
"Bagaimana kalau orang yang bersamamu saat ini mulai menyukaimu?"
Deg!
Amey menghentikan langkahnya. Ia menatap Arsen dengan seksama. Arsen yang menerima tatapan Amey memalingkan wajahnya dengan raut kaku.
"Peff--bwuahahaha!" Amey terbahak, ia menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Arsen mengeratkan rahangnya. Sumpah! Seumur hidup Arsen, baru kali ini ia mengakui perasaannya kepada seorang wanita, namun mendapat balasan yang tak terduga.
"Kau menyukaiku?" menunjuk hidungnya dengan telunjuk. "Sungguh sebuah kejutan yang tidak terduga jika kau menyukaiku. Haha! Ars, hati-hati loh dengan candaanmu, nanti bisa keterusan, Haha," ledek Amey masih terbahak.
"Never mind!" (Lupakan!) Arsen berjalan meninggalkan Amey.
"Wait! Jangan tinggalkan aku, aku buta arah," celutuk Amey, mengejar Arsen.
"Kau terlalu banyak membuang waktu. Tinggal tiga puluh menit lagi waktu freemu."
"Astaga! Aku hampir lupa," menepuk dahinya. "Baiklah langsung saja kita ke pasar."
Dalam hati Arsen bertanya-tanya, untuk apa wanita itu jalan-jalan ke pasar. Ingin sekali Arsen bertanya kembali, namun ia terlalu malas bersuara karena baru saja pengakuannya dianggap lelucon bagi Amey.
Perjalanan dari hotel menuju ke pasar lokal membutuhkan waktu lima belas menit dari hotel. Tentu saja Mark sudah menyiapkan kendaraan bagi Tuan dan Nyonya Winston.
Setelah tiba, Amey dengan semangat empat lima berjalan menyusuri setiap lorong-lorong berukuran dua meter itu. Arsen mengangguk pelan saat melihat keadaan pasar yang dikiranya, becek dan bau.
Tapi ternyata pasar itu merupakan juga tempat wisata bagi turis-turis yang sedang berlibur di kota yang dijuluki sebagai City of Lights. Banyak pedagang yang berjualan oleh-oleh khas Paris yang sangat menarik.
Mata Amey tidak bergeming dari sebuah tokoh di dalam pasar itu yang menawarkan produk tas dan sepatu yang sangat terkenal di seluruh penjuru dunia. "Oh my God!" gumam Amey terkejut.
Dengan segera wanita itu berlari masuk ke dalam tokoh. Dengan langkah yang berat Arsen mengikuti pergerakan Amey. Sesampainya di dalam tokoh itu mata Amey mengeluarkan binar. Bagaimana tidak, di tokoh itu terpajang rapi sebuah tas yang sangat diimpikannya.
Tas yang memiliki logo huruf L dan V sangat menarik perhatian Amey, apalagi tas itu merupakan tas bermerek yang jika dirupiahkan bisa sampai ratusan juta bahkan miliaran.
Jika dipandang sekilas, wanita yang menyandang status sebagai Nyonya Winston memiliki jiwa sosialita yang tinggi. Tapi jangan salah, walaupun wanita itu tergila-gila dengan barang branded, tapi sebenarnya yang ia kenakan adalah yang bukan original melainkan KW super.
Amey adalah tipe wanita yang tergolong irit. Semua benda-benda yang digunakannnya baik tas maupun sepatu bermerek, itu sebenarnya jauh dari kata asli. Meski Amey menghasilkan gaji yang cukup banyak, tapi ia tidak mau menghabiskan uangnya untuk membeli barang yang angka belakangnya melewati lima nol.
"Kalau ada yang KW kenapa harus beli yang ori?" gumam Amey tersenyum kecil.
Amey tahu jika di tokoh itu menjual barang yang tidak asli. Artinya harganya pun terjangkau dan pas dengan dompet Amey.
"Ars? Bagaimana yang itu, bagus sekali bukan?" tunjuk Amey dengan memasang ekspresi gembira.
"Apanya yang bagus! Apa kau buta? Tas itu terbuat dari sampah!" celutuk Arsen.
"Modelnya memang kayak gitu tau! Memang terbuat dari sampah tapi desainnya bagus banget."
__ADS_1
Arsen memutar bola matanya dengan malas. Tentu saja ia merasa heran dengan pilihan Amey. Tas dari Louis Vuitton ini yang bernama Urban Satchel Bag dibuat dengan barang bekas yang temukan di tempat sampah.
Meski demikian, namun harga aslinya dibanderol dengan harga seratus lima puluh dolar atau setara dengan dua koma satu miliar. Desain pada tas itu terdapat bungkus rokok, botol minuman, plastik bekas makanan dan benda lainnya. Tapi ada juga potongan kain dan kancing berlogo Louis Vuitton. Entah apa yang membuat istri Arsen itu tertarik dengan model tas yang nyeleneh.
"Excuse me? Can I see the bag?" (Permisi? Bisakah saya melihat tasnya?) tutur Amey pada seorang wanita, menunjuk tas yang dipajang di lemari kaca itu.
"Of course." (Tentu saja) ucap pegawai wanita itu dengan senyum ramah.
"How much is this bag?" (Berapa harga tas ini?)
"Twenty one point thirty three dollars." (Tiga puluh satu koma tiga puluh tiga dolar.)
Hmm, sekitar tiga ratus ribu lebih. Wahh lumayankan. Hehe. Ucap Amey dalam hati.
"Wrap this one up. I'll take it." (Bungkus yang ini. Aku akan mengambilnya.)
Amey diarahkan wanita itu menuju ke kasir dan membayarnya.
"Anything else you need, Madame?" (Ada lagi yang Anda butuhkan, Nyonya?)
"it's enough. Thank you." (Ini sudah cukup. Trima kasih)
Para pegawai tokoh itu menunduk saat Amey dan Arsen meninggalkan tempat itu. Rasa jenuh Amey terobati setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia tidak memperhatikan suaminya yang sedari tadi memasang raut kusut.
"Apa sebahagia itu kau membeli tas KW?" sindir Arsen.
"Cihh, tas KW aja dibanggain!" gumam Arsen.
"Biarin. Mewah bukan berarti harus yang mahal-mahal."
"Dasar aneh! Aku bisa membelikanmu yang asli."
Amey menghentikan langkahnya. Ia menatap Arsen dengan pandangan tajam. "Aku tahu kau sangat kaya, tapi itu hanya akan menghamburkan uang dengan percuma."
"Kekayaanku tidak akan habis sampai seratus turunan!"
"Sombong amat," cibir Amey.
"Jika kau mau aku akan membelikan tokoh Louis Vuitton untukmu. No KW!"
"Wuihhhh! Boleh juga tuh. Tapi mana mungkin seorang Arsen Winston melakukannya untuk wanita yang sangat dibencinya. Haha," ledek Amey.
Arsen mengepalkan tangannya. "Lihat saja nanti!" gumamnya.
Sepanjang lorong pasar, kedua manusia itu tidak berhenti berdebat. Amey yang keras kepala dan tidak mau mengalah berhadapan dengan Arsen yang juga sama keras kepala dan arogan. Memang benar-benar pasangan yang cocok.
Salah satu alasan juga bagi Amey ke pasar adalah untuk melihat-lihat barang-barang branded tapi KW. Selagi boleh dijangkau harganya dan menarik di pandang mata, maka pastilah wanita sosialita KW itu membelinya. Itulah keunikan Amey, suka barang mewah tapi murah meriah muntah.
__ADS_1
Setelah selesai menyusuri lorong pasar itu, Amey pun tersadar jika waktu jalan-jalannya sudah usai. Ia menatap Arsen dengan mata terbelalak. "Ars? Bagaimana ini? Aku sudah mencuri waktumu selama satu jam," tutur Amey.
Arsen tidak menggubris.
"Bagaimana pertemuan dengan kolegamu? Apa itu akan mempengaruhi perusahaan?" tanya Amey lagi.
Arsen masih berdiam dan tidak memperdulikan ucapan Amey.
"Apa kau marah padaku? Maaf, aku lupa waktu," tutur Amey menunduk.
Seketika Amey terpikir sesuatu. "Telpon Mark! Ya benar, aku harus menelponnya."
"Untuk apa kau meneleponnya?"
"Apalagi kalau bukan menyuruh Mark menghandle dulu pertemuanmu!" tukas Amey.
Arsen berdehem kaku. Ia menjadi gugup saat Amey hendak menelepon Mark. Bisa ketahuan kalau wanita ini menghubungi Mark.
"Kenapa nomornya tidak aktif?"
Syukurlah. Arsen mengelus dadanya.
Arsen merasa legah saat nomor Mark tidak aktif. Sebenarnya pria itu tidak ada pertemuan dengan kolega. Itu hanya menjadi alasan bagi Arsen untuk mengajak Amey jalan-jalan dan menebus kesalahannya karena tidak menepati janji.
Arsen masih menjunjung tinggi harga dirinya, sehingga ia mengutarakan alasan itu agar tidak berkesan merendahkan harga dirinya di depan Amey. Sangat susah bagi pria itu untuk jujur terhadap perasaannya sendiri.
"Ayo Ars, kita harus bergegas menemui kolegamu!"
"Pertemuannya dibatalkan," tutur Arsen dingin.
"Loh? Kok bisa? Siapa yang membatalkannya?"
"Kolegaku."
"Dari mana kau tahu dia membatalkannya? Aku tidak melihat kau menelpon seseorang sejak tadi," tutur Amey berkerut dahi.
"Kau lupa, jika aku punya kekuatan supranatural?!"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘
Note :
Sambil menunggu Author untuk update cerita Arsen dan Amey, yuk mampir dulu di karya Author yang satunya, dengan judul Mr. Edzard I Want You! Ohya, musim pertama juga sudah tamat dan saat ini musim kedua pun baru dimulai 🤗 Kisah cinta Alvaro dan Selita tidak kalah menarik loh dari Arsen dan Amey 😍 Jika tertarik, silahkan klik profil Author Stivani Quinzel dan temukan Novel Mr. Edzard I Want You 😘
(Yang ini nihh covernya👇👇😊)
__ADS_1