author sudah sedikit meredah, Author bakal crazy up πŸ€— Sekali lagi maaf ya readers πŸ™πŸΌ Ohya jangan tinggalkan cerita ini yaaaa ... pelisssss 😩


__ADS_2