Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Amey die?


__ADS_3

Club Malam


"Ehh Jay, kayaknya itu Arsen deh!" ucap Kai melihat sosok yang mirip Arsen.


"Mana?"


"Itu lagi jalan ke sini," menunjuk dengan telunjuk.


"Ehh bushettt! Kenapa dia di sini? Jangan-jangan Amey---"


"GOSH! Amey? No ... no! Tidak mungkin dia membunuhnya," ketus Kai panik.


"Jangan mikir yang aneh-aneh Kai! Nanti kita tanya dia aja," ucap Jay menenangkan Kai yang terlihat panik bukan kepalang.


Bagaimana Kai tak panik, sikap Amey saat pesta sangat membuat si pria dingin itu naik pitam. Disangka Kai, Amey telah menyusul Arka malam ini, alias wafat.


Kaisar dan Jayden hanya menatap Arsen yang duduk di sofa berwarna maron itu tanpa berani berucap. Takutnya emosi Arsen belum padam dan bisa-bisa keduanya terkena gelombang amarh Arsen.


"Tuangkan," pinta Arsen tiba-tiba.


Kai pun reflek menuangkan anggur di gelas Arsen.


Arsen meneguk anggur itu dengan sembrono. Terlihat jelas di mata Kai dan Jay, orang yang di samping mereka tidak dalam keadaan baik. Keduanya saling menyenggol berharap salah satu di antara mereka membuka suara untuk bertanya.


"Kau saja Jay!"


"Nggak ahh! Kau saja Kai," tolak Jayden berbisik.


Arsen yang merasa risih dengan kedua kawannya pun membuka suara. "SHUT UP!"


Deg!


Keduanya terperanjat. Jelmaan Iblis itu sangat menakutkan jika mood-nya berantakan. Kai dan Jayden kembali hening. Hanya dentuman musik disko yang menggema memenuhi ruangan VVIP itu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Arsen tiba-tiba.


"Tidak Ars. Silahkan dilanjutin minumnya," gumam Jayden.


"Ada apa dengan kalian berdua, hah?"


"Ehm, Ars, sebenarnya ..." menghentikan ucapannya karena terlalu gugup untuk bertanya.


Kai memberanikan diri. "Gini Ars, kenapa kau ada di sini? Bagaimana dengan Amey apa dia baik-baik saja?" lirih Kai.


Arsen meneguk kembali anggurnya. "Hmm, sepertinya dia telah menyusul Arka!" ketus Arsen santai.


"WHAT!" ucap keduanya terperanjat.


"Ars kau jangan gila! Astaga." tukas Kai kawatir.

__ADS_1


"Kenapa kalian begitu perhatian dengan wanita itu?" tanya Arsen dingin.


"Jelaslah Ars. Bagaimana pun juga dia adalah istrimu."


"Arka. Not me!" timpal Arsen geram.


Kaisar mengacak rambutnya. Ia terihat frustasi menghadapi sahabatnya yang super duper dingin itu. "Ars, kau harus menerima Amey sebagai istrimu. Bukankah itu permintaan Arka untuk terakhir kalinya?"


Arsen terdiam sejenak. Ia kembali mengingat ucapan Arka yang mengatakan bahwa Arsen harus menjaga, melindungi, menyayangi Amey melebihi dirinya.


F*ck! umpat Ars dalam hati.


Ketiganya terdiam. Tiba-tiba ponsel Kaisar berbunyi. Betapa terkejutnya Kaisar melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "A---Amey!" teriak Kaisar melempar ponselnya.


"Why?" tanya Jayden kawatir.


Sedangkan Arsen tak bergeming dari posisinya.


"Jay? Aku tidak salah baca 'kan? Ini memang Amey yang menghubungiku 'kan? menunjuk ponselnya.


Keduanya beradu pandang sembari membuka matanya lebar. Keduanya terlihat pucat dan panik. Peluh keduanya mulai menyucur di dahi masing-masing. Bagaimana tidak, mereka menyangka bahwa Amey memang telah mati di tangan Arsen. Dan sekarang Amey menelepon Kaisar. Sungguh menegangkan.


"Woy! Kenapa tidak di jawab?" teriak Arsen mengejutkan Kay dan Jay yang terlihat panik bukan main.


Kai memberanikan diri menjawab telepon Amey. "Hal---" menjeda kalimatnya saat Amey berteriak dari balik telepon.


"Kai! Apa Arka bersamamu? Aku menelpon nomornya tapi tidak aktif. Kalau Arka bersamamu, bilang ke dia untuk pulang sekarang juga!" tegas Amey lebih mengagetkan Kai.


"Amey! Oh God syukurlah. Kau tidak mati? Badanmu masih utuh 'kan?" lontar Kai bergairah.


"Ngomong apa sih kau! Pokoknya bilang sama Arka untuk kembali ke hotel jika tidak aku akan minta cerai malam ini juga!" teriak Amey.


tut... tut.. tut


"Mey! Amey? Halo?"


Amey telah memutuskan sambungan teleponnya. Kai yang mendengar suara Amey melonjak kegirangan. Tak hanya sendiri, Jay pun ikut meramaikannya. Arsen yang melihat tingkah konyol kedua sahabatnya mendengus kesal. "Stupid!"


"Ars, thank you untuk tidak membunuh Amey. Kau tahu aku sangat panik saat kau bilang istrimu sudah menyusul Arka." ucap Kai kegirangan.


"Berhentilah bersikap *****!" tukas Arsen.


"Ars, sebaiknya kau pulang. Amey mencarimu. Dia mengancam minta cerai jika kau tidak pulang sekarang juga."


Kai berusaha menyampaikan pesan Amey. Meski ia tahu kalau Arsen pasti tidak akan memperdulikan pesan ancaman Amey.


Arsen melotot ke arah Kai. "Dia minta cerai?"


Kaisar mengangguk. "Aku tahu kok, pasti kau akan menertawaiku. Mana mungkin kau akan menuruti permintaan Amey. Secar---" belum meneruskan ucapannya, Arsen sudah berlari keluar ruangan itu.

__ADS_1


"No! Proyek besarku!" gumam Arsen seraya berjalan terus tak memperdulikan Kai dan Jay yang berteriak memanggil namanya.


"Kai, ada apa dengan ekspresinya tadi? Apa dia perduli dengan pesan ancaman Amey?"


"Tau ah! Aku juga bingung dengan tempramennya yang dikit-dikit berubah. Dahlah males! Yang penting Amey baik-baik saja," ucap Kai.


***


Arsen mempercepat langkah kakinya menuju kamarnya. "Shit! Jangan sampai dia minta cerai! Tidak semudah itu verguzo!" pekiknya.


Di pikiran Arsen hanyalah, proyek kerja sama antara WS Group dan Diamond Group. Jika Amey minta cerai malam ini, maka kontrak kerja sama itu yang bahkan belum ditandatangani akan batal. Pasalnya Amey merupakan senjata utama Arsen untuk menaklukan George. Secara George tertarik dengan Amey.


Arsen tiba di kamarnya. Dilihatnya Amey sedang duduk melipat kedua tangannya di atas dada dengan tatapan dingin.


"Masih ingat pulang kau ya?" sindir Amey sinis.


"Aku ngantuk! Mau tidur." celutuk Arsen sembari membaringkan tubuhnya di ranjang.


"What! Seentengnya dia bilang ngantuk dan mau tidur, tanpa memperdulikanku yang telah murka di sini?" Amey mendengus dan memijit keningnya.


"Apa pun yang dia katakan kau harus diam Ars! Jangan emosi. Jika kau emosi, peluang besarmu, harapan besarmu akan hilang sekejap," gumam Ars menutup matanya.


Amey yang menatap Arsen yang telah terbaring di ranjang menggeleng kepalanya tak percaya dengan sikap suaminya. Amey pun perlahan membuka sepatu Arsen. "Apa kau terbiasa tidur memakai sepatu? Huffft dasar aneh!" gumam Amey.


Arsen terbelalak saat merasakan sentuhan Amey di kakinya. "Apa yang perempuan gila itu lakukan di bawah?" gumamnya pelan.


Ketika Amey mulai menyelimutinya, Arsen merasakan sebuah perhatian yang belum pernah dirasakannya selama ini. Tapi tetap saja wajahnya langsung berubah menandakan tak suka disentuh.


Amey membaringkan tubuhnya di samping Arsen dan memunggunginya. Kini posisi keduanya saling membelakangi.


Arka, aku tidak bermaksud tidur dengannya. Tapi biarkan malam ini aku bersikap lunak padanya. Jika tidak dia akan menceraikan aku. Maka kerja sama itu akan batal. batin Arsen.


"Arka? Apa kau sudah tidur?" tanya Amey tiba-tiba.


Arsen tak menyahut.


"Baiklah. Ku rasa besok saja." ucap Amey kecewa.


Besok saja? Apa maksudnya?


"Aku terlalu lelah malam ini."


Gila! Dia mengingini 'itu' denganku?


"Besok aku akan memarahimu habis-habisan! Kau belum lolos malam ini. Huayemmm," ucap Amey menguap.


Oh! Kirain? Ehh apa dia bilang? Memarahiku? Haha yang benar saja kau! Yang ada kau yang akan mengemis pengampunanku! Lihat saja nanti, selesai proyek besar ini, YOU DIE!


To be continued ...

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


__ADS_2